Rabu, 06 Maret 2019

Lemak Nian Makan Pempek Langsung di Palembang


Hampir semua orang Indonesia mengenal makanan khas satu ini. Dan hampir di semua daerah menjual makanan khas dari daerah Palembang ini. Yap, pempek. Makanan berbahan ikan yang dicampur tepung tapioka atau sagu dan bumbu-bumbu. Pempek akan lezat ketika dimakan dengan kuah berbahan dasar gula merah, bawang putih, cabai dan buah asam. Kuah ini biasa disebut cuko. Perpaduan pempek dan cuko ini memang buat lidah bergoyang karena juaraa enaknya.
Pempek Palembang
Dari beberapa literatur yang aku baca, pempek adalah pangilan untuk penjualnya, Empek yang merupakan panggilan untuk orang Cina yang berjualan kelesan (kelesan adalah nama awal dari pempek). Jadi saat penjaja kelesan lewat, orang-orang yang akan membeli memanggil, “Mpek..Pek... Mpek... Pek!” Lama-lama kelesan yang dijual lebih populer disebut pempek hingga kini.
Di Bogor, tempat saya tinggal, ada kedai pempek yang lumayan enak. Tapi harganya juga lumayan. Sedangkan di Lampung tempat saya lahir, pempek adalah makanan yang kerap saya temukan sebagai jajanan yang hampir setiap hari saya konsumsi saat di sekolah. Bedanya kalau di sekolah-sekolah, pempek yang dijual bukanlah pempek ikan, biasanya pempek yang dijual yang isinya adalah sayur pepaya, disebut pempek pistel. Atau kalaupun ada pempek lain adalah pempek lenjer yang dipotong-potong. Kalau pempek lenjer ada sedikit campuran ikannya, tapi masih kebanyakan tepung tapiokanya.
Semakin bertambahnya umur dan bertambahnya bobot badan, saya sudah merasakan banyak pempek di berbagai tempat. Pernah, saat berkunjung ke Singkawang, Kalimantan Barat. Saya menemukan kedai pempek. Soal rasa, pempeknya lumayan enak namun cukonya di luar ekspektasi.
Salah satu tempat saya makan pempek adalah di Lampung, dengan harga yang cukup mahal, beberapa kedai pempek di Bandar Lampung seperti pempek Tenda Biru, Pempek 123 (kalau ini pelayanannya enggak banget padahal pempeknya enak), dan beberapa kedai pempek lainnya. Kalau di Kotabumi daerah asal saya, pempek ala-ala banyak dijual, di Pasar Pagi, ada pempek di Pecel Muslimim, tidak hanya jual pempek saja, gorengan lainnya juga (biasanya dicampur dengan cuko). Pempek dekat Ramayana (ini lumayan enak, ikannya terasa) dan pempek Eddy samping Bank Syariah Mandiri enak dan lumayan mahal.
Sudah berkeliling dan merasakan pempek di daerah-daerah, rasanya enggak afdhol kalau enggak makan pempek langsung dari asalnya. Padahal kalau dilihat, jarak antara Kotabumi dan Palembang dapat dengan mudah ditempuh dengan kereta api, memakan waktu sekitar 6 jam. Tapi, baru setelah menikah saya berkesempatan berkunjung ke Palembang.
Tujuan utama saya ke Palembang tentu saja menikmati segala macam kuliner khasnya terutama pempek. Segala macam kedai pempek bertebaran di mana-mana. Dan ada beberapa yang memang direkomendasikan untuk dicoba.
Pagi saat pertama kali sampai di Stasiun Kertapati, kami sarapan Martabak Har terlebih dahulu. Sebelum siangnya ke hotel dan mencoba beberapa pempek. Martabak Har, salah satu makanan yang cukup melegenda juga di Palembang. Namun dari segi rasa, lidah saya kurang cocok untuk menikmatinya. Selesai sarapan Martabak Har, saya dan istri berjalan kaki menuju Masjid Agung yang tidak terlalu jauh dari keberadaan Martabak Har.
Kami mandi dulu di Masjid Agung, kebetulan ini salah satu masjid terbesar di Kota Palembang dan memiliki fasilitas yang cukup memadai. Beberapa kamar mandi tersedia dengan ketersediaan air yang cukup banyak. Selesai mandi, saya masuk masjid dan menyelesaikan sholat dhuha terlebih dahulu.
Kemudian kami melihat Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat) di seberang Masjid Agung, setelah itu ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin, sayang karena sedang tutup, saya tidak dapat masuk. Perjalanan saya lanjutkan menuju ke Sungai Musi. Wah, angin yang bertiup cukup kencang, air sungai yang mengayun, kapal-kapal besar maupun kecil yang melintas membuat kekaguman saya bertambah. Ah, indah dan mengagumkan.
