Kamis, 08 November 2018

Ketemu Ria Sukma Wijaya, Youtuber Kuliner yang Hits.


Beberapa bulan ini nafsu makanku berkurang drastis. Makan tuh cuma sekedarnya doang. Kalau nemu makanan ya tinggal makan saja.  Nggak kayak sebelum-sebelumnya, proses makan adalah hal yang ditunggu-tunggu: menikmati makanan dengan dikunyah perlahan-lahan sambil berbincang dengan rekan kerja, makan secara berkesadaran dan penuh dengan rasa syukur atas apa yang sudah Allah kasih ke kita. Pokoknya proses makan itu membahagiakanlah.
Aku sih sadar, tumpukan pekerjaan dan pikiranlah yang akhirnya membuat waktu makan bukan hal yang ditunggu-tunggu. Karena, pola dalam otak memikirkan banyak hal, habis ini ngerjain ini, habis itu ngerjain yang lain, begitu seterusnya, sehingga waktu makan kadang telat, kadang malah enggak makan atau kalau pun akhirnya makan jatuhnya buru-buru. Mungkin karena aku dapat amanah baru jadinya belum menemukan pola yang pas.
Masalahnya, makan sekedarnya ini kebawa sampe di rumah. Hmme.... kebayang kan istri udah capek-capek masak, kita makannya sedikit. Atau baru makan gorengan beberapa, perut sudah merasa kenyang. Nggak mau makan lagi.
Coba untuk minum jamu penambah nafsu makan bukan pilihan. Dan enggak pernah jadi pilihan sih. Atau ngikutin kata hati untuk makan di tempat favorit dengan menu yang enak. Herannya baru sesuap sepuluh suap, perut sudah merasa kenyang. Kan repot. Terus bingung, kemana nafsu makan pergi? Kenapa nggak bisa menikmati lagi?
Di tengah pencarian jawaban atas kebingungan hati. Di sebuah pagi, aku buka salah satu channel youtube. Terus lihat salah satu youtuber lagi pergi ke sebuah tempat makan untuk nyobain makanan di sana. Aku yang biasanya ogah ngikutin tingkah polah beberapa youtuber Indonesia yang kadang konten channel youtubenya aneh, tapi tumben aku bisa bertahan lama buat ngikutin channel youtuber satu ini.
Ria Sukma Wijaya, subscriber 1.8 juta.
 
Channel youtube Ria SW
Pertanyaan selanjutnya, kemana aja aku selama ini? Baru lihat youtuber bernama Ria SW yang ternyata sudah terkenal dan beberapa kali masuk televisi. Terus rata-rata viewers nya di atas tiga jutaan.
Khusyuklah akhirnya menonton konten videonya Ria. Yang aku suka, Ria nggak mematok harus makan di tempat mana. Kadang makan di pinggir jalan, kadang makan di restoran mewah, yang penting enak dan sesuai seleranya. Dan yang paling buat aku kagum, Ria hampir selalu ngabisin makanan yang dipesan. Jadi bukan sekedar icip-icip doang.
Setiap video yang diunggah Ria selalu diedit dengan baik dengan penambahan beberapa efek dan sound yang sesuai. Jadi kalau lihat videonya berasa lagi nonton program acara-acara kuliner di televisi. Hebatnya lagi, proses editing video dilakukan Ria sendiri. Buat ambil gambar, biasanya Ria ditemani oleh temannya yang berganti-ganti, kadang ada Ara, kadang Dennis.
Pembawaan Ria yang supel, ramah dan ceria membuat videonya makin seru buat diikutin. Jadi setiap ada kesempatan, kerjaanku nonton video-video Ria yang sudah dibuat dari tahun 2016. Alamak, betapa telatnya aku.
Nah, gara-gara melihat Ria makan di videonya, entah mengapa nafsu makanku yang suka hilang mulai ketemu. Alhamdulillah. Jadi kalau makan sudah mulai menikmati dan sudah lumayan banyak. Sugesti dari video youtubenya Ria sudah mulai masuk ke otak dan pikiran.
Saat Ideafest yang digelar di JCC (baca di sini keseruannya), aku lihat banner yang digantung di atas langit-langit di pintu masuk. Banyak artis yang hadir sebagai pembicara maupun sebagai moderator. Terus, aku cek instagramnya ideafest. Huaa, betapa bahagianya, ada Ria SW di situ. Dan Ria SW bakal hadir di hari pertama Ideafest dan bertepatan dengan kehadiranku.
 
