Minggu, 25 November 2018

Asyiknya Acara Televisi Jadul


Aku suka banget nonton televisi. Walau enggak semua acaranya ditonton, tapi aku bisa hafal.  Dari kecil kebiasaan nonton tipi itu berlanjut sampai segede sekarang.  Dulu sih, acara tivinya emang keren-keren banget. Yang selalu aku ikuti itu salah satunya adalah acara Asia Bagus, dari aku masih sekolah dasar sampe mau lulus SMA. Dari acaranya nongol di TVRI sampai migrasi ke RCTI, aku adalah penonton setianya. Acara lain yang juga aku tonton adalah Kera Sakti (semua versi), Angling Darma, Film Televisi (FTV), dan sinema elektronik.
Berhubung dulu televisi adalah benda yang langka belum lagi harus menggunakan antena khusus agar nggak cuma TVRI doang yang ada, jadinya kita berbondong-bondong nonton di rumah tetangga. Nah, salah satunya nonton Kera Sakti, kudu jalan ke rumah tetangga yang beda dusun biar bisa lihat aksinya Sun Go Koong. Setelah nonton berasa puas dan terhibur. Saat sudah ada antena khusus di rumah dan ada Kera Sakti versi baru, ya tetap aja ngikutin sampe habis.

Banyak acara televisi tahun 90an hingga 2000an yang menarik seperti MTV, Asia Bagus, beragam acar musik lokal dan sinetron yang menghibur

