Rabu, 09 Januari 2019

Delapan Puluh Juta


#80juta rupiah

Baiklah, bukan bermaksud untuk ikut-ikutan mengulik masalah delapan puluh juta, tarif seorang artis yang terkena masalah prostitusi. Atau ikut-ikutan dalam pengandaian jika mendapatkan uang delapan puluh juta.  Namun, ini sekelumit cerita tentang uang delapan puluh juta #bukan, ini tentang kehidupan yang tidak melulu soal uang.
***
Seumur hidup, saya belum pernah  memegang uang delapan puluh juta rupiah. Di tabungan juga enggak sampai segitu, masih merangkak kalau dibilang sih. Merangkak jauh ha... ha... ha... Namun, Alhamdulillah uang memang enggak sampai delapan puluh juta, namun rezeki lain ada saja. Rezeki kesehatan, rezeki memiliki saudara, teman dan keluarga yang baik, rezeki dalam keluangan untuk beribadah, rezeki tempat kerja yang nyaman, dan rezeki-rezeki lainnya. Alhamdulillah, Allah beri rezeki yang tak melulu berbentuk uang.
Bertahun-tahun menjadi seorang guru dengan gaji standar guru swasta di Indonesia membuat saya banyak bersyukur. Walaupun kadang, kadang ya, suka gimana gitu kalau ketemu teman satu angkatan kuliah dulu yang kerja di kantor-kantor terkemuka di Indonesia seperti kerja di perkebunan nasional, bekerja di lembaga-lembaga konsultan atau bekerja di bank-bank milik BUMN atau swasta. Perasaan “gimana gitu” muncul tatkala, obrolin kita terfokus pada seberapa besar bayaran yang kamu terima saat bekerja. Saat data terkuak, bayaran yang saya terima jauuuuh dibandingkan bayaran teman-teman yang bekerja. Nggak cuma beda satu kali lipat, tapi bedanya bisa berkali-kali lipat.
Mengetahui gaji teman yang jauh bedanya, kadang muncul rasa tidak bersyukur. Atau keluar rasa sesal terkait pekerjaan menjadi seorang guru yang gajinya tidak sebesar teman-teman saya. Namun, setelah merenung lama dan berpikir lebih jauh. Pekerjaan guru yang saya tekuni saat ini adalah pekerjaan yang mulia. Belum lagi kondisi lingkungan tempat kerja yang asik: sedikit tekanan karena berinteraksi dengan anak-anak dan orang-orang yang beretika dan seru, tidak selalu dikejar-kejar deadline, karena sekolah membebaskan dalam hal berkreativitas jadi banyak potensi diri yang keluar, bekerja dengan penuh kebahagiaan (ini yang penting) dan berkah (ini juga teramat pening).
Berkah
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berkah/ber·kah/ n karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia; berkat.
Pernahkah kalian mendapatkan gaji besar namun enggak merasa cukup alias pertengahan bulan sudah habis tak bersisa. Atau gaji besar namun kerap sakit-sakitan. Atau juga punya gaji besar yang teramat besar namun tidak ada tabungan sama sekali, jadi kerja bertahun-tahun tak bersisa sama sekali. Yang saya dengar, jika terjadi hal-hal demikian, uang yang diperoleh tidaklah berkah. Wallahualam
Dari beberapa literatur yang saya baca, keberkahan atau barokah adalah bertambahnya kebaikan dalam hidup. Berkah secara material dan spiritual berupa ketenangan hidup, keamanan, kesehatan, ilmu, melimpahnya makanan  dengan harga yang murah, usia, anak, tidak ada bencana dan kebahagiaan hidup.
Alhamdulillah, saya tidak tahu ini yang dinamakan berkah atau apa, dengan gaji standar guru yang jauh di atas gaji teman-teman seangkatan saya tadi. Saya bisa memperoleh sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan saya. Alhamdulillah.
Saya meyakini jika profesi guru akan membawa keberkahan pada kehidupan. Juga profesi-profesi lain yang memiliki tujuan dalam memberikan dampak kebermanfaatan bagi sekitarnya meskipun gajinya tidak besar.
Delapan Puluh Juta
