Kamis, 29 Agustus 2019

Menjelajah Palembang: Menikmati Malam di Pinggiran Sungai Musi


“Untuk pempeknya masih ada rasa ikannya, cukonya saja yang sedikit kurang mantap, namun makan pempek ala ala di perahu dengan pemandangan Jambatan Ampera, dinginnya hembusan angin Sungai Musi dan riaknya suara deburan air sungai adalah pengalaman yang indah dan mahal.”

***
Kedatangan saya dan istri ke Palembang memang bertujuan untuk mempelajari pempek dan menikmatinya di gerai-gerai pilihan dari harga yang terjangkau hingga harga yang memukau. Dan rekomendasi saya jatuh pada gerai Pempek Candy. Kualitas pempeknya yang baik dibarengi pula dengan kualitas pelayanan yang prima di gerai-gerainya.

Pas berkeliling menikmati pempek demi pempek, kami pulang sejenak ke hotel untuk berbersih diri, istirahat dan sedikit berdiskusi apa saja yang diperoleh dari berkunjung dari gerai ke gerai pempek lainnya. Tapi jangan bayangkan berdiskusi yang bagaimana ya, karena diskusi hanya berlangsung 10 menit. Sebab kami sudah tertidur sebelum diskusi benar-benar selesai. Perut kenyang dan badan yang lelah sebagai tersangka utamanya.
***
Ini adalah malam terakhir kami di Palembang. Besok sore kereta akan membawa kami kembali ke Kotabumi, Lampung Utara.

Setelah beristirahat yang cukup, meski masih mengantuk, sekitar jam setangah lima kami keluar dari hotel menuju ke pinggiran Sungai Musi. Banyak hal yang menarik yang dapat dieksplor di pinggiran Sungai Musi.

Berpose di Tugu Belido
Kondisi taman sepenjang pinggiran sungai Musi hingga Tugu Belido Pelembang sudah tumpah ruah manusia. Sudah seperti pasar. Banyak pengunjung berarti banyak pedagang. Sepanjang pinggiran hingga Tugu Belido, pedagang mie tek-tek, nasi goreng, pedagang mainan anak, pedagang cilok, penjual minuman sudah menanti para pengunjung. Bahagia rasanya jika tempat-tempat seperti ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Sepanjang pelataran, selain banyaknya pedagang, anak-anak bermain dengan begitu riang. Beberapa anak bermain dengan orangtuanya, ada yang memainkan permainan yang baru dibeli. Ada juga orangtua yang mengamati anaknya bermain sambil menikmati santapan dari para pedagang.

Pedagang-pedagang ini sudah siap dari sore hari hingga malam. Namun, jika berkunjung ke pelataran pinggiran Sungai Musi yang menarik perhatian saya adalah perahu-perahu yang bersandar di pinggir sungai. Perahu-perahu tersebut bukan perahu nelayan yang akan berlayar mencari ikan namun perahu tersebut adalah perahu-perahu yang disulap menjadi warung makan.
Suasana pedagang di pelataran pinggiran Sungai Musi

Salah satu tujuan saya malam malam mengunjungi pelataran pinggiran Sungai Musi ya ingin tahu tentang warung perahu ini. Adik saya yang masih berstatus mahasiswa sengaja ke Palembang bacpakeran ala ala dan merekomendasikan tempat ini. Begitu juga, saat sepupu yang juga bakpakeran bersama teman-temannya datang dan merekomendasikan tempat ini.

Ada beberapa warung perahu yang bersandar, yang membuat makan di perahu ini berkesan adalah pemandangan Jembatan Ampera yang terlihat terang karena lampu warna warninya.

Sebelum masuk ke perahu, saya dan istri mengantre sebentar karena padatnya pengunjung saat itu. Akhirnya saya kebagain tempat dan masuk. Perahu yang cukup besar diset menjadi tempat duduk dan meja. Ada sekitar 6 hingga 7 meja yang bisa di tempati. Di setiap meja penganan beberapa jenis pempek dan pisang goreng sudah siap menyambut. Oh ya, untuk masuk ke dalam perahu kita tidak dikenakan biaya apa-apa.
Pempek di setiap meja

Selain penganan di atas meja, kita juga dapat memesan makanan berat seperti tekwan, nasi goreng, mie goreng, mie tek-tek, tekwan. Untuk minuman, segala jenis kopi sachet, minuman perasa buah-buahan, cokelat, teh manis juga tersedia.