Selain acara-acara drama dan silat, acara kompetisi adalah salah satu acara yang paling banyak aku tonton. Asia Bagus sih yang aku ikutin, setiap Sabtu sore jam lima aku udah pantengin televisi. Kalau kalian lupa atau tidak tahu Asia Bagus aku jelasin lagi. Asia Bagus itu adalah kompetisi nyanyi yang diikuti oleh beberapa negara di Asia seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Jepang, Taiwan. Setiap minggu akan dicari pemenang mingguan terus diadu untuk dapetin juara bulanan dan juara umum (grand championship). Banyak penyanyi-penyanyi Indonesia yang lahir dari ajang pencarian bakat ini, sebut saja Krisdayanti dan Dewi Gita yang menang di grand championship tahun 1992. Krisdayanti berhasil meraih juara 1 sedangkan Dewi Gita berhasil meraih juara dua. Mereka mengalahkan finalis-finalis dari negara lain seperti Malaysia, Jepang dan Singapura.  Oh ya, Rio Febrian dan Alena juga sempat jadi juara umum juga loh. Andien juga sempat menang di kompetisi mingguan dan masuk jadi finalis di grand champoinship.
Acara televisi lain yang aku ikutin waktu masih remaja adalah Music Television (MTV), dulu MTV tayang di stasiun televisi ANTV. Setiap sore habis pulang dari sekolah pasti mantengin buat nonton MTV Most Wanted, acara request lagu gitu dan dipandu VJ VJ dari Asia seperti Sarah Sechan, Donita, Utt, Jimmy dan sebagian aku lupa. Di acara ini kalau kita request lagu dari Artist of The Month, bakalan dapat merchandise dari artis bersangkutan. Dulu, aku sempat buat request yang unik gitu. Siapa tahu bisa terpilih dan dapat merchandise. Tapi aku belum beruntung.... Setiap bulan aku pasti nunggu, kira-kira siapa lagi artist of the mont yang akan dipilih. Soalnya kalau seorang penyanyi atau band jadi artist of the month, lagu-lagunya sering diputar di acara-acara MTV lainnya. Interview juga kerap dilakukan dengan artist of the month. Jadi kalau penyanyi favorit yang terpilih, kan senang banget. Seringnya sih artist of the month yang terpilih itu penyanyi-penyanyi baru.
Selain MTV Most Wanted, aku juga mantengin acara MTV lainnya seperti MTV Asia Hit List. MTV Asia Hit List itu chart top 20 dari semua artist. Dulu awal-awal nonton lagi suka dengerin lagunya Celine Dion yang My Heart Will Go On dan yang aku tahu lagu itu pasti bakal ada sekitar jam dua siang di hari Sabtu. Selidik demi selidik ternyata MTV Asia Hit List tayang jam 12 sampai jam dua siang, dan kebetulan juga lagu Celine Dion ada di posisi pertama selama 11 minggu gitu. Pas aku cek, Celine Dion nangkring di posisi 1 terus minggu berikutnya disusul oleh Savage Garden dengan lagu Truly Deeply Madly, minggu berikutnya Celine Dion naik lagi merajai chart sampai sembilan minggu berturut-turut, kemudian diambil alih lagi oleh Madonna lewat lagu Frozennya, minggu berikutnya Celine Dion naik lagi di posisi pertama. Total 11 minggu. Hebat yaak?
Nah, yang aku lumayan kaget di tahun 1998, ada penyanyi Indonesia yang tiba-tiba masuk chart. Anggun lewat lagu Snow On The Sahara. Perasaanku waktu itu bangga banget ada penyanyi Indonesia yang bisa masuk chart bareng artis-artis internasional. Sayangnya Anggun cuma mentok sampai posisi 2. Tapi udah keren sih. Apalagi di chart tahunan (1998), Snow On The Sahara berhasil nangkring di posisi 19, posisi 20 ada lagu Ray Of Lightnya Madonna.
Gara-gara MTV Asia Hit List, aku mulai ngikutin sepak terjang penyanyi penyanyi luar negeri. Hampir hafal semuanya. Ha... ha... ha....
Acara MTV lain yang aku gemari dan merupakan acara MTV lokal Indonesia adalah MTV Ampuh atau MTV Ajang Musik Pribumi Sepuluh terus berganti jadi duapuluh. Di tahun 1998, lagunya Reza Artamevia berhasil nongrong di posisi pertama sebanyak tujuh minggu di susul ME dengan lagunya Inikah Cinta dan Krisdayanti di posisi 3 karena berhasil nongkrong di posisi pertama selama lima minggu. Dulu, kalau musisi berhasil masuk chart MTV Ampuh berasa keren banget karena kreadibilitas lagu dan albumnya nggak diragukan. Beda sama chart-chart sekarang yang diset sesuka hati oleh yang punya televisi.
Masuk era tahun 1999 sampai 2000-an, MTV Ampuh didominasi grup band yang albumnya terjual hingga jutaan copy. Yang paling membekas banget ya munculnya Sheila On Seven, dari lagunya yang berjudul Kita sampai Dan ganti-gantian nongkrong di posisi pertama. Dulu tuh, sulit banget menggeser posisi grup band ini, kalau mereka buat video klip baru. Lagunya nggak bakalan mulai dari bawah, tapi langsung menggantikan lagunya yang lama. Misal lagu Kita Sheila On 7 berhasil di posisi satu, terus video klip Dan muncul, lagu Dan itu yang akhirnya gantiin lagu Kita.
Di era ini kayaknya era emasnya musik Indonesia, Sheila On 7, Jamrud, Dewa, dan Padi berhasil menorehkan prestasi sebagai band yang albumnya terjual hingga jutaan kaset.  Kalau jajaran penyanyi solo, ada Chrisye, Krisdayanti, Titi DJ, Rita Effendy, Rossa, Reza Artamevia dan penyanyi-penyanyi lainnya.
Tahun berganti, dan aku makin gede terus kuliah. Aku sudah jarang ngikutin acara televisi. Karena padatnya acara apalagi semenjak tinggal di kossan dan cuma ada televisi satu-satunya. Hasrat nonton televisi masih tinggi tapi kesempatan sangat langka. Apalagi selera teman-teman kossan yang beda banget, mereka suka banget nonton berita ha... ha.... Beda jauh sama aku yang suka nonton dan dengerin musik.Tapi masih suka curi-curi nonton sih, apalagi kalau acara-acara MTV, aduuuh.... kayaknya kesiksa banget waktu itu. Paling baner lihat di tabloid atau majalah untuk chart terkini. Cuma lama-lama karena kesibukan akhirnya hasrat buat nonton mulai berkurang.
Semenjak menikah, aku hampir neggak pernah nonton televisi dan emang enggak minat sih. Televisi tuh cuma kayak salah satu properti hiasan di rumah ha.. ha...  apalagi di era digital kayak sekarang. Nonton sudah bisa dilakukan di telepon genggam masing-masing. Masih ada beberapa acara musik yang aku ikutin sih terutama kompetisi nyanyi kayak Indonesian idol dan The Voice. Cuma ya gitu, sebatas melihat saja. Nggak kayak dulu sampe dibela-belain buat nonton dan begadang.
Kalau sekarang karena acara di youtube makin banyak dan rame jadi acara-acara televisi sudah enggak begitu penting. Apalagi banyak gimmik gimmik artis yang nggak penting yang lagi cari panggung biar tetap eksis. Seperti yang terjadi beberapa hari ini, seorang suami yang gebrek istri di kamar. Aku sih nggak ngikutin, tapi di instagram lumayan rame. Miris aja sih jadinya...
Kalau menurutku acara televisi sekarang nggak seseru yang dulu. Banyak banget hal-hal yang enggak penting yang dihadirkan. Mending nonton acara-cara di youtube atau baca buku. Ya kan?

