Cerita Livina: Mobil Favorit Orangtua


Transportasi umum di Indonesia yang belum memadai dengan standar dan kualitas yang sama membuat banyak keluarga lebih memilih untuk memiliki mobil sendiri. Terlebih sarana transportasi umum di daerah-daerah yang masih jauh dari harapan.

Kampung halaman saya berada di Lampung, tepatnya salah satu kabupaten yang terletak di utara Lampung. Transportasi di kampung halaman hanya ada angkutan kota yang beroperasi dari pagi hingga sore, selebihnya hanya ada ojek yang hanya “berani” beroperasi pagi hingga menjelang sore. Jika ada keperluan mendesak, atau harus berangkat malam atau dini hari, satu-satunya kendaraan yang dijadikan andalan adalah mobil. 

Bicara soal kendaraan, mobil sepertinya sudah menjadi salah satu barang yang tidak lagi masuk dalam kebutuhan tersier namun sudah masuk menjadi kebutuhan sekunder (Setidaknya ini yang saya lihat di perkotaan, khususnya domisili saya Kota Bogor). Bagaimana tidak, mobilitas kegiatan manusia makin meningkat dan beragam. Kebutuhan mobil tidak lagi untuk bekerja atau berbelanja, lebih dari itu mobil digunakan untuk beragam hal seperti arisan, liburan, mudik ke kampung halaman hingga untuk mengantar dan menjemput anak ke sekolah.
#CeritaLivina Mobil Favorit Orangtua Murid

Bertahun-tahun menjadi guru di Sekolah Alam Bogor, saya mengamati banyak hal termasuk anak-anak yang diantar oleh jemputan maupun yang diantar langsung oleh orangtua. Saat saya pegang kelas bawah, biasanya saya akan mengantar anak-anak hingga parkiran. Selain mengantar mereka, saya menyapa anak-anak dan memastikan mereka masuk ke dalam jemputan atau menunggu kedatangan orangtua yang masih di perjalanan menuju ke sekolah.

Nah, moment mengantar anak ke jemputan atau bertemu orangtua adalah salah satu moment yang menarik. Saya biasanya akan mengamati orangtua yang menjemput dan mengendarai mobil. Banyak orangtua yang membawa mobil dengan merk dan jenis mobil tertentu. Namun, kebanyakan jenis-jenis mobil tertentu yang digunakan, mobil keluarga yang designnya keren dan muat untuk banyak anggota keluarga. Salah satu yang sering saya temui dan dimiliki banyak orangtua adalah Mobil Nissan Livina.

Mobil Nissan Livina biasanya dibawa ibu-ibu yang tidak sekadar mengantar atau menjemput anak, juga digunakan untuk banyak kegiatan ibu rumah tangga dengan seabrek kegiatan seperti berbelanja ke pasar, arisan ikut acara amal, antar jualan ke pelanggan dan membereskan kegiatan sekolah (khususnya bagi Komite Sekolah).

Pernah, saya menumpang salah satu mobil Livina milik orangtua murid saat akan menjenguk salah satu guru yang sedang dirawat. Saat menaiki mobil, kelegaan ruang terasa sekali. Posisi kursi terasa begitu nyaman. Saat mobil melaju, kenyamanan makin terasa.

Jujur, bicara mengenai dunia otomotif seperti mobil saya masih awam. Bagi saya, kalau naik kendaraan yang enak dan nyaman itu sudah cukup, enggak peduli apapun jenis dan merknya. Beberapa kali saya naik mobil dengan menggunakan kendaraan online, beberapa mobil terasa kurang nyaman dimulai dari kursi yang kurang leluasa, perpindahan mobil yang smooth (maaf, saya kurang paham antara gigi, kopling, mobil manual dan mekanik). Yang saya tahu saat supir mengendarai, kenyamanan mobil bakal dirasakan penumpang.

