myBCA International Java Jazz Festival 2026: Kamu Tim Hype Stage atau Chill Stage? Aku Sih Dua-Duanya!

 

Kalau ada satu hal yang selalu seru dari sebuah festival musik, itu bukan cuma soal siapa yang tampil, tapi bagaimana cara kita menikmatinya. Ada yang datang buat lompat-lompat, teriak, dan sing along sampai suara habis. Ada juga yang lebih suka duduk santai, menikmati setiap nada, memperhatikan permainan musik, lalu pulang dengan hati yang penuh.

Nah, pertanyaannya: kamu tim Hype Stage atau Chill Stage?

Pertanyaan itu terus terngiang di kepalaku selama tiga hari menghadiri myBCA International Java Jazz Festival 2026. Tahun ini terasa spesial karena menjadi pengalaman pertamaku menikmati festival jazz terbesar di Indonesia tersebut. Setelah belasan tahun identik dengan JIExpo Kemayoran, untuk pertama kalinya dalam 21 tahun Java Jazz Festival berpindah ke NICE PIK2.

Jujur, saat pertama kali mendengar lokasinya pindah ke PIK2, aku sempat berpikir, "Wah, jauh juga ya." Apalagi aku berangkat dari Bogor. Tapi ternyata semua kekhawatiran itu nggak terbukti. Java Festival Production sudah menyiapkan shuttle bus dari Bluebird dan Citytrans yang membuat perjalanan jadi jauh lebih praktis

Aku memilih shuttle bus Bluebird dan melakukan pemesanan beberapa hari sebelum festival dimulai. Titik keberangkatannya juga cukup banyak, mulai dari Sarinah, Plaza Indonesia, fX Sudirman, hingga Lippo Kemang. Pulangnya pun nggak perlu panik karena bus sudah standby di area parkir. Jadi buat yang khawatir soal akses menuju lokasi, honestly, semuanya terasa cukup smooth dan well prepared.

Begitu sampai di NICE PIK2, kesan pertamaku cuma satu: luas banget!

Area parkirnya lega, tata kawasannya rapi, dan yang paling penting, nyaman untuk festival yang berlangsung selama tiga hari penuh. Toiletnya bersih dan jumlahnya memadai, sesuatu yang sering kali jadi concern ketika datang ke festival besar. Buat yang ingin beribadah juga nggak perlu bingung karena selain musala, tersedia masjid di area basement.

Pokoknya dari sisi venue, NICE PIK2 berhasil bikin pengalaman festival jadi lebih nyaman dan nggak bikin capek secara berlebihan.

Masuk ke area festival, aku langsung sadar kalau myBCA International Java Jazz Festival 2026 benar-benar menyediakan ruang untuk semua tipe penonton.

Mau yang suka menikmati musik sambil duduk santai? Ada. Mau yang suka berdiri sambil teriak dan sing along bareng ribuan orang? Ada juga.

Untuk area indoor, Java Jazz Production menghadirkan beberapa hall seperti myBCA Hall, Teh Botol Sosro Hall, Telkomsel Halo Hall, Java Jazz Festival Hall, Erafone Hall, dan MLD Spot Hall. Yang bikin betah, AC-nya dingin dan suasananya nyaman banget buat menikmati pertunjukan.

Sementara area outdoor menghadirkan suasana yang lebih hidup dengan deretan booth sponsor, food court, hingga panggung-panggung yang menawarkan pengalaman berbeda.

Menikmati Musik dari Hall ke Hall

Selama tiga hari festival, aku berhasil menyaksikan cukup banyak penampilan. Mulai dari Dira Sugandi, Moneva, Ruth Sahanaya, Novia Bachmid, hingga Harbourside Jazz dengan konsep Y2K Rewind yang sukses membawa penonton bernostalgia lewat lagu-lagu Britney Spears, Natalie Imbruglia, Spice Girls, Pink, Nelly Furtado, dan Christina Aguilera. Menariknya, lagu-lagu pop tersebut dibawakan dengan sentuhan jazz yang fresh dan elegan.