Kamis, 15 November 2018

Bahasa Nias dan Amaedola



Bahasa Nias

Bicara soal Nias emang nggak ada habisnya, kali ini aku mau bahas tentang bahasa Nias yang unik dan berbeda dengan bahasa daerah di Indonesia. Meskipun Nias masuk dalam provinsi Sumatera Utara, namun nyatanya bahasa Nias beda dengan bahasa Batak dan Melayu yang ada di Sumatera Utara. Marga orang Nias juga beda jauh dari marga-marga pada Suku Batak. Dulu, awal aku datang untuk pertama kali ke Nias, aku agak kesusahan dalam menghafal nama orang Nias, marga seperti Zebua, Zendrato, Zalukhu, Waruwu, Fau, Fa’ana dan marga yang lain, semua masih terdengar asing di telingaku.
 Salah satu bahasa di dunia yang unik adalah bahasa Nias. Salah satu yang unik adalah semua kosakata di akhir kata tidak ada konsonan.

Dua kali ke Nias, masih aja nggak ngeh dengan keunikan bahasanya. Sampai akhirnya, balik lagi untuk mengulik lebih dalam lagi tentang budaya Nias termasuk bahasanya. Dari buku yang aku baca dan budayawan yang diajak ngobrol, ternyata orang Nias itu jago dalam bahasa tutur atau bahasa lisan. Makanya nggak heran kalau ada sekitar 13 sastra lisan yang digunakan dalam upacara adat maupun dalam keseharaian. Tapi bahasnya nanti. Aku pengen bahas tentang keunikan bahasa Nias dulu.
Nah, bahasa daerah Nias ini biasanya disebut disebut Li Niha. Apa itu ya? “Li” artinya suara sedangkan “Niha” memiliki arti manusia. Penamaan Li Niha yang berarti suara manusia erat hubungannya dengan tradisi lisan masyarakat Nias, dalam bahasa Nias tradisi ini disebut Hoho.
Apa saja keunikan bahasa Nias?
Tidak Ada Konsonon Penutup
Keunikan bahasa daerah Nias yang pertama adalah tidak ada konsonan penutup. Tahu huruf vokal dan huruf konsonan kan? Nah, bahasa daerah Nias ini enggak mengenal  konsonan atau huruf mati di akhir kata. Jadi, semua katanya itu di akhiri dengan huruf vokal seperti a, e, o, u dan ö. Contoh kalimatnya gofu hezoso mõi lõsu ba igo'õ-go'õ ia uliho yang artinya sifat dan perilaku itu akan selalu dibawa-bawa kemana pun perginya. Perhatikan nggak ada huruf konsonannya ya?
Huruf ö
Huruf ö ini sebagai salah satu tambahan huruf vokal. Penambahan huruf vokal ö (dibaca ”e” seperti pada kata empat, enggan). Adanya huruf tambahan ini membuat bahasa Nias terlihat unik ketika dituliskan. Tambah unik lagi kalau ada yang sedang mendikte dan ada yang sedang menuliskan. Saat awal-awal tinggal di Bogor, aku yang bukan orang Sunda menuliskan salah satu kata di papan tulis. Kata yang aku tulis waktu itu adalah kata “heunteu” yang artinya tidak. Saat itu, aku menuliskan hente tanpa ada penambahan u. Dan aku ditertawakan kemudian diberitahu penulisan yang benar.
Tidak ada huruf c, j, q, v dan x
Adanya penambahan huruf berarti ada pengurangan huruf juga. Enggak seperti bahasa Indonesia pada umumnya, bahasa Nias tidak menggunakan huruf c, j, q, v, dan x).
Penggunaan tanda kutip satu (‘)
Keunikan lainnya pada bahasa Nias adalah penggunaan tanda kutip. Biasanya tanda kutip digunakan untuk kata-kata yang memiliki dua huruf vokal yang bertemu. Contoh pada kata ya’ahowu, pertemuan antara huruf vokal a dan a dipisahkan dengan menggunakan tanda kutip. Contoh lain pada kata ma’igi (tertawa), te’u (tikus) dan ya’o (saya). Terdengar unik secara lisan dan penulisan.
Jadi kalau kalian sempat berkunjung ke Nias, coba deh main ke pasar dan dengerin orang Nias ngomong. Berasa ada di negeri mana gitu. Apalagi secara face, orang Nias wajahnya putih sipit tapi berbeda dengan wajah orang Tiongkok kebanyakan.
Oh ya, bahasa Nias ini masih belum diketahui asal muasalnya. Jadi banyak juga peneliti yang sengaja datang untuk tahu lebih banyak tentang asal muasal bahasa Nias.

