Sabtu, 10 November 2018

Makan Nasi Kapau di Bukitinggi


Pesona Sumatera Barat memang nggak ada habisnya. Pemandangan alam yang indah, budaya yang masih kuat, ajaran agama yang masih dipegang erat, dan kuliner yang nikmat tiada tara. Kalau di daerah-daerah luar Sumatera Barat seperti Bogor banyak bertebaran warung makan Padang. Menu-menu seperti rendang, telur dadar, ayam pop, sambal ijo, lalapan daun singkong, ayam bakar jadi primadona. Tapi, ternyata tidak semua nasi yang berasal dari Sumatera Barat adalah nasi padang loh. Di Bukittinggi ada nasi kapau. Pernah dengar? Memang tidak sepopuler nasi padang, tapi kalau ditelisik lebih teliti di jalan, nasi kapau ini juga lumayan banyak bertebaran termasuk di Bogor. Namun, nasi kapau dan nasi lain-lainnya yang berasal dari Sumatera Barat tetap dikenal sebagai nasi padang. 
 
Nasi Kapau di Pasar Bawah Bukittinggi


Hasil pencarian di wikipedia, Nasi Kapau adalah nasi rames khas nagari Kapau, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terdiri dari nasi, sambal, dan lauk pauk khas Kapau, gulai sayur nangka (cubadak), gulai tunjang (urat kaki kerbau atau sapi), gulai cangcang (tulang dan daging kerbau), gulai babek (babat) atau paruik kabau. Nasi kapau standar selalu dilengkapi gulai nangka ciri khas nasi kapau. Gulai nangka tidak menggunakan banyak santan dan tidak terlalu kental. Gulai dicampur kacang panjang, kol, rebung, pakis, dan jengkol. Di samping gulai nangka, hampir seluruh lauk nasi kapau terdiri dari masakan daging-daging. Gulai usus (gulai tambunsu) campuran telur ayam dan tahu yang dimasukkan ke usus sapi (karena usus kerbau lebih keras), gulai ikan, gulai tunjang, ayam panggang, teri balado, tongkol balado, dendeng balado, goreng belut, dan sambal lado hijau. Lauk nasi Kapau lainnya berupa ayam goreng, ayam goreng hijau gulai ayam, rendang ayam, rendang daging. 

 
Gulai Usus (gulai tambunsu) khas nasi kapau


Saat berkesempatan mengunjungi Bukittinggi, saya diajak Pak Anto (dari Sekolah Alam Bukittinggi) menikmati nasi kapau di sekitaran Jam Gadang Bukittinggi, tepatnya di Pasar Bawah. Di sana sudah berjajar rapi beberapa warung yang menyediakan nasi kapau. Aroma dari menu makanan yang menggoda rupanya memanggil-manggil perut. dari beberapa warung nasi kapau, Pak Anto memilih Nasi Kapau Ni Er Los Lambuang Bukittinggi. Warung nasi kapau ini terlihat ramai.
Ada yang unik saat saya mulai masuk ke warung makan nasi kapau. Kalau kita berkunjung ke warung nasi padang. Kita akan disuguhi menu di etalase dan tinggal memilih menu yang akan disantap. Atau, kalau ke rumah makan padang yang cukup besar, menu-menu akan datang dan disajikan di atas piring tersendiri. Jika di warung nasi kapau, sang penjual akan berada di atas sedangkan menu-menu makanan tersusun dari atas ke bawah hingga sejajar dengan meja pelanggan.
 
Uni Penjual Nasi Kapau ada di atas


“Mau makan pakai apa, uda?” ucap Uni penjual nasi kapau yang sudah terlihat paruh baya dengan logat Minangnya yang khas.
Saya memesan nasi dengan lauk ikan, seingat saya ikan mas bumbu kuning. Uni penjual akan mengambil nasi kemudian dengan sendok gulai dari tempurung kelapa yang bergagang panjang, uni penjual mengambil lauk yang saya pilih.
 
Ikan bumbu kuning, menu pilihan saya

Oh ya, Bukittinggi adalah daerah puncak. Jadi suhunya rendah dan dingin tentunya. Kebayang kan, makan nasi kapau saat perut lapar dengan menu favorit di saat udara dingin langsung dari Bukittinggi. Juara! Nikmatnya luar biasa. Baru kali ini, saya makan  nasi kapau senikmat ini. Lahap dan benar-benar menikmati.
Soal rasa, santan yang ada di sayur tidak terlalu dominan karena tidak terlalu kental. Lauk ikan bumbu kuningnya, juara! Bumbu-bumbunya berpadu dan diterima dengan baik di lidah. Alhamdulillah.
Di Pasar Bawah ini rupanya memang pusatnya hidangan nasi kapau. Banyak orang yang sengaja datang untuk bersantap di tempat ini. Beberapa bule terlihat berlalu lalang. Saat saya baru selesai menyantap nasi kapau, dua orang bule datang dan bertanya kepada uni penjual nasi kapau.
“This is spicy?” tanya bule laki-laki.
“Yes... yes... spicy!” jawab uni penjual. Rupanya uni ini terbiasa berinteraksi dengan wisatawan luar negeri.
“Oh... i’m sorry! I can’t eat that,” balas bule tersebut. Kemudian meninggalkan warung makan nasi kapau.
“Iyo, indak apo-apo,” balas uni penjual nasi kapau sembari terkekeh.
Aku yang menyeruput teh hangat juga tertawa ringan melihat tingkah pola uni penjual nasi kapau.
Untuk harga, ada keterangan di spanduk yang dipasang di belakang. Harga nasi dan lauk rata-rata Rp. 25.000,-. Lumayan murah.
Selesai makan, saya kembali ke atas. Di sepanjang jalan, penjual oleh-oleh khas mulai dari jajanan, souvenir khas dan kaos bertuliskan Bukittinggi berjajar rapi. Beberapa wisatawan sedang bertransaksi, beberapa lagi melihat-melihat sambil memilih-milih dan beberapa lagi termasuk saya, hanya lewat dan cuci mata.
Saat menunggu Pak Anto mengambil motor di parkiran. Aku tersenyum sendiri. Bahagia dan bersyukur bisa berkunjung dan makan nasi kapau langsung di lokasinya. Semoga jika ada rezeki, bisa jalan-jalan dan makan nasi kapau lagi. Insyaa Allah....
 
Bakalan kembali lagi ke sini suatu hari nanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lampu Sein

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membahas tentang polisi tidur dan membagi tulisan tersebut di beberapa sosial media milik saya. D...