Workshop Membayar Utang Pengasuhan bersama Dandiah Care

Belajar Mengasuh Ulang: Perjalanan Seorang Ayah dalam Membayar Utang Pengasuhan

Hari ini aku belajar sesuatu yang cukup menyentuh hati sebagai seorang ayah. Sebuah pelajaran yang membuatku kembali melihat ke dalam diri, mengevaluasi perjalanan pengasuhan selama ini, sekaligus menyadari bahwa menjadi orang tua ternyata adalah proses belajar yang tidak pernah selesai.

Aku berkesempatan mengikuti workshop “Membayar Utang Pengasuhan: Ruang Belajar bagi Orang Tua untuk Mengasuh Ulang Anak Tersayang” yang berlangsung di Novotel Mangga Dua Jakarta, Ahad, 25 Oktober 2026, pukul 08.30–17.00 WIB.

Workshop ini diselenggarakan oleh Dandiah Care, sebuah lembaga yang bergerak di bidang psikologi klinis, pernikahan, pengasuhan (parenting), serta pengembangan sumber daya manusia (SDM), di bawah naungan Dandiah Selecta Persona.

Dandiah Care didirikan dan dipimpin oleh Dandi Birdy, S.Psi. dan Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog. Lembaga ini memiliki visi menjadi mitra strategis bagi keluarga di Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan mental (mental well-being) dan kualitas pengasuhan.

Salah satu program unggulannya adalah Membayar Utang Pengasuhan (MUP). Program ini mengajak orang tua untuk merefleksikan kembali pola pengasuhan yang selama ini diterapkan kepada anak. Melalui asesmen refleksi pengasuhan (A-MUP), buku panduan, workshop, hingga roadshow ke berbagai yayasan dan sekolah, MUP berupaya membantu orang tua memahami kebutuhan emosional serta tumbuh kembang anak secara lebih utuh.

Selain MUP, Dandiah Care juga menghadirkan berbagai program edukasi dan pengembangan diri, seperti kelas parenting, Anger Management Workshop, dan Stress Release for Students. Berbagai kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih sehat secara mental dan lingkungan pengasuhan yang positif bagi anak.

Mengenali Kembali Hak-Hak Anak

Dari sekian banyak materi yang disampaikan, ada satu sesi yang cukup membekas bagiku, yaitu asesmen 40 Hak Anak dalam 8 Dimensi.

Dalam sesi ini, aku diajak melihat kembali bagaimana selama ini aku memenuhi hak-hak anakku, Zea Mafaza Khairunnisa.

Aku mencoba menjawab setiap pertanyaan dengan jujur. Bukan untuk mencari pembenaran atau menunjukkan bahwa aku sudah menjadi ayah yang baik, melainkan untuk mengetahui sejauh mana aku telah hadir dalam proses tumbuh kembangnya.

Hasil asesmen menunjukkan bahwa pemenuhan hak Zea berada pada kategori 4 dari 5, yaitu hampir tertunaikan, dengan skor 237 dari total 320.

Dari delapan dimensi yang dinilai, aspek fisik dan body image serta bakat menjadi bagian yang relatif kuat. Aku bersyukur karena selama ini kebutuhan fisik Zea dan kesempatan untuk mengembangkan minat serta potensinya sudah cukup terfasilitasi.

Namun, ada satu hasil yang membuatku harus berhenti sejenak dan lebih banyak merenung. Dimensi emosi memperoleh skor 25 dari 40, menjadi nilai terendah dibandingkan dimensi lainnya.

Angka itu seperti menjadi pengingat bahwa selama ini mungkin masih ada kebutuhan emosional Zea yang belum sepenuhnya aku pahami.

Aku jadi berpikir, sudahkah aku benar-benar mendengarkan ketika Zea bercerita? Sudahkah aku memberikan ruang ketika ia sedang marah, sedih, kecewa, atau merasa tidak nyaman? Atau justru aku terlalu sering meminta ia segera tenang, berhenti menangis, dan mengikuti apa yang menurutku benar?

Padahal, terkadang anak tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Seseorang yang membuatnya merasa bahwa perasaannya penting dan dirinya diterima.

Mengasuh Anak Juga Berarti Memperbaiki Diri

Dari workshop ini aku semakin memahami bahwa memenuhi kebutuhan anak bukan hanya tentang memastikan ia mendapatkan makanan bergizi, pakaian yang layak, pendidikan yang baik, atau fasilitas untuk mengembangkan bakatnya.