Hadir di Ideafest 2018 (sumber instagram @ideafest)
Setelah dapat rundown acara, aku cek satu-satu kira-kira Ria ada di acara yang mana. Selama seharian ada sekitar 70-an kelas. Dan Ria SW ada di salah satu kelas di jam terakhir. Jam tujuh malam dan selesai jam delapanan. Baiklah karena niatnya memang mengikuti Ideafest dari awal sampai akhir, aku akan ambil kelasnya Ria.
Oh ya, di kelas malam, Ria SW akan berbagi dan diskusi bersama di talkshow bertajuk Digital to Print: Multiplatform Aspect To A Mega Best Selling Book. Setelah sukses dengan vlog di channel youtubenya, Ria juga membuat buku Off the Record. Ria nggak sendirian, dia bersama Almira Bastari penulis buku Resign menjadi speaker di kelas tersebut.
Kelas demi kelas telah kulalui (jiaah). Sebelum ikut kelasnya Ria, di ruangan yang sama aku ikut kelas tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Walau sebenarnya aku lumayan ngelotok di dunia per-ABK-an, tapi lihat dari sudut pandang lain bolehlah. Karena pembicara yang banyak di kelas ini (ada empat orang) dan talkshow dilakukan selama satu jam jadi molor waktunya. Sebelumnya sih sudah molor karena pembukaan yang dihadiri oleh Bapak Jokowi.
Jadilah kelas Digital to Print molor sekitar satu setengah jam. Lumayan kan. Yang harusnya mulai jam tujuh malam, ini jadi mulai sekitar jam setengah sembilanan. Ngaret banget kan? Karena ke JCC, aku naik motor bareng teman satu sekolah, kami nggak bisa sampai larut malam. Ini karena motor yang dititipin di stasiun cuma sampai jam 11 malam.
Tapi aku tetep keukeuh nungguin Ria (persis kayak anak alay ha...ha...ha...). sebelum acara mulai, panitia lagi mempersiapkan tempat. Eh, Rianya udah nongol di belakang panggung terus masuk ke dalam kelas. Tanpa berlama-lama, aku dan dua temanku langsung nyamperin dan minta foto bersama. 
 
Piss! Foto bersama Ria SW

 
Cekrak-cekrek beberapa kali


Di kelas Ideafest sebelumnya ada Christian Sugiono, Dian Sastrowardoyo, Chelsea Islan, Andien, Fathia Izzati, Marissa Anita dan Ria SW. Dan bagiku yang ramah banget dan nggak pelit buat diajakin foto ya Chelsea Islan dan Ria SW. Mereka berdua itu ya udah kece, ramah dan supel.
Karena mau buru-buru ke stasiun, aku nggak bisa ikutan full kelas Digital to Print: Multiplatform Aspect To A Mega Best Selling Book. Di kelas itu selain pengen tahu tentang materinya, aku juga pengen mendengarkan suara Ria secara langsung ha... ha... ha.... Kalau dibilang fans atau penggemar sih biasa saja. Cuma aku suka saja dengan pembawaannya Ria yang supel dan ceria.
Alih-alih nunggu giliran Ria ngomong, moderator kelas Digital to Print bertele-tele banget. Sayang sih, kelas dengan speaker yang keren moderatornyanya membosankan. Aku sempat keluar kelas karena kedua temanku sudah mondar mandir di pintu masuk agar kami segera pergi ke stasiun.
Karena penasaran yang nggak kunjung reda, aku balik lagi, masuk ke dalam kelas. Seriusan, cuma pengen dengar suara Ria langsung menjelaskan sesuatu beberapa kalimat dan paragraf. Dan, saat Ria ngomong tentang seluk beluknya membuat buku Off The Record, penasaranku akhirnya hilang. Aku langsung bergegas keluar dan menemui kedua temanku yang sudah menunggu.
Di kereta, aku diledek kedua temanku. Tapi kalau kupikir-pikir, di usia yang sudah enggak muda begini, masih saja lagakku kayak bocah ha... ha... ha....  Tapi, gara-gara sugesti video Ria, nafsu makanku berangsur-angsur membaik. Dan ini yang penting, ketemu banyak orang dengan pembawaannya yang berbeda-beda membuat kita belajar banyak tentang karakter dan proses kehidupan.   
Alhamdulillah.
Baca juga:

Kolaborasi Siegwerk dan SOS Children’s Villages Jakarta “Digital Village dan Youth Can!”



Rehat Sehat di Taman Kita Oreo


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Padang Rumput Savana di Puru Kambera, Sumba.

Pergi ke Sumba tentunya menjadi salah satu impian seseorang. Ya, meski nggak semua orang juga tentunya. Seperti yang sudah tersebar di medi...