Di lain waktu, saya kembali menumpang mobil Livina milik orangtua lain. Kali ini orangtua mengajak belanja untuk keperluan acara sekolah yang dibuat oleh Komite Sekolah. Saat naik, kenyamanan Livina kembali terasa. Kursi yang leluasa dan nyaman, dan saat mobil menembus jalanan terasa begitu smooth. 

Saya pikir kenyamanan sebuah mobil tergantung pengendara atau supirnya, namun dugaan saya tidak tepat. Mobil adalah penentu utama kenyamanan dalam berkendara dan itu ada di Livina he..he..he...

Pernah saya iseng, bertanya kepada orangtua mengapa memilih Livina. Orangtua menjawab dengan begitu antusias.

“Saya pilih Livina, enak bawanya, pak,” jawab salah satu orangtua yang memiliki Livina.

“Kalau ada apa-apa, servicenya gampang banget. Terus muat banyak untuk saya, suami, anak-anak dan nenek kakeknya anak-anak,” jawab orangtua lain.

“Design mobil keluaran Nissan keren keren, pak. Apalagi yang Livina. Terus kalau bawa mobil ini ringan, enggak berat. Apalagi tipikal emak-emak kayak saya, pak, bantu banget,” ucap orangtua yang lain.

Saya mengangguk, emang terasa sih kenyamanan dan kemudahan Livina.
GIIAS 2019

Jodoh memang enggak bakal ke mana. Kalau kata Afgan sih jodoh pasti bertemu. Saat ada undangan perhelatan GIIAS 2019 dengan teman “Cerita Livina”, saya buru-buru mendaftar, berharap terpilih dan mengenal lebih dekat tentang mobil Nissan Livina.

Hari Senin yang lalu, saya berkesempatan untuk datang ke pameran mobil terbesar di Indonesia, Gaikindo Indonesia International Auto Show, GIIAS 2019 di ICE BSD.Acara yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 28 Juli 2019 ini menghadirkan mobil-mobil dari brand-brand terkenal di Indonesia, termasuk Nissan.

Menuju GIIAS tidaklah sulit, saya lebih memlilih naik kereta api dari Bogor. Pertama saya naik KRL ke Tanah Abang, lalu dilanjutkan naik kereta ke arah Parung Panjang. Saya berhenti di stasiun Rawa Buntu. Saat keluar dari stasiun, shuttel bus gratis menuju ke ICE BSD sudah tersedia. Saya buru-buru mendaftar, beberapa menit kemudian bus datang dan membawa saya ke ICE BSD.

All New Nissan Livina

Ketika masuk ke ICE BSD, saya terperangah. Ini pameran yang luar biasa kerennya, pantas saja timeline di facebook maupun instagram ramai membincangkan gelaran GIIAS ini dan banyak juga teman-teman dan orangtua di sekolahku yang menanti-nanti gelaran ini.

Saya menuju pameran mobil produksi Nissan. Akan ada talkshow yang dihadiri oleh Donna Agnesia host, pemain sinetron dan bintang iklan, yang juga BA dari Nissan Livina. Dan... saya baru tahu, ternyata Nissan Livina mengeluarkan produk baru yaitu All New Livina dengan keunggulan-keunggulan yang berbeda dengan pendahulunya.



