Halaman

Kamis, 07 Maret 2019

Manggulu: Makanan Khas Sumba Timur

Kuliner Khas Timur Mangga

Setiap melakukan sebuah perjalanan, pasti ada hal-hal yang menarik perhatianku. Entah itu, pemandangan alam yang menakjubkan, makanan yang khas, orang-orang yang ramah dengan logat bahasa yang berbeda dan hal-hal menarik lainnya. Kejadian-kejadian menarik ini biasa aku temui di setiap perjalanan, tak terkecuali saat berkunjung ke Pulau Sumba.
Pulau Sumba adalah pulau yang terletak di bagian selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hati-hati jangan sampai tertukar dengan pulau yang namanya mirip yaitu Pulau Sumbawa. Ada kejadian lucu saat aku update status whatsapp saat berkunjung ke Pulau Sumba. Beberapa teman langsung japri...
“Fan.... bawain madu hutannya ya!”
“Fan.... jangan lupa bawa susu kuda liarnya!”
Aku awalnya bingung gitu. Kok madu sama susu kuda liar ya? Emang sih, di Sumba banyak juga kuda liarnya tapi enggak diambil susunya juga. Setelah berpikir sejenak baru aku tahu, kalau yang dimaksud itu adalah Pulau Sumbawa. Aku pun langusng menjawab....
“Itu di Pulau Sumbawa. Pulau Sumba dengan Pulau Sumbawa itu beda, Pulau Sumba ada di Nusa Tenggara Timur sedangkan Pulau Sumbawa ada di Nusa Tenggara Barat.”
Beberapa teman yang aku beri jawaban tentang Sumbawa tertawa. Dan tidak jadi memesan apa yang mereka tulis.
Perjalanan ke Sumba harus ditempuh dengan naik dua kali pesawat dalam hari yang sama.  Kebetulan daerah di Pulau Sumba yang aku kunjungi adalah Kabupaten Sumba Timur. Dari Jakarta aku naik pesawat Batik Air yang terkoneksi dengan pesawat kecil Wings Air.  Sebelum menuju ke Kota Waingapu Sumba Timur, aku terlebih dahulu transit ke Denpasar Bali dengan menaiki Batik Air, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat kecil Wings Air menuju ke Sumba Timur. Sekitar dua jam perjalanan dari Bandar Ngruah Rai ke Bandara Umbu Mehang Kunda, Kota Waingapu. Lumayan melelahkan tapi seru banget. Apalagi saat akan mendarat di Sumba, bukit-bukit khas Sumba yang dijuluki Negeri Seribu Bukit terlihat jelas. Saat muism kemarau bukit-bukit tersebut akan berwarna cokelat, kalau saat musim hijau bukit-bukit itu akan berwarna hijau segar. Menakjubkan.
Selain bukit-bukitnya yang eksotis, Sumba juga dikenal dengan pantai-pantainya yang indah. Saat mengunjungi sebuah sekolah di utara Sumba Timur, aku sempat mampir di Pantaai Purkambera. Pasirnya yang putih bersih kemudian warna air lautnya yang hijau toska dan biru membuat pantai ini patut untuk dikunjungi. Pantai ini juga tidak terlalu ramai, malah bisa dibilang sepi, seperti pantai yang tidak berpenghuni. Makanya kalau liburan di pantai ini, berasa pantai milik sendiri.
Aku menyempatkan berkunjung ke beberapa tempat di pedesaan di sana. Kalau sedang musim penghujan banyak buah-buahan yang bisa dinikmati buah nona (srikaya), buah pisang, pepaya, sirsak dan beberapa buah lain. Tanaman palawija seperti jagung dan kacang tanah juga ditanam ketika musim penghujan tiba. Di pasar-pasar tradisional di pinggir jalan, pasar sederhana yang terdiri dari bilik-bilik papan menjual buah-buahan tersebut di dalam plastik. Buah nona (srikaya) misalnya, satu plastik dengan jumlah sekitar 6 hingga delapan buah dijual dengan harga lima ribu rupiah. Murah sekai bukan?
Bicara soal musim penghujan, ada beberapa bahan pangan yang akan disimpan saat musim penghujan telah lewat dan berganti musim kemarau. Jagung dan kacang tanah mudah dikeringakan dan disimpan, namun beberapa bahan pangan seperti buah-buahan memiliki masa simpan yang tidak lama. Nah, melimpahnya pisang saat musimnya membuat masyarakat Sumba perlu memutar otak untuk membuat sebuah penganan yang dapat dikonsumsi tidak hanya saat melimpahnya bahan pangan namun juga saat-saat tertentu.
