Kamis, 24 Oktober 2019

Seruit Lampung


Lalap yang biasanya jadi pelengkap itu banyak banget ada daun singkong yang direbus, timun mentah, daun kemangi, daun jambu monyet/mede, tauge, rotan muda, daun mangga muda (cobain deh), singkong mentah, pisang tua (biasanya pisang muli) yang belum matang dan jenis lalap lainnya. Beberapa lalap terlihat anti mainstream, tapi itu realita sih, dan aku mengalami dan menikmati itu semua. 

***

Bicara soal makanan yang ngangenin dan ngingetin akan kenangan di kampung halaman tercinta, pastinya ada banyak. Ya kan? Kalau di Lampung, makanan yang buat aku kangen dan pengen cepat pulang, salah satunya adalah Seruit Lampung.

Kebiasaan berkumpul di Lampung pastinya perlu makanan pemersatu. Kalau berkumpul kan biasanya ada camilan tertentu, nah di Lampung juga begitu, hanya saja, pasti ada satu makanan berat yang dimakan bareng bareng. Dan itu ada di Seruit Lampung.

Secara geografis sumber daya yang ada di Lampung itu beragam mulai dari sumber daya alam yang mendatangkan aneka hewan dan sayuran dan sumber daya sumber daya lainnya. Aku tinggal di Lampung dari lunik (baca:kecil), jadi khatamlah kalau berhubungan dengan sumber daya yang ada.

Dulu, pas masih usia SD kelas 3 dan 4, mencari ikan adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu. Sungai yang lumayan tenang dan tidak dalam adalah surga tempat tinggal aneka jenis ikan. Ikan yang sering aku peroleh adalah ikan gabus, ikan belida, ikan betok, ikan sepat dan ikan kecil-kecil yang aku enggak tahu namanya. Yang seru lagi, aku juga kadang dapat udang air tawar, yang kalau digoreng atau dibuat bakwan ikan (ikan kecil dan udang dicampur bumbu dan tepung) udang udang tersebut akan berwarna oranye. Kalau dimakan dengan sambal terasi, rasanya juaraaaa enaknya.

Sebagai orang Lampung asli, keluarga aku itu dikenal sebagai pecinta ikan. Karena sebenarnya orang Lampung salah satu makanan utamanya memang ikan sih. Jadi dibandingkan makan daging ayam atau daging sapi, kebanyakan orang Lampung akan memilih ikan. Ya, persis kayak keluargaku.

Keluargaku berada di lingkungan yang lumayan beragam. Sebagai suku asli, aku dan keluarga berada dalam lingkungan yang kebanyakan masyarakatnya adalah orang Jawa. Tetanggaku yang samping kanan dan kiri adalah orang Jawa, depan juga. Jadi sedari kecil ada tiga bahasa yang aku pelajari yaitu bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan tentu saja bahasa Lampung. Karena interaksi yang sering dengan orang Jawa aku lebih jago bahasa Jawa dibanding bahasa Lampung. Kalau bahasa Jawaku aktif, kalau bahasa Lampung pasif. Soalnya di rumah, orangtuaku berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sesekali saja menggunakan bahasa Lampung. Di desaku, penduduk asli Lampung hanya beberapa keluarga saja, sisanya adalah orang Jawa, Sunda dan Banten.

Nah, banyaknya tetangga yang bersuku Jawa membuat kita memahami kultur dan kebiasaan satu sama lain dan saling menghargai tentunya. Salah satu yang lekat dalam pikiran mereka adalah orang Lampung adalah pemakan ikan, tiada hari tanpa ikan. Jadi kalau ada tetangga yang pergi mencari ikan lantas menjualnya. Keluarga yang bakal dituju duluan adalah keluarga kami. Ikan gabus dan ikan lele ditusuk dengan bambu membuat rencengan memanjang. Atau ikan-ikan kecil hasil tangkapan saat musim hujan akan dibungkus dan dijual dengan daun jati. Menarik sekali waktu itu.