Duduk di myBCA Hall sambil menikmati aransemen yang berbeda rasanya benar-benar bikin hati tenang. Momen seperti ini yang bikin aku merasa menjadi bagian dari Team Chill Stage.

Masih di myBCA Hall, aku juga menyaksikan Tribute to Eros Djarot yang menghadirkan Dwiki Dharmawan, Once, Monita Tahalea, Dira Sugandi, Andre Hehanusa, dan Belawan. Kalau ditanya salah satu penampilan terbaik di myBCA International Java Jazz Festival 2026 versiku, jawabannya mungkin ada di sini.

Visual panggungnya cantik, kualitas musikalitasnya luar biasa, dan lagu-lagu karya Eros Djarot berhasil dibawakan dengan begitu megah. Rasanya seperti menonton sebuah pertunjukan yang bukan hanya memanjakan telinga, tetapi juga mata dan perasaan.

Di hall yang sama, aku juga menikmati penampilan Potret dan Slank. Performanya jelas pecah dan penuh energi. Tapi ada satu masalah kecil: aku duduk. Sebagai orang yang suka ikut bernyanyi dan bergerak mengikuti lagu, rasanya ada sedikit dorongan untuk berdiri dan ikut menikmati euforia. Sayangnya suasana hall membuatku lebih banyak menikmati pertunjukan sambil duduk.

Hari ketiga menghadirkan salah satu magnet terbesar festival ini: Yura Yunita. Area myBCA Hall benar-benar penuh sesak. Banyak orang rela datang lebih awal demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan penampilan Yura yang inspiratif, powerful, dan penuh energi positif. Aura panggungnya benar-benar kuat dan sukses membuat penonton larut dalam setiap lagu yang dibawakan.

Kalau bicara soal panggung indoor favoritku, mungkin jawabannya adalah Java Jazz Festival Hall. Aku berkesempatan menyaksikan penampilan Yuni Shara di sini, dan jujur saja aku langsung jatuh cinta dengan konsep panggungnya. Panggung berada di tengah, sementara penonton mengelilinginya dari berbagai sisi. Rasanya intim, hangat, dan dekat.

Kami bernyanyi bersama, menikmati musik, dan sesekali ikut terbawa suasana oleh suara merdu Yuni Shara yang seolah nggak berubah sejak dulu.

Namun, sisi lain Java Jazz Festival justru muncul ketika aku berpindah ke panggung-panggung berdiri. Di Teh Botol Sosro Hall, aku menonton The Overtunes. Dan wow, ini salah satu penampilan yang menurutku paling lengkap sepanjang festival. Visual panggungnya keren, tata cahaya mendukung, musiknya solid, dan penampilan mereka benar-benar bikin penonton nggak bisa diam. Mata, telinga, dan hati seperti dimanjakan secara bersamaan.Vibes-nya benar-benar dapet.

Begitu juga saat Barsena dan Nadhif Basalamah tampil di Telkomsel Halo Hall. Penonton diajak sing along hampir sepanjang penampilan. Lagu-lagu yang sedang ramai diputar di Spotify sukses menciptakan suasana hangat sekaligus syahdu.

Kadang ada momen ketika ribuan orang menyanyikan satu lagu bersama-sama, dan saat itu kamu sadar kalau musik memang punya kekuatan untuk menyatukan banyak orang yang sebelumnya nggak saling kenal.

Di MLD Spot Hall, aku menikmati penampilan Harvey Malaiholo Tribute to Diva dan Andien. Keduanya menghadirkan kualitas pertunjukan yang luar biasa. Sementara di booth MLD, aku menyaksikan Endah N Rhesa yang berhasil menciptakan suasana intim meskipun berada di area yang lebih santai.

Lalu ada juga JLB Stage di area outdoor yang menghadirkan Pertunjukan Timur bersama Teddy Adhitya, Audrey Tapiheru, Barry Likumahuwa, Farrel Hilal, Marcello Tahitoe, dan Mollucan Soul.

Nah, ini baru definisi hype yang sesungguhnya.