Nah, apa saja keunggulan Grand Livina ini. Berikut ulasannya....
Body dan Design Eksterior
Untuk body, sekilas mirip salah satu mobil tertentu. Namun body baru All New Livina ini terlihat lebih tangguh dan elegan. All New Nissan Livina mempunyai body yang lebih besar dengan panjang 4.510 mm, lebar 1.750 mm dan tinggi 1.695 mm (1700 mm untuk tipe VE AT dan VL AT), sedangkan wheelbase berukuran 2.775mm. Untuk Ground Clearance, jarak ke tanah 200-205 mm, tergantung model dan ukuran velg. Untuk lampu, Livina terbaru ini menggunakan Dual LED Signature with DRL.
Mesin
Untuk mesin All New Nissan Livina menggunakan mesin 1.499 cc dengan tenaga 104 ps pada 6000 rpm dan torsi maksimum 141 Nm pada 4000 rpm sedangkan transmisi menggunakan manual 5 kecepatan dan otomatis 4 kecepatan.
Design Interior
Untuk urusan kabin, Livina terbaru mempunyai banyak saku untuk menyimpan barang. Saku saku tersebut ada di belakang kursi depan, di bawah kursi baris kedua  dan di kursi baris ketiga. Nah, yang keren lagi semua kursi dapat dilipat hingga 90 derajat, sehingga barang yang akan dibawa dapat lebih banyak namun kenyamanan pengemudi masih terjaga.
Untuk kursi, Livina terbaru ini menggunakan jok kulit sebagai pembungkus kursi. Terlihat lebih elegan kan? Nah, Livina ini bisa muat 7-8 orang loh (termasuk supir)
Fitur-fitur Keren
Secara fitur, Livina terbaru ini begitu memuaskan. Fitur hiburan dengan Varian Highway Star (HWS), All New Livina memiliki head unit 7-inci layar sentuh dengan konektivitas ponsel pintar secara Android Auto dan Apple Carplay. Selain itu, tersedia pula sambungan Bluetooth dan koneksi USB. Keren kan?
Fitur lainnya yang enggak kalau keren adalah fitur dalam memudahkan pengendara dalam menjaga keselamatan diri. Fitur seperti smart key dengan tombol start-stop. Fitur Hill Start Assist (HSA), Vehicle Dynamic Control (VDC) dan Traction Control melengkapi rem ABS + EBD dan BA. Dual SRS airbag digunakan untuk melindungi pengemudi dan penumpang depan. Ada juga sensor parkir dan kamera mundur pada tipe VL.
Harga
All New Nissan Livina ditawarkan dalam 5 varian mulai dari All New Nissan Livina E M/T yang dijual Rp 198,8 juta hingga All New Nissan Livina VL A/T yang dibanderol Rp 261,9 juta. Angka ini sudah on the road DKI Jakarta.
***
Mendengar penjelasan tentang kerennya All New Nissan Livina, tekad saya semakin kuat untuk banyak menabung dan semangat dalam menjemput rezeki. Siapa tahu, tahun depan Al New Nissan Livina ini dapat dibeli. Aamiin.
Jika tahun depan, All New Nissan Livina sudah masuk garasi rumah. Akan banyak #ceritaLivina yang mengalir dari waktu ke waktu. Semoga harapan ini terwujud. Aamiin.



Sumba dan Film-film Yang Membersamainya


Hari pertama menginjakkan kaki di Sumba, saya terpesona. Baru akan mendarat, perbukitan berwarna cokelat seakan menyambut beberapa dari kami yang baru saja bersua dengan Sumba. Seperti yang banyak diketahui, Sumba dikenal dengan julukan Negeri Seribu Bukit karena sepanjang jalan bahkan hampir keseluruhan pulaunya adalah tanah berundak-undak.

Baca juga:
Menikmati Senja di Pantai Walakiri, Sumba Timur
Suatu Sore Di Kalamba, Sumba Timur.
**

Saya mengenal Sumba tidak hanya dari pelajaran geografi yang mulai diajarkan semenjak SMP. Atau di pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang diberikan di kala SD. Namun, saya mengenal lebih dalam Sumba dari sebuah film yang disutradarai oleh Garin Nugroho dan dibintangi oleh Maudy Koesnaedy. Film yang saya tonton di stasiun televisi itu membuat saya merasa takjub akan keindahan Pulau Sumba. Seperti yang sudah publik ketahui, kepiawaian Garin dalam menyutradarai sebuah film tidak perlu diragukan lagi. Banyak film yang digarap sukses secara sinematik dan kualitasnya juga tidak main-main.  Termasuk Film Angin Rumput Savana yang lokasi pengambilan gambarnya banyak dilakukan di Sumba. 

