Sabtu, 29 Desember 2018

Calm: Rileks, Fokus, dan Ubahlah Duniamu


Buku Calm: Rileks, Fokus dan Ubahlah Dirimu
Ambisi
ambisi [am·bi·si] Kata Nomina (kata benda)
Arti: keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu
Proses kehidupan manusia emang enggak bisa lepas dari yang namanya ambisi untuk mencapai tujuan hidup. Saking ambisinya dari pagi hingga petang kehidupan seakan berputar pada soal yang itu-itu saja.
Bangun pagi -- berangkat kerja – kerja – pulang kerja – istirahat.
Begitu seterusanya. Kalaupun keluar sejenak dari rutinitas hanya sekadar makan di luar dengan memilih tempat makan yang instagramable. Atau piknik ke sebuah tempat di luar kota atau memilih jalan-jalan di taman. Namun, keluar sejenak dari rutinitas, pikiran masih bergelayut soal pekerjaan. Tangan masih memegang telepon genggam.
Grup musik Fourtwnty melihat fenomena itu dan lahirlah lagu Zona Nyaman yang menyoal tentang rutinitas yang tak berkesudahan. Pada awal-awal lirik, Fourtwnty seolah menyindir kehidupan orang-orang ambisius pengejar materi.
Pagi ke pagi ku terjebak di dalam ambisi
Seperti orang-orang berdasi yang gila materi
Rasa bosan membukakan jalan mencari peran
Keluarlah dari zona nyaman
Kemudian di bagian refrain, Fourtwnty kembali mengingatkan hakikatnya seorang manusia. Manusia adalah makhluk mulia bukan seekor hewan.
Sembilu yang dulu
Biarlah berlalu
Bekerja bersama hati
Kita ini insan bukan seekor sapi
***
Titik Nol
Dulu, aku pernah mengalami hal begini. Terjebak dalam rutinitas yang berputar begitu saja. Waktu itu yang ada dalam benakku adalah bagaimana mendapatkan materi dan mencapai target keuangan tertentu.
Dua tahun, aku berjibaku. Interaksi sosial kukurangi. Saat itu berasa jadi alien. Interaksi dengan tetangga sekadar menyapa dan sedikit basa basi. Aku bekerja keras demi mencapai terget keuangan.  Dan ambisi itu tunai, target keuangan yang kukejar  melampaui target.
Hingga akhirnya....
Aku terkena DBD dan semua seolah kembali ke titik nol. Saat diopname, pikiranku tentang ambisi perlahan lenyap berganti dengan ribuan pertanyaan soal kehidupan.
“Apa sih tujuan hidupmu sesungguhnya?”
“Cuma cari uang doang?”
“Punya rumah, mobil, dan harta benda lainnya?”
“Cuma itu tujuan hidupmu?”
Pikiranku meledak. Aku nyaris seperti orang gila. Rupanya cinta dunia mengalihkanku pada kehidupan yang hakiki. Ah betapa bodohnya aku.
Dalam proses kehidupan ambisi memang diperlukan. Namun tidak baik ketika menjadikan ambisi sebagai alat utama dalam menggapai tujuan hidup, terlebih jika ambisi itu berhubungan erat dengan keduniaan. Bahaya. Ternyata banyaknya materi bukanlah jalan satu-satunya untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan hidup, ketenangan dan kedamaian.
Banyak penyakit-penyakit kejiwaan yang akhirnya muncul karena ketidakseimbangan kehidupan. Beberapa hadist dan ayat dalam Al Quran telah menjelaskan dengan gamblang bahwa dunia bukanlah tujuan hidup yang sesungguhnya. Sehingga saat aku berada di titik nol, aku kembali secepatnya mengubah tujuan hidup serta meredakan ekpektasi dan ambisi.
***
Dalam buku Michael Acton Smith “Calm, Rileks, Fokus dan Ubahlah Duniamu bercerita banyak tentang bagaimana mengembalikan ketenangan hidup. Bersyukur dengan berinteraksi dengan alam dan manusia. Mengembalikan hak-hak tubuh untuk rileks, tidur yang baik dan mencium aroma-aroma bunga yang bisa mengembalikan rasa syukur akan kehidupan.
Pada beberapa bagian, buku ini memberikan tips-tips tentang menguasai kecemasan akan sesuatu, langkah-langkah untuk tidur yang baik, cara untuk mengisi waktu istirahat, dan tentang bagaimana menguasai pikiran pikiran yang kadang melanglang ke sudut sudut kehidupan yang belum terjadi.
Ada bagian yang terlihat begitu sederhana namun rupanya mengembalikan ingatanku pada masa kecil.
                      Pandangilah  Awan
Berhentilah beraktivitas sejenak. Lihatlah ke atas. Ketika hidup terasa menekan Anda, memandangi awan adalah kegiatan menyenangkan yang mengingatkan kita akan masa kecil. Memproyeksikan bentuk bentuk antah berantah versi kita (yang itu mirip topi tinggi, yang di sana mirip papan seluncur) pada layar besar alam sama dengan membuat doodle di pikiran, cara yang tak mungkin tidak membuka pikiran akan berbagai kemungkinan, menyuntikkan sedikit keriangan ke dalam hari Anda, sekaligus membuat Anda menilai ulang posisi Anda di dunia. Kapan terakhir kali Anda berbaring dan menatap awan? Bentuk apa saja yang bisa Anda lihat di sana?
Secara gamblang buku ini tidak menuliskan nomor di setiap halaman. Jadi pembaca boleh memulai dari halaman mana saja. Selain tulisan-tulisan berupa tips ada juga quotes-quote keren dari orang-orang yang keren juga. Ada salah satu quote yang aku suka...
Makanan enak adalah dasar dari kebahagiaan murni ~Auguste Escoffier
Buku ini juga memberikan worksheet (lembar kerja) untuk dikerjakan oleh pembaca.
Detoks Digital
Ada hal yang juga menarik di buku ini. Detoks digital. Seperti yang sudah-sudah, apapun pekerjaannya sepertinya telepon genggam adalah pengikut setia. Bahkan kumpul kumpul bersama teman, sahabat, sauadara dan orang tercinta, jika tidak disepakati bersama perangkat digital pasti menjadi orang ketiga yang diam diam mengambil waktu berharga kita.
Di buku ini dijabarkan bagaimana cara melawan godaan menyalakan perangkat elektronik.
~Tolong Jangan Ganggu~
~ Simpan samrtphone anda di saku ketika bertemu teman
~ Dilarang mengirim email, menggunakan smartphone, atau bekerja di atas pukul 10 malam
~ Dilarang menyimpan perangkat elektronik di kamar tidur
~ Dilarang memainkan perangkat eletronik atau menonton televisi saat sedang makan.
Apabila hidupmu stagnan dan membingungkan, kemudian seperti tak tahu apa makna dan tujuan hidup, membaca buku ini sangat disarankan.

