Kamis, 15 Agustus 2019

Menjelajah Palembang: Stasiun Kotabumi dan Meredam Kegaduhan

Stasiun Kotabumi masih terlihat lengang saat kami baru sampai. Jam masih menunjukkan pukul delapan. Jadwal keberangkatan masih sekitar satu setengah jam lagi. Kami sengaja minta diantar lebih awal karena khawatir akan begal yang masih menjadi momok menakutkan di Kotabumi, Lampung Utara.

Beberapa penumpang terlihat mulai berdatangan, sama seperti kami, menunggu di bagian luar stasiun. Pintu masuk ke ruang tunggu belum buka. Stasiun Kotabumi tidak seperti stasiun di Jawa yang hampir buka 24 jam. Jadwal keberangkatan di Stasiun Kotabumi hanya di jam-jam tertentu. Jadwal malam ini hanya satu, keberangkatan menuju Palembang.

Sudah lama, saya berangan-angan untuk mengunjungi kota ini. Walaupun secara geografis dekat dengan Kotabumi, tapi nyatanya kaki saya telah lebih dahulu melangkah di kota-kota lain yang lebih jauh. Belum berjodoh barangkali. Namun tidak untuk kali ini. 

Pintu menuju ruang tunggu dan pengecekan tiket belum buka. Kami masih duduk di teras stasiun. Angin dingin mulai terasa. Untung jaket tebal dan syal yang kukenakan menghalaunya. 


Seorang anak muda datang. Usianya sekitar belasan akhir hingga 20an awal. Ransel di punggung. Kepala menunduk, mata mengarah ke telepon genggam di tangan. Sedangkan earphone menempel di telinga. 

“Hajaar!!” ucapnya tiba-tiba. Aku yang sempat memalingkan perhatian kepadanya kembali memperhatikannya. Kali ini dengan rasa heran.

“Udah lu duluan! Gue ntar nyusul.” Kali ini nada suaranya cukup keras. Beberapa orang memperhatikannya anak muda itu. Heran. 

Aku masih memperhatikan. Mungkin dia sedang menelepon temannya, pikirku. Tapi kenapa harus teriak, pikirku kemudian.

“Udahlah gue yang hajaar! Gue ada di belakangnya,” teriaknya lagi. “Gue tembak nih!” lanjutnya. “Aaargh!! Nggak kena!” teriaknya lagi.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Rupanya anak muda ini sedang bermain game online. Dan barangkali sedang battle dengan pemain lainnya. Hadeeh!

Pintu menuju ruang tunggu dibuka. Aku menuju pencetakan tiket. Kumasukkan kode pemesanan tiket. Kertas berwarna jingga keluar. Aku mengambilnya lantas duduk di ruang tunggu dalam.

“Hajaar! Yeaay! Mati lu,” teriak anak muda itu sambil tertawa lepas. Seakan tidak ada manusia di sekitarnya. 

Aku dan beberapa penumpang yang sedang menunggu kembali terperanjat. Beberapa penumpang menatap anak muda itu dengan tatapan lekat. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat. Setengah jam lagi, kereta dari arah Bandar Lampung akan merapat. 


Anak muda itu masih asik dengan dirinya sendiri. Asik dengan game online yang sedari pantauanku dimainkan tanpa jeda. Tanpa ada interkasi dengan sesama. Padahal asiknya sebuah perjalanan adalah berinteraksi. Perihal lain yang juga jadi soal, tentu saja terkait etika. Teriak-teriak sendiri tanpa sebab penting di tempat umum jelas menganggu. Tipikal orang Indonesia yang tidak enakan dan memilih untuk tidak menegur (termasuk saya), membuat anak muda itu masih teriak seenaknya sendiri. Kalau bagiku yang kadang tidak enakan, selama tidak membahayakan orang lain, ya biarlah. 

Kereta keberangkatan menuju Palembang akhirnya tiba, 15 menit mundur dari jadwal yang sudah ditetapkan. Kami memasuki gerbong sesuai dengan pilihan kelas yang tertera di tiket berwarna jingga. 

Aku sedikit lega tak segerbong dengan anak muda itu. Malam yang semakin larut, tidak lucu sebab waktu istirahat terganggu dengan teriakan tidak penting seorang anak muda yang bermain game online. 

Aku dan istri duduk sesuai dengan nomor di tiket. Bangku-bangku terlihat penuh dan tenang, karena beberapa penumpang terlelap. Tepat di samping kami, pasangan suami istri dengan bayi perempuan yang sedang digendong. Kami mulai mencoba rileks, bersandar di bangku kereta lantas memejamkan mata. Baru, mencoba untuk beristirahat, suara tangis bayi perempuan di bangku samping terdengar tidak hanya sekali. Berkali-kali. Membuat kami harus berulang kali berganti gaya duduk.

Tangis bayi perempuan itu belum mereda. Dua jam lebih ia merengek. Meraung. Sang ayah hanya diam. Sang ibu yang sibuk sendiri. Kasihan melihatnya, apalagi ada tatapan tatapan kurang empati yang mengarah ke arah mereka.


Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Stasiun Kertapati masih jauh. Masih sekitar lima jam lagi perjalanan. Kegaduhan masih terdengar sesekali. Tepatnya aku lupa. Karena kantuk yang mulai tak tertahankan.

