Rabu, 26 Desember 2018

Tsunami Aceh 14 Tahun Silam


Buku kumpulan puisi Duka Aceh Luka Kita
Tahun 2004
Pagi itu ruangan televisi di kossan yang aku tempati begitu heboh. Breaking News di beberapa televisi swasta membuat kakak di kossan terperanjat. Gelombang laut setinggi beberapa meter menerjang Aceh. Ribuan orang menjadi korban.
“Astaghfirullah. Ada gempa bumi dan tsunami di Aceh,” teriak kakak kos.
Aku dan beberapa orang yang berada di lantai dua turun ke ruang televisi. Kepalaku nanar menyaksikan video gelombang yang memporakporandakan Aceh. Mataku menahan duka. Nafasku tak beraturan.
“Ya Allah. Ampuni kami!” bisikku dalam hati.
Kami pun saling mengecek, terutama teman-teman yang berasal dari Aceh. Di kelas jurusanku, kebetulan ada satu orang yang berasal Aceh. Di kossanku ada beberapa kakak kelas yang juga berasal dari Aceh.
Berita tentang gempa dan tsunami di Aceh menjadi berita yang sangat hangat. Kekhawatiran demi kekhawatiran terlihat di mata teman-teman mahasiswa yang berasal dari Aceh. Beberapa keluarga mereka di kampung tidak dapat dihubungi.
Tahun 2005
Pergantian tahun biasanya ditunggu oleh banyak kalangan. Namun tidak untuk kali ini, suasana duka bagi seluruh rakyat Indonesia masih begitu terasa kuat. Rasanya terlalu miris ketika merayakan pergantian tahun sedangkan di belahan bumi lain sedang dirundung duka.
Beberapa teman dan aku berkunjung ke asrama mahasiswa Aceh. Kami melihat bagaimana keresehan teman-teman di sana. Beberapa pengumuman-pengumuman terkait dengan bencana tertempel di sana sini. Beberapa bantuan berupa baju layak pakai tersimpan rapi di dalam karung dan kardus.
Komti di kelas kami akhirnya mengusulkan untuk melakukan pengggalangan dana bagi teman-teman yang terkena musibah. Tanpa berlama-lama, aksi penggalangan kami lakukan di seputaran Jalan Padjajaran Bogor. Alhamdulillah beberapa juta hasil dari penggalangan telah kami peroleh.
Selain mencari dana dengan turun di jalan-jalan, kami juga mengumpulkan beberapa barang layak pakai. Saat semuanya terkumpul kami salurkan ke asrama Aceh. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar.
Keluarga teman kami yang berasal dari Aceh, Alhamdulillah sudah dapat dihubungi. Semuanya dalam keadaan baik, meskipun begitu gempa bumi dan tsunami berdampak besar bagi perekonomian di Aceh.
Kumpulan Buku Puisi
Tahun 2005  adalah tahun kelulusan bagi kami,  namun sebelumnya kami harus praktik magang di perusahaan perusahaan perkebunan. Karena program yang aku ambil adalah Pengelola Perkebunan dan awal Februari kami harus berangkat. Kebetulan aku dapat tempat magang di Kalimantan Tengah, di perusahaan sawit milik Astra Ago Lestari.
Sebulan sebelum magang, sekitar awal bulan Januari. Aku membaca surat kabar tentang pengumpulan puisi yang akan dijadikan antologi puisi Untuk Aceh. Jujur, aku yang lebih menyukai untuk mem buat cerita pendek merasa kurang percaya diri. Namun, aku coba buat beberapa puisi. Niatnya untuk ikut serta dalam mengenang tragedi ini.
Berbekal email yang dicantumkan panitia di surat kabar, aku mengirim sekitar tiga buah puisi. Waktu itu, aku mengirim lewat warung internet (warnet) yang banyak bertebaran di sekitar kampus.
Setelah mengirimkan puisi tersebut. Aku sudah tidak ingat lagi karena sudah sibuk mempersiapkan magang di Kalimantan Tengah.
Bulan Februari aku berangkat ke Kalimantan. Hal yang aku amati di magang kali ini adalah terkait pemupukan di perkebunan kelapa sawit milik Astra. Di Kalimantan, aku masih mengupdate kejadian gempa dan tsunami di Aceh dari berita-berita televisi. Banyak kegiatan-kegiatan amal yang dilakukan beberapa publik figur untuk menggalang dana bagi masyarakat Aceh dan sekitarnya.
Aku magang selamat empat bulan. Kemudian mulai menulis laporan akhir, sidang dan aku dinyatakan lulus dari program diploma sekitar bulan Agustus. Kemudian aku melanjutkan di sarjana ekstensi IPB dengan program Agrbisnis.
Suatu waktu aku kembali teringat puisiku. Sudah lama aku menunggu kabar, apakah puisiku masuk juga ke dalam kumpulan puisi untuk Aceh. Kalau iya kenapa tidak ada kabar? Sebab jika masuk, para penulis akan dikabari dan diberikan satu eksemplar buku kumpulan puisi. Ah, barangkali aku belum beruntung, gumamku membesarkan hati.
Sampai akhirnya....
Saat berkunjung ke toko buku Gramedia. Aku menyusuri buku-buku baru, biasanya kumpulan cerita pendek dan novel . Sampai akhirnya aku juga iseng menyusuri rak buku kumpulan puisi. Mataku tertuju pada buku baru yang ada di rak. Buku tersebut berjudul Duka Aceh Luka Kita (Kumpulan Puisi Penyair Indonesia Mengenang Tragedi Aceh dan Bencana Tsunami).
Nafasku memburu.  Degub jantungku tak beraturan. Aku deg-degan. Kucari buku yang sudah dibuka sampul pastiknya. Aku bergegas membuka daftar isi berharap ada namaku di situ. Dan... nama dan puisiku tertera di halaman 80. Aku hampir saja berteriak senang. Jarang jarang aku membuat puisi ternyata masuk kumpulan puisi bareng penyair penyair hebat.
Inilah puisiku yang masuk dalam buku Kumpulan Puisi Duka Aceh Luka Kita. 
Air Mata Mamak