Kembali bicara soal pempek, di pinggir Sungai Musi ini, ada beberapa perahu-perahu yang disematkan di pinggir sungai. Nah, menikmati pempek di sini dapat kamu lakukan saat sore hingga malam. Keindahan Jembatan Ampera kala malam sambil makan pempek di pinggir sungai di atas perahu yang terombang ambing akan menjadi momen yang begitu berkesan. Soal rasa pempek memang enggak seenak pempek yang populer yang ada di Kota Palembang, wajar saja sih, apalagi pempek di sini harganya sangat-sangat murah. Kalau menikmati bersama teman-teman sambil ngobrol tentang apa saja terkait dengan kehidupan, sepertinya seru dan asik. Selain pempek, kedai pempek-pempek di perahu-perahu menjual aneka makanan seperti tekwan, gorengan, mie goreng bahkan nasi goreng juga dijajakan.
Selain nikmatnya pempek di pinggiran Sungai Musi, kamu juga dapat menemukan pempek di Sentral Kampung Pempek, di Jalan Mujahidin 26 Ilir Palembang, enggak terlalu jauh dari Sungai Musi. Sepanjang jalan, aneka kedai pempek berjajar rapi dan membuat saya menelan ludah. Salah satu kedai pempek yang direkomendasikan di sekitar jalan ini adalah Pempek Lala.
Saat saya mengunjungi kedai Pempek Lala, suasana di dalam kedai begitu ramai. Banyak orang yang datang untuk menikmati pempek di tempat dan banyak juga yang memesan pempek untuk dibawa pulang dan dijadikan oleh-oleh. Saking ramainya, ketika awal datang, saya agak susah mendapatkan tempat duduk.
Di kedai Pempek Lala ini, saya memesan beberapa jenis pempek. Yang lumayan jadi perhatian saya adalah lenggang bakar yang sedang dibakar dengan menggunakan alas daun pisang. Terus terang, saya baru melihat penampakan lenggang bakar ini. Soal rasa, pempek di kedai ini enak dan terasa ikannya. Harga juga bersahabat, satu pempek dihargai Rp.1.500,-, harga normalnya biasanya seribu rupiah. Saya datang saat liburan lebaran Idul Fitri, sehingga bahan dasar ikan gabus yang digunakan harganya masih tinggi. Selain pempek, kedai Pempek Lala juga menjual tekwan, es kacang merah, lenggang goreng dan bakar, kue srikaya yang sudah tersedia di atas meja. 
Pempek lemak nian
Saat berkunjung ke Palembang, saya mengunjungi beberapa kedai pempek yang lumayan terkenal di luar Palembang. Selain kedai Pempek Lala, saya berkunjung ke kedai Pempek Candy. Sepertinya orang Indonesia kalau pergi ke Palembang akan berkunjung ke kedai ini. Sebelumnya saya juga berkunjung ke kedai Pempek Vico, Pempek Raden, dan beberapa kedai lainnya. Namun, saya terlanjur jatuh hati dengan Pempek Candy, bukan saja soal rasanya yang memang juara enaknya, namun pelayanannya yang berkelas.
Saat datang ke Pempek Candy di Jalan jenderal Sudirman Palembang. Saat masuk, kami disambut dengan senyum karyawan. Kemudian duduk dan kami diberi daftar menu dan memesan beberapa pempek, kacang merah, lenggang dan lainnya. Dari daftar menu, ada juga makanan berat seperti ikan patin, berbagai macam kerupuk dan camilan untuk oleh-oleh khas Palembang.
Soal rasa, ah.... ini adalah pempek kesukaan. Rasa ikannya terasa sekali, cukonya juga nikmat luar biasa. Ditambah kondisi restoran yang diatur begitu rapi dan berkelas. Soal pelayanan, di Pempek Candy ini karyawan ramah, pelayanan cepat.
Soal pengalaman buruk saat mencoba pempek, saat berkunjung ke Pempek Vico. Saat itu kondisi resto ramai. Saat masuk, saya mencari kursi yang kosong dan akhirnya mendapatkan. Pelayanan yang tidak ramah dan lama membuat saya kapok untuk datang lagi. Sebab bukan saja soal rasa saja tujuan kulineran dilakukan, banyak hal termasuk pelayanan.
Balik lagi ke pempek Candy, harga di restoran ini terjangkau. Per-satuan pempek bekisar di angka empat ribuan. Nah, kalau kalian sempat berkunjung ke Palembang, saya merekomendasikan Pempek Candy untuk dikunjungi.
***
Pempek adalah makanan khas dan legendaris dan sudah banyak didapatkan di daerah-daerah. Namun, mencobanya langsung di Palembang adalah keharusan terlebih buat kalian pecinta pempek.
Kalau orang Palembang bilang, “Makan pempek di palembang, lemak niaaan!” Yuuk ah ke Palembang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Me Time Bersama Zea

“Aku jatuh cinta 'Tuk kesekian kali Baru kali ini kurasakan Cinta sesungguhnya” (Lagu Cinta - Dewa 19) Lebay sih kayaknya...