Penonton berdiri, bernyanyi, bergerak mengikuti irama, dan menikmati energi yang terus mengalir dari atas panggung. Rasanya sulit untuk diam ketika para musisi tampil dengan energi sebesar itu.

Di area MLD Bus, aku menyaksikan Jordan Santoso dan Monita Tahalea. Jordan tampil sangat atraktif dengan kemampuan bermusiknya yang luar biasa. Meski secara pribadi aku berharap bisa mendengar lebih banyak lagu dengan format yang lebih mirip versi rekaman, tetap saja skill bermusiknya patut diacungi jempol.

Sementara Monita Tahalea berhasil menutup pengalamanku dengan penampilan yang hangat, jazzy, dan penuh keindahan.

Jadi, setelah tiga hari menikmati myBCA International Java Jazz Festival 2026, aku tim yang mana?

Jawabannya sederhana: aku tim keduanya.

Aku suka berdiri di depan panggung, bernyanyi sekeras mungkin, dan ikut larut dalam energi ribuan penonton. Tapi di saat yang sama, aku juga suka duduk tenang menikmati detail permainan musik, memperhatikan aransemen, dan membiarkan setiap lagu berbicara dengan caranya sendiri.

Karena pada akhirnya, menikmati musik nggak harus selalu dengan cara yang sama. Kadang kita butuh panggung yang bikin kita teriak sampai serak. Kadang kita butuh panggung yang membuat kita diam dan meresapi setiap nada.

Dan itulah yang membuat myBCA International Java Jazz Festival 2026 terasa begitu spesial. Festival ini bukan cuma menghadirkan musisi-musisi hebat dari Indonesia maupun mancanegara, tetapi juga memberikan ruang bagi semua tipe penikmat musik.

Mau kamu tim Hype Stage atau Chill Stage, satu hal yang pasti: myBCA International Java Jazz Festival 2026 berhasil memberikan pengalaman yang bikin susah move on


Liburan Seru dan Nggak Perlu Jauh Cukup ke Java Jazz Festival 2026

Sebagai seorang traveler, liburan buatku bukan selalu soal pergi sejauh mungkin atau menghabiskan waktu di tempat wisata mewah. Ada satu bentuk liburan yang justru terasa paling menyenangkan: menikmati pertunjukan musik secara langsung. Rasanya selalu ada energi berbeda ketika berdiri di tengah keramaian, mendengar suara penonton ikut bernyanyi, lalu melihat musisi favorit tampil hanya beberapa meter di depan mata. Musik selalu punya cara sederhana untuk membuat hati terasa pulang.

Beberapa tahun terakhir, konser solo penyanyi dan festival musik di Indonesia berkembang sangat pesat. Hampir setiap bulan selalu ada acara musik menarik yang membuat akhir pekan terasa lebih hidup. Buatku, ini seperti angin segar. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menikmati festival musik berkualitas, karena Indonesia sekarang punya banyak festival yang mampu menghadirkan pengalaman kelas dunia.

Java Jazz Festival ke 21 Tahun

Dan dari sekian banyak festival musik yang pernah aku lihat, ada satu festival yang sejak dulu masuk dalam bucket list liburanku: Java Jazz Festival.

Sejak pertama kali mendengar namanya, aku selalu penasaran dengan suasananya. Festival ini bukan cuma terkenal karena musik jazz, tapi juga karena berhasil mempertemukan berbagai genre dan generasi dalam satu tempat. Tahun 2026 menjadi edisi ke-21 dari Java Jazz Festival, sebuah perjalanan panjang yang membuktikan kalau festival ini bukan sekadar tren sesaat.

Selama lebih dari dua dekade, Java Jazz telah menghadirkan banyak musisi besar dunia dan penyanyi Indonesia dalam satu panggung yang sama.