Pernah tetangga yang baru saja pulang dari sungai atau rawa membawa serenceng ikan. Ada ikan gabus, ikan lele dan ikan belut. Emakku pun membelinya lalu mulai membersihkan ikan di belakang rumah. Kami yang sedang asik nonton televisi, tiba tiba kaget luar biasa mendengar ucapan emak dari belakang rumah.

“Ulai....,” kata emak. Aku kemudian ke belakang dan melihat emak melempar belut belut di rencengan. Menurut emak, belut adalah ular. Ha... ha.. ha...

Nah, ikan gabus dan ikan-ikan lainnya yang sudah dibersihkan akan digoreng atau bakar ini cikal bakal Seruit Lampung.

Seruit Lampung
Setiap hari di rumah menu yang pasti ada adalah sambal, lalap dan ikan (dibakar maupun digoreng). Ketiga menu ini kalau dicampur jadilah Seruit Lampung. Sesederhana itu sih sebenarnya.

Cuma biasanya kalau mau nyeruit, ada beberapa yang perlu disiapkan. Lalapan yang biasanya enggak terlalu banyak, ada beberapa lalap spesial yang disiapkan seperti terong yang dibakar. Sambal juga disiapkan lebih spesial misalnya penggunaan mangga kweni di dalam sambal membuat cita rasa sambalnya jadi juara enaknya. Kalau tidak pakai mangga, sambal terasi juga enggak kalah enaknya. Kalau nyeruit versi kami biasanya pakai ikan gabus, ikan baung atau ikan mas. Seruit Lampung makin juara enaknya kalau ditambah tempoyak durian, kalau tempoyaknya enggak ada biasanya daging durian bisa jadi pilihan. Tapi aku kurang suka durian sih...

Nah, sambal yang sudah dibuat ditaruh di wadah yang cukup besar. Kemudian daging ikan bakar juga ditaruh di piring yang ada sambalnya. Lalu lalap seperti timun (bagian dalam yang ada bijinya), terung bakar juga ditaruh dalam piring yang sama (buang kulit yang gosong). Kemudian sambal, ikan dan lalap dicampur jadi satu menggunakan tangan. Kalau yang enggak biasa melihat pencampuran ini pasti bakal merasa geli gimana gitu. Kalau menurutku justru di situ letak kenikmatan Seruit Lampung. Setelah semuanya bercampur, baru deh makan dengan nasi hangat.

Lalap yang biasanya jadi pelengkap itu banyak banget ada daun singkong yang direbus, timun mentah, daun kemangi, daun jambu monyet/mede, tauge, rotan muda, daun mangga muda (cobain deh), singkong mentah, pisang tua (biasanya pisang muli) yang belum matang dan jenis lalap lainnya. Beberapa lalap terlihat anti mainstream, tapi itu realita sih, dan aku mengalami dan menikmati itu semua.

Seruit Lampung biasanya dibuat dalam upacara-upacara adat, di acara pernikahan atau pertemuan-pertemuan. Biasanya nyeruit jadi moment berharga untuk saudara-saudara yang sedang berkumpul dan bercengkerama.

Dulu waktu SD, aku suka diledek soal Seruit Lampung ini. Karena proses pencampuran sambal, ikan dan lalap yang menggunakan tangan, lantas dimakan bersama-sama dengan mengambil seruit ke piring masing-masing. Terkesan jorok dan tidak higienis. Jadilah bahan ledekan.

“Seruit Lampung, jorok dan aneh.”

Aku pikir ledekan (baca bully) soal Seruit Lampung selesai saat di SD, tapi di SMA guruku yang berasal dari Jakarta juga ngomong begitu. Seruit Lampung, joroklah anehlah. Sambil meragakan tangan ngaduk-ngaduk sambal dan ikan.

Aku pikir lagi ledekan tentang Seruit Lampung bakal beres juga di zaman SMA, ternyata saat merantau dan ketemu sama rekan kerja, ledekan juga sama. Aku sih males untuk menjelaskan karena pengolok pengolok itu pasti enggak tahu bagaimana bangiknya Seruit Lampung.

