Selasa, 24 April 2018

Suatu Sore Di Kalamba


Mobil yang kami tumpangi melaju di jalanan beraspal di utara Sumba Timur.  Beberapa ekor babi melintas membuat laju mobil melambat. Baru bernafas lega dan mulai cepat melaju, deru mobil kembali jalan, kali ini segerombolan kuda melintas sembari berlari. Mobil kembali melaju, Padang Rumput Savana yang berada di kanan kiri jalan bergerak bergelombang tertiup angin seperti karpet mahal yang dijual di pusat perbelanjaan. Menakjubkan. Belum lagi gerombolan kuda dan sapi yang merumput di padang rumput luas membuat suasana sore itu semakin menakjubkan.

Mobil berbelok ke kanan. Kali ini, kami disuguhi kebun berpagar kayu hidup yang berjajar rapi. Jalanan yang mulai berbatu dan berkelok tak menyurutkan langkah kami menuju sebuah desa bagian dari Kecamatan Haharu, Sumba Timur.Desa Kalamba.
Tujuan kami berbelok memang menuju ke Desa Kalamba, namun tidak sampai di desanya karena waktu yang tidak memungkinkan untuk kami singgah. Tujuan kami sesungguhnya adalah melihat bukit berundak-undak khas Sumba lalu berswa foto alias selfie. Sore itu masih bulan April, masa transisi musim hujan ke musim kemarau. Rumput masih hijau, namun tak sepenuhnya hijau. Beberapa padang rumput mulai terlihat cokelat. Terlihat eksotis.

Pikiran saya menyelinap pada obrolan siang tadi mengenai Desa Kalamba.
“Desa Kalamba merupakan salah satu desa di Kecamatan Haharu. Hanya ada 80 KK di sini,” ucap kak Ocha pemandu kami, yang juga mendatangkan kami ke Sumba.
Saya mengangguk.
“Desa ini penghasil kacang tanah. Jadi kalau saya berkunjung untuk menengok sekolah. Saya bawa kacang bisa berkarung-karung melebihi orang yang punya kebun,” ucap pengawas sekolah.
“Angka kelahiran di sini rendah sekali. Setahun hanya ada satu hingga dua kelahiran. Kelas satu tahu ajaran besok, hanya ada satu anak yang akan masuk ke SD. Total peserta didik di SD Kalamba hanya 38 anak. Tapi kami tidak akan menyerah. Tetap mengajar sepenuh jiwa,” ucap bu Ahat, guru di SD Kalamba.
Setengah jam melewati jalan berbatu dengan beberapa tanjakan, akhirnya kami sampai. Mobil pun berhenti. Angin berhembus ringan saat kami turun dari mobil. Matahari senja yang masih bersinar dari arah barat mulai tertutup awan. Kami berjalan  ke arah pinggir dengan batas jurang. Saya terperangah. Kekaguman yang dari awal perjalanan membuncah, rasanya semakin membuncah. Indah. Benar-benar indah. Mata saya tertuju pada keindahan di bawah jurang.
Bukit berlapis-lapis terlihat berdiri kokoh. Jalanan berkelok di pinggir bukit terlihat mempesona. Dan Desa Kalamba terlihat begitu epik di tengah-tengah bukit. Pohon yang berwarna hijau dominan berdiri sejajar di tengah padang rumput yang menghijau kecokelatan.
Angin berhembus perlahan. Sesekali berhembus kencang. Tumbuhan semak bergoyang. Desisnya memecah keheningan. Keheningan syahdu di sore tentang sebuah perjalanan. 

Saya memandang Kalamba sore itu, dan belajar tentang banyak hal. Tentang tujuan-tujuan kehidupan. Tentang proses dan capaian-capaian. Terkait sudut pandang yang berbeda dari masing-masing insan tentang kehidupan.
“Yuuk kita pulang! Sudah mau malam,” ucap seorang kawan.
Angin masih berhembus. Kami masuk ke dalam mobil. Membelah jalanan lengang utara Sumba. Padang rumput terlihat mulai menghitam. Malam pun singgah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepuluh Lagu Terbaik Tulus

Setuju kalau saya bilang, Tulus adalah salah satu penyanyi terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Semenjak kemunculannya di tahun 20...