Sabtu, 27 Oktober 2018

Serunya Ideafest 2018


Sepanjang Ideafest digelar, ini adalah kali pertamanya aku ikutan. Aku sih pernah dengar acara ini di tahun-tahun sebelumnya. Cuma memang baru rezekinya tahun ini bisa gabung.
Okey, ideafest tahun ini dibuat dua hari. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan aku cuma ngambil yang satu hari saja. Tiket satu hari Rp. 1.100.000,- karena kami dari lembaga pendidikan, beli tiket satu gratis satu. Horee...
Setelah dapat tiket elektroniknya, di hari Jumat, 26 Oktober aku dan teman satu sekolah berangkat menuju JCC. Terus terang, aku sudah lama nggak berkelana ke Jakarta. Kalau nggak penting-penting banget kayaknya enggan menginjakkan kaki.
Kami naik kereta pagi sekitar jam delapanan karena acara dimulai jam sepuluhan. Jadi nyantailah ya! Aku pikir jam delapan kereta nggak penuh kayak biasanya, tapi ternyata tetap penuh. Stasiun tujuan akhir kami adalah Stasiun Cawang. Dari Stasiun Cawang menuju ke JCC bakal kami ditempuh dengan dua opsi, opsi pertama naik transportasi online. Opsi kedua naik Trans Jakarta. Nah, opsi pertama setelah cek di gocar maupun grabcar harganya nggak masuk akal karena lagi ada di jam sibuk. Pilihan ada di opsi kedua dong. Tapi kartu flazz nggak terbawa. Untung saat di kereta, aku ketemu teman dan meminjamkan kartu flazznya. Alhamdulillah.
Turun dari Stasiun Cawang, kami jalan menuju busway Trans Jakarta. Setelah isi ulang kartu, akhirnya kami naik busway menuju ke JCC. Sepanjang jalan, macet nggak bisa dihindari. Pembangunan di sepanjang jalan membuat jalanan semakin menyempit sedangkan volume kendaraan banyak seperti biasa sehingga bus dan mobil-mobil lainnya jalan melambat.
Seingatku, waktu tempuh dari Stasiun Cawang menuju ke JCC kurang dari setengah jam. Sedangkan ini sejam lebih. Luar biasa perjuangannya.
Sekitar jam setengah sebelasan, kami sampai di JCC. Sepanjang lobi sudah terlihat antrean panjang. Bingunglah ya. Ini antrean buat beli tiket, buat nukerin hadiah atau buat apaan? Mana panitia nggak ada lagi. Akhirnya, aku tanya ke satpam yang jaga. Elektronik tiket yang didapatkan harus ditukar jadi tiket cetak yang jadi tanda masuk. Oalah....
Antrean dibagi menjadi tiga baris, panjangnya luar biasa. Ada kali, satu antrean seratus orang. Ini yang bikin aku agak heran, antrean panjang begini yang ngelayanin cuma tiga pos buat redempton tiket. Mana ini hari Jumat dan kudu siap-siap buat sholat Jumat. Dan... jam sudah setengah sebelasan. Hadeeeh....
Antrean panjang untuk redemption tiket

 Antrean makin mengular. Sekitar jam setengah duabelas akhirnya, aku bisa ketemu sama panitia yang melayani proses redemption. E-tiket ditukar jadi name tag beserta barcode dan nama kita. Baru aja beres nukerin tiket. Eh, antrean yang berbaris diperbolehkan masuk. Nggak perlu redemption tiket karena waktunya sudah mepet. Jadi kalau mau masuk ke kelas-kelas tinggal menunjukkan e-tiketnya. Hmme.... panitia emang benar-benar nggak jelas.
Akhirnya kami masuk ke JCC. Karena waktu sudah masuk Jumatan, aku berwudhu dan sholat Jumat dulu di Ruang Cendrawasih yang diset untuk sholat.
Selesai sholat Jumat, aku cari rundown acara karena tadi nggak dikasih pas redemption tiket. Keluar lagi lah kita. Dan akhirnya dapat rundown acaranya. Kalau dilihat acaranya keren-keren, ada sekitar 70an kelas di hari pertama dengan tokoh-tokoh inspiratif.
Jam satu sesuai di jadwal, aku mengambil kelas Travelling, The Spending That Makes You Riches. Saat menuju ke ruangan, Musk Room. Antrean sudah membludak. Aku mikir keras. Ini bisa jadi karena temanya emang yang keren, atau speakernya yang menarik. Christian Sugiono gitu loh, aktor dan founder Males Banget Dot Com (MBDC). 
Christian Sugiono founder MBDC
Semua peserta sudah duduk manis di bangkunya masing-masing. Sebagian yang nggak kebagian tempat duduk berdiri di kanan dan kiri ruangan. Suara panitia terdengar menenangkan peserta.

