Kamis, 29 Agustus 2019

Menjelajah Palembang: Menikmati Malam di Pinggiran Sungai Musi


“Untuk pempeknya masih ada rasa ikannya, cukonya saja yang sedikit kurang mantap, namun makan pempek ala ala di perahu dengan pemandangan Jambatan Ampera, dinginnya hembusan angin Sungai Musi dan riaknya suara deburan air sungai adalah pengalaman yang indah dan mahal.”

***
Kedatangan saya dan istri ke Palembang memang bertujuan untuk mempelajari pempek dan menikmatinya di gerai-gerai pilihan dari harga yang terjangkau hingga harga yang memukau. Dan rekomendasi saya jatuh pada gerai Pempek Candy. Kualitas pempeknya yang baik dibarengi pula dengan kualitas pelayanan yang prima di gerai-gerainya.

Pas berkeliling menikmati pempek demi pempek, kami pulang sejenak ke hotel untuk berbersih diri, istirahat dan sedikit berdiskusi apa saja yang diperoleh dari berkunjung dari gerai ke gerai pempek lainnya. Tapi jangan bayangkan berdiskusi yang bagaimana ya, karena diskusi hanya berlangsung 10 menit. Sebab kami sudah tertidur sebelum diskusi benar-benar selesai. Perut kenyang dan badan yang lelah sebagai tersangka utamanya.
***
Ini adalah malam terakhir kami di Palembang. Besok sore kereta akan membawa kami kembali ke Kotabumi, Lampung Utara.

Setelah beristirahat yang cukup, meski masih mengantuk, sekitar jam setangah lima kami keluar dari hotel menuju ke pinggiran Sungai Musi. Banyak hal yang menarik yang dapat dieksplor di pinggiran Sungai Musi.

Berpose di Tugu Belido
Kondisi taman sepenjang pinggiran sungai Musi hingga Tugu Belido Pelembang sudah tumpah ruah manusia. Sudah seperti pasar. Banyak pengunjung berarti banyak pedagang. Sepanjang pinggiran hingga Tugu Belido, pedagang mie tek-tek, nasi goreng, pedagang mainan anak, pedagang cilok, penjual minuman sudah menanti para pengunjung. Bahagia rasanya jika tempat-tempat seperti ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Sepanjang pelataran, selain banyaknya pedagang, anak-anak bermain dengan begitu riang. Beberapa anak bermain dengan orangtuanya, ada yang memainkan permainan yang baru dibeli. Ada juga orangtua yang mengamati anaknya bermain sambil menikmati santapan dari para pedagang.

Pedagang-pedagang ini sudah siap dari sore hari hingga malam. Namun, jika berkunjung ke pelataran pinggiran Sungai Musi yang menarik perhatian saya adalah perahu-perahu yang bersandar di pinggir sungai. Perahu-perahu tersebut bukan perahu nelayan yang akan berlayar mencari ikan namun perahu tersebut adalah perahu-perahu yang disulap menjadi warung makan.
Suasana pedagang di pelataran pinggiran Sungai Musi

Salah satu tujuan saya malam malam mengunjungi pelataran pinggiran Sungai Musi ya ingin tahu tentang warung perahu ini. Adik saya yang masih berstatus mahasiswa sengaja ke Palembang bacpakeran ala ala dan merekomendasikan tempat ini. Begitu juga, saat sepupu yang juga bakpakeran bersama teman-temannya datang dan merekomendasikan tempat ini.

Ada beberapa warung perahu yang bersandar, yang membuat makan di perahu ini berkesan adalah pemandangan Jembatan Ampera yang terlihat terang karena lampu warna warninya.

Sebelum masuk ke perahu, saya dan istri mengantre sebentar karena padatnya pengunjung saat itu. Akhirnya saya kebagain tempat dan masuk. Perahu yang cukup besar diset menjadi tempat duduk dan meja. Ada sekitar 6 hingga 7 meja yang bisa di tempati. Di setiap meja penganan beberapa jenis pempek dan pisang goreng sudah siap menyambut. Oh ya, untuk masuk ke dalam perahu kita tidak dikenakan biaya apa-apa.
Pempek di setiap meja

Selain penganan di atas meja, kita juga dapat memesan makanan berat seperti tekwan, nasi goreng, mie goreng, mie tek-tek, tekwan. Untuk minuman, segala jenis kopi sachet, minuman perasa buah-buahan, cokelat, teh manis juga tersedia.

