Jumat, 01 Februari 2019

Tempat Sampah

www.erfano.com
 
Ada yang aneh beberapa  minggu ini. Tempat sampah di depan rumahku terdapat sampah lain. Awalnya aku berpikir sampah-sampah yang mampir di tempat sampahku itu adalah sampah tetangga samping rumah. Kebetulan tempat yang aku buat berkolaborasi dengan tetangga sebelah. Jadi kami berdua bebas mengakses tempat sampah secara bersama-sama. Walau jika dilihat dari luar, tempat sampah itu terkesan tempat sampah rumahku, karena sebagian tempat sampah yang mengambil area tetangga ditutup dengan tembok.
Sore ini, sampah dengan plastik yang cukup besar singgah kembali ke rumah. Aku heran, lantas menanyakan kepada istriku.
“Tadi buang sampah di tempat sampah?” tanyaku.
Istriku menggeleng. Sampah di rumah biasanya ditaruh di dalam pagar. Biasanya akan dibuang di tempat sampah kalau hari di mana tukang sampah akan mengambil sampah-sampah tersebut.
“Tetangga sebelah kayaknya yang buang sampah,” jawab istriku.
“Tapi beberapa hari ini, tetangga sebelah tutup pintu, gerbangnya dikunci,” ucapku sembari mengingat-ingat. “Kalau tetangga sebelah ada, biasanya anak-anaknya suka ribut dan kedengaran hingga ke rumah kita kan?” lanjutku lagi.
Istriku mengangguk, “Iya ya, soalnya beberapa kali aku melihat ada plastik yang tiba-tiba ada di tempat sampah. Biasanya kan tetangga sebelah menggantungkan sampahnya di pohon mangga. Aku juga udah mulai curiga, kok sampah tiba-tiba nongol padahal tetangga sebelah lagi enggak ada,” jelas istriku.
Aku terdiam sejenak. Diskusi kami berlanjut. Jujur, aku jadi berprasangka buruk pada tetanggaku yang berasal dari suku tertentu. Di perumahanku, suku tertentu itu cukup banyak dan terlihat dominan dan kadang semaunya sendiri. Aku sih enggak mau mengeneralisir. Tapi kejadian beberapa tahun lalu membuat kecurigaanku bertambah.
Dulu, tetangga di blok paling ujung ketahuan olehku mengambil bata yang kusimpan di luar pagar. Bata-bata sisa renovasi rumah kusimpan di depan pagar. Kupikir aman-aman saja karena selama ini memang aman-aman saja. Hingga malam itu, sekitar pukul 12 malam, aku mendengar suara bata berbentur. Aku langsung terbangun dan membuka pintu dan melihat ke luar pagar. Sosok wanita dan seorang pria paruh baya sedang membawa bata menjauh dari rumahku. Tadinya aku mau berteriak namun sudahlah. Malam itu juga bata-bata tersebut aku pindahkan ke dalam rumah.
Sejak saat itu, aku agak melabeli tetangga di ujung blok yang bersuku tertentu itu. Kejadian dengan suku yang sama namun beda tetangga kualami lagi. Saat itu aku akan merenovasi tembok rumah yang gampang rontok karena dibangun oleh developer. Otomatis aku membutuhkan pasir, semen dan lain-lain untuk menembok kembali. Belilah pasir sebanyak satu kol. Saat pasir turun, tetangga dengan suku tertentu itu datang untuk meminta pasir sebanyak satu ember. Kupikir sedikit ya sudahlah. Namun saat tetangga tersebut datang, kaget bukan main terheran-heran aku dibuatnya, embernya besar. Kalau dilihat satu karung satu ember yang ia minta. Hadeeh! Mental gratisan...
Nah, saat sampah tiba-tiba singgah dan menetap dengan tenang di tempat sampah. Tuduhanku langsung ke tetangga-tetangga yang “enggak tahu diri” itu.  Dan.... berminggu-minggu aku tidak menemukan jawaban siapa yang buang sampah di tempatku.
Seminggu sekali, sampah nongol  kembali. Pernah saat musim durian, satu plastik berisi sampah sisa kulit durian. Aduh... baunya ke mana-mana. Tega aja sih menurutku, makan durian puas-puas, kulitnya dibuang di tempat sampah orang. Aku kesal sekali, tapi ya sudahlah biarkan saja. Aku perbanyak berdoa dan menyerahkannya pada Allah. Semoga ditunjukkan siapa pelaku atau tetangga yang buang sampah seenaknya itu.
Tentangga yang menaruh sampah di tempat sampahku sepertinya tahu kapan kami keluar. Beberapa kali terjadi, jika kami sedang pergi keluar dari pagi hingga petang, sesampainya di rumah. Satu plastik sampah sudah bertengger manis di tempat sampah. Seru kan? Si pelaku pembuang sampah itu tahu benar dan membaca gerak-gerik aku dan istri. Ampun deh... segitunya.