Judul Buku: Calm: Rileks, Fokus dan Ubahlah Duniamu (Calm The Mind, Change the World)
Penulis : Michael Acton Smith 

Alih bahasa: Pandam Kuntaswari 

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama



***
Mimpi Dan Menjauh dari Hiruk Pikuk
Aku sudah lama tinggal di Bogor, salah satu kota kecil yang sudah seperti kota metroplis. Di kota ini, aku kerap kali melihat macet yang tidak berkesudahan, ambisi dan tekanan yang tidak kunjung reda, sikut sana sini, meskipun semuanya tenang ketika hujun turun.
Jarak rumahku dengan tempatku bekerja hanya sekitar 10 hingga 15 menit naik sepeda motor. Tidak terlampaui jauh. Cuma kadang aku suka ruwet dengan banyaknya polisi tidur yang dibuat serampangan, orang orang berkendara dan tidak ikut aturan, kebiasaan kebiasaan aneh orang di sepanjang jalan dan kemacetan jalan yang diakibatkan ketidakpekaan manusia dalam berkendara.
Hiruk pikuk yang berlangsung terus menerus membuatku berpikir ulang untuk menetap lama di kota ini. Ada rencana untuk kembali ke kampung halaman dengan cita cita sederhana.
Tinggal di pedesaan dengan lahan yang cukup luas, kemudian berkebun aneka sayur mayur dan buah-buahan. Beternak ayam, itik manila (entog), bebek dan ikan. Hari-hari dilalui dengan mengajar, belajar dan berbagi kebahagiaan. Kemudian menuliskan apa yang ada di benak dan apa saja yang harus ditulis. Sesekali ke kota untuk melihat hiruk pikuk dan ambisi. Sesederhana itu.
Manusia bukanlah alien, ia tercipta untuk saling berinteraksi sesama makhluk dan memberi kemanfaatan untuk semesta (quotenya Erfano).
Bagaimana, kalian setuju?

Jumat, 28 Desember 2018

Ini Dia 5 Musisi Cewek yang Jago Bikin Lagu


Raisa, Isyana Sarasvati, Yura Yunita, Sherina Munaf, Nadya Fatira

Banyak penyanyi penyanyi cewek Indonesia yang zaman aku pinyik sampai segede gajah aku ikutin perkembangannya. Mulai dari penyanyi pop, penyanyi RnB, rock hingga penyanyi dangdut, aku lumayan hafal. Dulu, kalau lihat acara musik rasanya bahagia banget. Atau sekarang kalau lihat penyanyi favorit rilis lagu baru rasanya senang sekali. Walaupun sekarang sudah mulai dikurangi dengerin musik biar enggak addict.
Tahun 90an dan awal tahun 2000an itu kayaknya tahun kejayaan musik indonesia. Beragam penyanyi perempuan dengan beragam identitas bermunculan. Jajaran penyanyi pop dan rock cewek di era tahun 90an banyak sekali, sebut saja Anggun, Nicky Astria, Nike Ardila, Desy Ratnasary, Paramitha Rusady, Inka Cristie, Poppy Mercury, Ruth Sahanaya, Titi DJ, di akhir 90an Krisdayanti, Reza Artamevia, Rossa, Melly Goeslaw, Rita Effendi, Andien, Sherina, AB 3 (sekarang jadi B3) dan penyanyi pop rock lainnya. Di jajaran penyanyi dangdut Elvi Sukaesih, Rita Sugiarto, Camelia Malik masih menjadi primadona disusul penyanyi-penyanyi dangdut berkualitas lainnya seperti Ine Cyntia, Ike Nurjanah, Murni Chania, Lilis Karlina, Cici Paramida, Nini Karlina, Iis Dahlia dan seabreg penyanyi dangdut lainnya lahir dan mewarnai industri musik di Indonesia. Belum lagi penyanyi anak-anak yang muncul.
Di tahun 2000an, nama-nama di atas masih mewarnai blantika musik di Indonesia ditambah muncul penyanyi-penyanyi lainnya seperti Agnes Monica, Shanty, Gita Gutawa, Sherina (comeback), Bunga Citra Lestari (BCL),  Inul Daratista yang banyak mencuri perhatian karena sensasinya. Kemunculan para penyanyi ini menjadi angin segar untuk tumbuhnya industri musik di Indonesia.
Nah, berkembangnya musik di era sekarang berbeda jauh dengan era tahun 90an. Belum lagi era sekarang musik sudah menggunakan platform digital sehingga sangat mudah seorang penyanyi untuk rilis lagu. Tinggal upload di youtube, soal laku atau tidaknya biasanya tinggal ditambah gimmik gimmik sensasi agar diberitakan di sosial media dan televisi.
Banyak yang bilang juga musik sekarang enggak seenak mungkin tahun 90an yang melegenda dan kalau didengerin lagi masih tetap enak.Tapi apakah benar demikian? Era tahun 70an, 80an, 90an hingga 2000an, banyak penyanyi cewek yang menggunakan pencipta lagu untuk lagu yang akan dinyanyikan. Khusus tahun 2000an, ada Melly Goeslaw yang menjadi langganan. Banyak penyanyi cewek yang menyanyikan lagunya dan hits, sebut saja lagu Menghitung Hari dan yang Kumau Krisdayanti, lagu Tegar Rossa, lagu-lagu Agnes Monica seperti Jera adalah contoh lagu-lagu hits yang dibuat oleh Melly Goeslaw. Kemudian ada Dewiq yang juga jadi langganan penyanyi-penyanyi seperti Agnes Monica dan BCL, hasilnya emang tidak terbantahkan. Hampir semua lagu ciptaan Dewiq diterima di masyarakat Indonesia. Sehingga kala itu banyak penyanyi-penyanyi baru yang meminta Melly Goeslaw dan Dewiq untuk menciptakan lagu perdana mereka. Beberapa berhasil, beberapa kurang beruntung.
Era tahun 2010an, musik mulai beralih pada era digital. Banyak penyanyi-penyanyi cewek yang tidak mengandalkan pencipta lagu untuk mendongkrak lagu agar menjadi hits. Rata-rata dari mereka menciptakan lagu sendiri atau berkolaborasi dengan musisi lainnya. Beberapa musisi musisi itu pun tidak mengandalkan perusahaan rekaman besar untuk menanungi kreativitas mereka. Kualitas lagu yang dibuat mereka pun memiliki kualitas yang tidak main-main, soal hits, lagu-lagu ciptaan mereka berhasil merajai chart musik dan lumayan banyak ditonton di platform digital seperti youtube.
Nah, siapa sajakah musisi cewek masa kini yang selain jago nyanyi juga jago nyiptain lagu sendiri? Yuuk kita simak....
1.    Isyana Sarasvati

Awal debut Isyana sempat sedikit mencuri perhatianku. Saat itu lagu perdananya yang bertajuk Keep Being You merajai chart Itunes, namun setelah itu aku enggak memperhatikan lagi. Pikirku Isyana hanya penyanyi indie yang sesekali nyiptain lagu terus sudah enggak bakalan kedengaran lagi karirnya. Sampai akhirnya ia masuk ke dalam beberapa nominasi di Indonesian Choice Awrads Net 2.0, namun aku masih belum terlalu yakin.
Setelah lagu Keep Being You, Isyana kembali mengeluarkan single Tetap Dalam Jiwa. Dari sinilah, aku mulai “ngeh” dan mulai mengikuti perkembangan musik Isyana. Tetap Dalam Jiwa merajai tangga lagu dan menjadi salah satu lagu yang populer di kanal youtube.
Setelah mengeluarkan dua single, Isyana kemudian mengeluarkan album perdananya bertajuk Explore. Hebatnya sebagian besar lagu yang ada di album ini ia ciptakan sendiri. Kemudian Isyana merilis album kedua berjudul Paradoks. Sama seperti album perdana, album kedua ini sebagian besar lagunya diciptakan Isyana sendiri, lagu seperti Lembaran Buku, Winter Song menjadi hits di album kedua ini. Selain, mengelurakan album, Isyana juga membuat lagu untuk OST Critical Eleven yang bertajuk Sekali Lagi, kemudian bersama Raisa ia menciptakan lagu Anganku Anganmu, bersama Afgan dan Rendy Pandugo ia membuat lagu Heaven dan baru-baru ini bersama kakak tercintanya Rara Sekar ia membuat lagu Luluh untuk Film Milly dan Mamet.
Berkat kepiawannya dalam membuat lagu dan menyanyikannya, beragam penghargaan ia peroleh, termasuk penyanyi wanita terbaik di Planet Muzik Awards 2018.
2.    Raisa Andriana

Bicara soal Raisa, segudang prestasi telah ia torehkan. Dulu, awal kemunculan Raisa aku langsung jatuh hati. Lewat acara MTV Imsonia (kalau enggak salah), Raisa membeberkan tentang album perdananya dan lagu Serba Salah. Di album perdana, Raisa masih banyak dibantu musisi lain. Begitu pun di album kedua Heart to Heart. Raisa banyak mendapat ruang ketika merilis album ketiga yang bertajuk Handmade. Sebagain besar lagu ditulis oleh Raisa termasuk di dalamnya lagu Tentang Cinta, Jatuh Hati dan lagu Usai Di Sini. Lagu-lagu tersebut menunjukkan kelas Raisa dari seorang penyanyi menjelma menjadi seorang musisi. Lewat lagu Jatuh Hati ia berhasil menyabet penyanyi wanita terbaik di ajang Planet Muzik Awards 2016.
Kemudian lewat Anganku Anganmu berkolaborasi dengan Isyana Sarasvati berhasil meraih trofi kategori Best Composer of the Year di Mnet Asian Music Awards (MAMA) 2017 silam. Tahun ini Raisa menciptakan lagu berjudul Lagu Untukmu yang ia dedikasikan untuk ibu tercinta.
3.    Yura Yunita