Buatku, ada sesuatu yang spesial dari festival yang bisa bertahan selama itu. Artinya, festival tersebut bukan hanya soal hiburan, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya musik itu sendiri. Tidak heran kalau Java Jazz dikenal sebagai salah satu festival jazz terbesar di Asia Tenggara bahkan belahan bumi bagian selatan.

myBCA International Java Jazz Festival 2026

Tahun ini juga terasa semakin menarik karena Java Jazz memasuki babak baru dengan konsep baru melalui nama myBCA International Java Jazz Festival 2026. Festival ini akan berlangsung pada 29–31 Mei 2026 di NICE, PIK 2, Tangerang. Perpindahan lokasi ini membuatku semakin penasaran karena kabarnya venue baru tersebut menawarkan area yang lebih luas dan pengalaman festival yang lebih nyaman untuk penonton
Sebagai traveler, hal seperti ini justru jadi daya tarik tersendiri. Kadang aku tidak membutuhkan itinerary panjang untuk menikmati liburan. Cukup datang ke festival musik, menikmati suasana kota, mencoba makanan di sekitar venue, lalu menghabiskan malam sambil mendengar musik favorit dimainkan secara langsung. Rasanya sederhana, tapi menyenangkan.

Line Up Merangkul Segala Generasi

myBCA International Java Jazz Festival 2026 kembali membuktikan diri sebagai festival musik yang mampu merangkul semua generasi. Dalam menentukan line up, Java Festival Production tidak hanya mempertimbangkan popularitas semata, tetapi juga melihat perkembangan tren musik dan karakter penikmat musik dari berbagai usia. Tiga tahun terakhir penyelenggaraan Java Jazz menunjukkan bahwa Generasi Z hingga Generasi Alpha mulai menjadi bagian besar dari penonton festival ini. Karena itu, pemilihan musisi pun semakin relevan dengan apa yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial maupun platform streaming digital.

Musisi-musisi yang tengah viral di TikTok, Instagram, YouTube, hingga mendominasi tangga lagu Spotify menjadi perhatian utama. Tak heran jika nama seperti Nadhif Basalamah masuk dalam line up tahun ini. Lagu-lagunya bahkan menjadi salah satu yang paling banyak diputar di Spotify Indonesia hingga Malaysia. Begitu juga dengan Barsena Bestandhi yang belakangan semakin dikenal generasi muda lewat karya-karyanya yang soulful dan easy listening. Selain itu ada juga Aku Jeje, Rafi Sudirman, The Lantis, RAN, Maliq & D'Essentials, Wijaya 80, Yura Yunita, hingga Ziva Magnolya yang lagu-lagunya kini begitu dekat dengan Generasi Z dan Alpha.
Namun Java Jazz bukan hanya milik generasi muda. Festival ini juga tetap memberikan ruang nostalgia bagi generasi X dan milenial lewat hadirnya nama-nama legendaris seperti Slank yang sudah puluhan tahun menjadi ikon musik Indonesia, hingga Elfa's Singers yang dikenal sebagai salah satu grup vokal terbaik Tanah Air. Kehadiran mereka membuat Java Jazz terasa lengkap karena mampu menyatukan penonton lintas usia dalam satu festival yang sama.

Dari jajaran internasional, Java Jazz Festival 2026 juga menghadirkan sederet nama besar dengan kiprah mendunia. Jon Batiste menjadi salah satu headliner utama. Musisi asal Amerika Serikat ini dikenal sebagai pemenang banyak penghargaan Grammy Awards serta pernah meraih Academy Award lewat kontribusinya di industri musik dan film internasional. Ada juga Ella Mai yang sukses mendunia lewat lagu “Boo’d Up” dan berhasil memenangkan Grammy Award untuk kategori Best R&B Song. Sementara itu, band asal Korea Selatan Wave to Earth hadir membawa warna indie pop yang saat ini sangat digemari anak muda di berbagai negara.
Selain itu, festival ini juga diramaikan oleh nama-nama internasional lain seperti Incognito yang telah menjadi ikon acid jazz dunia sejak era 1980-an, Earth, Wind & Fire Experience by Al McKay yang membawa kembali nuansa funk legendaris Earth, Wind & Fire, hingga Dave Koz yang dikenal sebagai salah satu pemain saxophone jazz paling berpengaruh dengan berbagai nominasi Grammy Awards sepanjang kariernya.
Melalui line up yang beragam ini, Java Jazz Festival kembali menunjukkan bahwa musik memang bisa menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Mulai dari penonton muda yang datang karena lagu viral favorit mereka, hingga penikmat musik senior yang ingin bernostalgia dengan musisi legendaris, semuanya bisa menikmati pengalaman festival dalam suasana yang sama.