Terus terang, saya penasaran dengan pempek yang ada di meja. Sebelum mengambil pempek di meja, saya pesan minuman, istri memesan mie goreng. Saya pun mencoba satu pempek. Jujur, memang enggak semantap empat gerai pempek yang kami kunjungi sebelumnya. Untuk pempeknya masih ada rasa ikannya, cukonya saja yang sedikit kurang mantap, namun makan pempek ala ala di perahu dengan pemandangan Jembatan Ampera, dinginnya hembusan angin Sungai Musi dan riaknya suara deburan air sungai adalah pengalaman yang indah dan mahal. Walapun harga setiap makanan sangat sangat terjangkau. Untuk pempek dibandrol dengan harga seribu rupiah, minuman rata-rata 3 ribu hingga 5 ribu, makanan berat seperti nasi goreng, mie tek-tek dibandrol 10 ribu rupiah. Murah meriah  kan?
Warung Perahu dengan View Jembatan Ampera

Tenang, saya tidak hanya mengunjungi satu warung perahu. Saya mengunjungi warung lain. Tidak banyak yang berbeda dengan warung sebelumnya, konsep yang ditawarkan pun serupa bahkan harganya juga hampir sama. Yang membedakan rasa makanan, pempeknya cenderung rasanya mirip mirip, cukonya saja yang ada yang pas namun ada yang sedikit “aneh” sehingga menganggu.

Nah, warung perahu ini bukanya sekitar bakda maghrib hingga menjelang tengah malam. Jadi buat kalian yang ingin menghabiskan malam di Kota Palembang, tempat ini sangat-sangat cocok. Cocok untuk keluarga dan cocok dengan kantong.

***
Tidak perlu persiapan khusus untuk mengunjungi wisata di pelataran Sungai Musi ini. Cukup pakai baju panjang atau jaket dan bawa uang buat jajan serta kamera buat foto-foto. Asiknya menikmati malam di pinggiran Sungai Musi ini tentunya bersama keluarga atau bersama teman-teman yang seru, pasti akan membawa kebahagiaan.

Kadang, kebahagiaan itu bersumber dari hal hal yang sangat sederhana tergantung sudut pandang masing masing individu. Menikmati pempek ala ala dengan harga murah dengan sesekali goyangan perahu sembari menatap Ampera yang megah adalah kebahagiaan yang ukurannya begitu sederhana namun begitu dalam untuk saya.

Malam mulai beranjak, saya dan istri kembali menyusuri pelataran pinggiran Sungai Musi menuju depan museum lantas memesan taksi online. Bulan sabit terlihat samar menemani perjalanan kami kembali ke hotel. 

Senin, 26 Agustus 2019

Menjelajah Palembang: Pempek Terenak di Palembang

Hari kedua.

Hari pertama sampai di Kota Palembang tidak lantas membuat saya dan istri untuk buru-buru berburu pempek. Semua dikembalikan pada tujuan awal kedatangan, yaitu mengunjungi beragam gerai pempek yang terkenal dan sedikit menganalisa apa yang membuat brand pempek di Kota Palembang tetap bertahan.

Bicara soal brand, perlu puluhan tahun untuk membangun sebuah brand agar lekat di benak masyarakat. Dan, mempertahankan brand sebuah produk nyatanya bukan perkara mudah. Banyak faktor yang harus diperhatikan seperti mempertahanakan kekhasan produk, inovasi produk, pelayanan yang rapi dan menggunakan kekuatan produk secara menyeluruh termasuk memanfaatkan sosial media, blog dan kanal youtube di era digital seperti sekarang.
Gerai Pempek Candy
Banyak brand-brand yang terkenal hingga sekarang. Ngomongin mie instan, sebagian besar orang akan menyebut Indomie. Bicara soal minuman dalam kemasan, Aqua yang biasanya orang akan sebut. Saya juga penasaran, jika bicara pempek di Kota Palembang brand apa yang paling diingat?

