Kamis, 05 September 2019

Menjelajah Toraja: Wisata Kuburan di Tana Toraja


Hari pertama di Toraja, saya dan teman-teman perjalanan melakukan kunjungan ke beberapa tempat yang rata-rata adalah pemakaman. Jujur ini adalah wisata yang saya lakukan pertama kali, biasanya ziarah kubur saya lakukan menjelang bulan Ramadhan atau menjelang Idul Fitri atau ketika pulang ke kampung halaman. Namun ketika ke Toraja dan diberitahu bahwa salah satu tempat-tempat yang akan dikunjungi adalah makam, saya lumayan excited karena salah satu budaya yang terkenal dari Toraja adalah budaya pemakamannya. Selain pemakaman tempat lain yang kami kunjungi adalah desa wisata yang menghadirkan rumah-rumah adat Toraja.

Setelah sarapan, sekitar jam delapan kami menaiki bus elf menuju ke tempat pertama di Toraja Utara. 
Rumah Adat Tongkonan di Toraja
Museum Ne’gandeng
Bus melaju menembus jalanan lengang Toraja. Di sepanjang perjalanan beberapa bukit, persawahan dan hutan-hutan terlihat indah. Masuk ke area museum ada plang ucapan selamat yang seolah menyambut kedatangan kami.

Rumah adat Tongkonan berderet rapi. Saya merasa takjub bisa melihat langsung deretan rumah Tongkonan yang dulu saya lihat di acara-acara petualangan di televisi. Bahagia rasanya melihat langsung rumah ini Toraja langsung.

Tidak banyak yang kami lakukan di sini karena kami hanya melakukan swafoto dan foto bersama karena kami datang terlalu pagi. Selain itu, seharian ini banyak tempat yang akan kami kunjungi. Jadi tidak dapat berlama-lama.

Komplek Megalit Kalimbuang Bore
Tujuan kedua kami setelah Museum Ne’gandeng adalah Komplek Megalit Kalimbuang Bore yang terletak di Kecamatan Sesean Toraja Utara. Menurut wikipedia, Megalit adalah batu besar (neologi dari bahasa Yunani: μέγας (megas) berarti besar, dan λίθος (lithos) berarti batu) yang digunakan untuk membangun struktur atau monumen. Megalit menjadi tanda utama keberadaan tradisi megalitik, tradisi yang muncul di beberapa tempat di bumi.

Seperti dari pengertian tentang megalit tadi, ketika datang batu-batu yang memanjang berdiri terlihat di dataran bagian bawah. Saat masuk, dua rumah tongkonan yang mungil berdiri kokok juga seakan menyambut kehadiran kami.

Selain melihat batu-batu megalit, naik ke bagian atas kita disuguhkan makam-makam orang dewasa dengan melubangi bebatuan. Khusus untuk makam anak balita, ada pohon tarra yang juga dilubangi untuk jasad anak yang meninggal.

Jika ditanya bagaimana perasaanya mengunjungi makam di Toraja. Biasa saja sih karena kami datangnya beramai-ramai ha..ha...ha...

Kuburan Purbakala Kete Kesu
Uju nyali tidak hanya selesai di Komplek Megalit kalimbuang Bore. Itu belum seberapa karena ada yang lebih ekstrim dan memacu adrenalin. Kuburan Purbakalan Kete Kesu ini terdapat di Paepalean, Sanggalangi, Toraja Utara. Kita berjalan cukup jauh dari parkiran menuju ke area kuburan Purbakala Kete Kesu. Sebelum memasuki area pemakaman, rumah tongkonan yang berbaris rapi sudah siap menyambut para wisatawan. Jadi sebelum memasuki area makam kita bisa melakukan swafoto atau foto ramai-ramai.

Rumah Adat Tongkonan
“Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur.berasal dari kata tongkon (artinya duduk bersama-sama). Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (strata sosial Masyarakat Toraja). Di depan Tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (banga). Saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari (disebut pa'bare' allo), yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.” (Wikipedia)

Masih di area Kete Kesu. Ketenangan rupanya masih dapat dirasakan karena sepanjang jalan menuju ke lokasi makam, terdapat banyak toko-toko yang menjual oleh-oleh Toraja seperti gantungan kunci, aneka kaos, beberapa kain tenun khas Toraja, dan beberapa benda khas daerah Toraja lainnya.

Mulailah kami masuk menuju lokasi pemakaman, lokasi yang cukup ramai membuat uji nyali kali ini tidak terlalu menakutkan. Beberapa jenazah ditaruh di dalam batu-batu yang dilubangi atau beton-beton yang sengaja dibuat. Di beberapa makam, ada patung di depannya yang dibuat menyerupai jenazah orang yang ada di dalam.

Kemudian kami menaiki anak tangga. Nah, di sinilah letak uji nyali sebenarnya. Terlihat kuburan-kuburan kuno yang sudah berlumut. Beberapa keranda jenazah terlihat cukup lapuk. Di kiri kami beberapa tulang belulang dan tengkorak membuat bulu kuduk saya berdiri. Horor. Namun karena perjalanan ini dilakukan ramai-ramai dengan  sesekali berfoto dan mendengarkan penjelasan dari guide yang asli orang Toraja, bulu kuduk yang berdiri diam tanpa ambisi.