“Baik, harap tenang karena kelas How To Deliver Powerful Message As A Female Leader bersama Desy Bachir dan Karina Nadila akan dimulai!”
Loh kok?
“Maaf akan perubahan ini. Semua acara jadi mundur karena opening acara Ideafest yang juga mundur.”
Gubraklah!
Sebagian besar peserta yang mau ikut kelas travelling berangsur-angsur meninggalkan ruangan termasuk aku. Jadi kelas yang harusnya dilaksanakan jam 11an mundur jadi jam satuan. Berarti semua acara mundur semuanya ya.
Akhirnya, aku mengambil kelas Workshop: Understanding Vlog And Daily Content Creation bareng Fathia Izzati. Setidaknya aku pernah melihat youtubenya Izzati. Jadi nggak berasa asing-asing banget.
Sejam berikutnya, aku balik lagi ke Musk Room ikut kelas Travelling bareng Christian Sugiono. Dilanjutkan kelas Light of Hope for Indonesia bareng Dian sastro dan Satu Indonesia Awards di ruangan yang sama.
Satu Indonesia bersama Dian Sastro

Karena ada beberapa perubahan kelas, aku masih kebagian kelas Scaling Up Your Culinary Business dan You Are What You Read: Good Content Leads to Godd Life barengan Chelsea Islan.
Setelah maghrib, acara tambah molor. Kelas yang seharusnya dimulai jam 6 sore molor jadi jam tujuh lebih. Acara yang seharusnya beres jam 20.15, selesai jadi jam setengah sepuluhan.
Molor dan perubahan acaranya sih enggak masalah. Tapi yang bikin aku bingung tuh, panitianya pada kemana. Sebenarnya ada, cuma karena pakai kaos warna hitam yang di depannya bertuliskan Idea Fest jadi kurang dikenali. Yang pakai baju warna hitam kan banyak. Jadi kalau mau tanya-tanya perlu cari-cari dulu.
Terus ada kelas-kelas yang dibatasi jumlah audiencenya, kayak kelas Raditya Dika. Setahuku dari obrolan sesama peserta, kelasnya cuma dibatasi 20 hingga 30 orang. Kan sayang banget. Masalahnya acara ideafest ini bukan acara gratisan, acara berbayar yang nggak juga dikatakan murahan kan?
Selain itu, materi di kelas-kelas kurang mendalam sih menurutku. Masih sekitaran kulitnya. Ada kelas yang bagus tentang Special Needs, tapi kebanyakan speakersnya, jadi waktu satu jam nggak cukup buat para speakers menjelaskan materinya satu persatu. Ujung-ujungnya pertambahan waktu. Tambah lima menit, jadi lima belas menit terus jadi 30 menit. Dan kelas berikutnya molor berlipat-lipat.
Ada kelas yang speakersnya bagus, seperti penulis buku Resign Almira Bastari dan penulis sekaligus youtuber Ria Sukma Wijaya tapi moderatornya nggak asik. Hmme...
Ketemu Ria SW
Semoga Ideafest berikutnya, audience yang sudah beli tiketnya nggak perlu tukar tiket lagi dengan antrean panjang. Padahal di dalam, kelas-kelas sudah mulai. Jejak panitia yang lebih terlihat dengan pakai kaos yang designnya eye catching. Perubahan kelas yang diinformasikan segera. Time keeper yang tegas agar satu kelas nggak molor dan berimbas kemoloran kelas-kelas berikutnya. Dan materi kelas yang nggak sekedar kulitnya doang, beberapa kelas materinya sudah mendalam, beberapa masih kurang.
Sayang sekali sih, acara sekelas Ideafest beberapa hal tidak dikelola dengan baik.
Ya, terlepas dari itu semua. Acara Ideafest itu salah satu festival tahunan yang ditunggu-tunggu karena menghadirkan tokoh dan kelas yang inspiratif. Apakah acaranya bakalan lebih rapi dari tahun 2018 ini? We’ll see!