Setelah memesan tiket kebarangkatan, hotel dan akomodasi, saya iseng mencari pempek apa yang enak dan terkenal di Palembang. Dan, ada beberapa list yang sudah saya catat. Di hari kedua ini, dari menjelang siang hingga malam. Perburuan akan pempek siap saya dan istri lakukan.
***
Pagi menjelang dengan sedikit kantuk yang masih tersisa setelah semalam menikmati ikan pindang dan menikmati malam di pinggiran Sungai Musi. Apalagi hotel yang saya tempati tidak tepat berada di pusat kota, namun akses menuju jalan-jalan besar di Kota Palembang cukup mudah untuk dijangkau meskipun lumayan jauh.

Sekitar pukul setengah tujuh, kami menuju ke lantai paling atas di hotel untuk menikmati sarapan di roof top. Hotel yang saya pilih memang bukan hotel berbintang. Saya memilih hotel syariah selama berkunjung ke Palembang. Walau bukan hotel berbintang empat atau lima, namun  fasilitasnya cukup lumayan termasuk sarapan.

Ada beberapa menu yang ditawarkan nasi goreng, nasi putih dengan ayam mentega dan sayur buncis, sambal dan kerupuk. Roti tawar dengan beberapa pilihan selai. Minuman seperti juice, teh dan kopi juga disediakan.

Setelah sarapan saya kembali ke kamar untuk bersiap-siap menjelajah pempek di Palembang. Dan... pilihan pertama ada di Pempek dan Kacang Merah V*** (saya beri bintang karena ada pengalaman yang tidak mengenakkan saat berkunjung ke gerai pempek ini).

Pempek Gerai Pertama: Pempek dan Kacang Merah V***

Saya sampai saat menjelang makan siang meski masih terbilang pagi. Sekitar pukul setengah sebelas. Namun kedai pempek ini sudah ramai dikunjungi. Wajar saja mengingat kunjungan saya ke Palembang masih masuk waktu libur lebaran.

Saat masuk, saya sedikit mengalami kebingungan untuk mencari meja karena sudah penuh. Gerai pempek yang terdiri dari dua lantai ini hanya memfungsikan lantai bawah, lantai atas sedang direnovasi dan saya hampir saja naik ke lantai dua sembari masih planga plongo karena karyawan di gerai ini yang terkesan bodo amat.

Suasana sudah tidak mengasyikkan tapi saya masih penasaran. Di tengah kebingungan yang masih melanda, ada pengunjung yang mulai bersiap-siap meninggalkan meja. Selang beberapa menit kemudian, saya sudah menempati meja tadi.

Ternyata perjuangan belum berakhir karena karyawan gerai yang sibuk dan terkesan bodo amat. Saya semakin penasaran seenak apa sih pempek di gerai ini sehingga untuk mencicipinya perlu kekuatan dan efort yang tidak sedikit.

Saya kembali memanggil karyawan perempuan berkulit kuning untuk mencoba memesan. Jujur, wajahnya yang tidak ramah membuat saya kurang sreg untuk berlama-lama di sini. Tapi karena sudah nanggung, saya selesaikan saja dulu. Akhirnya, seorang karyawan pria mendatangi kami. Saya memesan seporsi pempek kecil lengkap. Seporsi pempek kapal selam. Seporsi tekwan dan es kacang merah.

Pesanan kami datang tidak berselang lama. Saya mencoba pempek yang terhidang. Untuk rasa, memang cukup enak terutama pempek kulit. Cukonya juga lumayan enak. Kalau untuk tekwan, rasa micin masih cukup mendominasi. Es kacang merah tidak terlalu istimewa. Biasa saja. 
Pempek Kulit
Sembari menikmati pempek, suasana riuh masih terlihat. Sistem gerai yang kurang baik membuat beberapa pengunjung terkesan diabaikan belum lagi karyawan berwajah kecut yang kurang cekatan membuat suasana menjadi semakin tidak nyaman.

Di dekat kasir, ada pemesan aneka oleh-oleh khas palembang dengan merk gerai ini. Pempeknya pun bisa dibeli. Namun semerawutnya tata cara pemesanan membuat saya berpikir, ada yang salah dengan gerai ini.