Filosopi Seruit Lampung

Nenek moyang kita pasti enggak sembarangan membuat makanan khas tertentu yang dulunya adalah makanan keseharian. Lampung yang kaya akan sumber daya alam seperti sungai, rawa dan laut menghadirkan aneka jenis ikan. Tanah yang subur menghadirkan sayuran yang dapat dijadikan lalapan. Kalau di restoran-restoran lalap mainstrem yang dihadirkan seperti mentimun, kol dan kemangi. Di Lampung anti mainstrem, lalapan seperti pucuk daun jambu mede, pucuk mangga, pisang tua yang belum matang, singkong mentah jadi pelengkap makan. Jadi pemanfaatan bahan lokal sebagai bahan pokok makanan setempat memang sudah ada sejak zaman nenek moyang kita.

Seruit Lampung yang diracik satu orang dengan tangannya langsung menandakan adanya ikatan dan rasa saling percaya. Persetan sih dengan olokan orang tentang jorok dan tidak higienis, karena ikatan dan saling percaya satu sama lain adalah kunci sehingga nyeruit bersama-sama nikmatnya luar biasa. Nganik bangik.

Makan Seruit Lampung dengan duduk melingkar sambil mengambil sedikit demi sedikit seruit yang ada di piring menjadi alat pemersatu semua kalangan. Bayangkan saat berkeliling tangan masing-masing mengambil seruit dalam satu piring, tidak ada perasaan apa-apa yang terbersit selain kebersamaan dan kehangatan.

Di zaman milenial seperti sekarang ini, ngumpul ngumpul itu sudah menjadi gaya hidup. Di Lampung ngumpul ngumpul bakalan seru kalau sambil nyeruit. Alhamdulillah, di kalangan muda mudi nyeruit juga kerap dilakukan karena seru dan membahagiakan.

Jadi dalam satu makanan bernama seruit Lampung tersimpan banyak filosopi yang enggak kalah dengan makanan khas dari daerah lain. Kalau akhirnya ada orang-orang tertentu yang tidak suka atau meremehkan makanan khas daerah tertentu, aku pikir sih itu urusannya, urusan sudut pandangnya terhadap makanan tertentu.

Itulah cerita tentang salah satu kuliner khas daerah Lampung yaitu Seruit Lampung. Jaga terus kekhasan kuliner kita ya!

18 komentar:

  1. Ini gimana rasanya mas. Jadi kepo sama si makanan khas lampung nih  Seruit Lampung mas

    BalasHapus
  2. Saya kira seriut Lampung nama daerah taunya nama makanan hahahha

    BalasHapus
  3. duh..baca ini kok jadi kesel ya! bukan kesel sama mas erfano, sama sebuah rumah makan hehe. jadi alkisah belum lama lalu dapet cerita soal seruit. sebagai penggemar pedas, denger ceritanya dah langsung ngeces. ga lama kemudian, ketemu rumah makan khas lampung. ada paket seruit. eh, pas dateng cuma dikasih sambel biasa. katanya abis seruitnya. hrrrrrr bukannya bilang! jadi saiyah ngeces lagi sekarang, belum jadi ngicipin seruit.

    BalasHapus
  4. Kalau di kampung saya lalapan anti mainstreamnya itu pucuk kedondong, pegagan, selada air, daun reundeu, banyak deh. Salam dari saya si pecinta lalab ^_^

    BalasHapus
  5. Aku belum pernah ke Lampung mas. Tapi pernah dioleh-olehi keripik pisang coklat dari sahabat karib. Dan yang terakhir dibawakan suami bakso song haji yang enak mantap. Semoga seruit bisa aku nikmati juga someday ya

    BalasHapus
  6. mas, sambal matah juga dari Lampung kan?
    Kalo soal diaduk dicampur pake tangan, di Sumatera Utara biasa dikenal mi gomak. Mi gomak ini diaduk pake tangan mas. Haha, katanya di situlah kelezatannya.

    BalasHapus
  7. Wah sama kita mas.
    Keluarga ku juga makan ikan yg paling sering.

    Daging dan ayam itu terkadang saja.
    Jikanikan setiap hari, maka ayam itu hanya seminggu sekali.

    Makan daging kadang cuma pas lebaran haji aja.

    Dah kebiasaan..