Aku menghela nafas. Sungguh ini belum apa-apa karena untuk wisata kuburan, ada yang lebih menyeramkan ternyata.

Sebelum melakukan wisata yang penuh dengan uji nyali kami makan siang dulu. Kebetulan ada rumah makan halal yang makananya lengkap dan variatif. Kami memilih Rumah Makan Ayam Penyet Ria di daerah Singki’, Rantepao. Aneka makanan mulai dari makanan tradisional hingga makanan seafood dapat dipilih di rumah makan ini. Beberapa dari kami memilih gado-gado yang terlihat menggoda, beberapa yang lainnya memilih soto dan nasi goreng. Untuk minuman, di rumah makan ini juga menyediakan ragam minuman yang juga tak kalah menggoda. Apalagi setelah berjalan dari kuburan ke kuburan. Rupanya uji nyali membuat perut kosong keroncongan.

Makanan kami datang, aku memesan gado-gado dan es jeruk. Secara tampilan, gado-gado yang disjaikan adalah jenis gado-gado restauran, sotonya pun demikian. Ketika makanan dicicipi, rasanya enak. Sesuai ekpektasi!

Kuburan Goa Londa

Setalah makan siang dan beristirahat sejenak di rumah makan. Perjalanan kami lanjutkan kembali. Kali ini kami menju salah satu kuburan yang bagi saya uji nyali yang sesungguhnya.

Bus kami berhenti di pelataran parkiran. Kami turun dan mulai berjalan ke gerbang pemakaman di Goa Londa.  Dari parkiran menuju gerbang, kami menaiki tangga. Saat sudah sampai di gerbang, Goa Londa sudah terlihat dari jauh dengan patung-patung manusia di atasnya.

“Aku enggak kuat!” ucap salah satu teman. Saya kurang paham apa yang terjadi dengannya, namun teman yang satu ini bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat. “Aku menunggu di sini saja,” lanjutnya sambil menepi di dekat gerbang.
Walaupun sesungguhnya ada perasaan takut, namun sesekali melakukan wisata begini seru juga dan menantang.

Sisa dari kami menuruni tangga menuju goa. Di pelataran goa bau-bau tertentu sudah mulai tercium. Di dinding goa bagain depan terlihat jelas beberapa keranda mayat yang ditaruh di atas. Patung-patung manusia yang menyerupai orang yang meninggal berbaris berbanjar seolah menyambut kedatangan kami.

Ada dua goa yang akan kami masuki. Goa pertama dalamnya kira-kira 20 meter. Saya sedang akan bersiap menyalakan rekaman video. Guide sudah siap menemani kami dengan membawa obor.

“Aku enggak ikut masuk,” ucap satu teman.

“Saya juga. Saya menunggu di sini saja.”

 “Aku juga enggak ikut. Nggak kuat!” ucap yang lain.

Saya terperangah. Loh kok? Banyak juga yang undur diri. Saya memberanikan diri untuk masuk. Telepon genggam yang sudah saya siapkan sudah saya pencet record video. Kami pun masuk....

Saya tidak terlalu mendengar penjelasan guide karena mata mengarah pada bungkusan bungkusan jenazah yang ditaruh di dinding goa bagian bawah atau di bagian atas. Tidak hanya di situ saja, di langit langit goa juga beberapa bungkusan mayat ditempatkan. Badan saya sudah lemas. Beberapa kali mata melihat tulang dan tengkorak yang terpampang begitu saja, atau melihat tulang belulang yang muncul di sela-sela bungkusan.

Suasana gelap dengan terang hanya dari obor membuat suasana makin mencekam. Ah, seandainya jika bukan karena penasaran dan pengalaman mungkin saya akan keluar. Tapi, jika pun keluar pasti keluar sendirian. Jadi lebih baik mengikuti saja dulu.

Sampai di penghujung goa, saya terperanjat karena ada keranda yang masih baru. Itu berarti ada mayat yang baru saja singgah di goa ini. Saya kembali menghela nafas. Badan kembali lemas.

Guide membawa kami keluar goa. Saya merasa begitu lega. Sesampainya di depan goa, kepala sudah mulai pusing, perut sedikit mual.

“Yuuk lanjut ke goa kedua!” ajak teman saya.

Saya menggeleng, “Enggak! Sudah cukup!”

“Tenang, cuma 5 meter doang!” jawabnya.

Aku kembali menggelang, “Enggak, ah. Sudah!”
***
Perjalanan seharian berakhir di Goa Londa. Kami menuju hotel untuk mandi dan bebersih, setelahnya kami makan malam di rumah makan yang tadi siang kami kunjungi Sekitar jam delapan malam kami kembali ke hotel. Ini bukan hotel berbintang namun cukup nyaman untuk disinggahi setidaknya semalam ini.

Pengalaman mengunjungi wisata kuburan di Tana Toraja membuat saya belajar banyak tentang budaya Indonesia yang beragam termasuk budaya di Toraja. Ya, meskipun menakutkan dan menantang pastinya.