Usai menikmati pempek di gerai ini, saya ke meja kasir. Harga pempek di gerai ini lumayan juga, di atas rata-rata pempek di Palembang. Ketika keluar dari gerai saya dan istri buru-buru ambil kesimpulan untuk enggan kembali lagi ke gerai pempek ini.

Pempek Gerai Kedua: Pempek Pak Raden

Saya dapat informasi pempek ini dari rekomendasi beberapa teman dan google tentunya. Bersebelahan dengan Transmart Palembang, Pempek Pak Raden ini sudah berdiri sejak lama rupanya. Saya masuk dan mulai memesan, kondisi di dalam gerai tidak terlalu ramai. Cuma yang mengherankan buat saya adalah adanya ruang VIP di dalam gerai ini. Saya kurang paham, namun sepertinya ada perbedaan antara ruang biasa untuk menyantap pempek dengan ruang VIP. Beda kelas meskipun intinya sama-sama tempat untuk menyantap pempek.
Pempek Pistel isi pepaya tumis
Pempek yang tersedia cukup lengkap termasuk pempek pistel yang berisi tumis pepaya (tidak semua gerai menjual pempek jenis ini). Saya memesan pempek kecil dengan varian yang lengkap. Rasa pempeknya enak, cukonya juga enak, walaupun pelayanan dari para karyawan yang terlihat datar datar saja. Harga pempek persisnya saya lupa, namun lumayan terjangkau dibandingkan gerai pempek sebelumnya.

Pempek Gerai Ketiga: Pempek Lala
Karena pempek adalah makanan khas Palembang, jadi surganya pempek dari segala jenis pasti ada di sini. Mulai dari harga yang cukup mahal, terjangkau, hingga murah meriah namun tidak menanggalkan kualitasnya. Seperti pempek yang terletak di Kampung Pempek 26 Ilir ini, di mana satu jalan semua toko pempek dan oleh oleh khas Palembang lengkap tersedia.

Pempek Lala begitu ramai saat kami datang. Sangat ramai malah. Saat lihat daftar menu, selain lengkap varian makanan dan minumannya harga pempeknya emang murah sekali. Sangat sangat terjangkau. Satu pempek kecil dihargai seribu rupiah, namun karena saya datang saat liburan pempek dihargai 1500 rupiah karena bahan baku ikan gabus yang ikutan naik saat lebaran. 
Lenggang Panggang
Bagi saya, tidak masalah, karena harga segitu masih sangat terjangkau dibandingkan dengan gerai pempek sebelumnya. Soal rasa, pempek di gerai ini terasa enak dan ikannya terasa. Namun dari ukuran dan kekenyalan gerai pempek sebelumnya lebih “ngena”, begitu juga dengan cukonya. Meskipun ramai, namun karyawan Pempek Lala yang berjaga terlihat cekatan dalam melayani pengunjung. Begitu pula dalam hal pemesanan pempek untuk dijadikan oleh-oleh, terasa cepat dan lumayan rapi sistemnya.

Pempek Gerai Ke Empat: Pempek Candy

Setelah puas menikmati ragam pempek, menjelang sore kami menyempatkan untuk menikmati sore di pinggiran Sungai Musi yang masih saja ramai. Sesudah itu, kami kembali menjelajah, kali ini Pempek Candy.

Kalau menurut saya, salah satu brand pempek yang dikenal orang di luar Palembang adalah Pempek Candy. Itu tersirat saat beberapa kali saya update status sedang melakukan perjalanan ke Palembang, banyak yang memesan Pempek Candy. Atau beberapa kali orangtua murid yang bertugas di Palembang, saat pulang biasanya akan membawakan kami para guru oleh-oleh pempek dan merk yang selalu dibawa adalah Pempek Candy.
Menu Pempek dan lainnya di Pempek Candy

Begitu lekatnya merk dan brand pempek ini membuat saya langsung menaruh di daftar tempat yang harus dikunjungi tanpa berpikir panjang. Cuma sekalian balik ke hotel, Pempek Candy dipilih di akhir penjelajahan.

