Jumat, 08 Maret 2019

Kekhawatiran Yang Berlebihan




“Kekhawatiran yang paling mengkhawatirkan adalah mengkhawatirkan kekhawatiran itu sendiri.”
Pernah enggak sih merasakan khawatir akan sesuatu? Setiap manusia pasti punya rasa khawatir. Hanya saja yang membedakan adalah kadar kekhawatiran itu. Apakah sewajarnya atau kadarnya telah melampaui batas alias berlebihan.

Saya termasuk memiliki kekawatiran yang berlebihan.  Saking khawatirnya, itu bisa jadi sugesti kuat untuk diri sendiri. Dan saya mengalami itu. Tidak terjadi hanya sekali, bahkan terjadi berkali-kali.

Bibit-bibit kekhawatiran berlebihan itu sudah ada sejak saya kecil. Pola asuh orangtua yang membangun kekhawatiran dengan sikap over protected dengan apapun yang saya lakukan. Selain itu, saya juga melihat perilaku orangtua terkait dengan sikap khawatir ini, dan ibu sayalah yang menunjukkannya, turun ke saya dengan faktor yang kuat, saya lebih dekat dengan ibu. Setelah dewasa baru saya tahu ayah saya juga tipikal yang khawatir juga.

Saat memasuki Sekolah Dasar, saya termasuk siswa berprestasi. Di kelas satu dan kelas dua, saya selalu juara kelas. Hingga akhirnya, saya dipindahkan ke sekolah di lain desa dengan alasan sekolah tersebut adalah salah satu sekolah terbaik dan peluang masuk ke sekolah menengah pertama terbaik di kotaku lebih besar. Saya mengkuti.

Namun, berpindah ke sekolah nyatanya membuat saya drop. Saya sakit yang “tidak sakit”, sampai di sekolah sakit namun ketika berada di rumah sehat-sehat saja. Itu terjadi beberapa minggu hingga akhirnya saya mampu beradaptasi. Saat itu, yang saya rasakan adalah kekhawatiran yang terlalu berlebihan, khawatir tidak punya teman, khawatir dengan lingkungan baru dan khawatir terhadap pelajaran Agama Islam karena saya belum bisa membaca huruf hijaiyah. Di sekolah sebelumnya, saya santai dan bisa mengikuti.

Kelas tiga saya lalui dengan ketakutan demi ketakutan, nilai akademis terjun bebas. Predikat juara kelas di sekolah sebelumnya seperti tidak membekas sama sekali. Di kelas tiga, sama saja. Bahkan momok pelajaran Agama Islam menghantui apalagi saat diminta membaca Iqro atau sejenisnya. Saya menyerah.

Yang saya ingat, pelajaran Agama Islam ada di hari Kamis, dan saya sangat membenci Kamis pagi hingga Kamis siang karena ada pelajaran Agama Islam. Jadi, setiap pagi di hari Kamis, tiba-tiba badan saya sakit, panas dan lemas. Saya minta untuk tidak masuk sekolah kepada ibu. Ibu setuju. Siang menuju sore, badanku langsung semangat, segar dan tidak terlihat sakit, karena di jam tiga sore, ada serial Ultraman yang selalu saya tunggu di hari Kamis sore. Kocak ya?

Kekhawatiran berlebihan yang masih saya ingat hingga sekarang adalah saat hari Selasa diperingati Hari Pendidikan, saya lupa persisnya. Namun di hari itu, saya lupa bawa topi dan rumornya akan dilaksanakan upacara bendera. Kekhawatiran saya memuncak, saya takut dihukum. Saya lari ke pangkalan ojeg tempat ayah saya berada. Sepanjang perjalanan saya menangis ketakutan. Sampai di pangkalan ojeg, ternyata ayah tidak ada. Saya meminta teman-teman ayah yang berada di situ untuk mengantarkan saya pulang demi mengambil topi. Namun mereka tidak mau. Saya kembali ke sekolah dengan membawa tangis dan kekhawatiran. Ah, cengeng sekali waktu itu. Ternyata tidak ada upacara bendera seperti yang saya khawatirkan.