Profesi publik figur memang menggiurkan banyak orang. Tidak mengherankan apabila banyak orang yang berbondong-bondong mengikuti ajang kompetisi agar dapat masuk dan eksis di televisi. Apalagi banyak acara pencarian bakat yang dibuat. Tujuannya tentu saja agar dikenal banyak orang. Semakin dikenal atau semakin populer maka pundi-pundi uang dan kemudahan akan diperoleh.
Beberapa penyanyi, sekali tampil bisa dibandroll ratusan juta. Sheila On 7 contohnya, dapat kabar dari teman yang akan mengundang untuk acara reunian sekolahnya, honor Sheila On 7 untuk kegiatan tersebut di atas 200 juta. Itu hanya untuk honor saja, untuk riders (daftar permintaan) bahkan lebih besar yaitu 300 juta meliputi hotel dengan standar tertentu, jenis kendaraan tertentu, makanan dan permintaan lainnya. Bicara soal riders, permintaan Raisa saat manggung di sebuah daerah sempat membuat heboh para netijen. Permintaan Raisa yang mencuat adalah soal mandi dengan air galon karena air di daerah tersebut tidak sesuai dengan standar kebersihan.
Daftar permintaan artis Indonesia sebenarnya masih agak mending dan lumayan masuk akal. Yang agak “merinding” adalah daftar permintaan artis luar negeri. Dari buku Ouch!! milik Melanie Subono (2007), semuanya terkuak bagaimana daftar permintaan artis yang tidak lazim. Yang masih saya ingat adalah permintaan Mariah Carey, untuk menaruh bunga mawar dengan kelopak yang jatuh berjumlah 17 buah. Kocak ha... ha... ha....
Balik lagi ngomongin uang delapan puluh juta. Bagi publik figur, uang segitu mungkin enggak terlalu besar karena bisa didapatkan dalam hitungan jam. Yang jadi pertanyaan adalah soal keberkahan. Apakah uang dengan jumlah besar dapat menawarkan keberkahan dan kebahagiaan. Belum tentu.
Banyak publik figur yang kaya raya, satu episode bisa dibayar hingga puluhan hingga ratusan juta namun tidak kuasa untuk menikmati semua karena meninggal di usia muda. Atau ada juga publik figur yang wara wiri di televisi, membuat usaha makan di banyak tempat, namun hidupnya tidak tenang karena diteror hantu dan orang yang tidak suka padanya. Terlepas dari drama yang dihadirkan, namun hal ini membuktikan banyaknya uang yang diperoleh nyatanya tidak menentukan tingkat kebahagiaan dalam kehidupannya. Ada juga publik figur yang demi memenuhi gaya hidup yang mewah bertitel sosialita harus pergi ke sebuah tempat yang instaramabel dan mahal, makan di restoran dengan harga makanan selangit, atau menggunakan barang bermerek yang wah dan berharga fantastis, namun belum tentu bahagia. Belum tentu merasa ketenangan dalam hidupnya.
Delapan puluh juta buat orang biasa seperti saya lumayan besar. Bisa beli banyak barang dan banyak makanan ha... ha... ha.... Bisa juga digunakan untuk umroh ke Tanah Suci atau jalan-jalan ke Eropa. Cuma kembali lagi, enggak bisa dijadikan jaminan untuk sebuah kebahagiaan. Seperti quote yang banyak beredar....
“Money has never made man happy, nor will it, there is nothing in its nature to produce happiness. The more of it one has the more one wants.” — Benjamin Franklin
(Uang tidak pernah membuat manusia bahagia, juga tidak akan, tidak ada di sifatnya untuk menghasilkan kebahagiaan. Semakin banyak seseorang memilikinya, semakin orang menginginkannya).
Jujur, uang memiliki peranan penting dalam kehidupan. Namun uang bukan akar sebuah kebahagiaan terwujud dalam sebuah proses kehidupan.  Tapi saya tetap berdoa, semoga di kantong, di tas, di tabungan ada uang yang cukup untuk menghidupi proses kehidupan saya dan keluarga dan berkah. Aamiin.
***
Demikian tulisan random ini tentang delapan puluh juta rupiah. Semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin.

Ingin Terus Sehat, Ikuti 7 Hal Ini

Salah satu hal yang penting dalam proses kehiudpan adalah sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan. Setuju enggak? Sebab, apapun hal y...