Kami mendatangi gerai Pempek Candy di Jalan Jenderal Sudirman. Saat masuk suasana hangat terasa, karena karyawan yang berdiri dekat pintu masuk menyapa dengan senyum tulus. Bagi saya ini poin tambahan.

Gerai cukup ramai, yang datang pun terlihat cukup berkelas, setidaknya itu yang ada di pengamatan saya. Saya duduk dan mengamati sekitar, salah satu pelayan gerai memberikan daftar menu. Dari daftar menu yang berbentuk buku dengan design yang tidak biasa membuat poin dalam benak saya untuk gerai ini bertambah. Itu tandanya Pempek Candy serius dalam melakukan perbaikan termasuk daftar menu.

Saya kembali memesan pempek kecil semua varian, lenggang goreng, dan minuman es kacang merah. Sistem yang rapi, membuat semua karyawan sudah mengetahui tugasnya di gerai ini sehingga selang waktu yang tidak lama, makanan yang kami pesan datang. Soal rasa, dari dulu Pempek Candy dikenal dengan rasa yang enak, kekenyalan pempek yang pas, cuko yang enak dan kualitas pempek yang baik. Bicara harga, satu pempek dihargai dengan harga 4ribuan.

Ngomongin soal tempat, tata ruang yang apik dengan interior yang asik membuat pengunjung betah dan nyaman. Kalau mau memesan pempek untuk dibawa pulang, tinggal datang di bagian belakang karena karyawan yang mencatat dan mengemas pesanan sudah siap. Rapi sekali sistemnya.
***
Kunjungan kami sudahi dulu. Seharian makan pempek membuat lidah agak keblinger ha..ha... Tapi dari semua gerai yang dikunjungi, saya salut dengan gerai Pempek Candy dalam mempertahankan brandnya. Secara kualitas rasa dan kekenyalan Pempek Candy masih bertahan, secara kenyamanan gerai pengunjung dibuat nyaman dengan tata ruang dan interior yang kekinian. Namun satu lagi yang penting, sistem pelayanan yang rapi, ramah dan cekatan membuat pengunjung makin menikmati menyantap pempek di gerai atau untuk membawanya sebagai oleh-oleh. Satu hal yang pasti dilakukan pengunjung yaitu untuk datang lagi dan lagi.
***
NB.
Di tulisan ini murni hasil pengamatan.
Tidak ada unsur endorse :)

Kamis, 22 Agustus 2019

Ulang Tahun Indocement ke-44: Quarry Walk di Lahan Reklamasi Bekas Tambang


“Take care of the earth and she will take care of you”
Berkunjung ke area bekas tambang yang terlintas dalam benak orang awam seperti saya adalah daerah tandus, gersang, panas dan berdebu. Namun, lintasan dalam pikiran itu terbantahkan ketika menginjakkan kaki di area Quarry D, bekas tambang pabrik Indocement.
***
Quarry Walk
Pagi itu tidak seperti pada pagi biasanya. Matahari pagi yang biasanya terik kali ini cukup bersahabat. Bisa jadi hujan di sore kemarin yang meredam terik. Jalanan yang biasanya berdebu turut redam. Dan ini jelas menguntungkan kami yang ikut serta dalam acara Quary Walk, yang merupakan rangkaian acara ulang tahun Indocement ke-44.
Quarry Walk Indocement Ulang tahun ke-44
Pemasangan Baliho Ulang tahun Indocement ke-44 di salah satu bukit

Semua orang tahu kiprah Indocement dalam membangun Indonesia. Produsen semen terkemuka di Indonesia ini telah malang melintang di dunia pertambangan sejak tahun 1975. Indocement sendiri berdiri sejak tahun 1985 dari penggabungan 6 perusahaan yang memiliki 8 pabrik semen yang beroperasi sejak 1975. Lantas, tahun 1989 Indocement menjadi perusahaan public di Bursa Efek Jakarta (sekarang BEI) dengan kode saham (INTP). Pada tahun 1991 Indocement mengakusisi pabrik baru yang menjadi  Plant 9 di Kompleks Pabrik Palimanan. Lalu, tahun 1996 Indocement menyelesaikan pembangunan Plant 10 di Kompleks Pabrik Palimanan. Di tahun 1998, pengambilalihan PT Indo Kodeco Cement (Plant 12) melalui penggabungan usaha di Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan dan tahun 1999 Indocement menyelesaikan pembangunan Plant 11 di Kompleks Pabrik Citeureup.

