Senin, 19 Agustus 2019

Menjelajah Palembang: Menikmati Martabak Har hingga Bersantai di Sungai Musi


Kereta dari Stasiun Kotabumi melaju ke Stasiun Kertapati Palembang. Saya tidak ingat persis , kereta berhenti di berapa stasiun karena malam makin beranjak. Saya terlelap hingga adzan subuh lamat lamat terdengar dari telepon genggam istri.

Pukul tujuh kurang, kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Kertapati.  Saat turun, hati saya begitu riang berbunga-bunga. Bayangkan, setelah melanglang ke berbagai daerah di Indonesia dari barat hingga timur. Kota Palembang belum saya jamah sekalipun, padahal secara jarak, antara Palembang dan Kotabumi terbilang tidak jauh, apalagi akses transportasi yang dapat dijangkau melalui kereta sudah ada sejak tahun 90-an.
Stasiun Kertapati
Stasiun Kertapati, Palembang

Kalau menginjakkan kaki ke Sumatera Selatan, saya sudah pernah beberapa kali menjajak. Sebelumnya, saat adik laki-laki saya berhasil menjadi tentara dan pengukuhan serta penempatan. Kami sekeluarga berkesempatan mengunjungi Sumatera Selatan, namun hanya sampai Lahat dan Baturaja, tidak sampai Palembang.

Saya dan istri keluar dari gedung stasiun. Stasiun Kertapati terlihat rapi meskipun ratusan orang hingga ribuan orang singgah dan menggunakan stasiun ini untuk melakukan perjalanan ke Lampung atau arah Lubuklinggau. Untuk fasilitas, stasiun ini tidak berbeda jauh dengan stasiun kereta api yang ada di Pulau Jawa.
***

“Aku pengen jualan pempek!” jawab istri saat saya tanya, kira-kira bisnis apa yang mau dijalankan saat stand by di rumah setelah kegiatan kursus menjahitnya vakum beberapa bulan ini.

Saya mengangguk.

“Nanti, saat mudik lebaran, aku belajar pempek sama sepupuku,” lanjut istri. “Kebetulan, beliau jago buat pempek.”

Saya  kembali mengangguk. Untuk urusan membuat pempek, saya lumayan mengerti karena beberapa kali pernah membuat. Namun kalau dibilang ahli masih jauh sekali sebab keahlian membuat pempek kudu dilatih setiap hari agar makin mahir teknik membuatnya.

“Bagaimana kalau kita sekalian kunjungan ke Palembang,” jawab saya tiba-tiba. “Ya, hitung-hitung honeymoon season berikutnya,” lanjut saya sembari tersenyum. Sebelum istri menjawab, telepon genggam di tangan saya sudah mengklik aplikasi pemesanan tiket dan booking hotel.

“Setuju!” jawab istri.

“Kalau mau berbisnis pempek, kita perlu tahu pempek-pempek di Palembang yang enak dan favorit,” balas saya. “Harus dicari analisa mulai dari rasa, bahan baku hingga branding produk,” lanjut saya sok seperti pengusaha sungguhan. Padahal selain memang ingin tahu rasa pempek dari kota asalnya, tujuan lainnya adalah sekalian liburan dan kulineran ha...ha...ha...
***
Biasanya sebelum melakukan perjalanan, saya akan merencanakan sebaik mungkin agar perjalanan lebih efektif dan efisien. Misalnya meng-arrange berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk transportasi dan akomodasi seperti biaya makan dan hotel. Menentukan destini wisata satu tempat dengan tempat lain dengan memerhatikan jarak dan waktu.

Nah, saat menentukan perjalanan ke Palembang. Ada tiga pilihan kelas dalam kereta yaitu kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif. Harganya juga berbeda jauh, kelas ekonomi berkisar 40 ribu rupiah, sedangkan kelas bisnis berkisar 150 ribu sedangkan kelas eksekutif 180 ribu hingga 200 ribu.

Awalnya saya dan istri memilih untuk mengambil kelas ekonomi karena niat ke Palembang juga untuk backpackeran. Namun, tiket kelas ekonomi beberapa hari pasca lebaran ludes hingga beberapa minggu berikutnya. Ya sudah, pilihan ada di kelas bisnis untuk berangkat dan kelas eksekutif untuk pulang.
***

“Kita sarapan di mana?” tanya istri.

Aku diam sejenak. “Destini pertama kita makan Martabak Har,” jawabku. Istriku mengangguk seraya tersenyum.