Bukan Hanya Jazz, Tapi Perayaan Musik Lintas Genre

Menurutku, salah satu hal yang membuat Java Jazz Festival selalu menarik setiap tahunnya adalah karena festival ini tidak hanya memberikan ruang untuk musisi jazz semata. Meski membawa nama “Java Jazz”, nyatanya festival ini justru menjadi tempat berkumpulnya berbagai genre musik dalam satu panggung besar. Buatku, inilah yang membuat Java Jazz terasa berbeda dibanding festival lainnya, karena penonton bisa menikmati pengalaman musik yang sangat luas tanpa dibatasi satu genre tertentu.

Di tahun 2026 ini, Java Jazz menghadirkan banyak musisi dari genre pop, R&B, soul, indie, hingga rock. Dari genre rock ada Slank yang sudah puluhan tahun menjadi salah satu band paling berpengaruh di Indonesia. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Java Jazz tetap membuka ruang bagi musik rock untuk dinikmati penonton lintas generasi. Selain itu ada juga RAN dengan warna pop ceria yang dekat dengan anak muda, lalu Maliq & D'Essentials yang dikenal dengan perpaduan jazz, soul, dan pop yang khas. Dari skena indie dan alternative, ada The Lantis serta band asal Korea Selatan wave to earth yang saat ini begitu populer di kalangan Generasi Z. Sementara untuk penikmat R&B dan soul, Java Jazz menghadirkan nama besar internasional seperti Ella Mai
Buatku, keberagaman line up seperti ini membuat Java Jazz terasa lebih inklusif. Penonton datang bukan hanya karena menyukai jazz, tetapi juga karena ingin menikmati musik secara lebih luas. Bahkan orang yang awalnya datang untuk menonton musisi pop atau indie favoritnya bisa saja akhirnya jatuh cinta pada pertunjukan jazz yang sebelumnya belum pernah mereka dengarkan. Di situlah menurutku kekuatan terbesar Java Jazz Festival, yaitu mampu mempertemukan berbagai genre, generasi, dan komunitas musik dalam satu pengalaman yang sama.

Nggak Perlu Jauh-jauh untuk Liburan Terbaik

Kadang aku merasa liburan terbaik justru bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi tentang bagaimana kita menikmati momen. Dan buatku, menonton Java Jazz Festival adalah salah satu bentuk liburan paling menyenangkan. Tidak perlu repot mengejar itinerary panjang atau pindah dari satu tempat ke tempat lain. Cukup datang, menikmati musik, bertemu energi baru, lalu pulang dengan hati yang lebih penuh.

Karena pada akhirnya, liburan tidak harus selalu jauh-jauh. Kadang, cukup ke Java Jazz saja, rasanya sudah seperti pergi ke dunia lain yang penuh musik, cerita, dan kebahagiaan




Hidupku Menatap pada Hatchu Salma Salsabil

Malam itu hujan turun pelan saat aku menyetir pulang dari sekolah. Jalanan macet seperti biasa. Klakson bersahutan, lampu kendaraan memantul di kaca mobil, dan wajah-wajah lelah saling lewat tanpa saling mengenal. Di dashboard mobil, lagu baru dari Salma Salsabil mulai diputar. Judulnya “Hatchu”.

Awalnya aku mendengarkan biasa saja. Sampai akhirnya lirik itu datang seperti seseorang yang mengetuk dadaku perlahan.

“Di jalan wajah saling lewat

Membawa beban masing-masing berat

Ada yang senyum karena atasan

Selebihnya diam males menjelaskan.”

Tanganku mengerat di setir. Entah kenapa tenggorokanku terasa sesak.