Amaedola: Seni Sastra bahas Nias.

Untuk urusan budaya dari Nias, yang terkenal banget itu pastinya adalah lompat batu. Tapi ternyata dan aku juga baru ngeh, sastra di Nias itu lumayan banyak, ada sekitar 13 sastra lisan. Ketiga belas sastra lisan itu adalah fangowai ba fame afo, bolihae, hendrihendri, fotu ni’owalu (bene’ö), olola mbawi, famasao ono mbawi, fanika era ‘era mböwö, amaedola, nidunödunö/hikaya, hoho, fo’ere, famatörö töi mbalugu, baa tanöbö’önia.
Beberapa sastra lisan Nias yang aku tahu setelah baca literatur di Museum Pusaka Nias adalah hendrihendri, hoho dan amaedola. Kali ini, fokus aku ke sastra lisan Amaedola.
Dari literatur yang aku baca....

“Amaedola adalah salah satu budaya khas Nias yang termasuk dalam seni sastra bahasa Nias.  Dalam bahasa Indonesia amaedola diartikan sebagai pepatah atau pribahasa. Biasanya di masyarakat Nias, amaedola digunakan dalam upacara-upacara adat yang  disampaikan secara lisan.”

Dari buku Bahasa dan Sastra Nias yang ditulis oleh  Zendratö (2003), dalam sastra Nias terdapat dua jenis amaedola yakni amaedola side’ide dan amaedola sebua. Yang membedakan kedua jenis amaedola ini adalah panjang dan pendeknya kalimat, jika amaedola side’ide memiliki kalimat yang pendek dan amaedola sebua memiliki kalimat yang panjang dengan sampiran.
Contoh dari Amaedola:

Kauko ba hili kauko ba ndraso, faolo ndra'ugö ba ufaolo göi ndra'o, faoma ita fao-fao”. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunyi, “Mari kita saling menghargai (pendapat) sesama supaya suatu permasalahan dapat terselesaikan dengan kesepakatan bersama dan adil”.

Ada juga amaedola yang lain. Dikutip dari buku Kumpulan Pribahasa Nias Teluk Dalam (La’ija, 1971) yang dikoleksi Museum Pusaka Nias.

Ibinibini’ӧ ia [bawa], oroma ia na tesa’a. Ibinibini’ӧ ia [dӧfi], oroma ia na akhӧmi (Bulan yang bersembunyi di balik awan, akan kelihatan juga disaat purnama. Bintang pun yang bersembunyi akan terlihat juga disaat malam telah tiba) (bawa) “bulan” dan (dӧfi) “bintang” merupakan benda-benda langit yang berada di ruang angkasa.

Dan berikut ini penjelasan terkait dengan amaedola di atas....

