Keseruan Event APLI Exhibition 2022

Bahagia dalam kamus hidup saya itu sederhana. Salah satunya adalah datang ke sebuah event, menikmati euforia yang ada, melihat stand stand yang menawarkan produk atau jasanya, melihat bagaimana para tenant menata stand standnya agar menarik para pengunjung, mengikuti challenge di stand, dan tentu saja berburu hadiah. Tapi ada hal utama yang tidak dapat dilewatkan di sebuah event yakni talkshow membahas sesuatu atau workshop tertentu yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilan.

Seperti hari Minggu, 24 Juli 2022, saya berkesempatan untuk hadir ke sebuah event yakni APLI Exhibition 2022. Jujur ini kali pertama saya mengikuti event yang diadakan APLI padahal sebelumnya APLI rajin membuat acara yang dibuka untuk umum.

APLI merupakan singkatan dari Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia Organisasi ini merupakan wadah persatuan dan kesatuan tempat berhimpun para perusahaan penjualan langsung (Direct Selling/DS), termasuk di dalamnya adalah perusahaan yang menjalankan penjualan dengan sistem berjenjang (Multi Level Marketing/MLM) di Indonesia.

APLI dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi IDSA (Indonesian Direct Selling Association). APLI juga sudah terdaftar sebagai anggota kamar dagang Indonesia, APLI juga merupakan bagian dan satu-satunya Asosiasi Penjualan langsung di Indonesia yang telah diakui oleh Federasi Penjualan Langsung Internasional (World Federation of Direct Selling Assosiation/WFDSA). APLI dicetuskan pertama kali oleh Bapak Eddy Budhiman dengan nama IDSA (Indonesian Direct Selling Association).

Di hari Minggu, menjelang siang hari saya berkesempatan hadir di APLI Exhibition yang bertempat di Pasaraya Blok M. Event ini berlangsung hingga 3 hari kedepan yakni tanggal 24, 25 dan 26 Juli 2022.

Saat pertama masuk exhibition, hawa semangat para penjaga stand dalam mengenalkan produknya mulai terasa. Senyum sapa dan ajakan untuk berkunjung ke standnya membuat saya dan beberapa teman blogger jadi tertarik ikutan. Ada beberapa stand yang saya kunjungi, salah satunya stand yang menawarkan produk penurunan berat badan. Jujur, beberapa bulan ini berat badan saya naik drastis. Kenaikannya pun adalah kenaikan tertinggi selama hidup.

Di stand tersebut, saya ditimbang berat badan, masa tubuh, volume air dalam tubuh, serta usia sel. Karena berat badan yang tidak ideal, jelas sekali usia sel saya juga melebihi usia saya sekarang. Bedanya lumayan sekali sampai 7 tahun. Setelah pengukuran, penjaga stand menjelaskan masukan-masukannya terhadap kami. Makanan apa yang sebaiknya dimakan dll.

Di stand yang lain, ada pengukuran anti oksidan tubuh. Ini seru sih, karena ini kali pertama saya cek anti oksidan yang ada didalam tubuh. Dan ternyata ketersediaan antioksidan dalam tubuh masih jauh dari standar jumlah yang ada. Kudu mempertanyakan makan sayur an dan buah buahan berwarna jingga kemerahan. Setelah melakukan pengecekan, beberapa stand memberikan hadiah. Lumayanlah hadiahnya cukup terpakai untuk sehari-hari.

Talkshow Apakah MLM Haram?

Kalau ikut event, acara talkshow nggak pernah saya lewatkan. Banyak pengetahuan yang diberikan narasumber yang lumayan memberikan insight untuk diri sendiri. Nah, di APLI hari pertama ada Talkshow yang membicarakan perkara apakah bisnis MLM haram atau tidak?

Talkshow yang diisi oleh Bapak Kany V. Soemantoro selalu ketua umum APLI, Bapak Dr. Moch. Bukhori Muslim, Lc, MA selalu Ketua Bidang Industri Bisnis dan Ekonomi Syariah DSN-MUI, Ibu Ina Rachman SH selaku Sekjen APLI dan di moderasi oleh Dr. U. Mulyaharja, SH, SE, MH, MKn. CLA.