Tahun 2026 ini genap dua puluh tahun aku menjadi guru di sekolah islami. Dua puluh tahun datang paling pagi, pulang paling malam, menerima tugas tambahan, menjaga nama sekolah, dan berusaha menjadi orang yang dianggap ikhlas. Dulu aku bangga dengan semua itu. Aku pikir loyalitas akan membuat hidup terasa berarti.

Tapi semakin lama, aku justru merasa seperti mesin. Mengajar, rapat, administrasi, lalu pulang dengan kepala penuh tekanan. Kadang aku sampai di rumah tanpa tenaga untuk sekadar mendengar cerita anakku sendiri.

Suatu malam anakku pernah bertanya, “Ayah capek terus ya?”

Aku cuma tersenyum sambil bilang tidak. Padahal saat itu aku ingin menangis.

Lagu “Hatchu” membuatku sadar kalau ternyata banyak orang hidup seperti itu. Berangkat pagi demi keluarga, menahan emosi di jalan, tersenyum walau lelah, lalu mengulang semuanya lagi esok hari. Kami semua terlihat baik-baik saja, padahal diam-diam hanya sedang bertahan.

Dan bagian yang paling menamparku adalah ketika lagu itu berkata:

“Tak semua ingin jadi juara

Sebagian ingin aman sampai rumah.”

Aku terdiam lama.

Karena sekarang aku merasa itu juga yang kuinginkan. Aku tidak lagi ingin dianggap guru terbaik. Tidak ingin jadi yang paling hebat atau paling loyal. Aku hanya ingin pulang dengan hati yang utuh. Bisa makan malam bersama istri dan anak, bercanda tanpa memikirkan pekerjaan, lalu tidur dengan tenang tanpa rasa marah yang terbawa dari luar rumah.

Mungkin benar, semakin dewasa manusia tidak lagi sibuk mengejar kemenangan besar. Sebagian dari kita hanya ingin hidup sederhana: bekerja secukupnya, dicintai keluarganya, dan pulang dengan selamat.

Buku Tradisi Makan Siang Indonesia

Setiap keluarga punya caranya sendiri untuk merawat kebersamaan. Di keluarga kami, salah satu cara paling sederhana sekaligus paling hangat adalah lewat makan siang bersama. Bukan sekadar mengisi perut, tapi juga mengisi ruang-ruang rindu, tawa, dan cerita yang sering kali tak sempat terucap di hari-hari sibuk.

Merawat Kebersamaan Lewat Seruit Lampung

Saya teringat satu momen yang selalu membekas: makan siang bersama keluarga dengan hidangan seruit khas Lampung. Tidak ada meja makan yang terlalu rapi atau sajian yang berlebihan. Yang ada justru tikar, piring-piring sederhana, sambal terasi, tempoyak, lalapan segar, dan ikan bakar yang aromanya langsung mengundang semua orang untuk duduk melingkar. Seruit memang bukan sekadar makanan; ia adalah ajakan untuk berkumpul.

Seruit biasanya dinikmati bersama-sama. Ikan bakar atau ikan goreng disuwir, dicampur sambal, tempoyak, dan perasan jeruk, lalu disantap rame-rame. Di situlah kehangatan tercipta. Kami makan dengan tangan, saling berbagi lauk, dan sesekali saling menggoda soal siapa yang paling tahan pedas. Percakapan mengalir ringan tentang pekerjaan, sekolah, kabar saudara. Tanpa disadari waktu berjalan lebih lambat, seolah makan siang memberi jeda khusus bagi keluarga.

Makan siang seperti ini selalu membuat saya sadar bahwa makanan tradisional punya peran lebih dari sekadar rasa. Ia menyimpan nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur. Dari seruit, saya belajar bahwa kelezatan tidak selalu datang dari bahan mahal, melainkan dari cara kita menikmatinya bersama orang-orang terdekat.

Buku Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya

Pengalaman-pengalaman makan siang penuh kehangatan inilah yang kemudian terasa beresonansi ketika saya mendapat kesempatan terlibat dalam buku antologi “Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya”. Buku ini menghadirkan cerita-cerita makan siang dari berbagai daerah di Indonesia, ditulis oleh 40 penulis dari latar belakang yang beragam. Setiap tulisan membawa pembaca berkeliling Nusantara lewat hidangan khas dan tradisi yang menyertainya. Saya pun menuliskan kisah seruit yang memang sudah melekat lama dalam hidup.