“Penggunaan metafora (bawa) dan (dӧfi) diasosiasikan sebagai sebuah momok, sebuah kebohongan bagi masyarakat Nias jika dilekatkan pada amaedola di atas, yang berarti bahwa bagaimanapun bulan (mbawa) menyembunyikan dirinya maka ia mau tidak mau akan muncul juga disaat purnama, begitu juga bintang (dӧfi) menyembunyikan dirinya akan kelihatan juga disaat malam telah tiba. Semua ada masa dan waktunya, dan itu tidak akan bisa dihindari oleh siapapun. (bawa) dan (dӧfi) juga bisa diasosiasikan sebagai sebuah talenta, berdasarkan keberadaan bulan dan bintang yang merupakan benda langit, bagi masyarakat Nias juga merupakan benda langit yang sangat indah yang pastinya akan selalu dinantik-nantikan. Beberapa sifat masyarakat Nias yang terlalu merendah diri ataupun juga disebabkan karena malu untuk tampil meskipun memiliki kelebihan/talenta tertentu yang seharusnya bisa dibanggakan. Maka, bagaimanapun itu pada waktunya nanti seseorang itu pasti akan menunjukkan talenta yang dimilikinya. Secara keseluruhan, amaedola ini bermakna bahwa kebohongan bahkan kebenaran sekalipun jangan pernah ditutup-tutupi sebab setiap hal ada waktu dan masanya yang dengan sendirinya akan terungkap juga.”

Amaedola ini kan digunakan untuk upacara. Tapi selain itu digunakan juga untuk keseharian dalam memberikan nasihat-nasihat kepada yang lebih muda. Amaedola ini jumlahnya banyak banget ada ribuan amaedola. Belum sastra sastra lisan yang lain. Kalau dipikir-pikir, baru dari segi bahasa saja Nias itu sudah kaya banget. Apalagi kalau kita ngulik budaya-budaya Nias yang lain.
Nah, nilai-nilai yang terkandung dalam amaedola itu banyak banget karena berisi nasihat-nasihat penting dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Dan Amaedola ini tercipta dari pengalaman-pengalaman leluhur.
Nggak cuma Nias doang sih yang kaya akan budayanya. Waktu aku ke Toraja, budaya pemakaman di sana luar biasa. Atau saat berkunjung ke Sumba dan membahas banyak tentang budayanya, juga sama luar biasanya. Belum daerah-daerah lain. Ribuan bahkan puluhan ribu budaya ada di negeri kita. Indonesia.
Cuma ada yang bikin khawatir,  beberapa budaya sudah mulai menghilang dan nggak digunakan, termasuk budaya Amaedola ini yang mulai bergeser.
Harapan aku, semua orang mulai dari pemerintah, budayawan, pendidik, masyarakat bahu membahu dalam melestarikan budaya yang memiliki nilai-nilai positif untuk kehidupan anak cucu kita.
Semoga ya kearifan lokal dari budaya kita bisa terus bertahan. Aamiin.

Selasa, 13 November 2018

Museum Pusaka Nias (part 1)


Jalan-jalan sambil kerja itu emang menyenangkan. Gimana nggak menyenangkan, akomodasi mulai dari transportasi  dan hotel ditanggung, bisa jalan-jalan gratis kalau lagi break kerja, dan bonusnya dapat uang jajan he... he... he.... Tapi enggak enaknya, karena sambil kerja,  jadi tanggung jawab terhadap pekerjaan yang diutamakan. Raga jalan-jalan namun pikiran masih ngurusin kerjaan.
Salah satu kerja sambil jalan-jalan yang mengasyikkan adalah ke Pulau Nias tahun 2017 lalu. Sebelumnya, aku pernah mengunjungi pulau ini di tahun 2009 dan 2010, nyaris sepuluh tahun.
Perjalanan ke Nias memakan waktu yang nggak sebentar, kita kudu naik pesawat dua kali. Pesawat pertama dari Bandara Soekarno Hatta ke Kualanamu Medan ditempuh sekitar dua jam, kemudian dilanjutkan dengan pesawat kecil ke Bandar Udara Binaka, Nias. Ditempuh sekitar satu jam. Saat naik pesawat dari Medan ke Nias, kalian bisa melihat Dana Toba dan Pulau Samosir. Menakjubkan banget.
Selama di Nias, aku cuma berada di sekitaran Gunung Sitoli. Di Nias, aku tinggal di Hotel National pada kunjungan ketiga dan guest house di Museum Pusaka Nias, sebelumnya pernah menginap di Nias Palace. Untuk urusan hotel, Nias belum seperti Sumba yang memiliki hotel yang lumayan bagus.
 
