Senin, 11 Februari 2019

Lampu Sein



Lampu sein adalah
Beberapa waktu yang lalu saya sempat membahas tentang polisi tidur dan membagi tulisan tersebut di beberapa sosial media milik saya. Di akun facebook, diskusi mengenai polisi tidur lumayan menyita perhatian. Ternyata, “kegundahan” terkait dengan polisi tidur ini tidak hanya saya saja yang merasakan. Dari beberapa komentar yang masuk, ada yang merasa kesal dengan polisi tidur yang dibuat berlapis-lapis ketika memasuki perumahan tempat ia tinggal. Ada yang kesal dengan bentuk polisi tidur yang dibuat tanpa memikirkan pengguna jalan. Ada yang pernah menghitung jumlah polisi tidur dari sekolah anaknya hingga ke perumahan tempatnya tinggal. Ada beberapa komentar “nyeleneh” dan bilang kalau polisi tidur ada di kamarnya, sebab suaminya adalah polisi beneran yang lagi tidur ha... ha... ha....
Ada-ada saja. Namun apapun itu, perkara sederhana seperti  polisi tidur ternyata memang menarik untuk dibahas. Bagi saya sih lebih menarik ketimbang membahas soal debat presiden. Kubu satu merasa jagoannya yang menang debat. Kubu satu lagi merasa kubunya yang menang. Lumayan rame juga wara wiri pendukung kubu presiden berseliweran di lini masa sosial media saya.
Selain polisi tidur ada hal menarik yang kerap saya temukan ketika membawa kendaraan menuju tempat saya bekerja. Hal yang kadang buat emosi naik turun. Pernah beberapa kali adu mulut dengan pengendara lain gara-gara perkara ini.

Lampu Sein (baca: Lampu Sen)

Tahu lampu sein kan? Bacanya lampu sen (awalnya saya mengira tulisannya begini). Dari hasil penelususuran saya di beberapa literatur. Lampu sen dapat dijelaskan sebagai hal berikut...
Lampu sein merupakan salah satu komponen wajib dari sebuah kendaraan. Lampu sein berfungsi sebagai indikator pada kendaraan ketika berbelok yang dibuat dengan tujuan untuk mengurangi risiko kecelakaan. Lampu sein sekarang ini menjadi salah satu kelengkapan yang harus dimiliki oleh semua kendaraan. Lampu ini umumnya berwarna kuning yang akan menyala berkedip-kedip ketika dihidupkan. Dipiih warna kuning sebagai warna lampu sein karena warna kuning kelihatan dari jauh di siang hari atau pun malam hari. Selain itu ketika hujan warna kuning juga tetap dapat dilihat dengan jelas. (Sumber Wikipedia).
Jadi tercerahkanlah apa itu lampu sein dan kenapa berwarna kuning. Nah, bicara soal lampu sein, kadang kita suka geli sendiri melihat penggunaannya di jalan. Pernah saya temui, seorang emak-emak yang menghidupkan lampu sein ke kanan beloknya ke kiri dan itu terjadi tidak hanya satu kali. Rupanya meme yang beredar terkait emak-emak dan lampu sein itu benar adanya. Meskipun enggak 100% demikian, karena ada bapak-bapak juga melakukan hal yang sama. Hanya saja enggak sebanyak emak-emak he... he... he.... 
Ada juga pengendara motor yang menghidupkan lampu seinnya sesaat ketika akan berbelok. Jadi lumayan mengagetkan pengendara lain yang ada di belakangnya. Ada juga pengendara yang asal belok tanpa menghidupkan lampu sein padahal jika dilihat motornya masih bagus, mungkin lupa. Ada lagi pengendara yang lupa mematikan lampu sein yang dihidupkan sebelumnya, membingkungkan pengendara lain. Atau... pengendara yang tiba-tiba berhenti tanpa memberikan aba-aba lampu seinnya.
Saya mengalami beberapa kali terkait dengan penggunaan lampu sein. Pertama saat ada pameran di balai kota, saya mewakili sekolah untuk buka stan. Bersama rekan kerja, saya mengendarai mobil sekolah. Saat ada di belokan, lampu sein mobil sudah menyala dan memberi aba-aba untuk belok ke kanan, namun pengendara di belakang langsung “nyalip” dan tabarakan tidak terelakkan. Untung tidak terjadi apa-apa, hanya mobil sekolah yang sedikit penyok.
Satu lagi, saat saya mengendarai motor ke sekolah. Saya menghidupkan lampu sein ke kanan karena akan belok ke kanan ke jalan masuk sekolah. Tiba-tiba pengendara motor lain selonong boy dan tabarakan hampir saja terjadi. Dia menatap kesal ke arah saya. Adu mulut pun tidak dapat dihindari, namun dia merasa bersalah ketika saya menunjukkan lampu sein saya yang menyala dan memberi aba-aba ke kanan.
Banyak yang mungkin meremehkan penggunaan lampu sein ini. Padahal jika dilihat, salah satu penyebab kecelakaan adalah penggunaan lampu sein yang tidak tepat. Kasus tabrakan dari belakang merupakan  jenis kecelakaan paling banyak kedua (data dari Korlantas Polri tahun 2018. Kecelakaan bisa karena salah menyalakan lampu sein atau pengendara di belakang tidak teliti dalam melihat lampu sein.
Maka dari itu, terkait dengan penggunaan lampu sein ini, sudah seharusnya menjadi fokus kita bersama agar angka kecelakaan karena ketidaktepatan dalam penggunaan lampu sein dapat diminimalisir.