Kekhawatiran demi kekhawatiran tumbuh dan berkembang di raga saya. Di kelas 4 nilai akademis saya masih terjun bebas. Saya mulai percaya diri dan mulai tidak khawatir ketika saya kelas 5 dan kelas 6, nilai saya cenderung stabil, di kelas lima saya masuk lima besar. Dan saat pengumuman nilai ujian akhir, nilai saya terbesar kedua di sekolah.

Kekawatiran itu belumlah usai. Di sekolah menengah pertama, kemudian melanjutkan di sekolah menengah atas lantas ke jenjang kuliah, kekhawatiran itu masih bisa diatasi. Tidak terlalu berlebihan. Masih wajar ketika saya takut jika harus pindah dari kelas unggulan, khawatir jika tidak masuk perguruan tinggi negeri, khawatir ketika tidak mengumpulkan tugas kuliah dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya.

Hingga akhirnya....

Saat sudah beres kuliah dan bekerja, saya masih bisa mengatasi kekhawatiran demi kekhawatiran.

Tahun 2015, saat saya terkena DBD dan dirawat di salah satu rumah sakit tua, kekhawatiran mulai memuncak ketika perawat tanpa adab datang dan memarahi saya karena bolak-balik ke kamar mandi.

“Trombosit bapak itu turun lagi. Jangan banyak gerak! Nanti terjadi pendarahan,” ujarnya ketus.

Entah kenapa sejak mendengar perkataan perawat itu, kekhawatiran saya mulai berkumpul. Trombosit saya sudah masuk angka 18.000 dari 23.000 di hari sebelumnya. Saya buka google, akses mudah mendapatkan informasi. Namun, saya salah langkah. Artikel demi artikel tentang turunnya trombosit dan akibat fatalnya membuat saya makin drop, makin khawatir.

Selesai dirawat, saya recovery dan kembali beraktivitas seperti semula. Hingga setelah sarapan pagi tiba-tiba saya muntah dan mengeluarkan semua sarapan pagi. Saya langsung ambil langkah hanya makan nasi lembek. Entah kenapa saat itu kekawatiran saya berlebihan sekali...

Saya drop. Dari tulisan demi tulisan yang saya baca di google, saya menderita maag akut, saya kena gerd (Penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)) karena beberapa gejala sudah menghampiri. Makanan yang saya makan pun saya batasi. Saya pulang ke kampung halaman untuk menenangkan diri. Pikiran saya kemana-mana. Kekhawatiran saya makin menjadi-jadi.

Waktu terus berjalan. Maag yang saya alami sudah reda. Saya mulai ragu dengan gerd yang saya alami, semakin waktu berjalan saya baru tersadar bahwa saya tidak terkena gerd. Itu hanya sugesti akibat kekhawatiran yang berlebihan. Ah, bodohnya saya waktu itu hingga benar-benar seperti orang yang memposisikan diri terkena gerd.

Tahun-tahun berikutnya saya alami dengan masih menyisakan kekhawatiran. Beberapa kali sakit pikiran seperti mengajak melanglang buana karena saking khawatirnya. Saya menyadari beberapa sakitnya tubuh selain karena memang sedang mengalami sakit adalah karena pikiran dan rasa khawatir yang berlebihan. Untuk menyudahinya, rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kekhawatiran yang berlebihan yang saya alami karena pikiran yang terlalu bebas berpikir. Berpikir tentang kekhawatiran itu sendiri. Mengalami hal tertentu dipikirkan. Mendapatkan perlakukan yang tidak enak dipikirkan. Berbuat sesuatu yang menyalahi aturan manusia dipikirkan, menonton video tentang sesuatu yang mengerikan juga dipikirkan. Melakukan terget untuk blog pribadi juga dipikirkan. Pikiran-pikiran itu bermuara pada kekhawatiran yang berlebihan.