Dari talkshow ini, saya menyimpulkan jika bisnis MLM halal dan sudah diakui oleh MUI. Perbedaan di Arab yang mengharamkan bisnis MLM hanya mengacu pada perusahaan tertentu yang menganut sistem money games. Sedangkan MLM di Indonesia khususnya produk-produk yang terdaftar di APLI sebagian besar sudah tersertifikasi halal serta sistem akad jual beli yang sesuai dengan syariat.

Bapak Bukhori juga menjelaskan produk-produk non makanan yang terdaftar halal seperti kulkas, memiliki sparepart yang terbuat dari bahan-bahan tidak halal, sehingga perlu sertifikasi halal untuk memastikan semua sparepart dari produk non-halal aman terutama untuk kaum muslimin.

Perkara halal haram sebuah barang atau makanan memang sangat riskan terutama untuk umat muslim sehingga MUI dalam hal ini ketat dan menyarankan usaha-usaha termasuk UMKM untuk mendaftarkan sertifikasi halal.

Don’t Worry

Buat kalian yang ketinggalan event ini, tenang.... Event APLI Exhibition atau event lainnya akan dilaksanakan secara berkala. Pantengin dan follow akun instagram APLI yakni @apli.ind



Donasi Beasiswa JNE SMK Bakti Karya Parigi Pangandaran

 


Kalau ngomongin soal beasiswa, saya termasuk orang yang mencari-cari dan menantikannya. Tapi, dari SD sampai SMP saya tidak pernah dapat beasiswa. Kebanyakan beasiswa diperuntukkan untuk siswa-siswi yang kurang mampu. Dan, ekonomi keluarga yang cukup membuat saya tidak akan pernah mendapatkanya.

Namun kesempatan itu hadir saat saya berada di level SMA, tepatnya SMK. Sebagai sekolah yang berada di bawah yayasan angkatan laut, kami dididik agak agak semi militer. Selain ada bantuan yang diperuntukkan bagi siswa kurang mampu. Ada juga beasiswa yang diberikan kepada siswa berprestasi khususnya untuk siswa dengan predikat juara umum.

Dan... Akhirnya saya mendapatkan beasiswa tersebut setelah tiga tahun berturut-turut menjadi juara kelas dan dapat predikat juara umum. Beasiswa yang diberikan oleh sekolah adalah uang tunai dengan nilai yang lumayan. Saat itu, sebagian uang beasiswa saya gunakan untuk membeli sepatu persiapan uji kompetensi.

Saat kuliah di Bogor, saya mendapatkan dia beasiswa. Satu beasiswa berasal dari lembaga asuransi syariah dan satu beasiswa berasal dari kementerian. Tepatnya kementerian apa saya sudah tidak ingat.

Pernah saya apply beasiswa untuk kalangan yang kurang mampu. Melihat kondisi saya saat itu dan kondisi teman-teman seangkatan yang rata-rata mampu, saya begitu percaya diri untuk berhak menjadi penerima. Apalagi kalau ngobrolin kiriman uang untuk kebutuhan sehari-hari, saya agak minder. Bayangkan uang kiriman teman dari kampung bisa dua hingga tiga kali lipat dari uang kiriman orangtua saya. Makanya saya makin percaya diri untuk apply....

Hingga tibalah waktunya wawancara....

Saat diinterview, pewawancara bertanya perihal kiriman orangtua, digunakan untuk apa saja. Apakah setiap bulan ada sisa uangnya dan pertanyaan lainnya. Saat ditanya apakah ada sisa saya mantap menjawab, saya ada sisa Dan jawabanku saat ditanya apakah ada sisa uang, saya menjawab dengan yakin, ada sedikit tabungan dari sisa kiriman orangtua disimpan dalam bentuk tabungan. Meskipun uang kiriman orangtua tidak sebanyak teman-teman seangkatan, tapi saya tetap berniat menyisihkan untuk jaga-jaga kalau ada apa apa di kemudian hari.