Pose Model di depan Rumah Adat Nias
Dari Bandara Binaka menuju hotel yang letaknya berada di pusat kota Gunung Sitoli, kita akan melewati kebun dan pantai. Keindahan Nias sudah terlihat di depan mata, pantai dengan pohon kelapa, kesibukan warga kampung. Nah, sekitar setengah jam kita akan sampai di pusat Kota Gunung Sitoli.
Tempat saya menginap saat kunjungan ketiga adalah di Hotel Nasional, ini bukan hotel berbintang. Fasilitasnya juga standar. Tapi setiap pagi bakal dapat sarapan, biasanya nasi uduk dan lontong sayur medan. Begitu setiap hari. Karena acara dimulai jam delapan pagi, aku olahraga dulu. JJP alias jalan-jalan pagi, habis Subuh ke pusat kota yang ada ruko dan di belakangnya terdapat pantai. Di ruko-ruko tersebut, ada yang jualan kue. Ini yang aku suka, bisa kalap dibuatnya. Selain kue, tempat yang aku kunjungi itu juga berjualan nasi uduk, lontong sayur medan dan nasi goreng. Karena, aku bakal dapat makanan yang sama untuk sarapan di hotel jadi aku berburu kue saja.
Sebenarnya penganan yang dijual nggak khas-khas banget daerah Nias. Mayoritas masyarakat Gunung Sitoli adalah para pendatang. Kalau sempat ketemu atau menyapa di jalan, beberapa adalah orang Jawa, Padang dan Bugis. Makanya kue yang dijual nggak jauh beda dengan kue yang ada di Pulau Jawa. Kue seperti kue lapis, onde-onde, tahu isi, bakwan, pisang goreng tersedia. Tapi ada satu yang unik yaitu, nasi dari ketan yang dibungkus daun pisang lalu di atasnya ada pisang goreng kipas. Oh ya, sepanjang perjalanan, apalagi kalau sore hari, penjual gorengan bertebaran di pinggir jalan. Yang aku suka tuh, pisang gorengnya. Pisang goreng kipas yang digoreng dengan tepung kriuk. Rasanya enak banget. Juara! Apalagi kalau dimakan di pinggir pantai. Aduhai.... nikmat!
 
