Kalau ada satu hal yang selalu seru dari sebuah festival musik, itu bukan cuma soal siapa yang tampil, tapi bagaimana cara kita menikmatinya. Ada yang datang buat lompat-lompat, teriak, dan sing along sampai suara habis. Ada juga yang lebih suka duduk santai, menikmati setiap nada, memperhatikan permainan musik, lalu pulang dengan hati yang penuh.
Nah, pertanyaannya: kamu tim Hype Stage atau Chill Stage?
Pertanyaan itu terus terngiang di kepalaku selama tiga hari menghadiri myBCA International Java Jazz Festival 2026. Tahun ini terasa spesial karena menjadi pengalaman pertamaku menikmati festival jazz terbesar di Indonesia tersebut. Setelah belasan tahun identik dengan JIExpo Kemayoran, untuk pertama kalinya dalam 21 tahun Java Jazz Festival berpindah ke NICE PIK2.
Jujur, saat pertama kali mendengar lokasinya pindah ke PIK2, aku sempat berpikir, "Wah, jauh juga ya." Apalagi aku berangkat dari Bogor. Tapi ternyata semua kekhawatiran itu nggak terbukti. Java Festival Production sudah menyiapkan shuttle bus dari Bluebird dan Citytrans yang membuat perjalanan jadi jauh lebih praktis
Aku memilih shuttle bus Bluebird dan melakukan pemesanan beberapa hari sebelum festival dimulai. Titik keberangkatannya juga cukup banyak, mulai dari Sarinah, Plaza Indonesia, fX Sudirman, hingga Lippo Kemang. Pulangnya pun nggak perlu panik karena bus sudah standby di area parkir. Jadi buat yang khawatir soal akses menuju lokasi, honestly, semuanya terasa cukup smooth dan well prepared.
Begitu sampai di NICE PIK2, kesan pertamaku cuma satu: luas banget!
Area parkirnya lega, tata kawasannya rapi, dan yang paling penting, nyaman untuk festival yang berlangsung selama tiga hari penuh. Toiletnya bersih dan jumlahnya memadai, sesuatu yang sering kali jadi concern ketika datang ke festival besar. Buat yang ingin beribadah juga nggak perlu bingung karena selain musala, tersedia masjid di area basement.
Pokoknya dari sisi venue, NICE PIK2 berhasil bikin pengalaman festival jadi lebih nyaman dan nggak bikin capek secara berlebihan.
Masuk ke area festival, aku langsung sadar kalau myBCA International Java Jazz Festival 2026 benar-benar menyediakan ruang untuk semua tipe penonton.
Mau yang suka menikmati musik sambil duduk santai? Ada. Mau yang suka berdiri sambil teriak dan sing along bareng ribuan orang? Ada juga.
Untuk area indoor, Java Jazz Production menghadirkan beberapa hall seperti myBCA Hall, Teh Botol Sosro Hall, Telkomsel Halo Hall, Java Jazz Festival Hall, Erafone Hall, dan MLD Spot Hall. Yang bikin betah, AC-nya dingin dan suasananya nyaman banget buat menikmati pertunjukan.
Sementara area outdoor menghadirkan suasana yang lebih hidup dengan deretan booth sponsor, food court, hingga panggung-panggung yang menawarkan pengalaman berbeda.
Menikmati Musik dari Hall ke Hall
Selama tiga hari festival, aku berhasil menyaksikan cukup banyak penampilan. Mulai dari Dira Sugandi, Moneva, Ruth Sahanaya, Novia Bachmid, hingga Harbourside Jazz dengan konsep Y2K Rewind yang sukses membawa penonton bernostalgia lewat lagu-lagu Britney Spears, Natalie Imbruglia, Spice Girls, Pink, Nelly Furtado, dan Christina Aguilera. Menariknya, lagu-lagu pop tersebut dibawakan dengan sentuhan jazz yang fresh dan elegan.
Duduk di myBCA Hall sambil menikmati aransemen yang berbeda rasanya benar-benar bikin hati tenang. Momen seperti ini yang bikin aku merasa menjadi bagian dari Team Chill Stage.
Masih di myBCA Hall, aku juga menyaksikan Tribute to Eros Djarot yang menghadirkan Dwiki Dharmawan, Once, Monita Tahalea, Dira Sugandi, Andre Hehanusa, dan Belawan. Kalau ditanya salah satu penampilan terbaik di myBCA International Java Jazz Festival 2026 versiku, jawabannya mungkin ada di sini.
Visual panggungnya cantik, kualitas musikalitasnya luar biasa, dan lagu-lagu karya Eros Djarot berhasil dibawakan dengan begitu megah. Rasanya seperti menonton sebuah pertunjukan yang bukan hanya memanjakan telinga, tetapi juga mata dan perasaan.