Kalau sudah begitu, ada beberapa hal yang saya lakukan. Memperbanyak istighfar. Kalau pikiran sudah ngelantur kemana-mana, saya coba untuk tepis dan menyudahi sembari beristighfar. Jika keadaan tubuh sedang sakit atau mengalami sesuatu, mengurangi pencarian di intenet juga mulai saya lakukan. Apalagi banyak artikel-artikel yang memberi informasi tapi dengan bahasa-bahasa yang menakutkan. Bukannya tercerahkan, makin buat khawatir. Saya masih mencari informasi di google, tapi lebih cari artikel yang bersifat testimoni terutama dari blogger-blogger yang pernah mengalami hal yang serupa.

Saya sadar kekhawatiran berlebihan yang saya alami adalah investasi orangtua terhadap diri saya. Namun, kelak saya akan meminimalisir ini agar anak-anak saya tidak memiliki karakter yang sama, terlalu banyak mikir hingga lupa akan kebahagiaan hidup dan akhirnya menjadi pribadi yang terlalu khawatir.

Jujur, kekhawatiran yang paling mengkhawatirkan adalah mengkhawatirkan kekhawatiran itu sendiri. Dan itu melelahkan. Benar-benar melelahkan....

Semoga saya dan siapapun yang memiliki karakter pemikir dan memiliki kekhawatiran yang berlebihan dapat senantiasa mengatasi dengan baik dan tepat. Aamiin.

16 komentar:

  1. Ada quote yg aku ingat, Kak
    "The only thing we have to fear is fear itself"
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha betul mba nurul.

      harry potter ke berapa tu ya, gurunya harry potter yang warewolf mengatakan, kalau harry takut terhadap ketakutan itu sendiri.

      sebenrnya bagus jika kita sudah menyadari itu, takut terhadap ketakutan itu sendiri, khawatir terhadap kekhawatiran itu sendiri.

      semoga mas erfano bisa mengatasi kekhawatiran yang berlebih dan selalu dilindungi Allah SWT. Aaaamiiin ya Allah

      Hapus
  2. Aku pernah kekgini di akhir-akhir masa mondok, jadi tuh di kelas akhir lebih ketat aturannya, saat itu beberapa kali masuk mahkamah bahasa karena kethauan berbahasa Indonesia.
    Yang terjadi aku stres, sering sakit kepala, beberapa kali dibawa pulang, sembuh, balik ke pesantren eh sakit lagi,bahkan pernah sampe minum obat tuh bukan sehari 3 kali tapi kaya yang bener-bener kalau berasa sakit dikit harus minum dan itu dokter saraf huhu
    Sampe akhirnya setelah keluar aku tuh jarang yang sakit kepala macem di pondok, akhirnya aku sadar kayanya itu kaya yang mas tulis ini kekhawatiran berlebih jadi cepat stres dan akhirnya sakit kepala
    Semoga nggak pernah lagi begitu, baiknya memang kita harus santuy 😂

    BalasHapus
  3. Mas, sepertinya ini inner child deh. Ada terapinya kok. Bisa diusahakan sendiri atau lebih baik lagi minta bantuan psikolog dan ahli serupa.
    Just my two cents:)

    BalasHapus
  4. Wah inspiratif sekali tulisannya, bikin merenung. Khawatir boleh asal jangan berlebihan biar ga parno. Semangat yak pokonya...

    BalasHapus
  5. bagus juga nih quote : “Kekhawatiran yang paling mengkhawatirkan adalah mengkhawatirkan kekhawatiran itu sendiri.”

    tapi saya tidak mengerti apa yang dimaksud quote tersebut?

