Hutang dan Bijak Merencanakan Keuangan

Pagi itu, matahari bersinar cukup terang. Biasanya nih, di pagi pagi sebelumnya mendung sudah menghadang. Saya buru buru ke sekolah, meskipun pembelajaran masih dilakukan di rumah tapi kami (guru dan pendukung) masih tetap masuk seperti biasa.

Ada beberapa agenda yang harus saya bereskan yaitu syuting video PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), liputan foto foto untuk sosmed sekolah dan evaluasi acara Day Camp. Day Camp adalah kegiatan pengganti Camping, Day dilakukan tatap muka dengan berkegiatan di luar ruangan. Jika biasanya 1 tenda untuk 5-10 anak, Day Camp menyediakan 1 tenda untuk 1 anak. Jika Camping dilakukan dua hari 1 malam, Day Camp dilakukan satu hari/sesi dan dibagi menjadi 3 sesi dengan jumlah anak anak yang dibatasi. Oh ya, day camp ini tetap memperhatikan protokoler kesehatan.

Saat sedang rapat evaluasi, tiba-tiba telepon genggam berdering. Panggilan telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Telepon tidak saya angkat karena tanggung rapat tinggal sebentar lagi. Dua kali telepon dan tidak saya angkat.

Seteleh telepon, panggilan kembali muncul kali ini via whatsapp. Saya mengangkat meski nomor tidak dikenali. 

"Hallo..."

"Hallo, bayar utang Siti Halimah!" teriaknya. 

Saya kaget dong. Hutang? Pikiran saya langsung mengarah ke pinjaman online yang penagihannya sungguh mengerikan.

Telepon kumatikan. Dia kembali menelepon. Saya blokir nomornya.

Belum selesai urusan. Tiba-tiba nomor yang tidak saya kenal lainnya mengirimakan pesan via whatsapp.

"Mau kuramaikan gedung kamu?"

Saya kaget, lha kok ngancem? Namun saya baru tersadar ini pasti ulah penagih hutang. Sekalian saja saya isengi...

"Oh, ramaikan saja pak! Saya dukung!" Saya menjawab

"Bayar hutangnya Siti Halimah," lanjutnya lagi.

Tebakan saya benar. Ini pasti gerombolan penagih utang yang sama. Penagih hutang Siti Halimah yang jujur, saya tidak mengenalnya. 

Hutang dan Perencanaan Keuangan

Ngomongin soal hutang hingga dikejar-kejar penagih hutang, Alhamdulillah saya nggak pernah ngalamin. Jangankan ditagih hutang, berhutang saja saya enggan.

Sejak belajar tentang perencanaan keuangan. Alhamdulillah satu dekade ini saya cukup aman mengenai keuangan. Saat sudah menikah pun keuangan masih stabil. Alhamdulillah...

Nah, akhir pekan kemarin Tunaiku bersama Bank Amar menghadirkan webiner bertajuk Ngopi Bareng Bang Amar "Bijak Merencanakan Keuangan" bersama Aidil Akbar Madjid (Perencana Keuangan Senior) dan Ghaida Nuris (Coordinator Referral Program Amar Bank).

Menurut Bang Aidil, keuangan keluarga penting untuk direncanakan. Keuangan sebuah keluarga dikatakan sehat ketika sebuah keluarga dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga, dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Selain itu keuangan yang sehat memiliki dana darurat, tabungan dan investasi. 



Lalu bagaimana jika sebuah keluarga memiliki usaha? Tentu saja, keuangan keluarga dengan keuangan usaha harus terpisah. Nah, untuk keuangan usaha juga harus sehat lho. Saat memiliki usaha, kita perlu menentukan biaya, harga jual, cicilan dan yang paling penting adalah dapat mengatur cashflow keuangan.

Secara umum, ada rumus dalam mengatur keuangan bulanan. Dari 100% pemasukan 10% dialokasikan untuk kebaikan seperti zakat dan sedekah, 20% untuk masa depan seperti investasi dan biaya pendidikan anak, 40% untuk kebutuhan rumah tangga, dan 30% untuk biaya cicilan cicilan. 

Nah, untuk mendapatkan penghasilan tambahan ada beberapa hal yang perlu dilakukan yakni melakukan kerja tambahan dan buka usaha. Biasanya nih ada beberapa kendala dalam membuka sebuah usaha, salah satunya adalah modal. Buat orang yang hidupnya sudah Sultan, barangkali modal bukan hal yang meresahkan. Namun buat yang benar-benar memulai usaha dari nol, modal bisa jadi kendala. 

Salah satu cara untuk mendapatkan modal adalah dengan berhutang. Namun keuangan yang bijak perlu membedakan antara hutang yang baik dan hutang yang buruk. Contoh hutang baik untuk pendidikan, investigasi dan modal usaha. Contoh hutang buruk adalah kartu kredit, hutang untuk membeli barang yang nilainya makin menurun. 

Perlukah Pinjaman Online? 

Saat memulai usaha dan terkendala modal. Ada baiknya kita memikirkan apakah perlu meminjam dari pihak luar. Salah satunya melalui Pinjaman Online. 