Di hall yang sama, aku juga menikmati penampilan Potret dan Slank. Performanya jelas pecah dan penuh energi. Tapi ada satu masalah kecil: aku duduk. Sebagai orang yang suka ikut bernyanyi dan bergerak mengikuti lagu, rasanya ada sedikit dorongan untuk berdiri dan ikut menikmati euforia. Sayangnya suasana hall membuatku lebih banyak menikmati pertunjukan sambil duduk.
Hari ketiga menghadirkan salah satu magnet terbesar festival ini: Yura Yunita. Area myBCA Hall benar-benar penuh sesak. Banyak orang rela datang lebih awal demi mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan penampilan Yura yang inspiratif, powerful, dan penuh energi positif. Aura panggungnya benar-benar kuat dan sukses membuat penonton larut dalam setiap lagu yang dibawakan.
Kalau bicara soal panggung indoor favoritku, mungkin jawabannya adalah Java Jazz Festival Hall. Aku berkesempatan menyaksikan penampilan Yuni Shara di sini, dan jujur saja aku langsung jatuh cinta dengan konsep panggungnya. Panggung berada di tengah, sementara penonton mengelilinginya dari berbagai sisi. Rasanya intim, hangat, dan dekat.
Kami bernyanyi bersama, menikmati musik, dan sesekali ikut terbawa suasana oleh suara merdu Yuni Shara yang seolah nggak berubah sejak dulu.
Namun, sisi lain Java Jazz Festival justru muncul ketika aku berpindah ke panggung-panggung berdiri. Di Teh Botol Sosro Hall, aku menonton The Overtunes. Dan wow, ini salah satu penampilan yang menurutku paling lengkap sepanjang festival. Visual panggungnya keren, tata cahaya mendukung, musiknya solid, dan penampilan mereka benar-benar bikin penonton nggak bisa diam. Mata, telinga, dan hati seperti dimanjakan secara bersamaan.Vibes-nya benar-benar dapet.
Begitu juga saat Barsena dan Nadhif Basalamah tampil di Telkomsel Halo Hall. Penonton diajak sing along hampir sepanjang penampilan. Lagu-lagu yang sedang ramai diputar di Spotify sukses menciptakan suasana hangat sekaligus syahdu.
Kadang ada momen ketika ribuan orang menyanyikan satu lagu bersama-sama, dan saat itu kamu sadar kalau musik memang punya kekuatan untuk menyatukan banyak orang yang sebelumnya nggak saling kenal.
Di MLD Spot Hall, aku menikmati penampilan Harvey Malaiholo Tribute to Diva dan Andien. Keduanya menghadirkan kualitas pertunjukan yang luar biasa. Sementara di booth MLD, aku menyaksikan Endah N Rhesa yang berhasil menciptakan suasana intim meskipun berada di area yang lebih santai.
Lalu ada juga JLB Stage di area outdoor yang menghadirkan Pertunjukan Timur bersama Teddy Adhitya, Audrey Tapiheru, Barry Likumahuwa, Farrel Hilal, Marcello Tahitoe, dan Mollucan Soul.
Nah, ini baru definisi hype yang sesungguhnya.
Penonton berdiri, bernyanyi, bergerak mengikuti irama, dan menikmati energi yang terus mengalir dari atas panggung. Rasanya sulit untuk diam ketika para musisi tampil dengan energi sebesar itu.
Di area MLD Bus, aku menyaksikan Jordan Santoso dan Monita Tahalea. Jordan tampil sangat atraktif dengan kemampuan bermusiknya yang luar biasa. Meski secara pribadi aku berharap bisa mendengar lebih banyak lagu dengan format yang lebih mirip versi rekaman, tetap saja skill bermusiknya patut diacungi jempol.
Sementara Monita Tahalea berhasil menutup pengalamanku dengan penampilan yang hangat, jazzy, dan penuh keindahan.
Jadi, setelah tiga hari menikmati myBCA International Java Jazz Festival 2026, aku tim yang mana?
Jawabannya sederhana: aku tim keduanya.
Aku suka berdiri di depan panggung, bernyanyi sekeras mungkin, dan ikut larut dalam energi ribuan penonton. Tapi di saat yang sama, aku juga suka duduk tenang menikmati detail permainan musik, memperhatikan aransemen, dan membiarkan setiap lagu berbicara dengan caranya sendiri.
Karena pada akhirnya, menikmati musik nggak harus selalu dengan cara yang sama. Kadang kita butuh panggung yang bikin kita teriak sampai serak. Kadang kita butuh panggung yang membuat kita diam dan meresapi setiap nada.
Dan itulah yang membuat myBCA International Java Jazz Festival 2026 terasa begitu spesial. Festival ini bukan cuma menghadirkan musisi-musisi hebat dari Indonesia maupun mancanegara, tetapi juga memberikan ruang bagi semua tipe penikmat musik.
Mau kamu tim Hype Stage atau Chill Stage, satu hal yang pasti: myBCA International Java Jazz Festival 2026 berhasil memberikan pengalaman yang bikin susah move on