Sejarah Lampu Sein

Bicara tentang lampu sein ini, tidak terlepas dari sejarah. Munculnya mesin uap sebagai alat transportasi dan menggantikan tenaga kuda sebagai penariknya membuat para ahli seperti Henry Ford dan Gottlieb Daimler menciptakan kendaraan yang lebih canggih yaitu menggunakan mesin penggerak dan mobil berbahan bakar bensin. Penemuan-penemuan ini yang akhirnya membuat mobil menjadi kendaraan yang banyak diminati karena efisien dan cepat.
Namun, merebaknya mobil di jalanan membuat kecelakaan tidak dapat dihindari. Penyebabnya adalah berbeloknya mobil ke kanan atau ke kiri tanpa aba-aba sehingga pengendara mobil di belakang tidak tahu dan tabrakan tidak dapat dihindari.
Sekitar tahun 1920-an, salah satu pabrik kendaraan di Jerman mencari jalan agar dapat meminimalisir kecelakaan dengan memasang lonceng dan peluit uap di kendaraan yang mereka buat. Saat akan berbelok ke kanan, lonceng atau peluit uap akan berbunyi satu kali, sedangkan jika berbelok ke kiri lonceng atau peluit uap akan berbunyi dua kali. Simple kan? Namun, kecelakaan masih saja kerap terjadi karena saat kendaraan di jalanan yang banyak, otomatis suara lonceng atau peluit uap yang dibunyikan ketika kendaraan berbelok akan terdengar banyak ketika kendaraan yang berbelok lebih dari satu. Sehingga hal ini membingungkan pengendara lain dan kecelakaan tidak dapat dihindari.
Sepuluh tahun kemudian atau sekitar tahun 1930, alat indikator berupa lampu dibuat dan ditambahkan  di kanan dan kiri belakang kendaraan. Pengendara hanya perlu memencet atau menekan tombol kontak di area pengendara yang disambungkan ke lampu indikator. Nah, lampu indikator inilah yang akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya lampu sein yang digunakan hingga sekarang baik untuk kendaraan mobil maupun sepeda motor.
Walaupun sudah ada lampu sein, di beberapa tempat, terutama di pedesaan, saya masih menemui pengendara yang melambaikan tangannya saat akan berbelok. Misalnya ada pengendara motor yang membonceng seseorang, saat mereka akan belok ke kanan, temannya yang dibonceng akan melambaikan tangan ke kanan seolah memberikan aba-aba bahwa kendaraan akan berbelok ke kanan. Meskipun lampu sein mereka juga menyala. Kocak sih!
Ikut Andil
Kecelakaan akibat ketidaktepatan penggunaan lampu sein dan pengendara yang kurang teliti saat melihat lampu sein perlu menjadi perhatian kita. Untuk itu, tidak perlu segan untuk menegur pengendara yang tidak menyalakan lampu sein ketika berbelok, atau salah menyalakan lampu sein. Keikutandilan ini tidak hanya memberikan kenyamanan saat berkendara namun juga mengurangi angka kecelakaan.
Semoga kita senantiasa terhindar dari kecelakaan di jalanan. Aamiin.

Read More....

Serunya Indonesia Properti Expo 2019

Malea Emma dan Kepercayaan Dirinya

Tsunami Aceh 14 Tahun Silam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulang Tahun Indocement ke-44: Quarry Walk di Lahan Reklamasi Bekas Tambang

“Take care of the earth and she will take care of you” Berkunjung ke area bekas tambang yang terlintas dalam benak orang awam sepe...