Berderai sudah air mata itu
Dari mata-mata mereka: mamak, ayah, cut bang, cut kak....
Setelah bertahun-tahun terperihkan
Hingga satu peristiwa yang memuaskan


Aku menangkap mata itu
Mata yang bertetes air mata
Mata penuh perjuangan, pengharapan dan kelukaan


Mamak
Sudah cukuplah air mata itu habis?
Sudah cukupkah penderitaan ini berakhir?
Sudahlah....
Cukup untuk menyudahinya, Mamak!


Lalu mamak tersenyum
Ada ikhlas yang muncul dari lengkingan bibir itu
Ada semangat yang bercahaya di wajah rentanya
Ia masih memiliki harapan
                         Bogor, 09 Januari 2005


Di dalam kumpulan puisi tersebut ternyata ada juga puisi M. Aan Mansyur. Saat aku lihat penyair penyair lain, ternyata aku tidak ada apa-apa dibandingkan mereka yang sudah malang melintang di dunia sastra. Namun aku bangga bisa berada satu buku kumpulan puisi bersama mereka.
Tahun 2018
Sebelum tepat mengenang tragedi gempa bumi dan tsunami Aceh, Sabtu malam, 22 Desember 2018. Indonesia kembali berduka. Sebelumnya tsunami dan gempa di Palu Donggala, sebelumnya lagi gempa bumi di Lombok. Kali ini, Banten dan Lampung terkena bencana tsunami tanpa peringatan, tanpa gempa bumi terlebih dahulu.
Minggu pagi, aku dikagetkan dengan beberapa video di instagram dan youtube mengenai gelombang laut pasang yang akhirnya dinyatakan sebagi tsunami.
Sepanjang hari aku mengamati perkembangan yang ada. Teman-teman dari Salam Aid (salah satu komunitas kemanusiaan di Sekolah Alam Bogor) langsung berangkat membawa ambulance dan obat-obatan. Hatiku terenyuh. Sebelumnya tim Salam Aid melalui gerakan #gururelawan telah benyak membantu saudara-saudara kita di sekitar Bogor, Lombok dan Palu. Bahkan di Lombok dan Palu, bantuan tidak hanya selesai dalam jangka waktu yang singkat, namun berkesinambungan beberapa tahun ke depan.

Dari grup WA, aku memantau keberangkatan teman-teman Salam Aid menuju Banten. Semoga mereka selalu dilimpahi kebaikan, kesehatan dan keberkahan.
Aku menghela nafas. Merenung. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kehidupan manusia berikutnya. Bencana apa yang akan terjadi. Keajaiban-keajaiban apa yang akan terjadi. Tugas kita terus menjalani kehidupan ini lantas pasrah pada Allah, banyak berdoa, meminta ampunan dan hidup bersahaja serta berharmoni terhadap alam dan semesta. Semoga kita senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. Aamiin.
Sudah 14 tahun tragedi gempa bumi dan tsunami menimpa Aceh. Kebetulan adik laki-lakiku yang berprofesi sebagai tentara bertugas di Aceh. Kini Aceh sudah banyak berbenah. Tinggal kita ikut membenahi Lombok, Palu, Banten dan Lampung serta membenahi hati ini untuk lebih peka dalam membaca tanda tanda alam.
Mudah-mudahan tulisan ini memberi manfaat. Terima kasih....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulang Tahun Indocement ke-44: Quarry Walk di Lahan Reklamasi Bekas Tambang

“Take care of the earth and she will take care of you” Berkunjung ke area bekas tambang yang terlintas dalam benak orang awam sepe...