Ada kebutuhan yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat menentukan bagaimana anak memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.

Anak juga membutuhkan rasa aman, perhatian, penerimaan, penghargaan, serta kasih sayang yang tidak bergantung pada prestasi atau perilakunya.

Aku juga diingatkan bahwa anak perlu diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, belajar mandiri, mengenali batas tubuhnya, memahami pengelolaan uang, membangun hubungan sosial yang sehat, serta mengenal nilai-nilai spiritual melalui keteladanan dan kasih sayang.

Semua itu tentu tidak bisa dibangun hanya melalui perintah dan nasihat. Anak belajar terutama dari apa yang ia lihat dan rasakan dalam kesehariannya.

Ada satu hal yang kemudian terasa semakin penting bagiku: untuk bisa mengasuh anak dengan lebih baik, terkadang kita perlu terlebih dahulu belajar mengasuh kembali diri sendiri.

Sebab, tanpa disadari, pola pengasuhan yang kita terima ketika kecil bisa terbawa dalam cara kita memperlakukan anak. Cara kita menghadapi kemarahan, menyampaikan teguran, merespons kesalahan, bahkan mengekspresikan kasih sayang bisa jadi merupakan bagian dari pola yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Di sinilah makna membayar utang pengasuhan terasa begitu dalam. Bukan sekadar memperbaiki apa yang sudah terlewat, tetapi juga berusaha agar luka, kebiasaan, dan pola pengasuhan yang kurang tepat tidak terus diwariskan kepada anak-anak kita.

Tentu, hasil asesmen ini bukan berarti aku adalah ayah yang gagal. Justru, aku melihatnya sebagai kesempatan untuk mengenali bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki. Menjadi orang tua bukan tentang siapa yang paling sempurna, tetapi siapa yang bersedia terus belajar dan bertumbuh.

Untuk Zea, Ayah Akan Terus Belajar

Zea, Ayah mungkin belum selalu sempurna dalam mendampingimu. Ada kalanya Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu cepat marah, kurang sabar mendengarkan, atau belum mampu memahami apa yang sebenarnya kamu rasakan.

Namun, Ayah ingin terus belajar.

Ayah ingin kamu tumbuh bukan hanya menjadi anak yang pintar, mandiri, dan berprestasi, tetapi juga anak yang merasa aman, dicintai, dihargai, dan berani menjadi dirimu sendiri.

Ayah ingin kamu tahu bahwa kamu boleh sedih, boleh kecewa, boleh punya pendapat yang berbeda, dan boleh melakukan kesalahan. Semua itu adalah bagian dari prosesmu bertumbuh. Dan Ayah ingin menjadi tempat yang aman untukmu pulang dan bercerita.

Karena pada akhirnya, keberhasilan pengasuhan bukan hanya tentang seberapa banyak hal yang bisa kita berikan kepada anak, tetapi juga tentang bagaimana anak merasakan kehadiran kita dalam hidupnya.

Workshop yang berlangsung hampir sembilan jam ini memberikan banyak sekali insight dan bahan refleksi. Aku pulang bukan hanya membawa catatan materi, tetapi juga membawa sejumlah pertanyaan untuk diriku sendiri: apa yang masih perlu diperbaiki, apa yang selama ini mungkin terlewat, dan bagaimana aku bisa menjadi ayah yang lebih baik ke depannya?

Aku sadar, perjalanan membayar utang pengasuhan tidak selesai dalam satu hari workshop. Tidak cukup hanya dengan memahami teori atau mengisi lembar asesmen. Semua pembelajaran ini harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam keseharian: lebih banyak mendengarkan, lebih sabar merespons, lebih hadir, dan lebih mampu memahami perasaan anak.

Sebab, hak-hak anak yang belum sepenuhnya tertunaikan bukan sekadar kekurangan yang harus disesali, melainkan kesempatan bagi orang tua untuk terus bertumbuh.

Mengasuh anak adalah perjalanan panjang. Dan dalam perjalanan itu, bukan hanya anak yang sedang tumbuh, tetapi kita sebagai orang tua juga sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Semoga Ayah selalu diberi kesabaran, kebijaksanaan, dan hati yang lapang untuk membersamaimu, Zea. Bukan menjadi ayah yang sempurna, tetapi menjadi ayah yang tidak pernah berhenti belajar dan berusaha mencintaimu dengan cara yang semakin baik.