Film yang dirilis tahun 1995 ini berkisah tentang Wulang, seorang gadis Sumba yang mengenyam pendidikan kedokteran di Jakarta dan memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Namun kontrasnya budaya antara kehidupannya di Jawa dengan Sumba membuat Wulang dilema, apakah tetap bertahan di Sumba atau kembali ke Pulau Jawa.
Saya tidak terlalu ingat persisnya cerita di film ini, yang saya ingat adalah bukit-bukit hijau Sumba dan kuda-kuda yang diternak secara liar yang berlarian di rerumputan savana. Dan, hal lain yang saya ingat adalah adegan penuh simbolik ciri khasnya Garin. Memukau.

Di usia dewasa, ingatan Sumba kembali menyeruak. Kali ini film besutan Riri Reza yang ikut andil mengingatkan memori saya tentang Sumba. Film berjudul Pendekar Tongkat Mas adalah film action kolosal yang lokasi penggarapannya sebagian besar dilakukan di Sumba.
Saya sengaja menonton film ini karena deretan para pemain di film ini benar-benar menjanjikan. Reza Rahadian, Nicholas Saputra, Christine Hakim, Tara Basro, Eva Cilia mengambil bagian penting dalam film yang berkisah tentang murid yang berkhianat kepada gurunya.

Secara alur cerita, film Pendekar Tongkat Mas seperti film kolosal yang sudah-sudah. Pembunuhan, balas dendam, pengkhianatan. Namun yang membuat saya tertarik menyaksikan film ini adalah latar tempat yang digunakan. Keindahan perkampungan, bukit-bukit yang memesona menjadi tempat latihan para ksatria dan jernihnya sungai membuat kekaguman saya terhadap Sumba semakin menguat.

Secara geografis, Sumba masuk dalam Propinsi Nusa Tenggara Timur. Walaupun banyak orang yang kerap tertukar dengan Sumbawa yang masuk ke dalam Propinsi Nusa Tenggara Barat. Walaupun kedua pulau ini lumayan berdekatan (jika dilihat di peta), banyak orang yang sulit membedakan, bisa jadi karena nama yang mirip, bukit-bukit yang juga banyak di kedua pulau, kuda yang banyak diternakkan. Namun, sesunguhnya tradisi antara Sumba dan Sumbawa jelas berbeda.

Setelah disambut bukit-bukit cokelat, pesawat kecil yang saya naiki dari Denpasar mendarat dengan mulus. Begitu pun dalam mengambil barang di bagasi, semua berjalan dengan lancar. Saat keluar dari Bandar Udara Umbu Mehang Kunda, suhu ekstrim mulai saya rasakan. Pertama kalinya saya berkunjung Sumba memang sedang dilanda kemarau. Saking panasanya rumput serta tanaman akan berwarna cokelat dan mengering.

Saya tidak pernah membayangkan dapat berkunjung ke pulau nan eksotis ini. Banyak sekali orang yang mengidam-idamkan untuk berkunjung ke Sumba dan harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Sedangkan saya, Alhamdulillah, ada pihak yang mengundang kami (tim Bogor) untuk melakukan pelatihan guru-guru di Sumba.
Sumba pulau eksotis Indonesia
Saya di Padang Rumput Savana, Sumba
**
Hari kedua di Sumba, perjalanan sesungguhnya mulai dilakukan. Kami menembus jalanan membelah bukit dengan mobil yang sudah disiapkan. Keindahan rerumputan dan pohon yang mengering membuat Sumba semakin eksotis. 

Adegan menakjubkan ini mengingatkan saya pada adegan di Film Marlina: Pembunuh Dalam Empat Babak di mana Marlina yang diperankan oleh Marsha Timothy berjalan dengan menarik kuda sambil membawa kepala manusia yang dipenggalnya. Film yang disutradarai Mouly Surya ini memang salah satu film terbaik Mouly. Banyak penghargaan yang diberikan termasuk sutradara terbaik dan pemeran utama wanita terbaik. 