Selasa, 23 Oktober 2018

Indahnya Blue Lagoon Yogyakarta


Aku hampir sering berlibur ke Yogyakarta. Alasannya kulinernya yang enak-enak, mengangkat kearifan lokal setempat menunya, tempat yang dibuat nyaman bagi pengunjung dan ini yang paling penting, rata-rata harganya murah!
Tapi kali ini, aku nggak lagi pengen ngebahas tentang kuliner. Yap! Selain kuliner, Yogya juga dikenal dengan sumberdaya alamnya yang melimpah. Pantai, gunung, sungai, sawah-sawah di pedesaan menjadi primadona yang seru dan mengasyikkan. Kali ini, aku pengen ngebahas tempat mandi yang oke punya di Yogya.
Blue Lagoon.
Beda ya dari Blue Lagoon di luar negeri. Blue Lagoon Yogyakarta itu terletak di sebuah dusun, namanya Dusun Dalem, Widodomartani. Aku nggak perlu jelasin secara detail tempatnya karena kalian cukup keluarkan handphone kalian dan buka google maps. Ha...ha...ha...

 
Jadi saat liburan Maret 2018 lalu, di hari ketiga, aku dan istri mulai mati gaya. Kami memang pecinta kuliner, tapi pengen juga ke tempat-tempat wisata serunya. Terutama main air. Kan kalau main air di kolam renang atau waterboom terlalu mainstream. Mau berenang ke pantai, ngeri-ngeri sedap, Yogya kan ada Pantai Selatan, ombaknya besar. Main ke Gua Pindul sudah pernah. Jadi cari yang aman, setelah cek google pilihan kita ada di Blue Lagoon Yogya ini.
Karena liburan aku dan istri disetnya hemat. Jadi kami nggak nyewa mobil, kami pakai go car kalau mau ke mana-mana. Hematnya lumayan banget loh. Kalau sehari sewa mobil bisa 500ribuan, uang segitu bisa dipakai untuk berpergian selama lima harian pakai aplikasi go car. Lumayan kan? Apalagi, go car bisa menjangkau daerah wisata yang lumayan jauh seperti di Blue Lagoon ini.
 Gerbang masuk Blue Lagoon
Pagi setelah sarapan, aku langsung bergegas pesan go car dan menuju Blue Lagoon. Jalan yang nggak macet, rapi dan lancar membuat perjalanan kami cuma ditempuh sekitar setengah jam dari Jogokarian. Setiap liburan ke Yogyakarya, aku ambil weekdays. Jadi pas banyak orang sedang kerja, aku nikmatin liburan. Jadi jalanan nggak terlalu padat dan tempat wisata nggak full full banget.
Ini tips buat kalian kalau mau mengunjungi tempat wisata. Datang pagi-pagi itu menguntungkan banget. Ini karena suasana masih sepi. Tapi cek dulu di google map, tempat wisatanya buka dan tutup jam berapa. Tapi kalau tempat wisata alam seperti Blue Lagoon ini cenderung pagi sih bukanya. Jam tujuh sudah buka.
 Kolam dan air yang mengalir ke sungai
Saat masuk desa wisata ini, kami merogoh kocek sebesar 20 ribu (untuk dua orang) dengan fasilitas tiket masuk dan kupon minum (jenisnya boleh pilih kecuali juice dan smoothie). Saat aku datang, airnya kelihatan jernih banget tapi nggak biru. Soalnya warna birunya didapat kalau lagi musim kering. Dari mata air, airnya masuk ke kolam alami bebatuan, air yang penuh mengalir ke sungai dan bebatuan. Selain airnya yang jernih, tempat ini juga adem karena pohon bambu yang jadi peneduhnya.
Kupon Minum
Dan... mandilah kita sambil berenang, tidak lupa foto-foto (dengan berbagai macam gaya tentunya), menyusun batu, dan terapi ikan. Di Blue Lagoon ini ada ikan-ikan kecil yang hidup bebas.  Blue Lagoon ini punya kedalaman dari satu meter sampai tiga meter. Aku cuma berani di daerah dangkal setengah meter saja. Ha... ha... ha... Buat yang suka loncat, bisa loncat dari atas ke kedalaman air yang 3 meteran. Rame-rame bareng teman pasti seru.
Susun Batu
Jam sepuluhan, tempat sudah mulai rame. Puas berasa kolam renang sendiri akhirnya aku siap-siap buat bersih-bersih.
Aku kemudian ke atas menuju toilet dan ganti baju. Oh ya, di sini ada penitipan tas dan ngecas hape. Tarifnya juga murah cuma duaribu saja. Selain toilet, di sini banyak tempat jajan. Musola juga. Beres bersih-bersih dan ganti baju, aku nukerin kupon minum gratis yang sudah dikasih awal tadi. Terus aku dan istri nongkrong di warung, jajan enak tapi murah meriah. Yummy!!!
 Jajan setelah nyemplung
Selain alamnya yang menentramkan jiwa. Ada yang buat aku salut sama pengelolaan tempat wisata ini. Jadi, setelah tanya-tanya ke mas-mas penitip tas yang ramah banget, Blue Lagoon ini dikelola sendiri secara swadaya sama warga dusun setempat. Pendapatan pun dibagi ke pos-posnya sepert pos kepemudaan, pos untuk acara-acara dusun, sumbangan untuk anak yatim dan lain-lain. Keren kan?