Memasuki era tahun 2000-an, HeidelbergCement Group menjadi pemegang saham mayoritas Indocement di tahun 2001. Lalu tahun 2005 dilakukan peluncuran Portland Composite Cement (PCC) ke pasar Indonesia. Tahun 2008, Indocement menerima Certified Emission Reductions (CERs) untuk proyek bahan bakar alternative.

Tahun 2012, Indocement memulai penggunaan kereta api untuk distribusi semen kemudian tahun 2015 menjadi salah satu anggota pendiri Green Product Council Indonesia dan tahun 2016 : meluncurkan “Semen Rajawali” dan menyelesaikan pembangunan Plant 14, Kompleks Pabrik Citeureup. Di tahun 2017 Indocement meluncurkan produk “Slag Cement” yang digunakan untuk proyek Pelabuhan Patimban serta tahun 2018 Indocement melakukan transformasi tim sales Indocement dengan konsep Sales is a Science (SiaS).

Kami berkumpul di lapangan di sekitar area tambang. Hangatnya mentari pagi setelah hujan kemarin membawa semangat  para karyawan Indocement dalam mengikuti Quarry Walk ini. Belum lagi, ribuan pohon di area bekas tambang membawa hawa sejuk yang tak terelakkan. Di Indocement Citeureup (Komplek Pabrik Citeureup, Bogor) ini memiliki 10 pabrik sedangkan di Palimanan, Cirebon memiliki 2 pabrik dan Komplek Pabrik Tarjun Kotabaru, Kalimantan Selatan hanya memiliki 1 pabrik. Kapasitas produksi terpasang Indocement mencapai 24,9 juta ton semen per tahun.

Sekitar 500 orang lebih karyawan Indocement berkumpul. Acara dimulai dengan senam terlebih dahulu. Instruktur senam yang heboh membuat suasana pagi menjadi lebih bergelora. Acara dilanjutkan dengan menanam pohon oleh direksi Indocement sebagai simbol kepedulian Indocement terhadap lingkungan. Setelah menanam pohon, acara dilanjutkan dengan pengibaran baliho besar yang bertuliskan Hari Ulang Tahun Indocement 44 tahun “Bergerak Berkarya Bersama”.
Penanaman pohon di Ulang Tahun Indocement ke-44
Penanaman Pohon oleh Direksi

Kegiatan yang ditunggu-tunggu pun tiba, Quarry Walk dimulai dengan melakukan trekking ke area bekas tambang. Matahari mulai beranjak, namun semangat para peserta tak ikut beranjak. Saya ikut serta di kelompok pertama dalam Quarry Walk sepanjang 3 km ini.

Reklamasi Bekas Lahan Tambang
Bicara soal lokasi tambang, pikiran kita akan melanglang pada galian-galian tambang dengan lubang-lubang tak terurus. Yang jika musim penghujan datang, lubang-lubang itu akan membentuk danau danau kecil dengan ekosistem yang kacau. Namun ketika mengunjungi bekas tambang di Indocement, pemandangan yang ada di lintasan pikiran tadi terbantahkan. Sepanjang quarry walk, pepohonan senantiasa menemani. Tak hanya satu namun ribuan pohon yang sengaja ditanam di lahan tambang membawa hawa sejuk dengan ketersediaan oksigen yang tidak ada habisnya.

Kebun Tegal Panjang
Saya memasuki area Kebun Tegal Panjang, wangi tanah selepas hujan dan dedaunan yang gugur dan lapuk terasa begitu menggoda. Pohon jati yang berbaris rapi membuat kekaguman saya bertambah. Pohon jati sudah tinggi tinggi dengan prediksi umur sudah di atas lima tahun.