Perjalanan dari Kota Waingapu menuju beberapa sekolah di pedalaman memakan waktu hingga dua jam.  Suhu ekstrim, angin yang tidak berhembus membuat suasana semakin panas dan gerah. Untung saja air minum tersedia cukup banyak. 

Kami sampai di sebuah sekolah. Di samping sekolah terdapat beberapa rumah. Kebun di samping rumah dipagar dengan menggunakan kayu hidup, sepanjang perjalanan kebun rumah juga ditutupi dengan batu yang disusun sedemikian rupa. Ternak yang dipelihara secara liar membuat pemilik rumah harus ekstra dalam menjaga tanamannya.

Setelah berbincang perihal pelatihan untuk esok hari. Saya menyempatkan melihat rumah penduduk. Ada sekitar lima rumah dengan design rumah adat Sumba “Uma”, di antaranya ada kubur batu yang merupakan makam khas Sumba. Bicara soal Kubur Batu, ingatan saya kembali menyeruak di bagian Film Marlina. Saat para perampok datang ke rumah Marlina, ada mayat suami Marlina yang diselimuti kain tenun berada di sudut rumah. Upacara kubur batu yang menelan biaya yang tidak sedikit membuat Marlina belum melakukan penguburan. Mahalnya biaya penguburan juga tersirat dalam dialog-dialog pada adegan di mana perampok mengambil seluruh ternak Marlina.
***
Sekolah-sekolah yang kami kunjungi berada di utara Sumba Timur, jadi beberapa kali kami dapat melihat pantai indah Sumba. Saat makan siang, kami menepi ke Pantai Purkambera, salah satu pantai indah nan eksotis di Sumba.

Keindahan Pantai Purkambera dimulai dengan pasir putihnya yang bersih. Kemudian air laut  yang berwarna hijau toska di area dangkal, dan warna biru di area yang agak lebih dalam. Indah sekali. Belum lagi area pantai yang sepi sehingga berasa seperti pantai milik pribadi. Di seberang lautan Pulau Flores terlihat samar. 

Eksplor pantai demi pantai ini diabadikan di Film Susah Sinyal besutan Ernest. Film yang dibintangi Ardina Wirasti dan beberapa pemain baru ini sebagian besar lokasi pengambilan gambar ada di Sumba. Film dengan gendre drama komedi ini menghadirkan drama antara hubungan penting anak dan ibu yang diwarnai dialog-dilaog segar dan lucu dari pemain sekaligus komika terkemuka Indonesia.

Salah satu pantai yang digunakan sebagai lokasi syuting adalah Pantai Walakiri. Saya sempat menuliskannya disini karena saya juga berkesempatan untuk mengunjunginya. 
Pantai Walakiri Sumba Timur
Pantai Walakiri, Sumba
Kami menikmati makan siang di bawah pohon sembari menatap lautan dan ombak kecil yang menemui pasir putih di bibir pantai. Mahal mendapatkan moment semewah ini. Banyak memang pengunjung yang melakukan hal serupa di pantai-pantai lainnya, namun tidak banyak yang melakukannya di pantai seindah Pantai Purkambera dengan pengunjung yang hanya kami saja.
***

Mobil membelah jalanan berdebu, di sisi kanan dan kiri, rumput dan pohon yang mengering di bukit-bukit terlihat begitu eksotis. Suhu ekstrim yang berbeda jauh dengan suhu di Bogor tak menghalangi langkah kami untuk mengunjungi satu sekolah lagi yang menjadi tempat pelatihan nanti. 

“Kapan ya, aku bisa berkunjung ke Sumba?”

Beberapa pertanyaan penuh harap terlontar dari beberapa teman yang berkomentar di status sosial media saya tentang Sumba.

“Belum... mungkin nanti kalau ada kesempatan. Atau... tonton film-film yang membersamai Sumba dan lamatkan doamu dalam penuh harap.” Saya membalas.

“Seperti yang selama ini kamu lakukan?” tanyanya.