    BalasHapus
  6. Akupun kalau banyak pikiran, khawatir dan resah ngaruhnya ke asam lambung dan rasanya gak enak banget. Ternyata ga bisa disepelein asam lambung ini, bisa menyebabkan magh akut. Untuk yang punya aktifitas menulis harus pinter jaga kesehatan terutama asam lambung ini

    BalasHapus
  7. Saya juga sering begitu. Khawatir sampai hati deg degan kencang sekali lalu keringet dingin dan jadi serba salah ujung ujung nya badan jd gak enak awalnya bingung ini kenapa ya , coba cari tau ya itu jawaban nya saya terlalu khawatiran jadi orang.

    BalasHapus
  8. Dari cerita Mas Erfabo ini, memang benar, kekhawatiran berlebihan itu datang dari orang tua, Mas Erfano. Masa anak-anak yang masih jiwa mengikuti, akhirnya secara tidak langsung membuat Mas Erfano selalu merasakan kekhawatiran yang berlebihan.
    Misalnya nih, diajak berenang teman, pasti mikirnya, bagaimana kalau di sana ramai? bagaimana kalau nanti tenggelam? bagaimana kalau di jalan ada apa-apa?

    Padahal biasanya, kalau anak mengalami khawatiran seperti ini, ornag tua yang membantu. Misalnya, kamu pergi saya berenang, nanti ada Ibu yang menemani. Atau kamu bernenang saja, kan ada penjaga kolam, dan lainnya.

    Kalau begini memang harus berpikirian positif, setiap kali ingin melakukan sesuatu hal, Mas. Semoga rasa kekhawatiran berlebihan itu bisa segera berkurang dan bahkan hilang ya, Mas. Semangat.

    BalasHapus
  9. Penyakit itu timbul malah dari pikiran katanya ya Mas. Kl terus menerus khawatir lama kelamaan kekhawatirannya jd nyata, ihh jgn sampe deh yaa. Bagus ini remindernya Mas Erfan. Jd kita gak perlu merasa khawatir berlebihan ya. Tfs

    BalasHapus
  10. Apa2 yg berlebihan memang nggak baik ya mas. Aku juga masih sering gitu, pas baper datang, khawatir bakal ketemu orang2 yg buat aku kesel sampe mikir entah kemana2. Padahal pas beneran ketemu, yang aki khawatirkan itu nggak kejadian lho. Memang kita harus bisa mengendalikan rasa khawatir kita sendiri agar hidup juga lebih tenang.

    BalasHapus
  11. Apa2 yg berlebihan memang nggak baik ya mas. Aku juga masih sering gitu, pas baper datang, khawatir bakal ketemu orang2 yg buat aku kesel sampe mikir entah kemana2. Padahal pas beneran ketemu, yang aki khawatirkan itu nggak kejadian lho. Memang kita harus bisa mengendalikan rasa khawatir kita sendiri agar hidup juga lebih tenang.

    BalasHapus
  12. Setuju sama judulnya, seiring bertambah umur saya malah udah jarang khawatir .Yang sudah di takdirkan suka gak suka pasti terjadi jadi jalani hidup dengan hepi saja .Teteap semangat kawan

    BalasHapus
  13. terlalu khawatir membuat kita malah menjadi susah mengontrol kepercayaan diri, jadi kalau saya pribadi menyimpulkannya seperti ini bang "khawatir secukupnya saja"

    BalasHapus
  14. Baca ini kok saya malah kepikiran nyambungin dengan gempa. Pas awal-awal ngerasain gempa dan gak ngerti mitigasi, saya sering banget khawatir berlebihan. Sampai takut mau ke mana mana. Tapi Alhamdulillah sekarang udah gak, dengan bersikap tenang malah jadinya lebih aman.

    BalasHapus
  15. Inspiratif sekali nih mas. Saya pernh begini. Dan benar karena ortu over protective deh. Makanya saya terapin ke anak kalau sebagai orang tua boleh khawatir asal tdk berlebih

    BalasHapus

Padang Rumput Savana di Puru Kambera, Sumba.

Pergi ke Sumba tentunya menjadi salah satu impian seseorang. Ya, meski nggak semua orang juga tentunya. Seperti yang sudah tersebar di medi...