Saat wawancara, saya berkumpul dengan mahasiswa lain. Dari cerita mereka saya langsung jiper ternyata kondisi mereka benar-benar memerlukan beasiswa. Ada mahasiswa yang dikirim orangtuanya dua bulan sekali tergantung panen. Ada juga yang harus hidup dengan uang yang tidak seberapa. Di situ, saya paham kalau kondisi saya tidak seburuk yang saya bayangkan. Dan, saat pengumuman nama saya tidak tercantum. Saya lega bukan main.

JNE dan Beasiswa

Meskipun bergerak di bidang ekspedisi, JNE berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat luas. Hal ini bertujuan untuk membentuk ekosistem yang dapat menghasilkan manfaat dan kolaborasi yang berkelanjutan. Dengan tagline Connecting Happiness, JNE berupaya mengantarkan kebahagiaan tidak hanya melalui pengiriman paket yang menjangkau  semua lapisan masyarakat. JNE juga menyebarkan kebahagiaan di bidang lain. JNE pernah membagikan kebahagiaan untuk perayaan Imlek di kota-kota tertentu. Memberikan semangat kepada UMKM baik dari segi pelatihan atau memberikan promo pengiriman, di bidang olahraga JNE ikut serta dalam kompetisi futsal dengan menjadi bagian dari klub Cosmos FC. Dalam bidang edukasi, JNE juga ikut berkontribusi salah satunya dengan memberikan donasi beasiswa.

Bhinneka Tunggal Ika di JNE Bersama SMK Bakti Karya Parigi Pangandaran

Beberapa waktu yang lalu, JNE memberikan donasi beasiswa untuk SMK Bakti Karya (SBK)  Parigi Pangandaran. Sekolah ini merupakan sebuah yayasan pendidikan yang menyediakan beasiswa penuh bagi siswa-siswi dari seluruh penjuru nusantara, dengan latar belakang budaya yang beragam yang mewakili ke Bhineka Tunggal Ika-an Indonesia.

Pada Selasa, 19 Juli 2022 bertempat di Ballroom kantor JNE Jl. Tomang Raya 11, Jakarta Barat, siswa-siswi dari SMK Bakti Karya Parigi melakukan office tour dan juga berkenalan dengan M. Feriadi Soeprapto selaku Presiden Direktur JNE, Doedi Hadji selaku Head of Marketing Communication JNE, Ayung Prasetyo selaku Human Capital Operation Division Head. Ada juga Kang Maman Suherman selaku pegiat literasi yang selalu menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman di Indonesia dengan memberikan banyak sekali inspirasi dan motivasi untuk seluruh siswa/i yang hadir.

“Dalam menjalankan bisnis, langkah JNE akan tetap memberikan kebahagiaan bagi masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan sesuai dengan semangat Connecting Happiness. JNE akan berkomitmen untuk terus memberikan manfaat yang seluas-luasnya dan sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan keunikan dan kekhasan siswa-siswi SMK Bakti Karya Parigi Pangandaran yang berasal dari berbagai suku dan daerah Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke, “ ujar M. Feriadi Soeprapto selaku Presiden Direktur JNE,

“Tahun ini, siswa-siswi SMK Bakti Karya memasuki angkatan ke 7 kelas multikultural yang berasal dari 7 kota, yaitu Jayapura, Sorong, Ambon, Kupang, Ujungpandang, Palembang dan Pekanbaru. SBK merupakan sekolah multikultural yang membuka beasiswa bagi siswa yang ingin mengenyam pendidikan di sekolah ini,” ucap Ai Nurhidayat selaku pendiri SMK Bakti Karya (SBK) Parigi Pangandaran. ”Kami membuka akses beasiswa penuh dengan melibatkan publik seluas-luasnya agar transparan diketahui segala proses belajar mengajar serta memberikan kesempatan kepada siswa bersekolah selama 3 tahun,” lanjutnya.

Ai berharap program ini dapat menemukan pola pembelajaran kontekstual dan menghargai karakteristik budaya yang menempel pada masing-masing siswa dari beragam suku. Di sini, semua orang bukan semata-mata sekadar berburu ilmu atau nilai saja sekolah ini bukan tempat mencari penghidupan, lebih jauh dari itu, kami justru memperoleh bahagia di sini. Kebutuhan yang paling kami cari adalah rasa damai, hidup rukun dan selaras dengan ruang hidup. Kami menemukannya di sini. “

Kang Maman menerangkan, “Banyak cerita di antara yang sering dikirimi buku pelajaran atau buku rohani dari beragam suku yang ada di Indonesia untuk saling berbagi dengan yang berbeda suku dan agama. Bahwa di Indonesia ke-Bhineka Tunggal Ika-an itu sangat luar biasa, berbeda bahwa kita satu dengan keberagaman ini dan tidak Bhineka maka tidak Indonesia.”