Ada yang lebih keren lagi, terkait godaan, Blue Lagoon yang airnya berasal dari mata air ini sempat dilirik oleh perusahaan air dalam kemasan terbesar di Indonesia. Tahu kan? Tapi, masyarakat dusun menolak dengan tegas. Hebat kan. Salut buat keputusan ini!
Kalau menurutku, alam yang indah perlu dikelola dengan baik dan bijak. Karena selain berguna buat kita, bakal jadi bekal buat anak cucu kita.  Dan warga di dusun ini tahu benar akan pentingnya menjaga kelestarian dan bijak mengelola tempat wisata. Jadi kebermanfaatannya bisa dirasakan bersama-sama. Ini penting banget
 Yuuk... ke Blue Lagoon!

Jadi...
Kalau kalian lagi liburan ke Yogyakarta. Blue Lagoon ini bisa jadi pilihan yang asik buat dikunjungi. Karena selain kalian dapat tempat wisata yang asik alamnya, kalian juga bisa jajan puas di sini. Yang paling asik uang yang kalian keluarkan berguna untuk warga dusun.
Ini alamat lengkapnya:
Blue lagoon Yogyakarta: Area Sawah, Widodomartani, Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Atau klik di gmap aja: Blue Lagoon Yogyakarta


Jumat, 19 Oktober 2018

Stasiun Kotabumi dan Kegaduhan-kegaduhan (Catatan Perjalanan ke Palembang)


Stasiun Kotabumi masih terlihat lengang saat kami baru sampai. Jam masih menunjukkan pukul delapan. Jadwal keberangkatan masih sekitar satu setengah jam lagi. Kami sengaja minta diantar lebih awal karena khawatir akan begal yang masih menjadi momok menakutkan di Kotabumi.

Beberapa penumpang terlihat mulai berdatangan, sama seperti kami, menunggu di bagian luar stasiun. Pintu masuk ke ruang tunggu belum buka. Stasiun Kotabumi tidak seperti stasiun di Jawa yang hampir buka 24 jam. Jadwal keberangkatan di Stasiun Kotabumi hanya di jam-jam tertentu. Jadwal malam ini hanya satu, keberangkatan menuju Palembang.

Sudah lama, saya berangan-angan untuk mengunjungi kota ini. Walaupun secara geografis dekat dengan Kotabumi, tapi nyatanya kaki saya telah lebih dahulu melangkah di kota-kota lain yang lebih jauh. Belum berjodoh barangkali. Namun tidak untuk kali ini. 

Pintu menuju ruang tunggu dan pengecekan tiket belum buka. Kami masih duduk di teras stasiun. Angin dingin mulai terasa. Untung jaket tebal dan syal yang kukenakan menghalaunya. 


Seorang anak muda datang. Usianya sekitar belasan akhir hingga 20an awal. Ransel di punggung. Kepala menunduk, mata mengarah ke telepon genggam di tangan. Sedangkan earphone menempel di telinga. 

“Hajaar!!” ucapnya tiba-tiba. Aku yang sempat memalingkan perhatian kepadanya kembali memperhatikannya. Kali ini dengan rasa heran.

“Udah lu duluan! Gue ntar nyusul.” Kali ini nada suaranya cukup keras. Beberapa orang memperhatikannya anak muda itu. Heran. 

Aku masih memperhatikan. Mungkin dia sedang menelepon temannya, pikirku. Tapi kenapa harus teriak, pikirku kemudian.