Waktu terus berjalan. Perjalanan ke Palembang, baru akan dimulai. Saatnya untuk meredam apapun. Tentang kegelisahan pikiran. Tentang kekhawatiran akan masa depan. Dan, meredam kegaduhan-kegaduhan. Setidaknya, latihan sudah dimulai. Kegaduhan anak muda di stasiun dan kegaduhan-kegaduhan di kereta. Tinggal menghadapi lantas meredam kegaduhan lainnya. Bismillah!

17 komentar:

  1. Namanya naik transportasi umum ya udah umum terjadi ya mas kegaduhan kecil kayak gitu. Ada yang bilang, "Itulah seninya..". Ditunggu cerita di Palembang nya.

    BalasHapus
  2. Mas, kalau saya ada di situ saya akan melihat ke arah suaminya, bukan si ibu,
    si ibu itu pasti sudah merasa tidak enak dengan suara bayinya ditambah harus menenangkan sendiri.
    Tidak ada kerja tim, padahal buatnya bersama, #ehh

    BalasHapus
  3. Seru mas ceritanya. Saya degdegan ketika cerita sudah sampai gerbong kereta. Takutnya ketika bayi nangis ada salah seorang penumpang yang teriak "hajar!!!!!" -padahal lagi main game online-.

    BalasHapus
  4. Aku pernah merasa jadi Ibu itu..tapi berdua suami sih..
    Perjalanan dah hampir 24 jam..pesawat masih sejam lagi landing di Houston setelah transit di Rusia. Anakku yang besar 4 tahun nangis dan rewel setengah mati, kecapekan kayaknya. Sementara adiknya 2 bulan nangis juga denger kakaknya nangis. Pasangan Rusia di belakangku ga terima, ngoceh aja, ku ga ngerti. Protes dia ke pramugari berkali-kali..duh
    Aku dah minta maaf, suami juga.
    Akhirnya kami bawa anak-anak jalan di lorong kabin, digendong-gendong. Ada beberapa ibu senyum sama aku. Rasanya baru tahu kalau sudah jadi ortu pas anak rewel begini. Kalau belum pernah ya ga bakal tahu

    BalasHapus
  5. Jadi inget waktu perdana merantau dulu sering mengunakan transportasi ini dari lampung ke prabumulih. Naik kereta malam itu padahal yang paling enak karena hening bisa istirahat. kesel juga kalau ada yang teriak-teriak heboh sendiri gitu

    BalasHapus
  6. Saya rada gimana gitu sama si anak muda pemain game. Gak punya etika. Kalau di tempat umum itu harusnya memperhatikan suara dan kata-kata, karena nggak semua orang nyaman dengan apa yang dia lakukan.

    BalasHapus
  7. Makanya saya belum berani mau ajak liburan ke luar kota naek kereta bawa bayi,takut bayi rewel dan menganggu penumpang yang lain

    BalasHapus
  8. asli-asli.. pas ada "hajarrr" aku kira itu ada orang ngajak tauraaan. taunya lagi main game

    BalasHapus
  9. Perjalanan malam menggunakan kereta ternyata suasananya sama seperti perjalanan siang hari, masih tetap berisik dan ramai, kukira kalau perjalanan malam itu lebih sunyi.

    BalasHapus
  10. Hahahaha anak muda kecanduan game onlen sampai bisa main via telepon wkwkwk
    Duh kalau bawa anak bayi gtu gmn ya...zaman blm ada anak jg kyknya ngrasa risih pas jadi emak2 akhirnya maklum udah kebal malah sama tangisan anak bayi :D
    Perjalanan tu gak seru emang kalau gak ada kisah2 gtu ya mas haha :D

    BalasHapus
  11. Turunnya di Kertapati ya. Waktu kecil aku sering menjemput kakak di stasiun itu. Dulu ngeri ke sana, nggak aman.

    BalasHapus
  12. Saya juga suka naik kereta api. Selalu ada yang menarik (menyenangkan, tdk menyenangkan) saya temui. Ya, namanya perjalanan aku suka ini dari bagian perjalanan.

    Nah, saya juga begitu. Saya bukan gamers tapi penyakit akses gadget ini seperti candu. Ketika ngobrol dengan teman di suatu tempat, kini selalu berusaha untuk tidak diganggu dengan hape. :)

    BalasHapus
  13. Bener banget mas asiknya perjalanan jauh itu adalah berinteraksi, apalagi dengan naik kereta api menurutku romantis banget, ketemu banyak orang dari latar belakang berbeda. Kalau dalam keluargaku rules main hp cuma ketika liburan weekend dan dibatasi 5 jam sehari

    BalasHapus
  14. saya mah punya banyak pengalaman unik ketika menggunakan kereta api, intinya selalu ada cerita jika berbicara tentang kereta api

    BalasHapus
  15. Dua kali ke Palembang menggunakan kendaraan pribadi, jadi pengalamannya ya gitu-gitu aja, baca tulisan ini jadi tahu sensasi lain menggunakan moda lain ke Palembang

    BalasHapus
  16. kadang kalau gk gaduh, gak enak pulak bang. agak horor dia klo sepi sunyi gitu yakan. hehehehe.

    BalasHapus
  17. Ada kegaduhan, kegelisahan, dan kekhawatiran di stasiun Sukabumi. Campur aduk ya kak disuasana yang sunyi..

    Aku jadi suka sama diksinya*

    BalasHapus

Ulang Tahun Indocement ke-44: Quarry Walk di Lahan Reklamasi Bekas Tambang

“Take care of the earth and she will take care of you” Berkunjung ke area bekas tambang yang terlintas dalam benak orang awam sepe...