Lebih dalam lagi Kang Maman bertutur, “Dalam seluruh kegiatan yang dilaksanakan setiap individu harus memiliki aksi empati, bagaimana perhatian orang lain untuk saling mendukung terhadap sesama yang membutuhkan seperti halnya yang dilakukan JNE kepada SMK Bakti Karya Parigi. Dan empati bukan hanya persoalan kita bersimpati kepada orang dan apa yang dirasakannya. Bahwa Empati itu adalah empat suku kata yang dibelakang nya, dan JNE dapat bertahan selama 32 tahun karena rajin silaturahmi, berbagi, memberi dan menyantuni.”

32 Tahun, bukan waktu yang sebentar untuk JNE hadir dan menyebarkan kebahagiaan melalui bentuk empatinya. Dan Connecting Happiness akan tetap menjadi tagline yang tidak sekadar tagline. Keren sekali JNE! Saluuut.....

 

 

 

 

Pondok Pesantren Raudhatul Ihsan 3 Ijazah dalam Satu Madrasah

 


Jika bicara perkara pendidikan seorang anak memang bukanlah perkara yang gampang. Dewasa ini, pendidikan tak lagi menyoal hal yang akademisi. Banyak sekolah-sekolah yang menawarkan pendidikan sekalian muatan akademis. Pendidikan karakter, pendidikan fitrah, pendidikan dengan muatan enterpreneur hingga pendidikan akhlaq mulai banyak bermunculan.

Saya menyadari jika pendidikan anak adalah salah satu cermin dari visi sebuah keluarga sehingga patokan pendidikan masing masing keluarga berbeda-beda. Untuk keluarga yang memiliki visi akhirat pendidikan akhlaq dan Qur’an jadi patokan utama. Untuk keluarga yang lebih mementingkan akademis, sekolah sekolah dengan prestasi akademiklah yang diincar.

Belasan tahun berada di dunia pendidikan, saya sadar betul bagaimana orangtua murid mengharapkan anaknya akan seperti apa. Meski orangtua tahu kalau sekolah yang dituju dalam membimbing buah hatinya adalah sekolah karakter namun tetap saja beberapa orangtua bersikeras menuntut nilai akademis yang bagus. Memang sekolah tempat saya mengajar masih terhubung dengan diknas dan akademis, namun muatannya hanya seperempat dari kurikulum sekolah, tiga perempat muatan lainnya adalah akhlaq, karakter dan enterpreneur.

Sebelum menikah dan punya anak, saya masih selow dan belum terlalu ribet soal pendidikan. Namun ketika sudah memiliki buah hati yang mulai beranjak besar, saya mulai overthinking. Lantas pertanyaan berikutnya mulai muncul, “Mau dibawa kemana pendidikan anak saya ke depannya?”

Mulailah saya berdiskusi intens dengan istri soal pendidikan anak. Lama di tanah pendidikan, saya berpikir untuk menyekolahkan anak dengan pendidikan fitrah yang mencakup akhlaq (agama), numerik (hitung-hitungan) , literasi dan life skill. Kalau istri berpendapat untuk menyekolahkan anak di sekolah yang memiliki muatan agama dengan porsi lebih besar.

Bagaimana dengan Pondok Pesantren?

Awalnya saya dan istri belum sepenuhnya ingin menyerahkan pendidikan anak ke pondok pesantren. Apalagi background keluarga kami yang jarang bersekolah di pondok pesantren. 

Beberapa kali datang ke pondok pesantren atau sekolah boarding school untuk melakukan studi banding, saya masih belum sreg. Beberapa pondok pesantren yang saya kunjungi terkesan kumuh dan kotor. Belum lagi banyak kasus di pondok pesantren yang membuat saya tercengang saat tahu beritanya. 