Transportasi yang kami gunakan adalah transportasi online. Selain praktis, menggunakan ojek online akan memudahkan dalam mencapai tujuan dengan harga yang tidak mengada-ada kecuali di jam sibuk pada tempat yang sibuk.

Martabak Har
Sebelum saya berkunjung ke Martabak Har, saya sudah terlebih dahulu mencari di Gmap. Terdapat di Jalan Sudirman, Martabak Har ini adalah sejenis martabak telur dengan bumbu kari.

Jujur ya ini pertama kalinya saya mencoba martabak dengan bumbu kari. Potongan martabak dengan dicocol ke dalam kari jadi pilihan rasa yang unik dan nikmat tentunya. Walaupun (saya harus jujur lagi), perpaduan antara martabak dan kari ini agak asing di lidahku. Tapi buat pecinta martabak dan kari, kalau ke Palembang musti cobain Martabak Har ini.

Martabak har

Martabak Har

Harga per-porsi martabak ini berkisar antara 18 ribuan. Kami memesan dua porsi dan teh manis. Tidak sampai habis 50ribuan untuk sarapan nikmat dan unik pada pagi di Palembang.

Masjid Agung Palembang
Selesai makan martabak, perjalanan saya dan istri dilanjutkan untuk istirahat dan bebersih diri. Dan pilihan kami adalah Masjid Agung Palembang yang ternyata letaknya tidak jauh dari lokasi Martabak Han.

Masjid Agung di Palembang

Masjid Agung Palembang

Saya numpang mandi di masjid ini, masjid yang terlihat begitu megah dan luas ini terlihat bersih dan rapi. Kamar mandinya pun lumayan banyak sehingga banyak juga warga atau orang-orang yang berkunjung singgah untuk beribadah dan numpang bersih bersih.
Selesai mandi, saya dan istri istirahat sejenak sembari menunggu sholat dzhuhur.

Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)
Selesai sholat dzuhur, saya menuju ke selatan. Tepat di samping Masjid Agung Palembang terdapat sebuah monumen yaitu Monpera, Monumen Perjuangan Rakyat. 

Di pinggir jalan tulisan Monpera sudah terlihat. Di sebelah kanan dan kiri terdapat tank tempur yang didisplay. Nah dari beberapa literatur yang saya baca, Monpera ini adalah monumen yang dibuat untuk memperingati pertempuran yang sempat terjadi di tahun 1946 dan 1947 di Palembang.



Bentuk Monpera ini seperti bunga melati yang melambangkan kesucian hati dari para pejuang.

Oh ya, ada yang menarik di belakang monumen ini. Ada tulisan “Lebih baik hancur pada debu kemerdekaan daripada dijajah. Patah tumbuh hilang berganti”.  Nah, kalimat terakhir ini jadi mengingatkan pada lirik lagu band musik Banda Niera yang salah satu personilnya adalah Rara Sekar, kakak penyanyi Isyana Sarasvati.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
Nah, tidka jauh dari Monpera terdapat Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Sayang saat akan singgah dan masuk, museum ini sedang dalam tahap renovasi.Saya dan istri hanya melakukan foto foto di depan museum.


Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Sungai Musi
Gagal ke museum tidak membuat hati saya kecewa sebab tepat di depan museum ada salah satu icon dari Kota Palembang khususnya dan Sumatera Selatan pada umumnya. Yap, salah satu sungai terbesar di Sumatera ini menjadi pelipur dan penambah kebahagiaan.

“Wah, Sungai Musi...,” ucapku sumringah. Istriku pun ikut sumringah.

Angin berhembus kencang meniup syal di leherku dan tentu saja menggerak-gerakkan kerudung istriku. 

Di pinggiran Sungai Musi ini sudah dibuat rapi dan benar-benar asik buat bersantai. Beberapa tempat duduk dan taman tersedia di sini. Nyaman sekali. Kalau lapar, jangan khawatir banyak penjaja makanan. Karena saya datang masih siang, penjaja makanan belum lah terlalu banyak. Tunggu kala senja tiba. Dijamin...

Kami kembali melakukan foto di pinggir Sungai Musi dengan background Jembatan Ampera yang juga menjadi salah satu icon dari Kota Palembang. Bagi saya bercengkerama dengan orang yang dicintai dengan melihat dunia yang berbeda adalah bintang lima (istilah bagi saya untuk rating dalam memaknai sesuatu).
Jembatan Ampera Palembang
Sungai Musi dan Jembatan Ampera, Palembang


Sayang, di pinggiran Sungai Musi perbatasan yang masih masuk ke daratan. Sampah plastik bekas makanan ringan dan botol botol bekas minuman berserakan di mana-mana membuat keindahan Sungai Musi. 

