Jumat, 19 Oktober 2018

Stasiun Kotabumi dan Kegaduhan-kegaduhan (Catatan Perjalanan ke Palembang)


Stasiun Kotabumi masih terlihat lengang saat kami baru sampai. Jam masih menunjukkan pukul delapan. Jadwal keberangkatan masih sekitar satu setengah jam lagi. Kami sengaja minta diantar lebih awal karena khawatir akan begal yang masih menjadi momok menakutkan di Kotabumi.

Beberapa penumpang terlihat mulai berdatangan, sama seperti kami, menunggu di bagian luar stasiun. Pintu masuk ke ruang tunggu belum buka. Stasiun Kotabumi tidak seperti stasiun di Jawa yang hampir buka 24 jam. Jadwal keberangkatan di Stasiun Kotabumi hanya di jam-jam tertentu. Jadwal malam ini hanya satu, keberangkatan menuju Palembang.

Sudah lama, saya berangan-angan untuk mengunjungi kota ini. Walaupun secara geografis dekat dengan Kotabumi, tapi nyatanya kaki saya telah lebih dahulu melangkah di kota-kota lain yang lebih jauh. Belum berjodoh barangkali. Namun tidak untuk kali ini. 

Pintu menuju ruang tunggu dan pengecekan tiket belum buka. Kami masih duduk di teras stasiun. Angin dingin mulai terasa. Untung jaket tebal dan syal yang kukenakan menghalaunya. 


Seorang anak muda datang. Usianya sekitar belasan akhir hingga 20an awal. Ransel di punggung. Kepala menunduk, mata mengarah ke telepon genggam di tangan. Sedangkan earphone menempel di telinga. 

“Hajaar!!” ucapnya tiba-tiba. Aku yang sempat memalingkan perhatian kepadanya kembali memperhatikannya. Kali ini dengan rasa heran.

“Udah lu duluan! Gue ntar nyusul.” Kali ini nada suaranya cukup keras. Beberapa orang memperhatikannya anak muda itu. Heran. 

Aku masih memperhatikan. Mungkin dia sedang menelepon temannya, pikirku. Tapi kenapa harus teriak, pikirku kemudian.

“Udahlah gue yang hajaar! Gue ada di belakangnya,” teriaknya lagi. “Gue tembak nih!” lanjutnya. “Aaargh!! Nggak kena!” teriaknya lagi.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Rupanya anak muda ini sedang bermain game online. Dan barangkali sedang battle dengan pemain lainnya. Hadeeh!

Pintu menuju ruang tunggu dibuka. Aku menuju pencetakan tiket. Kumasukkan kode pemesanan tiket. Kertas berwarna jingga keluar. Aku mengambilnya lantas duduk di ruang tunggu dalam.

“Hajaar! Yeaay! Mati lu,” teriak anak muda itu sambil tertawa lepas. Seakan tidak ada manusia di sekitarnya. 

Aku dan beberapa penumpang yang sedang menunggu kembali terperanjat. Beberapa penumpang menatap anak muda itu dengan tatapan lekat. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat. Setengah jam lagi, kereta dari arah Bandar Lampung akan merapat. 


Anak muda itu masih asik dengan dirinya sendiri. Asik dengan game online yang sedari pantauanku dimainkan tanpa jeda. Tanpa ada interkasi dengan sesama. Padahal asiknya sebuah perjalanan adalah berinteraksi. Perihal lain yang juga jadi soal, tentu saja terkait etika. Teriak-teriak sendiri tanpa sebab penting di tempat umum jelas menganggu. Tipikal orang Indonesia yang tidak enakan dan memilih untuk tidak menegur (termasuk saya), membuat anak muda itu masih teriak seenaknya sendiri. Kalau bagiku yang kadang tidak enakan, selama tidak membahayakan orang lain, ya biarlah. 

Kereta keberangkatan menuju Palembang akhirnya tiba, 15 menit mundur dari jadwal yang sudah ditetapkan. Kami memasuki gerbong sesuai dengan pilihan kelas yang tertera di tiket berwarna jingga. 

Aku sedikit lega tak segerbong dengan anak muda itu. Malam yang semakin larut, tidak lucu sebab waktu istirahat terganggu dengan teriakan tidak penting seorang anak muda yang bermain game online. 

Aku dan istri duduk sesuai dengan nomor di tiket. Bangku-bangku terlihat penuh dan tenang, karena beberapa penumpang terlelap. Tepat di samping kami, pasangan suami istri dengan bayi perempuan yang sedang digendong. Kami mulai mencoba rileks, bersandar di bangku kereta lantas memejamkan mata. Baru, mencoba untuk beristirahat, suara tangis bayi perempuan di bangku samping terdengar tidak hanya sekali. Berkali-kali. Membuat kami harus berulang kali berganti gaya duduk.

Tangis bayi perempuan itu belum mereda. Dua jam lebih ia merengek. Meraung. Sang ayah hanya diam. Sang ibu yang sibuk sendiri.

Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Stasiun Kertapati masih jauh. Masih sekitar lima jam lagi perjalanan. Kegaduhan masih terdengar sesekali. Tepatnya aku lupa. Karena kantuk yang mulai tak tertahankan.

Waktu terus berjalan. Perjalanan ke Palembang, baru akan dimulai. Saatnya untuk meredam apapun. Tentang kegelisahan pikiran. Tentang kekhawatiran akan masa depan. Dan, meredam kegaduhan-kegaduhan. Setidaknya, latihan sudah dimulai. Kegaduhan anak muda di stasiun dan bayi perempuan di gerbong. Tinggal menghadapi lantas meredam kegaduhan lainnya. Bismillah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

7 Cara Agar Tetap Awet Muda

Hai para pembaca yang budiman.....