Saat buku ini sampai di rumah, saya membukanya dengan hati-hati. Kualitas kertasnya tebal, desainnya apik, memberi kesan eksklusif sekaligus hangat seperti isi ceritanya. Membaca lembar demi lembar, saya semakin sadar betapa kayanya Indonesia. Ada begitu banyak kuliner yang belum pernah saya cicipi, terutama dari Indonesia bagian timur dan Sumatera, masing-masing dengan cerita dan tradisi makan siangnya sendiri.

Buku ini bukan hanya memperluas wawasan tentang ragam kuliner Nusantara, tetapi juga mengingatkan bahwa makan siang bisa menjadi momen penting untuk membangun kedekatan keluarga. Banyak resep dan cerita di dalamnya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, seolah mengajak kita untuk kembali ke dapur, memasak, lalu duduk bersama menikmati hidangan dengan penuh rasa syukur.

Lewat kisah-kisah dalam Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya, saya kembali diingatkan bahwa Indonesia kaya akan bahan pangan yang sehat dan bergizi, sekaligus kaya akan tradisi yang menghangatkan. Seperti seruit di meja makan keluarga kami sederhana, pedas, tapi penuh cinta.

Buku Tradisi Makan Siang Indonesia: Khazanah Ragam dan Penyajiannya
Editor: Amanda Katili Niode, Ph.D.
Translator: Awi Chin
Perancang Sampul: Ghofar I. Amar
Penata Letak/Ilustrasi Isi: goodteadesign
Ukuran Buku: 20 x 23 cm
Tebal: 482 halaman
ISBN: 978-634-7208-12-5
Penerbit: CV Diomedia
Cetakan Pertama: Agustus 2025


Baca yang Ini Juga!



Rice Cooker Awet Kesayangan Nikita Willy

Rice Cooker Kesayangan Nikita Willy


Rice Cooker Andal, Kunci Dapur Tetap Aman

Sebagai bapak rumah tangga, urusan peralatan elektronik di rumah itu sudah seperti “tugas harian” yang tak tertulis. Mulai dari kipas angin yang tiba-tiba mati, setrika yang panasnya tidak stabil, sampai blender yang suaranya makin hari makin mengkhawatirkan. Jujur saja, rasanya capek kalau harus bolak-balik ganti barang karena cepat rusak atau tidak awet. Apalagi kalau barang itu dipakai setiap hari dan punya peran penting di dapur.

Dari sekian banyak peralatan rumah tangga, ada satu yang menurut saya paling krusial: rice cooker. Bagi keluarga Indonesia, nasi itu nyawa. Kalau alat satu ini bermasalah, efeknya bisa ke mana-mana. Mulai dari nasi yang cepat kering, cepat basi, atau bahkan matang tidak sempurna. Karena itu, sejak beberapa tahun terakhir saya benar-benar selektif dan pilihan saya jatuh pada Rice Cooker MIYAKO..

Pengalaman saya menggunakan Rice Cooker MIYAKO sejauh ini sangat berbeda dibanding merek lain yang pernah saya pakai. Kalau biasanya saya sudah siap mental dengan berbagai drama elektronik, MIYAKO justru terasa tenang dan bisa diandalkan. Dipakai setiap hari, berkali-kali, tapi tetap konsisten kerjanya. Dari situ saya makin yakin bahwa penanak nasi memang tidak boleh asal pilih.

Nah, kali ini saya ingin berbagi cerita sekaligus review salah satu produk andalan mereka, yaitu MIYAKO MCM 508 SBC. Sejak pertama kali dipakai, kesan pertamanya sudah cukup meyakinkan. Mulai dari desain sampai performanya di dapur.

