Senin, 07 Oktober 2019

Padang Rumput Savana di Puru Kambera, Sumba.

Pergi ke Sumba tentunya menjadi salah satu impian seseorang. Ya, meski nggak semua orang juga tentunya. Seperti yang sudah tersebar di media-media, Sumba terkenal dengan bukit-bukitnya yang berundak-undak, pantainya yang berwarna hijau toska dan yang paling utama adalah Padang Rumput Savananya.

 Baca juga:
 Menikmati Senja di Pantai Walakiri, Sumba Timur
 Sumba dan Film-film Yang Membersamainya


***
Sepanjang jalan menuju kecamatan-kecamatan di Sumba Timur, baik bagian selatan maupun bagian utara, kita akan disuguhi keindahan padang rumput yang menggoda warnanya. Tergantung musim. Apabila penghujan, rumput menjelma warna hijau dengan bunga-bunga liar yang menawan. Biasanya kita akan menemukan rumput hijau di Bulan Desember hingga Maret. Menjelang April, rumput mulai berubah cokelat meski tak sepenuhnya. Juli hingga Oktober, rumput benar-benar cokelat bahkan hitam. Eksotis sekali.


Saya mengunjungi Sumba Timur sebanyak tiga kali di musim yang berbeda. Awal November, musim kemarau masih setia. Saat melewati padang rumput, semua berwarna cokelat, beberapa terlihat hitam karena dibakar. Beberapa terlihat berwarna abu-abu. Meski cuaca sedang panas, tak menghalangi kami untuk berswafoto.

Selanjutnya saya datang lagi di Bulan Februari, kali ini musim berganti. Rupanya musim penghujan telah mengubah semuanya. Hijau mendominasi, cuaca lebih bersahabat karena hujan sesekali datang bersama angin. Pohon yang di bulan November kemarin kering terlihat menghijau seperti tidak pernah terjadi kekeringan sebelumnya. Rerumputan yang terlihat cokelat, abu-abu bahkan menghitam, juga terlihat hijau riang. Sama. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di musim sebelumnya.

Bulan April kedatangan kami yang ketiga, masih melewati tempat yang sama. Kali ini musim peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau. Rerumputan terlihat masih menghijau meskipun di beberapa bagian sudah mulai terlihat berwarna hijau kecokelatan.

Jika ditanya lebih asik yang mana jika mengunjungi Sumba maka saya akan menjawab semuanya punya keindahan masing-masing. Tapi, dari semua musim, saya paling suka datang ke Sumba saat muism penghujan. Lebih adem soalnya. Jika datang musim kemarau, panasnya Sumba mungkin dua kali lipat dari panas di Bogor saat musim kemarau. Kalau panas ada angin sepoi-sepoi kan enak, lah di Sumba angin sepoi-sepoi adanya di pinggir pantai saja jarang muncul di daerah kejauhan pantai. Jadi panasnya itu gerah dan terpusat.

Berkunjung ke padang rumput Savana khas Sumba paling asik dilakukan di sore hari. Sembari menunggu matahari terbenam. Spot yang dapat dipilih juga banyak pilihannya. banyak padang rumput yang sepertinya tidak ada pemilik dan jauh dari pemukiman warga. Jadi, parkirkan mobil di pinggir jalan lalu mulailah mengeksplor padang rumput.

Tiga kali mengunjungi Sumba, saya bolak balik mengunjungi utara Sumba. Jadi selalu melewati tempat ini, Puru Kambera di daerah Kanatang Sumba Timur bagian Utara. Turun dari mobil, kita akan disuguhi padang rumput luas, jika mengangkat kepala sedikit lebih tegak dan pandangan mata mengarah ke arah paling jauh akan terlihat lautan luas utara Sumba. Jika mata awas, samar-samar akan terlihat Pulau Flores yang masih masuk kepulauan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Jika beruntung, hewan ternak yang dilepas secara liar akan muncul di beberapa sudut padang rumput. Puluhan ekor sapi terlihat bergerombol dari kejauhan. Jika beruntung lagi, gerombolan kuda-kuda liar yang ada pemiliknya akan terlihat sedang menikmati rumput. Karena penasaran saya mendekati gerombolan kuda untuk diam-diam mengambil foto. 

 
Rupanya keberadaan kami diketahui kuda-kuda tersebut. Beberapa kuda menjauh. Saya kembali mendekati diam-diam. Namun rupanya, kuda-kuda tersebut cukup awas akan keberadaan kami. Karena gemes, saya berlari mengejar gerombolan kuda tersebut. Namanya kuda, saya dekati diam-diam saja pergi menjauh apalagi kalau dikejar.

Jangan dipikir berlarian atau berjalan di padang rumput savana ini senikmat berlari di rerumputan golf. Beda sekali. Kontur tanah yang berbatu dan tidak rata membuat kita mesti berhati-hati dalam menapaki langkah demi langkah menuju padang rumput. Konon bebatuan ini adalah batu karang dari lautan yang muncul ke permukaan atau air laut yang mulau surut. Rumput yang tumbuh pun berbeda jenisnya dengan rerumputan yang tumbuh pada umumnya. Jika musim penghujan, bunga-bunga semak yang tumbuh liar akan bermekaran membuat keindahan padang rumput akan terlihat begitu memesona. 
Matahari mulai tenggelam. Tandanya kami harus kembali ke Kota Waingapu. Jika matahari sudah benar-benar tenggelam dan hanya meninggalkan semburat jingga, suasana akan mulai gulita karena sebagian besar daerah Puru Kambera adalah padang rumput dengan sedikit sekali pemukiman tempat tinggal.