Tetapi, mindset saya tentang pondok pesantren mulai terbantahkan saat minggu lalu saya berkunjung ke salah satu ponpes di Jakarta. Saya mulai menemukan titik terang.

Pondok Pesantren Raudhatul Ihsan

Jujur ya, saya tidak menyangka kalau ada ponpes di Jakarta. Di benak saya, pondok pesantren pasti berada di daerah seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur dan daerah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Ternyata dugaan saya keliru, ada pesantren keren di daerah Tebet Barat, Jakarta Selatan. Namanya Pesantren Raudhatul Ihsan.

Pesantren Raudhatul Ihsan merupakan pesantren modern yang menerima siswa level SMP dan SMA. Berdiri sejak tahun 2017, pondok pesantren ini berada di bawah naungan Yayasan Arraudhah Ihsan Foundation yang lebih dikenal dengan Zawiyah Arraudhah yang menjadi sentra ruhiyah dalam amal dzikir dan rangkaian yang sesuai dengan sunnah mulia Rasulullah SAW.

Saat awal masuk, saya kagum, ponpes terlihat bersih, tapi dan jauh dari kesan kumuh. Melihat kamar santri, terlihat rapi, bersih dan tertata. Jumlah santri yang dibatasi jumlahnya membuat ponpes ini terlihat lebih intim interaksi satu sama lain.


Satu Madrasah 3 Ijazah

Bicara soal program pendidikan, hal ini penting sekali menjadi acuan karena setiap ponpes memiliki program yang berbeda-beda disesuaikan dengan visi dan misi ponpes tentunya. Ada tiga program pendidikan yang ditawarkan ponpes ini yang berarti akan ada 3 ijazah yang diberikan.

Madrasah Tahfidzil Qur’an

Ponpes Raudhatul Ihsan memiliki program unggulan Tahfidzul Qur’an dengan metode Al Itqon yakni metode penguatan hafalan. Ada beberapa target. Target minimal 10 juz selama tiga tahun, target menengah yakni 20 juz selama tiga tahun dan target ideal 30 juz selama tiga tahun. MasyaAllah. 

Madrasah Diniyah Islamiyah

Pada program ini, santri belajar pendidikan dasar agama Islam secara teori maupun praktik seperti akidah, tafsir, hadist, fiqih, nahwu, shorf dll.

Arraudhah Islamic School

Ponpes Raudhatul Ihsan ingin santri santri mereka juga cakap secara akademis. Para ustadz berharap, para santri dapat mendalami ilmu tertentu dan bermanfaat bagi sekitar. Ada yang menjadi dokter yang tahfiz Qur’an, ada arsitek yang tahfiz, dosen yang tahfiz dll.

Nah, program pendidikan umum ini setara SMP dan SMA yang telah diakui negara dan terakreditasi A. Jadi ayah bunda tidak perlu khawatir. 

Keunggulan Ponpes Raudhatul Ihsan

Selain menawarkan 3 program pendidikan dengan tiga ijazah yang berbeda. Ponpes Raudhatul Ihsan juga memiliki banyak keunggulan yang sudah terbukti.

Memiliki Sanad Al Quran Dan Keilmuan yang Jelas

Dalam menuntut ilmu, sanad sangatlah penting. Belajar Al Quran dan hadist tidak bisa dilakukan secara otodidak karena banyak tafsir yang harus dikupas ahlinya. Untuk itu, ponpes Raudhatul Ihsan memiliki sanad Al Quran dan keilmuan yang bersambung pada Rasulullah SAW melalui para guru dan masyayikh seperti Maulana Syekh Yasin Isa Al Fadani ( Makkah), Syekh Yusri Jabar Al Hasani (Mesir), Syekh M. Fadhil Al Jailani ( Turki), Syekh Idris Al Fihri Al Fasi ( Maroko), Syekh Abdul Mun'im bin Shiddiq Al Ghumari dan KI. Ahmad Marwarie Al Makki Al Batawi ( Indonesia).

