Jumat, 09 November 2018

Lefie: Perjuangan Hidup Seekor Ayam Buruk Rupa untuk Kembali ke Fitrah


Saya menemukan novel Lefie secara tidak sengaja. Saat itu saya memilah-milah buku baru dari sumbangan orangtua murid yang anaknya baru saja lulus dari sekolah dasar. Sebagai guru literasi saat itu, salah satu tugas saya adalah menyeleksi buku yang cocok dibaca anak-anak. Biasanya saya akan membaca cepat atau melihat-lihat gambar yang ada di buku. Jika memiliki waktu yang cukup banyak, saya akan membawa pulang buku untuk dibaca di rumah.
Saat novel Lefie ada di tangan, reaksi saya biasa saja. Saya pikir ini novel untuk anak-anak seperti novel kebanyakan. Pikiran saya makin tidak memihak ketika penulis novel ini adalah penulis dari Korea Selatan. Bukan under estimate dengan karya penulis luar, namun saya agak ragu dengan penerjemah yang biasanya menerjemahkan buku asing. Biasanya pesan yang disampaikan pada novel tidak sampai karena terjemahan yang kurang sesuai. Namun, dugaan saya keliru. Saat pertama membaca bagian awal cerita, saya langsung jatuh cinta. 
Lefie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya
 
Cover Buku Lefie Versi Indonesia
Lefie, seekor ayam buruk rupa adalah satu dari ribuan ayam petelur yang hidupnya haya makan dan bertelur di dalam kandang di sebuah peternakan. Lefie merasa ini bukan tujuan hidup sesungguhnya. Kegundahan hati Lefie makin kuat ketika di seberang kandang, di sebuah pelataran, tinggallah ayam jantan bersama beberapa ayam betina yang menjadi induk untuk anak-anaknya. Lefie berpikir bahwa tujuan hidup lebih dari sekedar makan dan bertelur. Lefie ingin seperti ayam betina pada umumnya, bertelur kemudian mengerami telur-telurnya hingga menetas. Lalu membersamai mereka hingga dewasa.
Lefie kemudian mogok makan. Ini ia lakukan agar ia kurus dan tidak bertelur. Biasanya ayam-ayam yang tidak bertelur dan terlihat sakit dan sekarat akan dibuang oleh pemilik peternakan di sebuah lubang. Tak-tik ini yang rupanya Lefie rencanakan. Dan benar saja, tak-tik ini berhasil. Lefie yang sudah jarang bertelur dan terlihat mulai sekarat dibuang pemilik peternakan di lubang pembuangan ayam.
Namun, cita-cita Lefie tidak semulus perkiraan. Rupanya, di sini serunya novel ini. Hwang Sun-mi selaku penulis mampu membuat pembaca penasaran untuk tetap melanjutkan kisah Lefie.
Di lubang pembuangan, Lefie sudah diincar srigala. Namun, cita-citanya sudah kuat, tekadnya sudah bulat. Tubuhnya yang rapuh dan ringkih tidak menjadi penghalang bagi Lefie. Ia patuk srigala dengan kekuatan yang tidak seberapa. Perlawanannya ternyata membuat ciut srigala.
Lefie berhasil keluar dari lubang pembuangan. Tujuannya adalah menuju pelataran di mana ayam betina dan ayam jantan berada. Ia ingin bergabung.
Perjuangan untuk kembali menuju fitrah memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat sampai di pelataran, tempat ayam jantan dan betina tinggal dan bercengkrama, Lefie diusir karena terlihat buruk rupa dan menjijikkan.
Merasa tidak diterima, Lefie memutuskan untuk tinggal di semak-semak. Saat ia merasa mulai frustasi, ia menemukan telur di semak-semak tersebut. Lefie bahagia, penemuan telur itu membuat hatinya berbunga-bunga. Cita-citanya menjadi seorang ibu bisa terwujud.
Lantas... Lefie mengerami telur itu. Ia bolak balik masuk ke semak-semak dan berdiam cukup lama untuk mengeram. Perjuangan Lefie mengeram dan melindungi telurnya tidak berjalan mulus. Musang sudah mengintai. Namun, ada saja tangan-tangan kebaikan yang menolong Lefie dan telurnya.
Nafas saya tersengal ketika Lefie harus berjuang melawan musang, atau cibiran ayam betina dan ayam jantan atau saat ia harus melawan serangan srigala yang ingin memangsanya. Kadang saya tersenyum ketika melihat bagaimana Lefie bertindak sebagai seorang induk yang mengayomi telurnya. Atau saya berduka dan kecewa meski penuh dengan kelegaan saat membaca akhir cerita. Penulis novel Lefie mampu mengaduk-aduk emosi pembaca.
Berkaca pada novel ini, Lefie adalah kita, sosok makhluk yang mencari makna dan hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Rutinitas yang monoton ditambah ambisi hidup yang tak berkesudahan membuat kita mungkin berpikir, apa selanjutnya? Mau begini terus?
Lefie seakan mengingatkan kita bahwa fitrah makhluk hidup itu bukan sekedar melakukan rutinitas lantas melampiaskan segala ambisi. Ada tujuan-tujuan hidup yang harus dicapai. Ada hal yang lebih besar dari kehidupan yang harus diselesaikan. Ada nilai-nilai yang harus disebar di sekitar agar kebermanfaatan makin melebar.
Satu lagi. Kembali ke fitrah. . Dalam KBBI, fitrah diartikan sebagai sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan. Lefie ingin kembali ke kodratnya, menjadi induk yang bertelur secara alami lalu mengeram dan membesarkan anak-anaknya. Sederhana namun penuh lika liku.
Setidaknya itu hikmah yang saya dapatkan setelah membaca buku ini. Bagi saya, ini adalah salah satu novel terbaik yang pernah saya baca.
Selesai membaca kisah Lefie, saya mengembalikan buku ini ke perpustakaan sekolah. Dan saya merekomendasikan buku novel ini untuk dibaca oleh anak-anak.
Kemudian saya pergi ke toko buku untuk mencari novel ini. Sayang sampai detik ini, saya belum mendapatkan novel bagus ini.
***

Judul Buku: Lefie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya

Judul Asli: Madangeul Naon Amtak

Penulis: Hwang Sun-mi

Alih bahasa: Dwita Rizki Nientyas

Penerbit: Qanita

Jumlah halaman: 224 halaman

                                         
*** 
Baca juga!

Ketemu Ria Sukma Wijaya, Youtuber Kuliner yang Hits.

Indahnya Blue Lagoon Yogyakarta

                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulang Tahun Indocement ke-44: Quarry Walk di Lahan Reklamasi Bekas Tambang

“Take care of the earth and she will take care of you” Berkunjung ke area bekas tambang yang terlintas dalam benak orang awam sepe...