Kami memasuki mobil. Sorot lampu membelah jalan yang sudah gelap gulita. Jika siang hari hewan-hewan seperti kambing, sapi, domba dan babi lalu lalang di jalanan. Kali ini tidak. Mereka sepertinya paham akan fitrahnya untuk menjadikan malam sebagai waktunya istirahat.

Saya mulai memasuki Kota Waingapu. Sungguh, pengalaman yang begitu berharga hari ini. Bisa menapakkan kaki ke Padang Rumput Savana di Sumba. Alhamdulillah.

23 komentar:

  1. MasyaAllah keindahan pesona Sumba indah tiada tara, savananya udah kayak di luar negeri ya bikin liburan penuh petualangan

    BalasHapus
  2. Uniknya padang rumput savana, ya.
    Saya pengen sekali melihat gerombolan kuda seperti itu.Berasa di film-film :)

    BalasHapus
  3. uwaw. keren. ini tempat syuting film "Marlina, Si Pembunuh 4 Babak" itu kan?
    setting tempatnya sekeren ini.
    sekali seumur hidup, aku harus ke Sumba~~

    BalasHapus
  4. SUMBA ini kereeennn!!
    Aku terpukau dgn Sumba pasca lihat vlognya Fathia Izzati
    https://bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
  5. Bener bang, pergi ke sumba itu impian banyak orang termasuk saya. Duh, liat postingan ini jadi makin pengen jalan ke sana.

    BalasHapus
  6. Padang rumput kalo pas ada segerombolan ternak gitu jadi angel yang bagus ya buat di foto. Sayang waktu saya kecil pas di kampung belum ada HP camera seperti sekarang, Padahal sering ada moment indah seperti itu hehe ...

    BalasHapus
  7. Sumba memang terkenal dengan kudanya ya mas selain pantai yang indah. Terimakasih infonya mas karena saya baru tau kalo padang savana itu tidak hanya berisi rerumputan yang indah. Tapi beneran bagus sekali untuk spot foto ya mas

    BalasHapus
  8. Luas banget padang rumputnya, seru juga ya mengunjungi sumba. Kalau aku lebih seru datang kesana saat musim penghujan karena pastinya rumput2 sedang hijau2nya

    BalasHapus
  9. Ke Sumba salah satu impian saya juga, Mas Erfano. Apalagi keindahan Sumba sudah diekpos ke mana-mana. dan jujur, saya belum pernah lihat rumput savana.
    Pengin tuh, Mas, foto di sana pakai kain khas Sumba, lalu dengan kuda hahaha.

    BalasHapus
  10. Foto terakhir bagus sekali.

    Saya tau savana di Sumba ini dulu oas masih kecil nonton ftv di tvri yang dibintangi maudy koesnaedi sebagai yg berperan sebagai perempuan Sumba

    Memang keren lah savana di sumba ini

    BalasHapus
  11. Bikin iri aja,Mas, dah 3 kali ke Sumba..aku belom pernah. Duh!
    Kelihatan di foto kek rata aja permukaannya tapi ternyata berkontur ya, Jadi mesti hati-hati jalannya.
    Tapi aseliiik, mau kemarau apa hujan musimnya, foto-foto Sumba selalu warbiyasaa

    BalasHapus
  12. Ya Tuhan indah banget salah satu daerah di Ibdonesia. Gk kebayang saat musim kemarau, dijakarta saja panasnya ampun"an ya. Tq mas for sharing ceritanyaa

    BalasHapus
  13. Pemandangannya cakep sekali. Kebayang juga angin pas di sana pasti kencang juga ya?

    Uniknya ada gerombolan kuda yaa..kalau di sini saya biasa lihatnya di Bukit Merese, tapi adanya kerbau...bukan Kuda..

    BalasHapus
  14. Indah bangeeet. Baca Savana di sini saya jadi pengen isi daftar impian bisa ke Sumba suatu hari nanti deh. Bikin ngiler mas. Thanks sharing ceritanya ya.

    BalasHapus
  15. Savana memang selalu menarik perhatian, karena bisa memanjakan mata dengan keindahan alam yang ditawarkan

    BalasHapus
  16. Sungguh indah sekali kak,jadi aku pengen kesana..bisa jadi list tempat yang pengen didatangi ni

    BalasHapus
  17. Aku selalu pengen bgt ke Sumba. Entah kenapa sepertinya Sumba itu punya aura destinasi wisata yg bagus bgt. Ditambah lg ada savana. Jd tambah pengen pergi ke sana.. mdh2an ada waktunya nih...

    BalasHapus
  18. Sangat tertarik untuk travelling ke Sumba. Ya, saya siapa yang tidak ingin ke Sumba. Semoga bisa punya kesempatan untuk menikmati keindahan sumba....

    BalasHapus
  19. Subhanallah indah banget kak, lapang hijau terpapar luas. Sumba itu mempunyai alam yang indah yang belum di kenal oleh banyak orang yac kak.

    BalasHapus
  20. Kayaknya seru banget Mas perjalanannya. Ngomong soal kuda, saya gak berani deketin mah. Ada trauma setelah pernah digigit kuda di De Ranch.

    BalasHapus
  21. Asyik ya masih ada padang rumput begini, andai Jakarta ada, hehehe seger pasti lihatnya, bs mengedukasi anak2 jg

    BalasHapus
  22. Keindahan Padang rumput savana ini hampir sama seperti yang aku temui saat berkunjung ke Fulan Fehan yang ada di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Duh! aku jadi kangen liburan ke sana nih*

    BalasHapus
  23. Kepengen banget bisa explorasi alam ke Sumba bareng anak-anak. Lihat ladang rumput dan dihembus angin kencang....duh kebayang deh.

    BalasHapus