Kajian Kitab Kuning berbagai Keilmuan dan Bahasa Arab Khusus

Ponpes Raudhatul Ihsan memberikan kajian kajian Kitab kuning dari berbagai keilmuan kepada santri nya. Selain itu, ada program bahasa Arab khusus untuk memudahkan para santri dalam meneruskan pendidikan berikutnya di universitas terkemuka di Timur Tengah.

Dewan Guru Lulusan Universitas dan Ponpes Terkemuka di Indonesia maupun Timur Tengah.

Saat tahu dewan guru Ponpes Raudhatul Ihsan berasal dari lulusan universitas dan ponpes terkemuka di Indonesia dan Timur Tengah, saya berdecak kagum. Ada guru yang merupakan lulusan Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Universitas Ibn Tofail Kenitra Maroko, Pondok pesantren Gontor, dll. Sudah terlihat kan kualitasnya bagimana.

Alumni di Universitas Terkemuka di Indonesia dan Timur Tengah

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Ponpes Raudhatul Ihsan ingin santrinya menyebar si berbagai disiplin ilmu. Beberapa alumni tersebar di universitas terkemuka di Timur Tengah seperti Universitas Al Azhar Mesir, Universitas Qorawiyyun Maroko. Universitas terkemuka di Indonesia seperti Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Indonesia.

Ekstrakurikuler dan Ilmu Enterpreneur

Di sela-sela belajar Al Quran, santri juga dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan minat dan bakat seperti kesenian hadroh, olahraga pencak silat dan olahraga lainnya. Selain itu, santri juga diajarkan materi kewirausahaan seperti digital marketing, sosial media marketing dengan output agar santri mampu menguasai teknologi sesuai perkembangan zaman dan memiliki kemampuan berwirausaha sehingga kelak mampu membuka lapangan pekerjaan.

Bekerjasama dengan Universitas Qorawiyyun Maroko

Ponpes Raudhatul Ihsan mulai menjajaki kerja sama dengan Universitas Qorawiyyun Maroko yang merupakan salah satu universitas Islam tertua di dunia dan telah melahirkan ulama-ulama terbaik dan termasyhur. MasyaAllah kan....

Dua Kampus

Tahun ajaran mendatang tepatnya Juli 2022 ini, Ponpes Raudhatul Ihsan akan memiliki dua kampus. Jika tahun ajaran sebelumnya, kampus dipusatkan di daerah Tebet, Jaksel baik untuk santri putri maupun santri putra. 

Nah, tahun ajaran ini (2022/2023), santri putra akan ditempatkan di Kampus Dua yang berada si daerah Cigombong, Kabupaten Bogor. Melihat suasananya yang begitu asri, sejuk dan tenang, diharapkan kampus baru ini akan membuat santri putra semakin kuat menghafal dan mempelajari pendidikan dasar agama Islam.

Biaya

Penasaran kan dengan biaya? Jujur ya saat berkunjung ke ponpes Raudhatul Ihsan di bilangan Tebet, saya bergumam dalam hati. Uang pangkalnya pasti besar sekali, SPP bulanannya juga pasti besar mengingat kamar para santri yang ber-AC, terlihat bersih, tapi dan tidak terkesan kumuh. Belum lagi para santri yang terlihat bersih dengan wajah bercahaya jauh dari kesan santri yang kadang terlihat kumuh.

Untuk biaya, kalian tidak perlu heran karena uang pangkalnya hanya 5 juta rupiah. Ini jelas murah sekali mengingat Kampus berada di Jakarta dan Bogor dan dibanding dengan pesantren atau boarding school uang pangkal segitu lumayan jauh selisihnya.

Untuk SPP, kampus satu di Tebet Jakarta (santri putri) sebesar 2.5 juta sudah termasuk makan, tempat tinggal, biaya pendidikan. Terjangkau sekali kan mengingat biaya sebesar itu untuk tinggal di daerah Jakarta. Untuk kampus dua di Cigombong SPP dikenakan sebesar 1,1 juta disesuaikan dengan daerahnya. Selain biaya di atas, ada juga biaya daftar ulang per tahun sebesar 3,5 juta. Terjangkau sekali kan apalagi dengan output yang diberikan. MasyaAllah...

Untuk ayah bunda yang berminat, bisa menghubungi nomor WA di 0877 8805 8845 atau info@zawiyah.arraudhah.com