Hidupku Menatap pada Hatchu Salma Salsabil

Malam itu hujan turun pelan saat aku menyetir pulang dari sekolah. Jalanan macet seperti biasa. Klakson bersahutan, lampu kendaraan memantul di kaca mobil, dan wajah-wajah lelah saling lewat tanpa saling mengenal. Di dashboard mobil, lagu baru dari Salma Salsabil mulai diputar. Judulnya “Hatchu”.

Awalnya aku mendengarkan biasa saja. Sampai akhirnya lirik itu datang seperti seseorang yang mengetuk dadaku perlahan.

“Di jalan wajah saling lewat

Membawa beban masing-masing berat

Ada yang senyum karena atasan

Selebihnya diam males menjelaskan.”

Tanganku mengerat di setir. Entah kenapa tenggorokanku terasa sesak.

Tahun 2026 ini genap dua puluh tahun aku menjadi guru di sekolah islami. Dua puluh tahun datang paling pagi, pulang paling malam, menerima tugas tambahan, menjaga nama sekolah, dan berusaha menjadi orang yang dianggap ikhlas. Dulu aku bangga dengan semua itu. Aku pikir loyalitas akan membuat hidup terasa berarti.

Tapi semakin lama, aku justru merasa seperti mesin. Mengajar, rapat, administrasi, lalu pulang dengan kepala penuh tekanan. Kadang aku sampai di rumah tanpa tenaga untuk sekadar mendengar cerita anakku sendiri.

Suatu malam anakku pernah bertanya, “Ayah capek terus ya?”

Aku cuma tersenyum sambil bilang tidak. Padahal saat itu aku ingin menangis.

Lagu “Hatchu” membuatku sadar kalau ternyata banyak orang hidup seperti itu. Berangkat pagi demi keluarga, menahan emosi di jalan, tersenyum walau lelah, lalu mengulang semuanya lagi esok hari. Kami semua terlihat baik-baik saja, padahal diam-diam hanya sedang bertahan.

Dan bagian yang paling menamparku adalah ketika lagu itu berkata:

“Tak semua ingin jadi juara

Sebagian ingin aman sampai rumah.”

Aku terdiam lama.

Karena sekarang aku merasa itu juga yang kuinginkan. Aku tidak lagi ingin dianggap guru terbaik. Tidak ingin jadi yang paling hebat atau paling loyal. Aku hanya ingin pulang dengan hati yang utuh. Bisa makan malam bersama istri dan anak, bercanda tanpa memikirkan pekerjaan, lalu tidur dengan tenang tanpa rasa marah yang terbawa dari luar rumah.

Mungkin benar, semakin dewasa manusia tidak lagi sibuk mengejar kemenangan besar. Sebagian dari kita hanya ingin hidup sederhana: bekerja secukupnya, dicintai keluarganya, dan pulang dengan selamat.

Tidak ada komentar

Posting Komentar