    BalasHapus
  8. Orang Makassar juga suka makan ikan, Mas Erfano. Makanya saya kini walau di Jawa, rela bela-belain mencari ikan. Tanpa makan ikan, ada yang beda hahaha. Walau ikannya tidak selengkap di Makassar.
    Dan penasaran dengan Seruit ini, Mas. Makin nikmat karena disantapnya bareng-bareng ya, Mas.

    Mas, kalau ke Lampung, ajak saya, ya! Belum pernah ke Lampung nih. Mupeng hahaha.

    BalasHapus
  9. Wah ikan bakar ditambah terong bakar cocol sambal mangga/kweni, mantapnya tuh bang. ngeces deh..

    BalasHapus
  10. Kalau cerita tentang kuliner,memang nggak pernah ada habisnya
    Seruit itu rasanya gimana ya, biasanya kalau siapin untuk lalapan selalu sedia daun kemangi sama mentimun segar

    BalasHapus
  11. Kuliner khas daerah seluruh nusantara itu beragam ya, dan ga bisa diingat satu persatu, termasuk seruit lampung ini, baru denger juga, tapi membayangkannya aja udah bikin ngiler.

    BalasHapus
  12. namanya unik, pun cara pembuatannya. Kalau di jawa ada yang namanya urap-urap yang cara buatnya juga diurap/dicampur dengan tangan tuh mbak, yang makan juga enggak jijik kok. Percaya aja, hahaha. Yang penting rasanya kan ya

    BalasHapus
  13. Sekilas di awal tadi kukira mau bahas sirkuit wkwk...
    Tapi emang kalau pulau sumatera, ikan itu udah jadi makanan utama sih mas karena itu tadi masih segar laut dan sungainya, tapi udah mulai gak sih sekarang, aku orang Medan dan pemakan ikan juga sekeluarga,
    Beda dengan di jkt, ikan kok ya gak segar, terus teksturnya keras gitu, jadi malas makan ikan kalau lagi stay d jkt, btw aku suka banget tempoyak, kalau d Medan nyebutnya pekasam durian, duhhh jadi lapeeer hehe

    BalasHapus
  14. mirip - mirip sambel ikan tapi gak digoreng gitu yak.Banyak sekali makanan tradisional yang hilang karena kita mengukur filoshopi kuliner dengan budaya kebersihan zaman now.

    BalasHapus
  15. Memang yaaaa segala hal yang berhubungan dengan tradisi zaman dulu itu selalu ada filosofinya. Bahkan sekelas lalapan alias seruit lampung pun ada folosofinya juga ya kan... Tapi apapun itu berkumpul memang nikmat dan memorable banget justru kalo ada makanan pemersatu gitu...

    BalasHapus
  16. Oh ikan gabus selalu mengingatkanku pas aku kekurangan albumin trus terapi makan putih telur, soalnya ikan gabus susah ditemukan di Jakarta, kalau pun ada seringnya gak seger hehe.
    Oh noted nih kalau ke Lampung mesti nyobain Seruit Lampung ini ya? Eh tapi gak mesti cikal bahannya itu dari ikan gabus ya mas, bisa juga dari ikan2 lain?

    BalasHapus
  17. Baru tahu artinya Seruit Lampung sekarang, ma kasih banyak buat informasinya Bang.

    BalasHapus
  18. Saya tadi bacanya Sefruit Lampung, hmm, maafkan mata ini.
    mas, rotan muda rasanya kayak gimana wkwk baru tau rotan bisa dimakan..
    dan yang mengolok-olok Seruit Lampung harus diulek juga tuh, enggak tau dia kalo makanan yang dicampur-campur gitu rasanya aduhai mantappp, soalnya saya juga suka gitu, bikin makanan dicampur semua aja gitu dan emang enak wkwk kayaknya bakalan cocok kalo nyobain Seruit Lampung

    BalasHapus

House Kari Ala Jepang: Bumbu Kari yang Enak dan Halal

“ Memasak simpel, cepat, praktis dan enak jaman sekarang sangat cocok dengan menggunakan bumbu saus padat House Kari ala Jepang. ” ...