Sebagai jebolan ajang menyanyi The Voice, karir bermusik Yura termasuk yang konsisten. Setelah lagu hits duetnya bersama Glenn Fredly meledak di pasaran, Yura mengeluarkan single berjudul Berawal dari Tatap dan juga mendapatkan respon yang luar biasa. Album Yura (2014) sebagian besar materi lagunya ia ciptakan sendiri. Berikutnya Yura tak berhenti begitu saja, ia rajin sekali merilis lagu lagu yang ia ciptakan seperti Intuisi, Harus Bahagia, Takkan Apa dan Buka Hati yang ia tulis bersama Tulus. Lagu-lagu tersebut sudah bisa dinikmati video klipnya di youtube dan di album kedua Yura Yunita yang bertajuk Merakit.
Lewat lagu Intuisi, Yura berhasil menyabet predikat penyanyi solo pop wanita terbaik di Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2017 dan penulis lagu pop terbaik. Di tahun 2018, ia kembali menyabet predikat sebagai penyanyi solo pop wanita terbaik di AMI 2018 lewat lagu Harus Bahagia.
4.    Sherina Munaf

Walaupun sekarang sedang vakum di industri musik, kepiawaian Sherina dalam menciptakan lagu memang tiada duanya. Setelah melepas jati diri sebagai penyanyi anak-anak, Sherina kembali dengan merilis album perdananya bertajuk Primadona. Semua lagu di album tersebut, ia ciptakan dan memilih lagu Sendiri sebagi hits perdana. Sayang, banyak sekali kritik mengingat genre lagu Sendiri adalah lagu rock yang kurang sesuai dengan vokal Sherina. Album perdana Sherina kurang diterima pecinta musik Indonesia.
Berikutnya Sherina mengeluarkan album bertajuk Gemini, di sinilah ia kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam membuat lagu dan mengaransemen ulang lagu Gregetan ( lagu milik band ayahnya). Album Gemini sukses, lagu seperti Cinta Pertama dan Terakhir, Pergilah Kau menjadi hits dan merajai chart di televisi dan radio. Ada lagu yang memiliki kualitas mumpuni di Album Gemini yaitu Simfoni Hitam, sayangnya Sherina tidak merilis video klipnya. Selain album, Sherina juga mengisi soundtrack untuk dua film box office yaitu Laskar Pelangi dan Ayat Ayat Cinta. Lagu Kubahagia dan Jalan Cinta menjadi bagian penting dalam film-film tersebut.
Album ketiga Sherina berjudul Tuna (Tune of Sherina) dirilis dengan mengeluarkan lagu andalannya Sebelum Selamanya dan Akan Kutunggu. Sayang album ini tak sesukses album Gemini padahal jika dilihat dari materi lagu, album ini harusnya sukses. Setelah itu Sherina vakum karena harus melanjutkan studinya.
5.    Nadya Fatira

Nama Nadya Fatira mungkin tidak sepopuler Raisa atau Isyana. Namun kepiawannya dalam membuat lagu patut untuk diapresiasi. Lagunya yang paling diingat adalah lagu yang berjudul Penyendiri (2017). Album perdana Nadya Fatira dirilis tahun 2010. Selain menciptakan lagu untuk dirinya sendiri Nadya Fatira juga menulis lagu untuk penyanyi lain seperti Bayangkan Rasakan (Maudy Ayunda), Tanpa Melodi (Mytha Lestari), Percaya ( Fatin Shidqia Lubis). Selain menciptakan lagu, Nadya juga adalah seorang film scoring. Baru-baru ini, Nadya Fatira merilis lagu berjudul Lagu Tanpa Huruf R yang kalau dicari liriknya emang enggak ada huruf Rnya.
***
Demikianlah lima penyanyi cewek yang jago buat lagu versiku. Versi ini versi menurutku ya, jadi enggak bisa juga jadi patokan utama. Semoga bermanfaat. Terima kasih....