Kesadaran membuang sampah di beberapa daerah Indonesia memang masih menjadi PR. Perlu banyak pihak yang membenahi ini semua termasuk dalam pembenahan sistem pendidikan kita. Ah, jadi ngelantur saya ha..ha... tapi gregetan saja kalau lihat sampah di mana-mana, apalagi di tempat wisata sekeren ini.

Sekitar pukul dua siang, saya dan istri meninggalkan Sungai Musi menuju ke hotel. Istirahat sebentar sebelum menjelajah Palembang lebih dalam lagi.

13 komentar:

  1. Seru banget perjalanannya, berjalan ke tempat khas dan juga sekalian kuliner, Jadi lapar membaca review mengenai martabak Har, karna aku juga pernah coba tapi bukan di Palembang, martabak Har khas orang India karna memakai kuah kari.

    BalasHapus
  2. Dulu saya pernah tgl di salah satu kabupaten di prov jambi.
    Lumayan lama.
    Tapi entah kenapa gak pernah sekalipun menjelajah sumatera selatan, kecuali lewat aja pas mau balik ke bandung by bus.

    Selalu mainnya ke arah sumbar.

    BalasHapus
  3. Jadi mupeng ke Palembang dan lapeer lihat Martabak Har. Ini terkenal bangets ya..saya susah pernah makan juga. Endeeuss bener!
    Dan sama, paling sebel juga dengan sampah di tempat wisata. Jadi kurang nyaman deh jalan-jalannya...hiks

    BalasHapus
  4. Waduh saya juga mupeng ingin ke Palembang. Ditambah lagi pergi sama orang tersayang ya, semakin ingin hahaha

    Seru ini ya buat liburan singkat. Kadang perlu juga pergi ke tempat yang deket2 saja hehe

    BalasHapus
  5. wuah bulan depan saya insyaALlah ke palembang mengunjungi kerabat yang menikah. ulasan mas nya bisa saya jadiin referensi nih. dulu sempat juga kepalembang beberapa kali tapi gak pernah tau ada makanan yang terkenal selain pempek nya. jadi pengen makan martabak har nya. makasih mas ulasannya informatif seklai

    BalasHapus
  6. Wah seru ya liburannya, apalagi sambil wisata kuliner. Liat foto martabak har aja langsung penasaran dengan rasanya. Denger-denger martabak har sama dengan martabak India ya mas?

    BalasHapus
  7. Martabak HAR Favoritku. Btw kalau di warung yang ga menyandang nama HAR, harga martabak telor ayamnya masih banyak yang 10 ribu lgo. Rasanya sama enaknya. Biasanya yang buka warung itu mantan karyawannya HAR juga.

    BalasHapus
  8. Saya itu sudah lama pengin ke Palembang, Mas Erfano. Soalnya banyak wisata terkenal, juga makanannya. Bahkan pas pesta olahraga kemarin, saya sudah ancang-ancang. Sayang ada urusan. Nah, saya juga penasaran dengan martabak Har ini. Soalnya sejak kecil sudah baca ceritanya di majalah Bobo

    BalasHapus
  9. ini siy martabak juaranya, emg top banget rasanya, udah jadi makanan khas juga di samping pempeknya

    BalasHapus
  10. Oh ternyata selain pempek, kulineran lainnya yang direkomendasikan adalah Martabak Har itu ya mas?
    Aku blm pernah ke Palembang haha pengen sekali ke sana. Noted sama beberapa lokasi wisatanya, terutama di sunga Musi deket jembatan Ampera itu ya, itu icon Palembang banget dan mesti poto2 di sana :D

    BalasHapus
  11. Martabak bumbu kari pasti sedap sekali... Saya suka martabak telur seperti ini. Tapi biasanya dimakan pakai saus cuka... Btw smg lancar bisnis pempeknya yaa...

    BalasHapus
  12. asyik banget pasti liburannya, btw itu sungai musi yang terkenal itu kan yak ? :D

    BalasHapus
  13. Lebih baik hancur pada debu kemerdekaan daripada dijajah. Patah tumbuh hilang berganti. Wah dalam sekali makna nya

    BalasHapus

Padang Rumput Savana di Puru Kambera, Sumba.

Pergi ke Sumba tentunya menjadi salah satu impian seseorang. Ya, meski nggak semua orang juga tentunya. Seperti yang sudah tersebar di medi...