Terus terang, saya penasaran dengan pempek yang ada di meja. Sebelum mengambil pempek di meja, saya pesan minuman, istri memesan mie goreng. Saya pun mencoba satu pempek. Jujur, memang enggak semantap empat gerai pempek yang kami kunjungi sebelumnya. Untuk pempeknya masih ada rasa ikannya, cukonya saja yang sedikit kurang mantap, namun makan pempek ala ala di perahu dengan pemandangan Jembatan Ampera, dinginnya hembusan angin Sungai Musi dan riaknya suara deburan air sungai adalah pengalaman yang indah dan mahal. Walapun harga setiap makanan sangat sangat terjangkau. Untuk pempek dibandrol dengan harga seribu rupiah, minuman rata-rata 3 ribu hingga 5 ribu, makanan berat seperti nasi goreng, mie tek-tek dibandrol 10 ribu rupiah. Murah meriah  kan?
Warung Perahu dengan View Jembatan Ampera

Tenang, saya tidak hanya mengunjungi satu warung perahu. Saya mengunjungi warung lain. Tidak banyak yang berbeda dengan warung sebelumnya, konsep yang ditawarkan pun serupa bahkan harganya juga hampir sama. Yang membedakan rasa makanan, pempeknya cenderung rasanya mirip mirip, cukonya saja yang ada yang pas namun ada yang sedikit “aneh” sehingga menganggu.

Nah, warung perahu ini bukanya sekitar bakda maghrib hingga menjelang tengah malam. Jadi buat kalian yang ingin menghabiskan malam di Kota Palembang, tempat ini sangat-sangat cocok. Cocok untuk keluarga dan cocok dengan kantong.

***
Tidak perlu persiapan khusus untuk mengunjungi wisata di pelataran Sungai Musi ini. Cukup pakai baju panjang atau jaket dan bawa uang buat jajan serta kamera buat foto-foto. Asiknya menikmati malam di pinggiran Sungai Musi ini tentunya bersama keluarga atau bersama teman-teman yang seru, pasti akan membawa kebahagiaan.

Kadang, kebahagiaan itu bersumber dari hal hal yang sangat sederhana tergantung sudut pandang masing masing individu. Menikmati pempek ala ala dengan harga murah dengan sesekali goyangan perahu sembari menatap Ampera yang megah adalah kebahagiaan yang ukurannya begitu sederhana namun begitu dalam untuk saya.

Malam mulai beranjak, saya dan istri kembali menyusuri pelataran pinggiran Sungai Musi menuju depan museum lantas memesan taksi online. Bulan sabit terlihat samar menemani perjalanan kami kembali ke hotel. 

20 komentar:

  1. warung di atas perahu itu inovatif banget, dan harganya murah banget, kapan-kapan pengin nyoba pempek disana

    BalasHapus
  2. Oktober nanti pak su ada dinas ke palembang nih.
    Saya maju mundur mau ikut apa gak..

    Dari kemaren2 mas erfano ngebahas tentang palembang khususnya mpek2.

    Tapi entah kenapa tulisan yg ini jadi bikin saya pengeeennn bangetz ikut ke palembang heheheheh

    Kudu istikharah nihh

    BalasHapus
  3. View Warung Perahu berlatar Jembatan Ampera cantik kali yaaa...
    Pasti pempek yang dimakan meski rasa biasa karena suasana indahnya jadi warbiyasaa
    Warung Perahunya tiap malam buka ya, Mas? Malam saja atau gimana? Sampai jam berapa?

    BalasHapus
  4. Jembatan Ampera di malam hari memang masyaallah indah banget ya, tapi saya baru tau ada tempat makan di pinggir Sungai Musi, apalagi rumah makan terapung itu...
    Saya baca pelan-pelan dan berasa ikutan nyobain empek-empeknya, hehe
    semoga suatu saat ada rezeki untuk nyicipin kuliner malam di pinggir Sungai Musi

    BalasHapus
  5. Seru betul itu mas. Secara saya pun pecinta pempek dan tekwan, jadi punya keinginan untuk makan makanan ini langsung dari asalnya. Semoga bisa segera backpacker-an deh ke sana.