Kamis, 27 Desember 2018

Sutradara Favorit, Milly dan Mamet


Review Milly dan Mamet

Sutradara Favorit
Tidak banyak sutradara film yang aku favoritkan. Hanya beberapa. Dan kalau sudah menjadi sutradara favorit, film-film yang dibuat pasti akan aku sempatkan untuk menontonnya. Dulu aku suka sekali film-film karya Garin Nugroho, semenjak nonton Angin Rumput Savana di televisi aku jatuh cinta. Adegan demi adegan yang penuh dengan simbolik hadir membuat pikiran aku cerah. Menerka maksud di setiap adegan. Sejak saat itu aku selalu menanti-nanti film Garin Nugroho. Namun penantian itu kandas karena beberapa film Garin tidak mudah tayang di bioskop, kalaupun tayang hanya di beberapa bioskop pilihan. Dan ketika menonton film Garin Nugroho yang lain, rasanya itu sudah berbeda. Enggak secerah saat nonton film Angin Rumput Savana.
Sutradara favorit berpindah ke Hanung Bramantyo, saat itu Hanung sedang menggarap film Ayat Ayat Cinta. Setelah Ayat ayat Cinta meledak di pasaran saya menonton karya-karya Hanung lainnya seperti Perempuang Berkalung Sorban, Get Merried dan Perahu Kertas. Aku mulai menyukai karya-karya Hanung. Namun saat Hanung mulai menggarap film-film bertema sensitif, saya mulai tidak tertarik dengan film-film garapannya. Kalau pun nonton beberapa film karya Hanung lebih karena dengar review orang kalau filmnya bagus.
Kemudian aku menemukan Mouly Surya dan Kamila Andini. Dua sutradara perempuan ini membuat cerita yang tidak biasa. Fiksi garapan Mouly Surya menarik perhatianku. Mirror Never Lies karya Kamila Andini juga memikat hatiku. Sampai sekarang kedua sutradara perempuan itu masih masuk daftar sutradara yang film-filmnya wajib aku tonton. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Mouly Surya) dan Sekala Niskala (Kamila Andini) adalah film yang baru-baru ini mereka garap. Dan kedua film ini bersiang ketat di perhelatan FFI 2018 kemarin.
Aku juga pernah suka dengan karya-karya Riri Reza, yang sangat fenomenal adalah Laskar Pelangi. Beberapa kali aku nonton film itu di bioskop. Saat DVDnya keluar aku juga koleksi. Beberapa film Riri Reza aku tonton. Terakhir aku nonton Ada Apa Dengan Cinta 2, dan itu film terakhir yang aku tonton lebih karena euforia AADC sebelumnya. Setelah itu, aku jadi agak “males” nonton film Riri Reza semenjak pernah ketemu dan kurang respect dengan sikap Riri (off the recordlah).
Sutradara favorit sekarang berpindah ke Ernest Prakasa. Awalnya aku enggak terlalu suka sih secara personal, apalagi Ernest termasuk stand up comedian yang agak gimana gitu kalau sedang                                                                                                                      
berkelakar. Apalagi tipikal tipikal Ernest ini kupikir akan sama dengan komika sebelumnya Raditya Dika. Mirip-mirip soalnya. Seorang komedian lalu buat buku dilanjutkan main film dilanjutkan dengan menjadi sutradara film.
Saat film perdana Ernest yang berjudul Ngenest dirilis, aku enggak minat sedikit pun. Padahal film perdana itu meledak di pasaran. Kupikir ceritanya palingan begitu-begitu saja setipe dengan film Raditya Dika. Film perdana lewatlah tidak kutonton.
Film kedua Ernest yang berjudul Cek Toko Sebelah. Aku sudah mulai berminat, apalagi film ini tayang saat liburan. Tapi aku dan saudara keburu nonton film Hangoutnya Raditya Dika yang menurutku enggak banget. Akhirnya aku batal nonton Cek Toko Sebelah. Tapi saat review dan tahu kalau film ini ditonton 2 juta lebih penonton, terbesit penyesalan karena enggak nonton.
Sampailah di suatu hari, saat kembali ke Bogor setelah mudik. Di tengah laut, di kapal ferry sedang ditayangkan Film Cek Toko Sebelah. Penasaranku terbayar. Aku tonton film ini dari awal. Ternyata dugaanku selama ini salah, Film Cek Toko Sebelah benar benar kuat ceritanya. Komedi dapat, dramanya dapat, dan hikmah yang terkandung di dalam cerita yang bisa diambil penonton juga dapat. Jadi enggak rugi bayar tiket karena selain menghibur film yang dihadirkan memiliki hikmah yang bisa dibawa pulang untuk dipikirkan, untuk direnungkan.