Kebun Tegal Panjang terletak di kawasan Quarry  D dengan luas 12 hektar. Kebun ini dikelola oleh 10 orang petani, dua orang tenaga pengawas dan 8 orang petani kebun yang berasal dari desa mitra Indocement. Kebun ini berisi tanaman vegetasi berbatang keras dan lunak.
Kebun Tegal Panjang Ulang tahun Indocement ke-44
Kebun Tegal Panjang
Indocement memanfaatkan Kebun Tegal Panjang sebagai laboratorium pertanian/perkebunan. Indocement juga berusaha memperkenalkan nilai keekonomian dari tanaman berbatang lunak seperti Pohon Cinta, Andong ataupun monstera. Nah, salah satu budidaya yang sudah bernilai ekonomi adalah budidaya pohon cinta, dimana dibeli oleh pengusaha bunga papan/hias di Rawa Belong. Omset perbulan petani Kebun Tegal Panjang mencapai Rp. 800.000-2.000.000/bulan tergantung hasil panen dari tanaman cinta dan hortikultur tanaman lainnya. Jenis tanaman yang ditanam berada di sela tanaman pokok (tanaman energi dan tanaman kayu).

Saat masuk ke Kebun di kawasan Quarry D, mata akan dimanjakan dengan pohon jati yang berbaris rapi. Kemudian tanaman pohon cinta dan tanaman-tanaman lain yang tak kalah membuat kagum dan takjub, bekas lahan tambang disulap menjadi kebun dengan banyak tanaman asri.

Beberapa jenis pohon yang ditanam di area reklamasi Quarry D antara lain:


o   Pohon Mahoni
o   Pohon Jinjing
o   Pohon Dadap
o   Pohon Ketapang
o   Pohon Bintaro
o   Pohon Daun Kupu-Kupu
o   Pohon Pucu Merah
o   Pohon Jati
o   Pohon Kembang Sepatu
o   Pohon Glodokan Lokal (Polyantha longifolia)
o   Pohon Beringin
o   Pohon Tanjung ( Mimosops elengi)
o   Pohon Flamboyan (Delonik regia)
o   Pohon Mangga (Mangifera indica)
o   Pohon Johar
o   Pohon Cempaka Manglit (Michelia campaka)
o   Pohon Trembesi (Samanea saman)
o   Pohon Kembang Kecrutan (Spatodhea campanuliata)
o   Pohon Salam (Eugenia polyantha)
Ulang tahun Indocement ke-44 
Saya berfoto di barisan Pohon Jati

Mata Air Cikukulu
Setengah perjalanan dalam Quarry Walk telah dijalani. Terus terang, meski keringat mulai bercucuran namun semangat dalam mengikuti kegiatan ini masih bergelora. Setelah melewati beberapa tanaman buah, peserta Quarry Walk melewati sungai dangkal yang begitu jernih dengan bebatuan sebagai alat untuk menyeberang. Melangkah beberapa meter terlihat sungai dan mata air.

Mata Air Cikukulu yang terletak di Kawasan Quarry D ini berada di Desa Lulut, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor dengan luas area konservasi mata air cikukulu mencapai 5 hektar. Mata Air Cikukulu ini sudah memenuhi persyaratan kualitas air bersih yang tercantum di  Permenkes No.416/MEN.KES/PER/IX/1990 mengenai standar kualitas air.

Sebanyak 350 KK memanfaatkan air dari Mata Air Cikukulu karena Indocement membuka akses untuk masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.  Indocement juga melakukan pipanisasi air untuk warga Desa Leuwikaret dan Desa Lulut.

Beberapa minggu ke belakang, Bogor dan hampir semua daerah di Indonesia sedang mengalami mism kemarau, mata air Cikukulu ini tidak mengalami kekeringan meskipun musim kemarau melanda. Melihat mata air ini begitu penting,  untuk melindungi mata air, Indocement menetapkan zona larangan tambang serta melakukan penghijauan di sekitar mata air

Ketinggian rata-rata muka air Cikukulu mencapai 31,25 cm di mana pada musim kemarau, ketinggian muka air mata air Cikukulu  mencapai 15 cm dan pada musim penghukan mencapai 40 cm. Indocement melakukan pemantauan ketinggian muka mata air setiap dua minggu sejak tahun 2007 serta melakukan uji kualitas air setiap enam bulan.
Ulang tahun Indocement ke-44 tahun
Peserta Quarry Walk berjalan melintasi kebun
Sepanjang 3 km, kami melakukan trekking kami sampai di tempat pembibitan “Land Nursery” yang merupakan kebun pembibitan Quarry D. Beberapa meter dari Land Nursery, panggung sebagai tempat puncak acara sudah tersedia. MC yang bertugas memandu acara, menyambut kedatangan para peserta Quarry Walk dengan begitu antusias.