Namun, jangan sampai kejadian Siti Halimah yang dikejar-kejar penagih hutang, hingga akhirnya menelepon saya yang kontak saya dipakai dan disalahgunakan Siti Halimah. Dapat dipastikan, layanan pinjaman online yang digunakan Siti Halimah adalah pinjaman online abal-abal. 

Ada beberapa pertimbangan ketika memilih pinjaman. 

1. Terpercaya dan Reputable

2. Terdaftar di OJK

3. Limit Relative Besar

4. Cicilan bisa panjang

5. Jaminan jelas

6. Ada aplikasi (online) di platform baik google Play Store maupun IOS. 

Tunaiku: Solusi Mengatasi Permasalahan Keuangan

Tunaiku adalah sebuah platform pinjaman digital tanpa agunan dari PT. Bank Amar Indonesia Tbk. yang memberikan solusi finansial bagi masyarakat yang kurang terlayani atau belum dilayani Lembaga Keuangan Formal. 

Keunggulan dari Tunaiku ini adalah jumlah pinjaman yang relatif besar yakni 2juta hingga 20 juta, interest bunga yang flat setiap bulanannya, jangka waktu pinjaman yang cukup panjang yaitu 6-20 bulan, dan biaya admin yang dimasukkan ke cicilan bulanan. 



Untuk memulai pinjaman online ada beberapa syarat yakni usia yang diperbolehkan yakni 21-55 tahun, memiliki penghasilan, hanya KTP tanpa jaminan, dan tinggal dan bekerja di wilayah cakupan Tunaiku. 

Selain melakukan pinjaman, Tunaiku juga memiliki program Referral. Program ini adalah bagian dari program Tunaiku Amar Bank yang memberikan kesempatan untuk siapa saja agar dapat menjadi pemberi referensi pinjaman Tunaiku. 

Selain mendapatkan komisi dari Tunaiku, kamu akan memiliki banyak kenalan baru dari nasabah maupun anggota Referral lainnya. 

Berminat gabung di Program Referral Tunaiku? kamu bisa hubungi email admin-referral@amarbank.co.id atau bisa lihat website di  https://partner.tunaiku.com












Liburan di Taman Fathan Hambalang, Sentul.


Pandemi belum berakhir dan nggak tahu kapan menemukan ujungnya. Sudah hampir setahun, sejak pendemi merebak di Indonesia, saya dan keluarga jarang sekali berpergian.

Lebaran Idul Fitri adalah moment bersejarah dalam hidup karena untuk kali pertama menghabiskan waktu lebaran di perantauan. 

Awalnya sedih, tapi tak jadi soal demi kenyamanan, keamanan bersama maka hal tersebut mau tak mau harus dilakukan. Dan Lebaran Idul Fitri 2020 kemarin adalah salah satu moment lebaran yang tak akan pernah terlupakan.

Berbulan bulan berada di rumah, saya dan keluarga melakukan jalan jalan tipis di sekitar daerah. Tempat yang indah namun jauh dari keramaian.

Mulanya hampir setiap pagi, saya, istri dan Zea melakukan olahraga pagi di tempat sepi, di lapangan bola di perkampungan yang tidak ramai ketika pagi atau perumahan baru yang masih dalam tahap pembukaan lahan.

Ketika jalan sendiri, saya bisa menghabiskan 10ribu hingga 20ribu langkah kaki. Jadi saya melanglang buana jauh. Blusukan ke kebun kebun singkong yang jauh dari penduduk, melewati lembah, padang rumput, sungai dan bukit.

Hingga akhirnya, saya menemukan sebuah tempat asik dengan pemandangan bukit, Kota Bogor, Gunung Salak. Indah... Nama tempat itu Taman Fathan Hambalang.

Menikmati pagi, dengan menyantap kopi hangat dan mendoan jadi pelipur letih setelah berjalan hingga belasan ribu langkah.

Saat menikmati pagi dengan menu sederhana, terkadang kabut menyapa membuat suasana makin nikmat untuk menyantap menu sarapan. Mendoan dan kopi yang hangat serta cuaca yang dingin. Klop! 

Menjelang siang, manusia manusia mulai berdatangan yang itu berarti saya harus undur diri dan meninggalkan Taman Fathan Hambalang. Saya mencari jalan aman, menghindari kerumunan.

Minggu berikutnya, saya ajak istri dan Zea untuk mengunjungi Taman ini. Tentunya kami datang pagi pagi. 

Taman Fathan Hambalang dibuka pukul sembilan pagi, tiket masuk dikenakan lima ribu perorang. Konsep dari tempat ini sederhana, menyediakan banyak tempat duduk dengan pemandangan indah bukit, kebun, kota, dan gunung.

Masuk makan siang, orang orang dari kota lain akan datang. Saat taman sudah mulai banyak orang, saya, istri dan Zea pun meninggalakan taman kembali ke rumah.

Kalau menurut saya, taman ini asik dikunjungi saat pagi hari. Duduk menepi menghadap Gunung Salak ditemani secangkir kopi hangat dan mendoan. Sendirian atau bersama keluarga? Keduanya punya cerita masing-masing....