Kamis, 03 Oktober 2019

Tukang Parkir


Ada banyak kisah menarik dalam keseharian yang aku temui. Salah satunya yang menarik bagiku adalah keberadaan tukang parkir.
***

Menjelang magrib, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu minimarket yang merebak hampir di banyak tempat di Bogor. Motor aku parkir di depan minimarket. Halaman minimarket terlihat lumayan sepi, hanya beberapa motor yang terparkir dan sesekali orang yang keluar dari minimarket.

Dalam hati aku berbisik, “Tumben, enggak ada tukang parkir.” Biasanya tukang parkir sudah siap siaga meniupkan peluitnya saja.  Ini masih bagus kalau meniupkan peluit. Biasanya tukang parkir duduk duduk santuy di pinggir halaman minimarket sambil ngopi dan merokok.

Usai memarkirkan motor, aku masuk minimarket. Membeli beberapa barang pesanan orang rumah. Selesai membayar di kasir, aku melenggang keluar minimarket menuju parkiran. Aku merogoh kantong celana mengambil kunci motor lantas menghidupkan motor. Baru hitungan detik menghidupkan motor, sosok bayangan tiba-tiba muncul di belakang motorku. Aku menoleh, wajahnya enggak aku kenal namun jika dilihat ciri-cirinya dia adalah tukang parkir versi hantu. Yang ketika kita datang tak tampak namun muncul tiba-tiba saat kita akan keluar.

“Oow! Tukang parkir tiba-tiba muncul,” ucapku dalam hati. Aku tidak kalah cerdik. Usai menghidupkan motor aku langsung meninggalkan minimarket tanpa menghiraukan kehadiran tukang parkir hantu itu.

Lain cerita di minimarket, kali ini aku mengunjungi sebuah ruko di Bogor Utara untuk membeli camilan berkemasan. Karena sudah biasa belanja di tempat itu, aku tahu ada tukang parkir yang biasanya nongkrong di pinggir sambil “hanya” meniupkan pluit saktinya ketika motor datang. Kalau ada mobil, tukang parkir itu akan meniupkan pluit sembari mengarahkan tempat yang kosong kemudian kembali duduk. Lantas begitu sibuk ketika ada motor dan mobil yang akan keluar.

Cerita tentang tukang parkir versiku belum usai, siang itu aku mengunjungi salah satu toko khusus untuk interior rumah. Begitu masuk ke halaman toko, tukang parkir yang awalnya duduk bergegas berdiri untuk mengarahkan motorku menuju parkiran khusus motor. Sepanjang parkiran, motor tersusun rapi dengan kardus yang melindungi badan motor.

Usai belanja, aku kembali ke parkiran dan menemui motorku yang joknya sudah ditutup dengan kardus. Siang itu cuacanya memang begitu terik dan menutup motor dengan kardus adalah hal yang tepat. Setelah memberikan uang untuk parkiran aku bergegas kembali ke rumah. Tukang parkir kali ini masih sangat sangat mending dibandingkan dua tukang parkir sebelumnya.

Dari sekian banyak tukang parkir yang aku temui. Ada satu tukang parkir yang keren menurutku. Tukang parkir di pasar dekat rumahku, Pasar Ciluar.

Tampangnya yang tinggi besar membuat orang yang pertama kali melihat sosoknya berasa melihat “preman”. Tapi ketika berinteraksi, keramahan tukang parkir ini akan terpancar.

Aku berkunjung ke pasar intensitasnya bisa seminggu tiga hingga empat kali dan selalu parkir di tukang parkir itu (maklum tukang dagang). Yang aku suka, setiap kali kita datang, dia langsung menghampiri dan membantu memarkirkan motor. Kadang beberapa motor yang datang, ia ambil alih untuk memarkirkan kemudian kunci motor diserahkan kepada pemiliknya. Sepanjang pengamatan saya, tukang parkir ini benar-benar menjaga motor-motor di lahan parkirnya.

Selesai berbelanja, aku menuju parkiran. Tukang parkir itu langsung bergegas menghampiri kemudian meminta kunci dan mengeluarkan motor kita dari barisan motor menuju jalan. Atau jika kita sudah terlanjur mengeluarkan motor, tukang parkir tersebut akan menarik belakang motor dan mengarahkan menuju ke jalan.

Satu hal yang membuat saya semakin respek dengan tukang parkir ini, setiap kita memberikan uang untuk jasa parkir. Ia akan mengucapkan terima kasih dengan begitu tulus seolah uang dua ribu yang kita berikan benar-benar berharga.  

“Hatur nuhun, kang,” ucapnya sembari menerima uang yang kita beri. “Punten, ya!” lanjutnya lagi meminta maaf jika ada yang kurang berkenan.

Bagiku dan mungkin bagi yang lain, memberikan uang yang mungkin tidak seberapa bagi tukang parkir itu rasanya masih kurang karena pelayanan dan keramahannya. Berbeda dengan tukang parkir sebelumnya (yang kebanyakan di minimarket) memberikan uang parkiran rasanya berat sekali karena tidak sebanding dengan apa yang telah ia lakukan.
***

Tukang parkir. Sepertinya “profesi” satu ini sudah kerap ditemui di mana-mana: di pasar, di pertokoan, restauran dan pastinya di tempat dimana sumber keramaian berada. Memang sih tukang parkir ini terkesan ilegal karena beberapa pertokoan seperti minimarket memang tidak menyediakan tukang parkir.


Jujur ya! Bagiku, tidak jadi soal keberadaan tukang parkir ini karena membantu sekali dalam urusan parkir kendaraan. Tapi seperti beberapa cerita di awal, tukang parkir ini jatuhnya malah terkesan malak. Persis kayak preman yang datang tiba-tiba terus menyodorkan tangannya tanpa mau bersusah payah.

Sebenarnya jika tukang parkir itu melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati, seperti tukang parkir di Pasar Ciluar niscaya uang yang dihasilkan akan berkah dan bermanfaat karena yang memberikan pastinya ikhlas dan tidak keberatan.

Aku sempat iseng menghitung, uang yang dihasilkan tukang parkir ini. Bayangkan saja, jika dalam waktu sejam ada 10 motor yang parkir kalikan saja dengan uang 2ribu, sejam tukang parkir akan dapat uang 20 ribu. Dan 20 ribu dikali 10 jam, tukang parkir bisa dapat 200ribu. Kalau sebulan, tukang parkir “bertugas” selama 25 hari, lima juta per bulan sudah ia genggam. Kalah dong gaji guru seperti saya ha..ha...ha... Makanya jangan heran jika kasus rebutan lahan parkir ini masih kerap terdengar antar ormas satu dengan ormas yang lain.

Sepanjang pengamatanku mengamati tukang parkir di pasar, dua hingga tiga ratus ribu rupiah ia kantongi dalam sehari dan dia dapatkan itu setiap hari karena karena pasar beroperasi setiap hari dari pagi hingga siang. Makanya melihat potensi yang tidak main-main, tukang parkir berperawakan tinggi besar itu benar-benar melakukannya sepenuh hati. Walau sepertinya bukan itu juga alasannya, banyak faktor juga kenapa tukang parkir di pasar itu benar-benar melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati.

Dari tukang parkir pasar dan tukang parkir lainnya, aku belajar banyak bagaimana melakukan profesi dengan sepenuh hati. Seorang guru sepertiku, jika melakukan profesi ini sepenuh hati, akan membuat murid dan orangtua merasa terpuaskan. Begitu juga dengan profesi seorang influencer, jika melakukan job yang datang dengan sepenuh hati pasti akan membuat client merasa puas dan tidak segan untuk “memakai” kita lagi. Seorang koki atau chef yang memasak dengan sepenuh hati, makanannya akan diterima dengan identitas rasa yang nikmat oleh pelanggannya. Jadi jangan heran, jika resep yang sama persis dengan bahan yang sama persis, tidak selamanya rasa yang diberikan akan sama.

Apapun itu lakukan pekerjaanmu dengan sepenuh hati, sebab sesuatu yang dilakukan dengan sepenuh hati akan diterima dengan hati.






20 komentar:

  1. Qiqiqiqiq, Kak Erfano sungguh pengamat yang super jeli dan detai!
    Drama tukang parkir emang terjadi di banyak tempat yhaaa
    sering bikin kzl emang
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  2. selain tukang parkir, ada satu lagi yang bener bikin kita geleng2, yakni pak ogah.

    Kalo seusia mas erfano tau donk ya pak ogah, wkwkwk

    Jalanan yang tadinya gak macet, sejak ada pak ogah malah jadi macet karena dia mendahulukan yang bayar. Weleh Weleh

    BalasHapus
  3. Ceritanya menarik, Mas Erfano. Dan saya pun hampir tiap hari bersinggungan dengan tukang parkir. Bahkan karena pergi ke beberapa tempat, saya berinteraksi dengan banyak tukang parkir hahaha.
    Dan tukang parkir memang beragam. Ada yang ramah, ada yang manyun juga. Nah, saya tandai mereka. yang Ramah, saya lebihin, yang manyun saya pas saja bayarnya sesuai standar hahaha.

    BalasHapus
  4. Wkwkwkkw.. Bener banget mas pic di atas. Sampe suamiku kadang geram. Bukan soal uang 2rbnya tapi ya kalau misal mau parkir kita gak ditotongin eh pas kita mau keluar, ppprrrriiittt.. langsung dekat

    BalasHapus
  5. Aku kalau ke bank gitu juga ada tukang parkir yang ramah banget saat disapa, mas
    Jadi begitu ada orng yg parkir mau ke bank, bapaknya langsung datang dan nawarin buat nata spedahnya
    Tapi kalau di pasar gitu kadang ya ada yg ramah, ada juga yg kurang gitu mas
    Etapi di pasar deket rumah aku, karena yg jadi tukang parkir tetangga ya grapyak aja tiap nyapa dan ga da dramanya, digojlokin iya, soalnya orangnya rame2 wkkwkwk

    BalasHapus
  6. Hehehe, saya paling kesel kalau mlipir ke mini market pagi-pagi, pas parkir nggak ada tukang parkir, begitu mau keluar ada peluit tukang parkir. Kesel, tapi tetep dikasih sih, niatnya sedekah hehehe

    BalasHapus
  7. Drama tukang parkir emang bikin emosi. Aku tuh sampe tobat gak mau lagi parkir di area pasar 16 Palembang. Karena mau dapet banyak, motor di susun kayak sarden, sengol kanan kiri. Alhasil motor lecet, spion goyang, tumpuan kaki motor pada lepas hadeh bikin emosi beneeer

    BalasHapus
  8. Klo di Medan ada tukang parkir perempuan, banyak malah.

    Dan pekerjaan i i lah yg tak bisa diemansipasiin sama wanita.

    Sebel aku tu sama tkg parkir emak2 ni.
    Cuma lambai2 tangan bilang "terus terus..." Tapi matanya entah liat kemana..
    Ada kendaraan lain yg lewat pun main 'terus terus' aja.

    Klo pas parkir trus terlihat kang parkirnya perempuan, awak cuma bisa inhale exhale aja lah

    BalasHapus
  9. Setuju banget tuh sama foto meme pertama diatas, kadang suka kesel kalondapet kang parkir setan ya tp tetap harus sabarrrr sbg org yg lebih berpendidikan. Hehehe

    BalasHapus
  10. Bener, suka esmosi saya kalo ga dibantu ngeluarin sepeda motor, iya kesannya malak gitu

    BalasHapus
  11. Aku suka kzl banget sama tukang parkir di Indomaret depan komplekku. Kek jailangkung aja..datang tak diundang. Mana dia pernah kulihat malakin kasirnya, Mas. Ambil minuman dingin terus keluar aja tanoa dosa. Duh.
    Sama, aku paling seneng kalau mudik Kediri terus ke pasar gitu, ada tukang parkirnya yang bilang maturnuwun dengan tulus bener padahal ongkos parkir 1000.
    Suka sama meme-nya

    BalasHapus
  12. Hahaha aku baca ini kok ngakak yac, super pengamat kak erfaro mah, sampai tukang parkir pun dia amati secara detail, bahkan sampai ngitung uang pun di amati dan di kaji.. top lah kak erfaro wkwkwkwk

    BalasHapus
  13. saya menemukan banyak tukang parkir yang baik
    ada yg jujur ketika hp ketinggalan di kocek motor...diantar ke dalam toko tempat saya belanja
    ada yang baik banget mau ambilkan nomor antrian rumah sakit
    ada yang ga mau minta uang parkir ketika dia tahu saya cuma sebentar di toko itu

    BalasHapus
  14. ada itu bang, video kocak soal tukang parkir. Kalau dia ninggalin motor maka bakalan ditagih bayar parkir, hahaa
    auto ingat video kocak itu setelah baca ini

    BalasHapus
  15. kalau saya sih mas pelajaran dari tukang parkir yang saya ambil yaitu belajar ikhlas dari kehilangan. karena kendaraan yang mereka jaga akhirnya akan diambil oleh si pemiliknya. sama seperti hidup. Harus ikhlas tiap kali kdan kapan saja allah atau sang pemiliknya mengambilnya dari kita.

    BalasHapus
  16. Sebel aku sama tukang parkir yg suka meres, apalagi uangnya buat diri sendiri. Gak rela aja ngasih uang buat dia, paling miris kalau anak kecil & ada tulisan Parkir Gratis, ugh

    BalasHapus
  17. Sy jg sebel tuh tukang parkir liar yg tiba2 nongol di belakng pas kita mau kluar sambil narik2 jok blkng motor. Pdhl cm k atm.doank lgs di pluitin

    BalasHapus
  18. Wkwkwkwk aku juga kadang sebel tuh sama tukang parkir yang tiba tiba ada pas kita baru nangkring di atas motor setelah selesai urusan. Sama kayak kakak, aku biasa nya gak pernah ngasih biarin ngedumel itu tukang parkirnya .

    Tapi kalau kang parkirnya ramah , baik , di tutupin kerdus motornya biar gak panas pasti berkesan di hati . Ngasih duitnya jadi ikhlas 😁

    BalasHapus
  19. Tukang parkir memang kadang ada yang nyebelin dan ada yang baik juga mas. Sebagai pengguna motor, aku sering ngerasain nih. Dan setuju sekali apapun profesi yang dijalani, kalo dijalani dengan sepenuh hati, orang lain pun akan menghargai dan merasa dihargai.

    BalasHapus
  20. Sama dong kak, aku juga sebel kalau tukang parkir hantu. Nak duitnya aja tapi gak mau kerja, kesel banget

    BalasHapus