“Udahlah gue yang hajaar! Gue ada di belakangnya,” teriaknya lagi. “Gue tembak nih!” lanjutnya. “Aaargh!! Nggak kena!” teriaknya lagi.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Rupanya anak muda ini sedang bermain game online. Dan barangkali sedang battle dengan pemain lainnya. Hadeeh!

Pintu menuju ruang tunggu dibuka. Aku menuju pencetakan tiket. Kumasukkan kode pemesanan tiket. Kertas berwarna jingga keluar. Aku mengambilnya lantas duduk di ruang tunggu dalam.

“Hajaar! Yeaay! Mati lu,” teriak anak muda itu sambil tertawa lepas. Seakan tidak ada manusia di sekitarnya. 

Aku dan beberapa penumpang yang sedang menunggu kembali terperanjat. Beberapa penumpang menatap anak muda itu dengan tatapan lekat. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat. Setengah jam lagi, kereta dari arah Bandar Lampung akan merapat. 


Anak muda itu masih asik dengan dirinya sendiri. Asik dengan game online yang sedari pantauanku dimainkan tanpa jeda. Tanpa ada interkasi dengan sesama. Padahal asiknya sebuah perjalanan adalah berinteraksi. Perihal lain yang juga jadi soal, tentu saja terkait etika. Teriak-teriak sendiri tanpa sebab penting di tempat umum jelas menganggu. Tipikal orang Indonesia yang tidak enakan dan memilih untuk tidak menegur (termasuk saya), membuat anak muda itu masih teriak seenaknya sendiri. Kalau bagiku yang kadang tidak enakan, selama tidak membahayakan orang lain, ya biarlah. 

Kereta keberangkatan menuju Palembang akhirnya tiba, 15 menit mundur dari jadwal yang sudah ditetapkan. Kami memasuki gerbong sesuai dengan pilihan kelas yang tertera di tiket berwarna jingga. 

Aku sedikit lega tak segerbong dengan anak muda itu. Malam yang semakin larut, tidak lucu sebab waktu istirahat terganggu dengan teriakan tidak penting seorang anak muda yang bermain game online. 

Aku dan istri duduk sesuai dengan nomor di tiket. Bangku-bangku terlihat penuh dan tenang, karena beberapa penumpang terlelap. Tepat di samping kami, pasangan suami istri dengan bayi perempuan yang sedang digendong. Kami mulai mencoba rileks, bersandar di bangku kereta lantas memejamkan mata. Baru, mencoba untuk beristirahat, suara tangis bayi perempuan di bangku samping terdengar tidak hanya sekali. Berkali-kali. Membuat kami harus berulang kali berganti gaya duduk.

Tangis bayi perempuan itu belum mereda. Dua jam lebih ia merengek. Meraung. Sang ayah hanya diam. Sang ibu yang sibuk sendiri.

Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Stasiun Kertapati masih jauh. Masih sekitar lima jam lagi perjalanan. Kegaduhan masih terdengar sesekali. Tepatnya aku lupa. Karena kantuk yang mulai tak tertahankan.

Waktu terus berjalan. Perjalanan ke Palembang, baru akan dimulai. Saatnya untuk meredam apapun. Tentang kegelisahan pikiran. Tentang kekhawatiran akan masa depan. Dan, meredam kegaduhan-kegaduhan. Setidaknya, latihan sudah dimulai. Kegaduhan anak muda di stasiun dan bayi perempuan di gerbong. Tinggal menghadapi lantas meredam kegaduhan lainnya. Bismillah!

Kamis, 18 Oktober 2018

Malea Emma dan Kepercayaan Dirinya

“Di balik anak yang percaya diri, ada orangtua yang selalu memercayai dirinya.”
Matthew Jacobson

Akhir-akhir ini, di sosial media viral tentang seorang gadis cilik yang menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat. Yang membuat viral, sang anak bernyanyi dengan teknik yang luar biasa, mengingatkan cara Christina Aguilera bernyanyi. Di Indonesia, yang membuatnya viral karena sang gadis cilik yang berusia tujuh tahun itu masih berdarah Indonesia.
Malea Emma (Sumber: Instagram @maleaemma)

