Tetangga oh Tetangga


Kehidupan bertetangga pasti selalu punya cerita tersendiri. Bahkan beberapa sinetron televisi mengangkat kisah kisah bertetangga, sebut saja Film Rumput Tetangga dan Tetangga Masa Gitu. Saat serial Tetangga Mas Gitu tayang pertama kali, saya ngikutin banget tingkah pola keluarga Mas Adi dan Mbak Angel yang bertetangga dengan Keluarga Bastian dan Bintang. Di serial ini, keseruan kisah bertetangga cukup terwakili di dunia nyata.

Tetangga adalah orang terdekat di sekitar perumahan kita. Sudah semestinya, kita saling membantu satu sama lain dengan tetangga. Ketika ayah saya meninggal, yang banyak berperan dalam membantu ibu dan adik di kampung adalah para tetangga. Tetangga di kampung sudah seperti saudara sendiri, melebihi ikatan dengan sanak famili.

Sebagai orang yang lama dibesarkan di kampung dengan interaksi sesama tetangga yang harmonis dan saling membantu, kebiasaan tersebut terbawa saat tinggal di perumahan yang ada di Bogor. Tahu sendiri kan bagaimana interaksi di komplek perumahan.

Ternyata komplek perumahan memang berbeda dengan kampung. Meskipun rumah di perumahan lebih dekat bahkan berdempetan, namun kedekatan hati antar tetangga rupanya tidak terjalin seperti kehidupan di kampung. Walaupun tidak semuanya ya, ada beberapa tetangga di komplek perumahan bersikap hangat seperti tetangga di kampung.

Saat ibu mengunjungiku untuk melihat cucu, ibu berseloroh saat pagi-pagi seorang tetangga depan rumah lewat…

“Wanita itu kalau lewat depan rumah dan melihat ke arah ibu, kok wajahnya cemberut gitu ya?” tanya ibuku saat menceritakan seorang tetangga berwajah tak ramah.

“Tetangga yang mana, bu?” tanyaku balik.

“Itu lho yang rumahnya di depan ke arah kanan,” balas ibuku sambil menunjuk rumahnya.

“Emang begitu bu orangnya. Dia memang enggak ramah dengan tetangga sekitar,” balasku.

“Ya, nggak juga gitu lah. Setidaknya senyum. Kalau bukan tetangga terus lewat depan rumah ya nggak masalah. Ini kan tetangga,” ucap ibu.

Aku mengangguk. Tetanggaku yang satu itu memang begitu sikapnya. Kalau ada perlu baru mau menyapa.

Pernah ada kejadian koplak dengan tetangga itu saat aku akan merenovasi rumah.

“Pak saya minta pasirnya ya. Buat nampal kamar mandi,” ucapnya saat satu truk pasir baru saja turun di depan rumahku. Rencananya aku akan membuat teras dan garasi rumah.

Aku kaget. Minta pasir? Padahal saya menggunakannya saja belum. Tapi ya sudahlah, kupikir satu ember kecil yang akan diminta. Aku pun mengiyakan.

Dan…

Si tetangga membawa ember besar seukuran satu karung untuk mengambil pasir.  Aku tambah kaget dong.

“Bu mau minta pasir apa ngerampok?” ucapku spontan.

Si ibu hanya diam tanpa malu sembari tetap mengambil pasir. Aku pun geleng-geleng kepala, bukannya pelit. Tapi kalau yang minta adalah tetangga yang ramah, yang saling membantu dan tahu malu , aku pasti nggak akan berpikir dua kali untuk memberi pasir. Lha ini? Lewat depan rumah saja boro boro mau menyapa senyum pun tidak ada. Hmme….

Persoalan dengan tetangga tersebut belumlah selesai, suatu kali ia menyuruh anaknya untuk datang ke rumah, meminjam tangga.

“Pak… pak… pinjam tangga,” ucapnya.

“Tangga?” ucapku sembari berpikir. “Oh, maaf tangganya mau dipakai,” lanjutku. Memang rencananya tangga akan kugunakan untuk naik ke atas loteng melihat atap yang bocor. Walau sebenarnya belum urgen urgen sekali tapi kejadian dengan tentangga tersebut sebelumnya bikin aku jadi kapok untuk berurusan dengannya.

Sebenarnya sederhana saja, jika si tetangga tersebut ramah, menyapa kalau lewat, peduli dan saling tolong menolong Jangankan tangga uang saja aku bisa pinjamin ha..ha…

Beberapa tetangga memang begitu, interaksi kurang tapi giliran ada mau mulai berinteraksi. Sekali diokekan, kupikir selanjutnya akan berinteraksi selayaknya seorang tetangga. Ini seakan-akan lupa dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Kan ngeselin.

Namun nggak semua tetangga bersikap demikian, ada juga tetangga yang ramah dan saling membantu satu sama lain. Saat sebelum nikah, aku berencana memasang PDAM. Orang PDAM akan datang sekitar jam 9an atau jam 10an pagi. Saat itu aku sedang tidak berada di rumah karena harus bekerja. Tapi tetanggaku mau membantu untuk menginformasikan tempat mana yang akan dipasang sekalian mengabariku.

Merasa terbantu? Jelas saya terbantu. Sehingga jika ada apa-apa dengan tetangga tersebut saya tidak akan segan untuk membantu.

Saat istriku melahirkan, ada beberapa tetangga yang datang memberikan selamat bahkan kado. Bagiku perhatain antar tetangga yang merupakan bagian dari interaksi menjadi perekat hubungan. Jadi jangan heran, kalau habis berpergian ke suatu kota atau travelling ke daerah tertentu, saya pasti menyempatkan diri untuk membawakan oleh-oleh untuk tetangga.

 “Lha, tetangga yang itu memang begitu pak. Pas dulu saya jadi RT, saat malam malam minta bantuan untuk urusan keluarganya. Giliran sudah membaik, besok paginya lewat depan rumah dan ada saya, boro boro senyum, nyapa juga enggak.”

Aku memaklumi, bahwa tipikal setiap orang berbeda-beda baik sifat dan karakternya. Namun di kehidupan sosial, enggak segitunya lah.

“Apa susahnya sih senyum. Toh gak bikin wajah pegal,” ucap ibuku saat kembali si tetangga tersebut lewat depan rumah.

Aku dan istri tertawa. Hidup bertetangga memang demikian. Yang penting sebagai seorang tetangga atau manusia, kita berusaha menjadi pribadi yang ramah, saling tolong menolong mengasihi sesama dan berinteraksi sosial. Kalau ada tetangga yang tidak demikian, hempaskan saja. Fokus pada yang mau berinteraksi saja.

Sekarang, kami para tetangga yang berinteraksi memaklumi tetangga tetangga yang cuek bebek, enggan menyapa, dan tidak ramah. Mungkin memang dia tidak memerlukan tetangga di sekitarnya. Jadi karena dia merasa tidak memiliki tetangga sehingga kalau tetangga tersebut ada apa-apa, kita juga bakalan cuek. Adilkan ha..ha… ha.
Atau bisa jadi mereka menganut gaya hidup baru masyarakat perkotaan, padahal yang saya tahu mereka juga berasal dari kampung. Ah, entahlah...


Apakah kamu punya cerita seru dengan tetanggamu? Ceritakan di komentar yuuk!

Tidak ada komentar

Posting Komentar