Hampir semua daerah di Indonesia tumbuh beraneka ragam jenis pisang. Penganan pisang pun kini semakin beragam dan digemari. Pisang tak lagi menjelma sebagai buah yang dimakan seperti biasa atau dibuat penganan pisang goreng. Di Lampung contohnya, keripik pisang cokelat menjadi kekhasan dan oleh-oleh. Di beberapa tempat bolu yang berbahan dasar pisang juga menjadi penganan oleh-oleh.
Manggulu adalah makanan khas daerah Sumba Timur yang berbahan dasar pisang. Walaupun makanan khas Sumba Timur ini belum tren tapi di toko oleh-oleh di Waingapu, makanan khas ini sudah dijual.
Jika dilihat sekilas, manggulu ini seperti dodol. Rasanya juga manis sekali dengan aroma pisang yang khas. Beberapa kali berbincang dengan orang Sumba, manggulu ini adalah penganan yang dimakan untuk mendampingi minum kopi atau teh.
Bahan dalam membuat manggulu tidak hanya buah pisang, ada jug kacang tanah sebagai bahan campuran. Berasa kan kalau pisang ketemu kacang, pasti juara enaknya. Apalagi kalau ditambah cokelat, wuih... tambah nikmat yang tidak terkira. Sayangnya, Sumba Timur bukan daerah penghasil cokelat. Tapi makan manggulu saja sudah enak.
Membuat manggulu sebenarnya tidaklah sulit. Aku dapat resepnya dari orang Sumba asli. Pertama bahan yang harus disiapkan adalah pisang dan kacang tanah. bahan lain yang juga disiapkan adalah gula merah.  Sedangkan alat yang dipakai adalah tampah untuk menjemur, panci untuk mengukus dan alat tumbuk, kalau di Sumba dan di daerah-daerah biasanya menggunakan lesung.
Sebelumnya pisang yang sudah masak dijemur dulu, seperti membuat pisang sale. Pisang dijemur hingga tiga hari. Pisang yang sudah seperti sale kemudian dikukus dan ditumbuk sampai hancur bersama gula merah. Kacang tanah yang sudah dipisahkan dari kulitnya dijemur terlebih dahulu lalu digoreng tanpa minyak dan ditumbuk hingga hancur. Nah, pisang, gula merah dan kacang tanah yang sudah dtumbuk tadi dicampur jadi satu. Kemudian dibentuk memanjang.
Kalau manggulu yang sudah dijual biasanya dibentuk sepertu dodol garut. Kalau dibungkus dengan kulit jagung yang sudah dikeringkan, efek tradisionalnya pasti akan makin kuat.
Seperti yang tadi aku bilang, manggulu ini enaknya dimakan ditemani dengan segelas kopi atau segelas teh sambil berbincang dengan teman atau tetangga. Dibawa ke kebun atau ladang sebagai penganan saat istirahat juga enak.
Mungkin, manggulu enggak sepopuler penganan lain yang ada di daerah-daerah di Indonesia seperti pempek, batagor, siomay, aneka kue manis seperti bugis, nagasari, lupis dan makanan khas lainnya. Kalau lihat cara membuatnya yang enggak terlalu ribet bisa dicoba juga.
Kalau lihat maraknya gempuran makanan dari luar negeri seperti pizza, kue-kue manis yang muncul di era kekinian, rasanya tugas kita bareng-bareng untuk terus melestarikan penganan tradisional agar tidak sekadar cerita untuk anak cucu.
Karena aku seorang guru, ada baiknya pendidikan di daerah-daerah mengutamakan kekhasan lokal sebagai bahan pembelajaran. Membuat manggulu dapat dijadikan bahan ajar yang menarik untuk peserta didik. Anak-anak tidak saja tahu cara membuatnya, namun juga mengenal dan paham bahwa manggulu adalah makanan khas daerahnya yang tidak kalah dengan dodol garut mislanya. Atau tidak kalah dengan makanan dari luar negeri.
Semoga banyak generasi kita yang akan terus melestarikan makanan tradisional di tengah gempuran era digital seperti sekarang. Semoga saja!

1 komentar: