Mengejar Kuda Liar di Padang Rumput Savana, Sumba


Barangkali ini tulisan kesekian kalinya tentang Sumba. Daya pikat pulau di Nusa Tenggara Timur ini sepertinya tidak ada habisnya. Selalu terkenang di benak. Terekam indah di pikiran.

Tepat dua tahun lalu, saya menjelajah keindahan pulau ini. Menikmati senja di pantai-pantai nan eksotis. Memanjakan mata pada bukit bukitnya yang berundak-undak. Menikmati ikan bakar di warung makan pinggir pelabuhan. Atau berswa foto di padang rumput yang mana warnanya akan berganti, mengikuti musim. 

Ada satu moment yang tidak akan saya lupakan begitu saja. Moment di mana saya berlari larian di Padang Rumput Savana, mengejar kuda liar milik warga yang dilepas begitu saja.,  Bebas….

Saat itu matahari mulai beranjak ke barat, saatnya kembali ke penginapan. Mobil yang kami tumpangi menjelajah jalanan sunyi utara Sumba. Sepanjang jalan, bukit berundak-undak dan padang rumput menjadi teman perjalanan yang syahdu sekaligus menakjubkan.


Sesekali mobil berhenti, kali ini mata akan dimanjakan pada hewan-hewan peliharaan yang bebas berkeliaran di jalanan. Ada kambing yang sedang asyik menikmati rerumputan, walau tidak semuanya, karena bagi kambing yang sudah kenyang ia akan dengan santainya tidur di jalan. Tak hanya kambing, sepanjang jalan hewan seperti babi, sapi hingga kuda akan mudah sekali ditemui.

Mobil kami berhenti di Padang Rumput Savana yang luasnya berpuluh kali lipat lapangan sepakbola. Tak ada rumah penduduk. Sepanjang mata memandang, hanya akan terlihat padang rumput dan bukit bukit serta panjangnya jalanan yang lengang.

Saya turun mengambil kamera dan siap mengabadikan moment. Saya menghadap utara melihat lepas padamg rumput, dari kejauhan terlihat lautan yang membiru. Bayang Pulau Flores pun terlihat samar.

Saya mengarahkan mata di sisi barat, melihat matahari yang mulai mengumpulkan semburat jingga. Di padang rumput sebelah barat itu terlihat gerombolan sapi. Ingin rasanya menjangkau namun jaraklah yang membatasi.

Saya mulai melangkah masuk ke dalam padang rumput. Bunga bunga liar yang tumbuh saat musim penghujan membuat padang rumput terlihat indah. Saya pun berswa foto.

Sedang asik berpose, tiba-tiba terdengar ringkihan kuda liar. Dari tempat saya berdiri, kuda-kuda liar terlihat bergerombol menikmati rerumputan. Tanpa berpikir panjang, saya mendekati kuda kuda liar itu. Namun sepertinya mereka tahu kedatangan manusia. Kuda kuda tersebut berjalan menghindar. Menjauh.

Saya gregetan. Saya mendekati kuda kuda tersebut dengan langkah lebih cepat. Kuda-kuda yang masih awas kembali menghindar, menjauh. Lantas, saya berlari untuk melihat kuda kuda lebih dekat. Mengetahui didekati manusia dengan berlari kuda kuda liar tersebut tak tinggal diam. Kali ini kuda-kuda ikut berlari. Kandas sudah harapan saya. Tapi kekecewaan saya cukup terobati dengan hasil beberapa foto kuda tersebut.

Nafas saya cukup tersengal sengal. Rupanya saya melangkah cukup jauh dari jalanan. Saya perlahan berjalan untuk kembali ke pinggir jalan. Saya baru sadar, permukaan tanah tempat rumput tumbuh bukanlah tanah biasa.  Permukaan tanah terdiri dari batu batu karang yang sudah melapuk meski belum semuanya melapuk.

Saya kembali ke padang rumput yang dipenuhi bunga bunga liar yang terlihat indah. Matahari belumlah tenggelam, kami kembali mengabadikan moment indah sore ini dengan berfoto.

Suasana tambah epik ketika salah satu teman perjalanan menemukan kayu panjang serupa tongkat. Ditambah dengan kain tenun khas Sumba, yang memang sudah dipersiapkan sedar awal. Atribut atribut yang ada tersebut membuat foto semakin epik.

Saat di foto dengan menggunakan kain tenun lalu memegang tongkat saya jadi teringat dengan adegan adegan di Film Pendekar Tongkat Mas. Film yang disutradarai sineas Riri Reza ini dibintangi deretan para pemain yang mumpuni di bidangnya, sebut saja Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Eva Celia, Tara Baso, dan Christine Hakim. Latar tempatnya pun pas Pulau Sumba.

Saya jadi teringat hari sebelumnya. Saat bersama orang lokal dalam satu mobil dan melewati beberapa tempat, ia akan menjelaskan dengan gamblang beberapa film yang mengambil latar Sumba.

“Di sini salah satu lokasi syuting Film Pendekar Tongkat Mas,” jelasnya saat mobil yang kami naiki melewati padang rumput dan jurang yang ditumbuhi pohon pohon besar.

Atau…
“Pantai ini menjadi salah satu tempat syuting Film Susah Sinyal,” jelasnya dengan rona semangat ketika kami mampir sejenak di Pantai Walakiri.

Atau…
“Jalanan dan bukit di atas sana, tempat di mana Marlina berjalan sembari membawa kepala perampok yang ia penggal” ucapnya dengan wajah berseri-seri.

Saya kembali berpose ala ala pendekar. Sungguh, bagi saya itu adalah moment indah. Lebih epik lagi jika kuda liar mendekati. Makin membuncah rasa bahagia.

Senja mulai memudar, semburat jingga perlahan menghitam. Itu tandanya, kami harus menghentikan foto foto di padang rumput ini. 

Saya memasuki mobil untuk kembali ke penginapan. Rasanya masih belum puas menikmati padang rumput, mengejar kuda kuda liar yang menghindar, lantas berfoto dengan atribut selayaknya pendekar di film film. 

Namun, jika semua dilakukan berlebihan tanpa batas mungkin rasanya menjadi berbeda. Senja yang mulai padam menjadi pembatas agar rasa penasaran tak sepenuhnya lepas dalam pikiran. Untuk akhirnya, saya perlu kembali ke Sumba suatu hari nanti.

Semoga.












Tidak ada komentar

Posting Komentar