Liburan di Taman Fathan Hambalang, Sentul.


Pandemi belum berakhir dan nggak tahu kapan menemukan ujungnya. Sudah hampir setahun, sejak pendemi merebak di Indonesia, saya dan keluarga jarang sekali berpergian.

Lebaran Idul Fitri adalah moment bersejarah dalam hidup karena untuk kali pertama menghabiskan waktu lebaran di perantauan. 

Awalnya sedih, tapi tak jadi soal demi kenyamanan, keamanan bersama maka hal tersebut mau tak mau harus dilakukan. Dan Lebaran Idul Fitri 2020 kemarin adalah salah satu moment lebaran yang tak akan pernah terlupakan.

Berbulan bulan berada di rumah, saya dan keluarga melakukan jalan jalan tipis di sekitar daerah. Tempat yang indah namun jauh dari keramaian.

Mulanya hampir setiap pagi, saya, istri dan Zea melakukan olahraga pagi di tempat sepi, di lapangan bola di perkampungan yang tidak ramai ketika pagi atau perumahan baru yang masih dalam tahap pembukaan lahan.

Ketika jalan sendiri, saya bisa menghabiskan 10ribu hingga 20ribu langkah kaki. Jadi saya melanglang buana jauh. Blusukan ke kebun kebun singkong yang jauh dari penduduk, melewati lembah, padang rumput, sungai dan bukit.

Hingga akhirnya, saya menemukan sebuah tempat asik dengan pemandangan bukit, Kota Bogor, Gunung Salak. Indah... Nama tempat itu Taman Fathan Hambalang.

Menikmati pagi, dengan menyantap kopi hangat dan mendoan jadi pelipur letih setelah berjalan hingga belasan ribu langkah.

Saat menikmati pagi dengan menu sederhana, terkadang kabut menyapa membuat suasana makin nikmat untuk menyantap menu sarapan. Mendoan dan kopi yang hangat serta cuaca yang dingin. Klop! 

Menjelang siang, manusia manusia mulai berdatangan yang itu berarti saya harus undur diri dan meninggalkan Taman Fathan Hambalang. Saya mencari jalan aman, menghindari kerumunan.

Minggu berikutnya, saya ajak istri dan Zea untuk mengunjungi Taman ini. Tentunya kami datang pagi pagi. 

Taman Fathan Hambalang dibuka pukul sembilan pagi, tiket masuk dikenakan lima ribu perorang. Konsep dari tempat ini sederhana, menyediakan banyak tempat duduk dengan pemandangan indah bukit, kebun, kota, dan gunung.

Masuk makan siang, orang orang dari kota lain akan datang. Saat taman sudah mulai banyak orang, saya, istri dan Zea pun meninggalakan taman kembali ke rumah.

Kalau menurut saya, taman ini asik dikunjungi saat pagi hari. Duduk menepi menghadap Gunung Salak ditemani secangkir kopi hangat dan mendoan. Sendirian atau bersama keluarga? Keduanya punya cerita masing-masing....








Tidak ada komentar

Posting Komentar