Kejadian pembuangan sampah masih terjadi. Suatu hari saat akhir pekan, aku dan istri pergi keluar mencari perlengkapan rumah tangga. Saat pulang, aku melihat ada satu plastik sampah yang sudah berada di tempat sampahku. Satu lagi tercecer di luar, diacak-acak kucing. Dari satu plastik yang tercecer itu ada sebuah amplop yang terjatuh, amplop bekas pengiriman barang. Aku pun masuk ke dalam rumah, memasukkan sepeda motor lalu kembali ke tempat sampahku. Amplop sisa pengiriman sebuah barang itu adalah petunjuk karena pasti akan tertera nama pengirim dan penerima.
Aku mengambil amplop bekas pengiriman sebuah barang tersbeut, dan kucari siapa yang dikirim. Aku lumayan terperanjat, ternyata orang yang ada di nama tersebut adalah salah satu tetangga yang selama ini tidak ada di daftar dugaanku dan istri. Tetangga yang menurutku cukup religius karena baik suami atau sang istri adalah orang yang mengerti soal agama,
Setiap pagi, tetangga tersebut selalau menyapu rumahnya hingga kinclong bersih luar biasa. Jalan-jalan juga kerap ia bersihkan. Namun yang buat aku heran kenapa buang sampahnya harus di tempat sampahku?
Aku lihat satu plastik sampah yang ada di kotak tempat sampah. Aku memastikan lagi. Ternyata ada foto sang istri di sampah tersebut, beberapa kertas yang kulihat menujukkan pekerjaan sang suami. Saat itu, aku benar-benar heran, dan tidak dapat bekata apa-apa.
Aku masuk ke dalam rumah dan menceritakan perihal ini kepada istriku.
“Tahu enggak, siapa yang buang sampah selama ini?” ucapku.
“Siapa?” tanya istriku ingin tahu.
“Tetangga itu!” jawabku sembari menunjuk rumah tetangga.
“Serius?” ucap istriku tak kalah heran. “Padahal kan?” lanjutnya kemudian diam sejenak. “Enggak nyangka ya, selama ini kita menuduh tetangga dengan suku tertentu itu sebagai pelaku utama. Namun ternyata tetangga yang kelihatannya baik dan relijius pelakunya,” ucap istriku.
“Padahal si istri lulusan pesantren. Kalau menulis di status di facebook seperti motivator,” ujarku.
“Facebook?” tanyaku heran.
“Aku sih enggak berteman, tapi si istri teman rekan kerjaku dulu dan mereka mengerjakan proyek jualan barang tertentu bareng-bareng. Dan herannya, setiap menulis di status di facebook berasa seperti motivator yang menginspirasi padahal...,” ucapku sembari tersenyum.
“Ya namanya manusia,” ujar istriku.
“Belum lagi sang suami. Ah sudahlah.... kadang manusia begitu, pengen terlihat bagus di mata manusia namun menjelekkan orang lain. Rumahnya pengen terlihat selalu bersih namun buang sampah sembarangan di tempat sampah orang. Wajar sih, cuma sampai segitu saja kualitas dia sebagai seorang manusia,” ucapku sok bijak padahal masih kesel.
Sudah sejak lama dari awal kepindahanku di rumahku ini, aku kurang begitu suka dengan tetangga yang terlihat relijius itu. Entah, seperti ada sekat yang membatasi. Ada banyak topeng yang mereka rekatkan di wajah-wajah mereka. Hubunganku selama ini pun tidak luwes berbeda dengan beberapa tetangga lain yang rumahnya berada di blok lain.
Terjawab sudah doaku selama ini. Dan feelingku terhadap tetangga pelaku itu selama ini benar adanya. Alhamdulillah....
***
Tempat sampah belum aku bongkar. Rencana aku bongkar dan kuganti tempat sampah dari tong seperti milik beberapa tetangga di komplek perumahanku. Dan aku punya tempat sampah pribadi tidak lagu menyatu dengan tetangga samping rumah.
 Kalau kalian bertanya kenapa tidak menegur tetangga itu. Aku dan istri hanya tertawa sekarang melihat tingkah manusia yang ingin terlihat selalu baik di hadapan manusia namun mengorbankan manusia lainnya. Ini kehidupan. Aku sih yakin, tanpa kita membalas, alam dan semesta yang akan mengambil peran untuk membalasnya.
Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

7 Cara Agar Tetap Awet Muda

Hai para pembaca yang budiman.....