Kemudian Ernest membuat film ketiganya yaitu Susah Sinyal. Aku enggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Film ini kutonton di hari pertama penayangan. Setting Sumba yang ngangenin (maklum sudah tiga kali ke Sumba) menjadi daya tarik tersendiri. Soal konten film, aku sudah percaya dengan Ernest dan itu benar-benar terbukti. Film Susah Sinyal, selain menghibur dengan aksi komika-komika yang pas porsinya, drama tentang ikatan anak dan ibu juga ngena banget. Wajar saja sih, kalau film ini tembus dua juta penonton....
Milly dan Mamet (2018)
Saat mendengar film Milly dan Mamet akan dirilis dan salah satu rumah produksi yang membuatnya Miles Film, aku agak gimana gitu. Sebenarnya enggak meragukan film-film produksi Miles sih cuma jadi agak males saja sejak bertemu dengan Riri Reza (piss!).
Nah, kupikir film ini akan digarap Riri Reza (kebayang bakal garing he... he... he...) namun ternyata Ernest Prakasa yang didapuk untuk menjadi penulis skenario dan sutradara.  Jadilah aku mengagendakan jauh-jauh hari buat nonton film ini.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, aku nonton di hari kedua. Hari pertama enggak sempat buat nonton karena kesibukan.
Film Milly dan Mamet bercerita tentang kehidupan berkeluarga Milly dan Mamet. Film ini merupakan spinoff dari Film Ada Apa dengan Cinta. Sehingga jangan heran jika di beberapa adegan genk Cinta akan muncul.
Masalah rumah tangga Milly dan Mamet cukup pelik. Satu sisi Mamet ingin bekerja sesuai dengan passionnya, satu sisi ada jeda antara Mamet dengan ayah mertua, satu sisi Milly yang ingin memiliki kesibukan dari sekadar mengasuh Sakti anak mereka. Kemudian pertemuan antara Mamet dan Alex, kawan lamanya yang akhirnya berbisnis bareng. Konflik demi konflik ini yang diramu sedemikian rupa oleh Ernest ditambah para pemain pendukung yang membuat film ini begitu menghibur.
Ada dua pemain pendukung yang mencuri perhatianku yaitu kehadiran Isyana Sarasvati dan Melly Goeslaw. Kupikir porsi Isyana di film ini hanya cameo numpang lewat doang. Ternyata Isyana tampil di beberapa adegan. Setiap adegan “gokilnya” Isyana terlihat natural dan ngegemesin dan mengundang tawa penonton tentunya. Isyana terlihat nggak kaku, padahal jika dilihat, ini adalah film pertama Isyana.
Pemain lainnya yang nggak kalah kocak adalah kehadiran Mamah Ice yang dimainkan oleh Melly Goeslaw. Kehadiran Melly yang hanya terdapat di beberapa adegan juga mengundang tawa penonton. Keren lah...
Akting pemain utama seperti Dennis dan Sissy meyakinkan, hanya akting Dennis yang “sedikit” kurang konsisten. Peran-peran lainnya porsinya pas menurutku. Para komika yang  berperan sesuai porsinya dengan dialog-dialog segar juga pas dan ini merupakan kekuatan dari film film Ernest.
Hal lain yang jadi kekuatan film ini adalah pesan yang ingin disampaikan tentang pentingnya keluarga. Tipikal film Ernest yang menghibur dan mengandung pesan adalah kekuatan utamanya. Kebanyakan film menghibur iya, lucu iya tapi pesannya enggak ada. Ada juga film yang pesannya ada tapi dikemasnya enggak menghibur. Aku sih berharap Ernest tetap konsisten dan enggak coba buat film yang “aneh-aneh”.
Yang sedikit mengganjal di film ini adalah masuknya beberapa soundtrack lagu yang kurang pas. Seperti lagu Luluh milik Isyana Sarasvati dan Rara Sekar. Pas masuk adegan berasa enggak klop aja. Padahal salah satu yang aku tunggu di film ini adalah masuknya lagu soundtrack.
Namun secara keseluruhan Milly dan Mamet adalah film yang manis di akhir tahun 2018.
***
Banyak sutradara-sutradara film yang bermunculan. Namun sedikit yang dapat mencuri perhatian. Mouly Surya, Kamila Andini dan Ernest Prakasa adalah sutradara favoritku saat ini. Semoga mereka konsisten berkarya dengan kekuatannya masing-masing sehingga warna film indonesia makin beragam dan berkualitas.
Dan.... Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat. Terima kasih.

Ingin Terus Sehat, Ikuti 7 Hal Ini

Salah satu hal yang penting dalam proses kehiudpan adalah sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan. Setuju enggak? Sebab, apapun hal y...