Malea EmmaTjandrawidjaja, gadis cilik yang berhasil mencuri perhatian itu kini laris ke beberapa acara televisi di Amerika. Dari interview yang dilakukan, Malea Emma mampu menjawab dengan sangat percaya diri tentang dirinya, hobinya, dan cita-citanya. Apalagi saat diminta untuk bernyanyi, lagu-lagu dengan tingkat kesulitan tinggi mampu ia taklukkan. Di acara Good Morning Amerika, Malea Emma bernyanyi lagu And I’m Telling You           yang dipopulerkan Jennifer Holiday dan Jennifer Hudson. Saat bernyanyi, ia mendapat surprise duet langsung dengan Jennifer Holiday.
Awalnya saya tidak terlalu “ngeh” dengan Malea Emma. Yang saya tahu, ia keturunan Indonesia di saat video viralnya wara-wiri di instagram. Namun akhirnya, saya tertarik untuk melihat penampilannya saat menyanyikan lagu kebangsaan Amerika. Dan... speechless. Di usia yang terbilang masih sangat muda, penampilan Malea nggak kalah dengan penyanyi-penyanyi dewasa saat menyanyikan lagu itu. 

Sumber Instagram @maleaemma
Kekepoan saya berlanjut, saya penasaran dengan Malea. Youtube jadi sarana informasi yang tepat karena video-video Malea banyak terdapat di situ. Apalagi, Malea punya channel youtube. Ternyata, Malea sudah bernyanyi di panggung-panggung kecil di Amerika. Pilihan lagunya sadiss, I Have Nothingnya Whitney Houston, I Surrendernya Celine Dion, Listennya Beyonce, lagu-lagunya Christina Aguilera mampu ia libas. Ya, meskipun, di beberapa bagian masih terkesan dipaksakan namun untuk ukuran usia  kurang dari tujuh tahun, menurut saya sudah kece badai.
Kekepoan saya masih berlanjut, saya lihat instagram dan mencari tahu siapa orangtuanya. Beberapa kali diinterview, Malea sering menyebutkan kalau ayahnya yang menemani ia berlatih bernyanyi. Update terakhir, Malea tampil di American Idol atas undangan Ryan Seacrest yang sebelumnya menelepon Malea untuk acaranya On Air With Ryan Seacrest. Saat tampil di depan juri seperti Katy Perry. Malea terlihat begitu percaya diri. Malea pun mendapatkan golden tiket untuk American Idol 2027 (ini sekedar hiburan).
 Bersama Ryan Seacrest (Sumber Instagram @maleaemma)
Teknik Malea dalam bernyanyi patut untuk diapresiasi. Namun, bukan itu yang membuat saya kagum. Percaya diri dan etika Malea Emma saat diinterview yang membuat saya kagum. Kontak mata, artikulasi saat menjawab pertanyaan host, tampil di depan publik (apalagi di acara televisi) mampu ia tunjukkan dengan sangat baik.
Kepercayaan diri bukanlah sebuah bakat. Ia muncul karena ada tangan-tangan yang menstimulus itu. Dalam pengamatan saya terhadap Malea Emma, orangtuanya punya peranan besar, Malea dididik tanpa paksaan untuk menuruti keinginan orangtua. Malea Emma dibirakan bebas memilih apa keinginan kelak, apa cita-citanya. Sehingga, tak heran ketika ditanya host tentang cita-citanya di beberapa acara televisi Amerika, Malea mantap menjawab, “Aku ingin jadi aktris, penyanyi, pianis, pemain biola, dan dokter.” Orangtua percaya sepenuhnya kepada Malea, itu sebabnya Malea tampil begitu percaya diri.
Sebagai guru, saya melihat karakter percaya diri siswa merupakan pantulan orangtua. Anak yang penakut, tidak percaya diri biasanya akibat orangtua yang terlalu mengekang, overprotected, dan suka menyalahkan anak jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi orangtua. Sedangkan anak yang berani dan percaya diri biasanya karena orangtua yang percaya sepenuhnya dan memberi kebebasan yang tidak bablas kepada anaknya.
Karir bermusik Malea Emma masihlah panjang. Saya yakin, jika orangtua memberi kepercayaan yang kuat dan terus membimbing potensi dan talenta yang dimiliki Malea Emma, karir bermusiknya akan gemilang. Kita tunggu gebrakan-gebrakan gadis cilik ini di Amerika dan dunia.

Ingin Terus Sehat, Ikuti 7 Hal Ini

Salah satu hal yang penting dalam proses kehiudpan adalah sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan. Setuju enggak? Sebab, apapun hal y...