Saat semua kelompok peserta sudah memenuhi bangku. Acara dimulai dengan pembagian hadiah terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Utama Indocement, Christian Kartawijaya.

“Hari ini kami merayakan Hari Ulang Tahun Indocement yang ke-44. Lebih dari empat dekade telah kami lalui bersama, jatuh bangunnya Indocement telah mewarnai perjalanan panjang yang dirasakan bersama. Kita patut bersyukur bahwa perjalanan Indocement selama 44 tahun ini telah mendatangkan kontribusi positif bagi banyak pihak seperti karyawan Indocement, masyarakat di sekitar operasional pabrik, daerah dimana pabrik dan terminal Indocement berdiri serta bangsa Indonesia. Indocement berhasil tumbuh menjadi salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia. Indocement merupakan pelopor di bidang industri semen yang menerapkan teknologi terkini, menghasilkan produk semen bermutu tinggi, kokoh dan ramah lingkungan.”

Para hadirin bertepuk tangan.

“Perjalanan panjang di usia ke-44 ini, Indocement terus melakukan berbagai upaya dalam mengendalikan risiko lingkungan melalui sejumlah kegiatan, seperti pengurangan emisi, efisiensi energi, pendayagunaan limbah, perlindungan keanekaragaman hayati dan pemanfaatan air bekas pakai. Upaya ini sejalan dengan pengurangan gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Indocement sebagai bagian dari HeidelbergCement Group, kembali menunjukkan dukungan pada inisiatif keberlanjutan (Cement Sustainability Initiative/CSI) yang dilakukan oleh 24 produsen semen di 100 negara yang kapasitasnya setara dengan 30% produksi semen dunia melalui kegiatan operasi semen yang ramah lingkungan,” lanjut Bapak Christian.

“Dengan mengusung tagline “Bergerak Berkarya Bersama”, Indocement tidak akan bisa mencapai hasil yang diinginkan seperti sekarang ini apabila tidak digerakkan bersama-sama oleh Direksi, Manajemen dan seluruh karyawannya sebagai sebuah keluarga besar, dan tentunya juga dukungan dari masyarakat yang tumbuh bersama kami serta semua pemangku kepentingan lndocement”, tambah Christian.

Hadirin kembali bertepuk tangan. Tersirat di wajah wajah mereka sebuah kebanggan akan perusahaan yang telah memberi mereka penghidupan.

Reog Ponorogo pun dimainkan. Beberapa direksi naik ke atas reog sebagai tanda penghormatan. Kemudian acara diteruskan dengan pemotongan tumpeng, doa penutup dan Nyanyian lagu Selamat Ulang Tahun versi Jamrud.
Ulang tahun Indocement ke-44
Pemotongan Tumpeng oleh Bapak Christian Kartawijaya
***
Matahari mulai meninggi. Acara peryaan ulang tahun ke-44 Indocement memang telah usai. Namun usaha Indocement dalam menghadirkan semen terbaik untuk membangun Indonesia terus dilakukan. Seiiring dengan itu, usaha Indocement dalam melesatarikan lingkungan dengan mereklamasi lahan bekas tambang menjadi kebun kebun yang asri patut untuk diapresiasi

Seperti quote di awal tulisan, “Jaga bumi dan dia akan menjagamu.” Saya yakin Indocement akan dijaga bumi ini jika konsisten dalam kontribusi terhadap lingkungan.

***

Padang Rumput Savana di Puru Kambera, Sumba.

Pergi ke Sumba tentunya menjadi salah satu impian seseorang. Ya, meski nggak semua orang juga tentunya. Seperti yang sudah tersebar di medi...