Senin, 12 November 2018

Nikmatnya Katupek Pical Kapau


Kuliner di Sumatera Barat biasanya identik dengan makanan dari hewani yang dimasak dengan santan dan berbumbu kuat.  Sayuran yang tersedia di rumah makan padang biasanya daun singkong, sayur nangka dan kacang panjang bersantan, terung balado dan mentimun. Selain itu, jarang ada sayuran lainnya yang tersedia.
Saat berkesempatan singgah ke Bukittinggi, saya diajak keliling oleh Pak Anto (pemilik Sekolah Alam Bukittinggi). Saya berkeliling termasuk ke pasar tradisionalnya. Walau hanya lewat saja, rupanya Bukittinggi yang terkenal juga dengan nasi kapaunya memiliki sayuran yang beraneka rupa. Itu tandanya Bukittinggi dan daerah Sumatera Barat tidak miskin sayuran. Apalagi Bukittinggi dan sekitarnya merupakan daerah berhawa sejuk, jadi kemungkinan sayuran yang biasa hidup di daerah dingin juga hidup di Bukittinggi.
Pertanyaannya.... Kenapa kalau makan di rumah makan padang kita hanya disuguhi sayuran yang disebutkan di atas? Ini perlu dicari data dan faktanya dulu. Dan perlu bolak balik ke Bukittinggi ha... ha... ha.... Maunya sih begitu!
Rupanya enggak cuma nasi kapau yang khas di Bukittinggi, ada satu makanan lagi yang akhirnya mematahkan mindset bahwa sayuran orang Sumatera barat itu-itu saja. Kalau di Jawa ada pecel, lotek, gado-gado, ketoprak, nah, di Sumatera Barat ada Katupek Pical khas Kapau.
 
Katupek Pical Kapau

Jadi, di sebuah pagi yang indah (sebelum saya mengunjungi Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta kemudian dilanjutkan ke Kota Padang), saya diajak sarapan dulu oleh Pak Anto.
“Mau sarapan apa?” tanya Pak Anto saat berboncengan di motor.
“Terserah. Aku ngikut aja.” Saya menjawab sambil menghirup udara pagi Bukittinggi yang sejuk.
“Mau makan bubur ayam?” tanyanya. Dalam hati, saya ingin menolak. Jauh-jauh ke Bukittinggi, makannya bubur ayam  he... he... he.... “Tapi, ngapain ya makan bubur ayam. di Bogor juga banyak kan?” jawab Pak Anto sepertinya membaca apa yang ada di benak saya.
“Iya, pak. Cari makan yang khas Bukittinggilah.” Saya menjawab antusias.
“Baeklah! Kita ke Katupek Pical Kapau.”
Sekitar 10 menitan, motor terparkir di pinggir jalan tepat di depan sebuah tempat makan kaki lima. Gerobak dengan spanduk putih bertuliskan “Katupek Pical Kapau” menjadi objek yang pertama kami lihat. Walaupun saya buka orang Minang, saya dapat mengartikan makanan apa yang ada di balik gerobak ini. Katupek yang artinya ketupat dan pical yang artinya pecel. Semoga dugaan saya benar.
 
Foto dulu di Spanduk Putih "Katupek Pical Kapau"

Duduklah kami. Saya melihat sang penjual meramu makanan yang akan dihidangkan untuk pelanggannya. Saat kami datang pelanggan lumayan banyak, jadi sebelum pesanan kami dibuat, saya duduk sambil sedikit bengong. Tuh kan, ternyata di Sumatera Barat khususnya Bukittinggi ada pecel juga. Kalimat itu yang ada di benak saya waktu itu.
Sang penjual menaruh piring, kemudian mengambil potongan ketupat dan menaruhnya di atas piring. Dengan cekatan  ia lalu mengambil mie kuning, daun singkong yang sudah direbus, kol yang diiris tipis-tipis, rebusan tauge dan irisan jantung pisang. Yummy, sebagai pecinta sayuran, katupek pical ini bakalan jadi list favorit saya. Setelah semua bahan di masukkan di piring, sang penjual menyendokkan bumbu kacang ke dalam piring lalu menambahkan kerupuk berwarna merah jambu di atas katupek pical
 
Sang penjual katupek pical sedang meracik

Selang beberapa menit, pesanan kami diracik dan dihidangkan. Air liur sudah saya telan berkali-kali saat tadi sang penjual meramu makanan. Dan sekarang Katupek  Pical Kapau sudah ada di hadapan saya.
Bismillah. Sebelum makan dan foto-foto, baca doa dulu agar makanan yang dimakan berkah dan bermanfaat untuk tubuh. Setelah berdoa, saya ambil kamera untuk foto-foto sebentar. Kemudian...
Saya menyendokkan katupek pical ke dalam mulut. Dan.... aaargh... nikmatnya tiada duanya. Sayuran yang direbus cukup matang menyatu dengan bumbu kacang lalu diakhiri dengan kerupuk yang renyah. Nikmat sekali. Alhamdulillah.
Bumbu kacang di katupek pical ini sedikit berbeda dengan bumbu kacang pecel atau gado-gado. Namun saya agak bingung menjelaskan letak perbedaannya. Sebenarnya, secara bahan bumbu pecel ini nggak beda jauh dengan bumbu pecel pada umumnya. Mungkin keadaan geografi dan cara masak yang khas membuat cita rasanya jadi berbeda.
Saya menyantap sendok demi sendok dengan rasa syukur yang luar biasa. Satu piring katupek pical telah tuntas saya habiskan. Perut kenyang tapi nggak bikin eneg. Alhamdulillah masih diberi nikmat kesehatan, lidah masih diberikan nikmatnya makanan lezat dan raga masih diberi kekuatan melangkah hingga Bukittinggi. Alhamdulillah.
Satu piring katupek pical ini harganya nggak mahal. Persisnya saya kurang ingat, berkisar delapan ribu sampai sepuluh ribuan. Tapi nggak rugi sih. Rekomendasi banget kalau suatu hari nanti kalian berkunjung ke Bukittinggi.
Perjalanan saya di Bukittinggi tidak lama, hanya dua malam satu hari. Tapi seharian diajak jalan ke wisata alam dan makan kuliner khas menjadi pengalaman yang luar biasa. Salah satunya ya ini menikmati Katupek Pical Kapau yang memang juara enaknya.
Yuuk ke Bukittinggi! Yuuk makan katupek pical kapau!
***
Baca juga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Padang Rumput Savana di Puru Kambera, Sumba.

Pergi ke Sumba tentunya menjadi salah satu impian seseorang. Ya, meski nggak semua orang juga tentunya. Seperti yang sudah tersebar di medi...