Pantai indah di Nias
Kalau sudah puas berburu penganan kecil. Aku langsung balik ke hotel, biasanya aku jalan kaki atau naik bentor (becak motor). Kalau setiap sore setelah acara, aku jalan kaki lagi beli pisang goreng kriuk sambil makan di tepi pantai. Ini surga!
Di Kota Gunung Sitoli ini sepanjang jalurnya ada pantai-pantai yang bisa dinikmati waktu pagi atau waktu sore. Dulu, di tahun 2009 dan 2010, pantai-pantai ini kurang terawat dengan baik. Banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan di pantai. Jadi, kotor dan terlihat kumuh. Namun, saat 2017 kemarin aku berkunjung, pemerintah setempat sudah banyak berbenah. Pantai sudah terlihat baik, di bibir pantai dan pinggir jalan, beberapa penjual makanan sudah tersedia. Pengelolaannya pun terlihat sudah cukup rapi.
Kalau mau jalan-jalan di seputaran Gunung Sitoli, ada bentor alias becak motor yang siap mengantarkan kita. Operasi bentor hanya sampai jam delapan malam. Kalau ingin main ke kabupaten lain kalian kudu sewa mobil. Misalnya kalian mau pergi ke Kabupaten Nias Selatan yang terkenal dengan rumah adat, loncat batu dan ombak besar untuk surfing, kalian tinggal sewa mobil. Aku sih belum pernah ke Nias Selatan, jadi belum dapat gambaran secara utuh mengenai tempat itu. Tapi dari cerita yang aku dengar, surganya Nias ada di Nias Selatan, mulai dari kekayaan budayanya, rumah adat hingga wisata alamnya yang menakjubkan.
Naik Bentor alias becak motor
Nah, kedatangan aku ke Nias sebenarnya mempelajari budaya Nias. Mulai dari seluk beluk nenek moyang orang Nias, bahasa, kebudayaan dan nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan masyarakat Nias. Jadi perlu banyak data dan literasi yang diperlukan mengenai ini. Salah satu tempat keren yang seru untuk dikunjungi adalah Museum Pusaka Nias, letaknya yang berada di barat Gunung Sitoli bisa ditempuh dengan menggunakan bentor, cuma perlu 10 menitan menuju museum ini.
Plang Museum Pusaka Nias
Museum Pusaka Nias didirikan oleh orang Jerman yang mendedikasikan hidupnya untuk mengenal kebudayaan Nias. Ketertarikannya terhadap kebudayaan membuat ia memutuskan untuk tinggal di Nias. Keren yaak?
Masuk ke museum, yang pertama terlihat adalah gerbang dan pembelian tiket masuk. Biaya masuknya murah banget cuma lima ribu rupiah. Saat mulai masuk, sebelah kanan akan ada asrama untuk pelajar yang dapat beasiswa dari daerah-daerah untuk bersekolah atau kuliah, di arah kiri ada perpustakaan. Samping jalan masuk di perpustakaan adalah guest house. Lurus dari gerbang sebelah kiri akan ada rumah adat khas daerah Nias, persis depan jalan terdapat bangunan kayu bertingkat yang merupakan gedung pertemuan. Di depannya terdapat besi yang menggulung akibat dahsyatnya tsunami di Nias. Sebelah kanan terdapat Museum Pusaka Nias.
Di belakang gedung pertemuan terdapat pepohonan yang sejuk, kantin, dan tempat duduk yang lumayan banyak dan mengasyikkan pastinya karena berhadapan langsung dengan laut. Pantai di Museum Pusaka Nias ini adalah pantai bebatuan karang, beberapa sengaja dibuat seperti kolam. Berbeda dengan pantai di sepanjang jalan Kota Gunung Sitoli yang kotor. Pantai di museum ini airnya jernih. Aku pernah nyobain mandi di pantai ini pagi-pagi dan sueger benerrr.... tapi tetep asin sih!
Suasana tepi pantai di Museum Pusaka Nias
Di tepi pantai, juga dibuat pondok-pondok. Biasanya dipakai untuk acara seperti reunian, kumpul-kumpul genk, arisan dan kegiatan-kegiatan ngumpul lainnya.
Jadi, lokasi Museum Pusaka Nias ini memang diperuntukkan bagi wisatawan lokal maupun wisatawan luar untuk piknik bersama keluarga. Kalau mau belajar tentang budaya Nias tinggal masuk saja ke museumnya. Nah, beberapa replika rumah adat yang ada di Museum Pusaka Nias ini dapat disewa untuk dijadikan penginapan.
Kalau malam hari, pelataran museum yang luas biasanya dijadikan latihan drama dan tari anak-anak Nias. Jadi ya, saat menginap di guest housenya. Aku melihat puluhan anak-anak sedang berlatih tari sepertinya akan ada acara di alun-alun Kota Gunung Sitoli.
Oh ya, kalau menginap di guest house di Museum Pusaka Nias, kita bakal dapat sarapan di kantin. Sarapan mahal karena kamu bakal dapat view yang indah, melihat sunrise, melihat ombak jernih berdeburan. Sayangnya, nunggu hidangan di kantin lama banget. Pernah pas aku mesen nasi goreng, setengah jam lebih baru beres. Padahal makannya cuma 10 menit, ha... ha... ha....
Hampir lupa, di samping kantin dan belakang guest house ada beberapa koleksi binatang langka yang ditempatkan di kandang-kandang. Jadi wisatawan bisa berkeliling sambil melihat-lihat. Mirip kebun binatang mini sih jatuhnya. Selain itu beberapa pohon langka juga ditanam dan diberi label nama dan keterangan, seperti di Kebun Raya Bogor.
Rumah Adat Nias di Museum Pusaka Nias
Bicara soal Museum Pusaka Nias, apa saja koleksi yang ada di dalamnya? Aku belum bisa banyak cerita. Kudu semedi dulu ha... ha... ha... Tapi, kalau suatu waktu kalian berkunjung ke Pulau Nias dan sempat mampir ke Gunung Sitoli, mampir deh ke Museum Pusaka Nias. Seru banget....
Demikianlah cerita random saya tentang Nias. Tadinya mau ngulik tentang Museum Pusaka Niasnya, tapi karena openingnya nyeritain keseruan tentang Nias, jadi cerita tentang Museum Pusaka Nias secara utuh disimpan dulu. Ceritanya bersambung gitu he... he... he....
Semoga berkenan! Terima kasih....

Asyiknya Acara Televisi Jadul

Aku suka banget nonton televisi. Walau enggak semua acaranya ditonton, tapi aku bisa hafal.   Dari kecil kebiasaan nonton tipi itu be...