    BalasHapus
  6. Pas sekali nih, Mas Erfano. Menikmati empek-empek di sungai musi. Mantap. Ini mengingatkan saya, menikmati pisang epe di pantai Losari Makassar hahaha.
    Dan.. saya tuh ingin sekali ke Palembang. Soalnya belum pernah juga makan empek-empek di kota asalnya langsung. pasti lebih asli dan lebih enak hehehe

    BalasHapus
  7. Bukan penggemar pempek. Hanya penyuka tekwan. Jadi tidak pernah bisa menilai cuko yang ini lebih enak dari yang mana tadi. Hahaha. Btw jalan-jalan ke palembang belum pernah ada di list saya. Namun melihat jembatan ampera malam hari jadi pengen mengunjungi palembang

    BalasHapus
  8. Tarif naik perahunya berapa mas? Untuk makanan nya murah2 ya ternyata, apa karena khas sana ya? Semoga bisa sampai ke Musi . Indaaaaahhh bgt

    BalasHapus
  9. Ah.. nikmatnya. Kami dulu hampir tiap akhir pekan nyore dan malam di sini. Senengnya makan mie tek-tek sambil ngajak anak main. Kalau pempeknya emang ala-ala, sesuai hargalah. :)

    BalasHapus
  10. Aduh view-nya mantap banget... Kebayang nulis cerpen dengan lokasi cerita suasana di pinggir sungai Musi. Pasti keren kali ya

    BalasHapus
  11. Menikmati pempek di tempat asalnya tuh, menerbitkan sensasi warbiyasakkk ya.
    Aku baru sekali doang ke Palembang. Pengiiinn main2 ke sana lagi
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  12. Makan pempek dari tempat asalnya bagaimanapun pasti beda.. Gagal fokus sama tugu belido, itu maksudnya tugu yang di atasnya itu ikan belida ya? Ikan khas sungai musinya?

    BalasHapus
  13. Ternyata tepian Sungai Musi seramai itu ya mas? Banyak org jualan dan masyarakat/ wisatawan kumpul2. Emang tujuan wajib sih ya kalau ke Palembang :D
    Unik banget ada warung perahu. Tapi dia jualannya gak di sungainya ya? Melainkan perahunya napak tanah gtu (liat di potonya gtu atau apa aku yg salah liat hehe)

    BalasHapus
  14. Bagus banget emang ampera kalau malam. Cuma hatihati dompet ya mas. Sekarang BKB dan sekitsrnya sudah nggak gitu aman lagi

    BalasHapus
  15. Mau maen ke Palembang aah, n nampang di tugu Belido , icon kota pempek ini. n yg pasti makan pempeknya dong yg asli dr negerinya :)

    BalasHapus
  16. Jembatan Ampera bagus gitu ya suasananya ketika malam. romantis banget tuh kelihatannya

    BalasHapus
  17. Syahdu banget ngebayanginnya kak. Hehehe. Ada di sungai musi, menikmati mpek mpek dan menatap ampera. Apalagi kalau ada yang nemenin ya di sebelah hehehe

    BalasHapus
  18. Penasaran dengan warung perahu itu. Konsepnya bagus untuk menarik pengunjung dan memberikan sensasi makan yang berbeda. Memang benar, nggak harus mahal untuk bisa menikmati sesuatu. Karena kenikmatan dan kebahagiaan pun bisa datang dari hal yg cukup sederhana, contohnya pempek ala2 di warung perahu itu.

    BalasHapus
  19. Ini tulisan lanjutan sebelumnya ya?

    Atau aku pernah baca tulisan tentang pempek di blog ini atau mas Pring ya??
    Ah, aku lupa..

    Cuma kalo ngomongin Pempek memang selalu menjadi favorit. Apalagi keluargaku juga orang Sumatera, jadi sering bikin Pempek di rumah juga 😃

    BalasHapus
  20. Wah pempek ini salah satu kuliner kesukaanku, dan udah sering makan pempek asli dari Palembang tetapi belum pernah makan langsung di kota Palembang.

    BalasHapus

Sepuluh Lagu Terbaik Tulus

Setuju kalau saya bilang, Tulus adalah salah satu penyanyi terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Semenjak kemunculannya di tahun 20...