21 komentar:

  1. Hiiii, sering liat wisata kuburan ini di TV, tapi kalau saya mah ogah dah ke sana.
    terlalu cemen saya mah :D

    Tapi memang wisata tersebut mencerminkan betapa beragamnya wisata kita, mau cari wisata apaaaa saja ada di Indonesia :)

    BalasHapus
  2. Wisata pemakaman ya Mas, hehe... Luar biasa ah kayak uji nyali aja. Tp lucu juga yg perut keroncongan itu. Perut jg laper gegara uji nyali ya wkwk. Ikut menahan napas juga baca tulisannya Mas Erfano. Nice, tfs yaa

    BalasHapus
  3. Pernah liat kuburan buat anak kecil yang pohon dilubangi tengahnya. Katanya biar anak itu merasa di dekap ibunya karena pohon itu seperti memeluk rohnya.

    Btw mas erfano, masih untung wisata kuburannya siang yaaa.
    Gak tau dah gimana kalo malam ke sana. Haha

    BalasHapus
  4. Sering nonton di TV, liputan tentang toraja. Sekian kali nonton, sekian kali terkagum mereka bisa membuat kuburan di goa-goa gitu. KOnon biayanya juga mahal ya bang

    BalasHapus
  5. walaupun udah menguatkan hati dan mental rasanya tetep lemes ya mas, secara liat tengkorak dan bungkusan-bungkusan belulang gitu, huhu
    videonya dishare di YT gak mas? Pengen liat penasaran

    BalasHapus
  6. Ini ciri khas banget ya di Tana Toraja.
    Indonesia sungguh KAYA!
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  7. Kuburan jadi tempat wisata, kok kayaknya nggak aku banget ini. Kalo cuma melihat tengkorak2 jaman dulu masih bisa dipaksa-paksain. Tapi kalo ketemu keranda dengan mayat yang masih baru itu, pasti rasanya pengen kabur aja, hehe..

    BalasHapus
  8. Kalo ke kuburan kok sepertinya nggak jadi wisata ya mas? hehe ... apalagi ada patung yang dibuat menyerupai segala, kok saya jadi nggak nyaman ya kalau ke sana

    BalasHapus
  9. Kampung halaman mamaku...hehehe, saya pun orang asli sulawesi selatan ke wisata kuburan toraja agak ngeri.. apalagi patung-patungnya.

    BalasHapus
  10. Makam-makam di Toraja memang justru jadi tempat wisata, Mas Erfano. Turis asing sangat suka hal ini. Soalnya agak beda memang. Bahkan tengkoraknya ada yang puluhan tahun masih utuh kan, Mas hehehe.

    BalasHapus
  11. Wiiih mas erfano berani, salut akuh... Kalo aku mah ikut tim luar aja, alias nunggu di luar wkwkwk, tapi emang itu merupakan salah satu budaya daerah Indonesia, yang mesti kita dukung dan pelihara.

    BalasHapus
  12. Horor banget ini : Sampai di penghujung goa, saya terperanjat karena ada keranda yang masih baru. Itu berarti ada mayat yang baru saja singgah di goa ini. Saya kembali menghela nafas. Badan kembali lemas.

    Duh..saya pernah ke Kuburan Trunyan di Bali juga jenazah barusan 2 hari "ditaruh" di situ...lemas juga dengarnya.

    Masya Allah, sungguh budaya Indonesia beraneka ya.

    BalasHapus
  13. Antara unik takjub tapi agak serem, penasaran juga mau berkunjung ke kuburan toraja, sering lihat di televisi.

    BalasHapus
  14. Mbaaa.. gimana itu rasanya ngunjungin kuburan Mba, gak kebayang rasanya ngunjungin kuburan wisata gini

    BalasHapus
  15. Wih, aku berani gak ya kesini, semenjak jadi ibu, nyaliku jadi ciut nih, tp kalau ada kesempatan aku mau coba ah kalau ramai2 😆

    BalasHapus
  16. Faisal Oddang, cerpenis asal Sulawesi selatan pernah bikin cerita dengan. Latar makam toraja, menang jadi cerpenis terbaik kompas.

    BalasHapus
  17. Ya Allah serem amat sih mas..

    Btw gak ada yg ngikut pulang kan mas...

    #kaboooorrrrrr

    BalasHapus
  18. salah satu lokasi yang aku masukan dalam list kunjungan nih, tana toraja yang terkenal dengan adat dab budayanya

    BalasHapus
  19. Teman-teman aku udah banyak banget yang ke Toraja. Padahal aku ngarep bingit dapet project ke tempat ini soalnya memang masih kental budaya dan tradisinya*

    BalasHapus
  20. Jadi penasaran pengen banget ke Toraja.Semoga kapan kapan bisa kesana

    BalasHapus
  21. Wah baru tahu nih. Jadi di Toraja itu yang dimaksud kuburan yaa goa tempat meletakkan bungkusan mayat itu, ya?? hmm... kalo saya sih serem mas, gak berani masuk

    BalasHapus