Rice Cooker Andalan Keluarga Indonesia

Panci Nanoal yang Bebas PFOA

Salah satu nilai jual utama dari MIYAKO MCM 508 SBC ini ada pada pancinya. Menggunakan Panci Nanoal dengan lapisan anti lengket yang diklaim 10 kali lebih tahan lama dan bebas PFOA. Buat saya yang sering memasak nasi dalam jumlah cukup banyak, ini penting sekali. Nasi tidak mudah menempel, panci lebih awet, dan yang paling utama: aman untuk keluarga. Membersihkannya pun jauh lebih mudah, tidak perlu digosok keras-keras.

Garansi hingga 5 Tahun 

Soal ketahanan, MIYAKO Nanoal juga memberi rasa aman lewat garansi elemen pemanas hingga 5 tahun. Ini poin besar buat saya sebagai bapak rumah tangga yang ingin investasi jangka panjang. Jarang-jarang ada rice cooker yang berani memberikan garansi selama itu. Artinya, mereka cukup percaya diri dengan kualitas produknya.

Dari sisi tampilan, MIYAKO Nanoal ini juga tidak kalah menarik. Body-nya hadir dengan warna spesial Rose Gold yang terlihat mewah dan elegan. Ditaruh di dapur langsung bikin suasana terasa lebih rapi dan modern. Tidak hanya soal fungsi, tapi juga estetika.

Thermostat System Menjaga Nasi Tetap Enak

Untuk urusan nasi, Miyako Nanoal ini dibekali Thermostat System yang mampu menjaga nasi tetap hangat, tidak kering, dan tidak mudah basi. Ini sangat terasa dalam pemakaian sehari-hari. Nasi tetap enak walau sudah beberapa jam di mode warm. Tidak berubah tekstur, tidak menguning, dan tidak berbau.

3 in 1 System: Masak, Hangatkan, dan Kukus Lebih Praktis

Fungsinya pun lengkap dengan sistem 3 in 1: memasak nasi, menghangatkan, dan mengukus. Jadi selain nasi, saya juga bisa mengukus sayur atau lauk tanpa perlu alat tambahan. Praktis dan hemat tempat.

Rice Cooker 3 in 1 System

Sudah Lulus SNI dan SHE, Lebih Tenang Digunakan

Yang tak kalah penting, MIYAKO Nanoal ini sudah lulus uji Standar Nasional Indonesia (SNI) dan mengantongi Sertifikat Hemat Energi (SHE). Jadi selain aman, pemakaian listriknya juga lebih efisien. Cocok untuk penggunaan harian tanpa bikin tagihan listrik membengkak.

Tidak heran kalau penanak nasi MIYAKO menjadi andalan banyak keluarga Indonesia dan dikenal sebagai rice cooker Kesayangan Nikita Willy. Kualitasnya yang awet dan andal membuat MIYAKO dipercaya untuk kebutuhan memasak nasi sehari-hari tanpa ribet.

Bagi saya pribadi, MIYAKO Nanoal bukan sekadar alat dapur, melainkan partner setia di rumah. Sebagai rice cooker Kesayangan Nikita Willy, performanya konsisten, membuat nasi matang sempurna, dan menghadirkan ketenangan dalam urusan dapur setiap hari.

Nah, selain memilih brand yang tepat, cara penggunaan sehari-hari juga sangat menentukan seberapa lama alat masak satu ini bisa bertahan. Saya jadi makin sadar bahwa rice cooker bukan sekadar alat masak biasa, tapi perangkat listrik yang perlu diperlakukan dengan hati-hati. Mulai dari mencuci panci dalam dengan spons lembut, memastikan bagian bawahnya kering sebelum dimasukkan. Hal-hal kecil seperti ini sering terlihat sepele, padahal sangat berpengaruh pada usia pemakaian.

Perhatian lain yang tak kalah penting adalah kebiasaan memasak dan menyimpan nasi. Takaran air yang tepat meringankan kerja pemanas, sementara pembersihan rutin pada tutup dan lubang uap menjaga kinerja tetap stabil. Dengan perawatan sederhana namun konsisten, rice cooker lebih awet, nasi matang sempurna, dan pengeluaran untuk ganti produk bisa ditekan.

Rice Cooker Lulus Sertifikat Hemat Indonesia